Hanin Istri Soleha II

764 Kata
Malam itu Hanin dan Dewa melaksanakan ibadah suami istri. Hanin melakukan gaya yang di luar dugaan Dewa. Dia seolah menjadi perempuan paling liar di dunia untuk suaminya itu. Apalagi alasannya kalau bukan demi kebahagiaan Dewa. Demi membuat pikiran Dewa tenang dan menikmati kebersamaan dengannya. Memang betul yang dikatakan Dewa, dia khawatir dirinya bisa membayangkan perempuan lain. Dan hal itu terbukti saat malam ini. Wajah Ibi berulang kali muncul membuat konsentrasinya buyar. Tapi Hanin tidak putus harap. Sepenuh hati dan jiwa dia melayani Dewa. Sampai bagian penting dari Dewa benar-benar bangkit untuk menikmati inti dari ibadah tersebut. Dewa tersenyum menatap Hanin. “Kamu sungguh istri soleha, Nin. Kamu terus pancing Mas sampai dia tegak kokoh begini. Mas beruntung memiliki kamu.” Dewa mencium kening Hanin lembut. Sekarang pikirannya sudah penuh pada Hanin dan dia ingin melakukan itu. Dewa meminta Hanin rebahan di atas ranjang. Giliran dia yang melakukan hal yang satu ini. Sambil menatap wajah ayu Hanin, Dewa memasukinya perlahan. Walau sudah melahirkan dua orang anak, tapi Hanin menjaga betul hal terpenting yang disukai oleh suaminya. Kerapatannya tetap terjaga dengan baik. Sekarang Dewa sudah penuh ada di dalam genggaman Hanin. Tertutup rapat tanpa celah yang tentu membuatnya hangat. “Hanin cinta sama Mas Dewa. Apapun yang Mas Dewa lakukan asal tidak meninggalkan Hanin dan anak-anak Hanin ikhlas, Mas. Yang penting Mas Dewa bahagia. Dan Mas Dewa gak lupa dengan indahnya saat kita bersama seperti ini,” ucap Hanin pelan sambil napasnya naik dan turun. “Iya, Sayang. Mas akan ingat ini sampai kapanpun. Kamu yang terbaik untuk ini. Kamu yang paling paham mau Mas dan kamu yang paling bisa membangkitkan rasa ingin walau Mas sudah tidak ingin,” saut Dewa. Malam itu mereka melakukan ibadah dengan khusyuk bersama. Berbalut selimut dengan gerakan yang hanya mereka yang tahu. Usaha Hanin patut diacungi jempol. Dia melakukan dengan tulus dan rasa cinta yang begitu besar pada Dewa. Pengabdiannya untuk suami bukan main-main. Kemana lagi Dewa bisa menemukan istri sebaik dan setulus Hanin? Ibi sendiri sekalipun belum tentu bisa melakukan yang seperti Hanin. Tuhan tidak pernah salah. Dia menjodohkan hamba-Nya dengan orang yang tepat, dengan orang yang kita butuhkan, tidak hanya sebatas kita inginkan. Semestinya dari awal Dewa bisa bersyukur untuk itu. Memiliki istri yang soleha, pengertian, tabah, setia dan memuaskan. Hanya Hanin tempatnya mendapatkan itu. Hanin yang begitu luar biasa memupuk cintanya hanya untuk Dewa sejak bertahun-tahun yang lalu. Hanin yang selalu setia walau sudah dikhianati dan ditinggalkan. Berbanding terbalik dengan Ibi. Memang harus diakui kalau Ibi itu anak yang baik, polos dan jujur. Tapi kesalahannya dia tidak peka. Ibi tidak membalas perasaan cinta Dewa padanya sejak awal. Jika saja hal itu terjadi, pasti Dewa tidak akan merasakan sakit hingga salah paham yang berujung dendam pada Ibi. Keadaan tidak memungkinkan saat itu, waktunya memang tidak tepat. Saat usia Dewa sudah menuntut untuk mendapatkan hubungan yang serius dari seorang gadis yang dipujanya tapi justru saat itu usia Ibi masih belia. Pikirannya tidak menjangkau sampai ke sana. Dengan polos Ibi terus menganggap kalau Dewa adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya, pengganti kakak di hidupnya. Dua orang yang sesungguhnya saling menyayangi namun dalam konsep yang berbeda. Jika dikulik dari segi kedewasaan, sudah tentu Ibi memiliki perasaan cinta pada Dewa namun dia meletakkannya dengan nama yang berbeda. Begitu 'lah jika memang bukan jodoh. Sudah sangat cocok dan saling sayang pun tetap tidak bisa bersatu. Akan ada saja hal yang akan memisahkan mereka. Manusia hanya bisa berharap namun Tuhan yang menentukan. Jodoh, maut, rezeki, dan pertemuan hanya Tuhan yang tahu. Yang sudah pasti menjadi pilihan terbaik untuk hamba-Nya. Malam itu Hanin melayani Dewa dengan begitu tulus. Walau sesekali air mata menetes di sudut matanya, tapi Hanin ikhlas. Dia bahkan memenuhi apa yang Dewa inginkan. Hanin bersedia menjadi bukan dirinya saat melayani Dewa di atas peraduan mereka. Yang terpenting bagi Hanin adalah membuat suaminya tenang. Membuang rasa galau dan gelisah di hati Dewa atas pikiran buruk yang terus berkutat di otaknya. Harapan Hanin hanya satu, setelah letih beribadah Dewa akan bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus berpikir tentang Ibi lagi. Dan sesuai harapan malam itu Hanin berhasil melakukannya. Jangan pernah remehkan kekuatan seorang istri yang soleha. Apapun bisa dia lakukan demi kebahagiaan suaminya, demi keutuhan keluarganya sekalipun harus mengorbankan perasaannya sendiri. Sesungguhnya tidak ada alasan Dewa untuk tidak mencintai perempuan hebat seperti Hanin. Tidak berkekurangan bahkan menerima segala keburukan suaminya. Tapi obsesi atas nama cinta telah membutakan Dewa. Keinginannya memiliki Ibi tidak akan pernah usai sebelum dia bisa mewujudkan hal itu. Akan selalu saja ada kegalauan serta kegundahan di hatinya jika berhubungan dengan Ibi yang memiliki hidup bahagia dengan orang lain di luar sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN