Pagi menjelang tepat di hari Minggu. Saat inilah Ibi dan Zayd, calon suaminya akan sah menjadi sepasang suami istri beberapa jam lagi.
Selesai shalat subuh tadi Dewa belum beranjak dari sajadahnya. Tangannya menengadah, hatinya kacau, dan pikirannya tidak tentu arah. Kemana lagi Dewa harus mengadu terkecuali pada Rabb-nya, Sang Pemilik Alam Semesta. Pencinta Hati dan Pembolak-Balik Hati Manusia.
Dewa memohon, memanjatkan doa untuk diberi ketenangan, ketabahan serta keikhlasan. Dia tidak mau terus-menerus stag pada satu nama yakni Ibtisam. Biarlah gadis itu menjalani hidupnya dengan bahagia bersama lelaki pilihannya. Begitupun dengan Dewa yang sudah memiliki Hanin beserta dua orang anak mereka.
Tapi syaiton lebih mendominasi. Walau mulut Dewa berucap memanjatkan doa, tapi hatinya ingkar. Hatinya tidak mau menerima kenyataan. Hatinya masih menginginkan hal yang sama walau sudah tidak bersama.
Apa artinya itu? Masih banyak jalan ke Roma, begitu istilah untuk jalan lain yang terlintas di otak Dewa. Walau kecil kemungkinannya tapi Dewa tetap berharap, semoga suatu saat nanti Tuhan bisa menjodohkan dia dengan Ibi. Apapun caranya dan apapun resikonya.
Sekarang Dewa sudah duduk di atas ranjang. Dia enggan keluar dari kamar untuk sarapan dan memilih untuk melewati jam demi jam menanti saatnya Ibi sah menjadi istri orang. Aneh memang. Siapa yang mau menikah, tapi siapa yang lebih tegang menghadapinya. Itulah Dewa, orang yang selalu mengikuti bayang-bayang Ibi.
Kasihan Dewa. Kisahnya dengan Ibi sudah berlalu tiga tahun, tapi dia belum bisa ikhlas. Napsunya menguasai hingga menjadikan obsesi. Saat Ibi akan menyambut kebahagiaan, Dewa justru seolah tersiksa menunggu detik-detik itu.
Hanin yang paham dengan kegelisahan Dewa pagi ini, buru-buru membereskan anaknya. Memandikan, menyuapi makan, dan lainnya. Setelah beres Hanin lalu menitipkan anak-anak pada pembantu rumah tangganya. Sementara dia harus mengurus suami yang sedang galau.
Hanin buru-buru masuk ke kamar membawakan sarapan dan teh hangat untuk Dewa. Dibujuknya Dewa untuk menghabiskan teh lebih dulu, agar perutnya hangat dan tidak kembung. Setelah itu baru menyodorkan sarapan.
“Makan ya, Mas. Ini aku buatin nasi goreng kesukaan kamu,” ucap Hanin membawakan piring berisi nasi goreng ke tangan Dewa.
Tapi Dewa menolak. Dia menggeleng bahkan tidak melirik piring itu sama sekali.
“Atau mau aku suapin?” tawar Hanin. Kembali Dewa menggeleng.
Macam hal Hanin katakan untuk membujuk Dewa agar makan, namun hasilnya tetap sama. Dewa tidak berselera. Lantas apa Hanin akan membiarkan Dewa dengan kegalauannya seperti itu?
Jawabannya tentu tidak. Sekali lagi Hanin adalah istri yang soleha. Apapun akan dia lakukan demi membahagiakan suaminya.
Tiba-tiba saja muncul ide di kepala Hanin untuk menarik perhatian Dewa. Memang sejatinya pikiran Dewa harus bisa dialihkan agar dia tidak terus fokus pada Ibi.
Hanin lantas meletakkan piring nasi goreng di atas nakas. Dia bangkit dan membuka lemari pakaiannya. Beberapa menit dia berkutat mencari sesuatu, sampai akhirnya ketemu barang yang dia cari.
Tanpa buang waktu Hanin membawa barang itu menuju kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan disana, Dewa tidak menggubris sama sekali. Dia masih tetap seperti orang gila yang memikirkan perempuan lain.
Selang beberapa menit Hanin akhirnya keluar dari kamar mandi. Penampilannya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Hanin yang dikenal anggun, lemah lembut, dan halus itu keluar dengan pakaian yang sungguh membuat Dewa tercengang.
Dia memakai baju minim berwarna putih dengan d**a terbuka setengahnya berikut dengan topi kecil berlambang tanda tambah. Apa maksudnya Hanin dengan semua ini?
Ternyata dia sengaja mengenakan kostum lingerie yang merupakan hadiah pernikahan dari teman-teman di kantornya dulu. Mereka membelikan Hanin kostum perawat minim yang super seksi.
Setelah menikah tiga tahun dan memiliki anak dua, Hanin baru ingat untuk memakainya. Untung saja tubuh Hanin tidak berubah banyak dari sejak dia gadis dulu. Hanya ukuran d**a dan pinggulnya yang sedikit melebar menandakan kalau dia seorang ibu.
“Apa-apaan kamu, Nin? Baju apa yang kamu pakai itu?” tanya Dewa heran.
Hanin mendekat, diambilnya piring berisi nasi goreng lalu duduk di samping Dewa.
“Pak Dewa lagi kurang sehat. Jadi terpaksa suster Hanin yang merawatnya,” ucap Hanin dengan wajah memerah. Tidak bisa terkatakan bagaimana malunya dia berlaku seperti itu. Tapi itu semua doa lakukan demi mengalihkan pikiran Dewa dari Ibi.
“Dari mana kamu dapat baju itu, Nin? Minim banget.” Dewa geleng-geleng kepala saking terkejutnya. Hanin yang dia kenal tidak mungkin berkelakuan seperti itu. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya, pikir Dewa.
“Kamu baik-baik aja ‘kan?” Dewa sampai ragu dengan istrinya.
“Alhamdulillah suster Hanin baik kok, Pak. Bahkan suster Hanin bisa kasih apapun yang Pak Dewa mau. Tapi syaratnya satu.” Hanin masih dengan skenarionya. Saat itu dia berlagak menjadi seorang suster yang siap merawat Dewa.
“Syarat apa? Kamu jangan aneh-aneh, Nin. Dari tadi pertanyaanku gak ada yang kamu jawab.” Dewa jadi kesal.
“Tuh ‘kan bener. Pak Dewa memang butuh perawatan dari suster Hanin biar gak emosian. Biar ada yang suapi makan dan melayani keinginan yang lainnya.”
“Sekarang Pak Dewa buka mulutnya dulu. Satu suapan, satu jawaban atas pertanyaan tadi.” Hanin menukar jawaban dengan suapan dan Dewa pun menurut.
Masih dengan bingung-bingung Dewa membuka mulutnya. Diperhatikannya Hanin dari ujung kaki hingga kepala, sungguh tampilan yang sangat berbeda malam ini. Sepanjang mereka menikah, baru kali ini Hanin berpenampilan begitu. Aneh tapi tampak seksi.
"Oke, karena Pak Dewa sudah menurut untuk buka mulut. Sekarang silahkan mau tanya apa? Biar suster Hanin jawab," ucap Hanin dengan senyum.
Ya Tuhan, apa sebenarnya maksud Hanin. Pagi-pagi begini sudah melakukan yang tidak-tidak.
"Kamu kenapa sebenarnya, kok berpakaian begini?" tanya Dewa.
"Suster Hanin baik-baik saja Pak Dewa. Suster Hanin hanya ingin merawat Pak Dewa dan melayani segala permintaan Pak Dewa," jawab Hanin.
"Oke, sekarang suapan yang kedua, ya. Ayo, buka mulutnya." Hanin menyodorkan satu sendok nasi goreng di depan mulut Dewa.
"Nah, pintar. Ayo, silahkan mau tanya apa lagi." Tidak hanya dengan senyum Hanin justru meletakkan tangan Dewa di atas pahanya.
Astaga, Hanin. Apa dia salah minum obat? Kenapa dia jadi berkelakuan centil begini? Dewa sampai tercengang heran.