Tawaran Pindah Tugas Dewa

1142 Kata
Seminggu berlalu setelah kepulangan Dewa, Ibi dan Zara dari Bali dan libur sekolah Ibi pun telah usai. Dia sudah bersekolah kembali seperti biasa. Sesuai dengan permintaan Dewa, ibi lebih waspada lagi jika ada teman lawan jenis yang mengajaknya berkenalan. Sebelum mengiyakan ataupun menanggapi, Ibi harus lebih dulu bercerita pada Dewa. Ya, begitulah permintaan yang lelaki itu ajukan saat di Bali. “Tadi waktu pulang sekolah, ada kakak kelas yang ngajak Ibi kenalan,” ucap Ibi saat Dewa mengajaknya minum jus di warung samping warnet tempat pertama mereka bertemu. Dewa yang semula menatap gelas jusnya kini menengadahkan wajah, memandang gadis di hadapannya. “Terus, kamu langsung terima?” tanyanya yang sudah curiga. Ibi lantas tersenyum begitu manis kemudian dia menggeleng. “Enggak, donk. Kan Ibi ngikutin permintaan Dewa. Ibi cuma senyum dan bilang maaf ke dia. Abis itu Ibi tinggal pergi.” “Syukurlah.” Dewa mengusap puncak kepala Ibi. “Aku cuma gak mau aja ada cowok yang punya niat buruk sama kamu, Bi. Karena gak semua temen cowok itu tulus. Ada yang punya tujuan terselubung dengan mengatasnamakan pertemanan,” tambah Dewa lagi. Ibi hanya mengangguk. Terserah Dewa mau mengatakan apa, yang jelas dia sudah berusaha menepati janjinya pada lelaki itu. Sementara Dewa merasa begitu senang Ibi mau menurut. Selanjutnya dia tidak perlu khawatir dengan orang baru yang akan ditemui oleh gadis itu. Selama Ibi memegang janjinya untuk selalu melapor, Dewa merasa dia akan aman. Makasih, Bi. Kamu udah bikin hati aku tenang. I love you ... Berkat itu, hati demi hari hubungan Dewa dan Ibi makin lengket. Tidak ada hal dari Ibi yang luput dari pengetahuan Dewa. Termasuk sampai hal yang sangat pribadi sekalipun, yakni jadwal Ibi datang bulan. “Aku beliin kamu ini, Bi.” Dewa datang ke wartel Ibi dengan membawa kantong plastik yang berisi jamu praktis untuk meredakan sakit perut akibat datang bulan. Padahal jadwal datang bulan Ibi masih dua hari lagi. Sebegitu perhatiannya lelaki itu terhadap gadis pujaannya. Hingga yang terkecil sekalipun dia tanggapi dengan serius. “Tadi kebetulan aku ke supermarket buat beli keperluan kamar mandi. Jadi sekalian aja aku beli itu buat kamu,” ucapnya lagi beralasan. Ih, Dewa, perhatian banget sih. Ibi tersipu malu menerima kantongan itu. Tidak pernah dia temukan sosok seperti Dewa sebelumnya. Baru kali ini ada lelaki yang menghujani Ibi dengan perhatian begitu besar hingga dia merasa beruntung telah mengenal Dewa. Hari terus berlalu, hingga tiba-tiba Dewa mendapat sebuah kabar dari kantor yang berarti baik sekaligus buruk baginya. Apa itu? Atasan Dewa mempromosikan dirinya naik jabatan menjadi manager area, namun hal itu mengharuskan Dewa pindah dari lokasi kerjanya yang sekarang ke lokasi yang baru. Sialnya lokasi baru itu berjarak sangat jauh dari kota M, sekitar dua hari perjalanan darat. Atau bisa juga ditempuh dengan pesawat selama satu jam setengah. Cukup berat Dewa menerima tawaran itu. Satu sisi dia ingin karirnya meningkat, sebab dengan begitu taraf hidupnya pasti akan lebih baik lagi dan keinginannya untuk membahagiakan Ibi di masa depan semakin di depan mata. Dewa tentu ingin mengajak Ibi hidup bersamanya dengan penuh kecukupan. Membina rumah tangga dimana ratunya bisa menikmati hasil kerja keras dengan hanya mengurus anak-anak di rumah. Itu yang sekarang menjadi tujuan hidup Dewa. Berubah tiga ratus delapan puluh derajat dari tujuan awalnya berkarir. Yakni mempersiapkan masa depan bersama Hanin. Kini nama Hanin sudah tergesar jauh bahkan sudah di hapus oleh Dewa. Sungguh kejam. Tapi begitulah hati dan napsu. Hati yang dikuasai napsu membuat Dewa berubah jalur sampai seperti itu. Di satu sisi keputusan naik jabatan itu membuatnya harus terpisah jauh dengan Ibi. Hal itu sungguh membuatnya galau setengah mati. Begitu sulit rasanya menjaga Ibi sampai berbulan-bulan seperti ini, sekarang harus ditinggal begitu saja. Apa Ibi tidak akan lepas atau diambil oleh lelaki lain? Hal itu yang memberatkan pikiran Dewa hingga berhari-hari. Sampai Ibi pun bingung dibuatnya. Sebab setiap kali mereka bertemu Dewa lebih banyak diam. “Dewa lagi ada masalah ya? Kok Ibi perhatiin Dewa lebih banyak diem? Cerita donk ke Ibi. Ya, emang sih gak bakal dapat solusi, tapi siapa tau aja bisa ngurangi beban.” Ibi bertanya saat mereka berdua sedang duduk di sebuah cafe untuk makan siang bersama. Kebetulan hari itu hari minggu, Ibi beralasan pada mamanya main ke rumah Zara. Memang benar Ibi main di rumah Zara, tapi tidak lebih dari setengah jam. Setelahnya dia mampir ke sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah Zara untuk janjian bertemu Dewa. “Iya, kamu bener. Aku lagi ada masalah, Bi,” jawab Dewa lesu. “Apaan?” tanya Ibi penasaran. “Aku diminta pindah tugas ke Padang, bulan depan. Disana aku naik jabatan dan dapat fasilitas yang bagus.” Dewa menceritakan pada Ibi. “Asik donk. Selamat ya, Dewa. Keren ih, bisa naik jabatan.” Ibi bertepuk tangan bahagia mendengar kabar itu. “Tapi aku berat menerima tawaran itu,” ucap Dewa lagi. “Loh, kenapa? Bukannya itu tawaran bagus untuk karir Dewa? Pasti nanti gaji Dewa juga jadi lebih besar ‘kan? Bisa ngirim ke kampung lebih banyak.” Ibi menatap heran. “Masalah cuma satu, Bi. Aku jadi jauh dari kamu. Aku gak bisa jagain kamu lagi. Dan ga bisa ketemu setiap hari.” Dewa menatap Ibi serius. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana nanti jika mereka berjauhan. “Astaga, ya ampun, kirain karena apa. Hehehe ..., kan masih bisa teleponana, masih bisa kirim-kirim pesan juga.” Ibi tertawa kecil. “Tapi jelas beda dengan ketemu langsung seperti ini. Aku jadi bisa liat kamu senyum, ketawa, mewek, bahkan nangis kalo lagi ada masalah sama mama. Bener ‘kan?” Dewa masih sempat menggoda gadis pujaannya. Memang benar, segala hal Ibi ceritakan pada Dewa, sampai ketika dia berselisih paham dengan mamanya pun pasti dia cerita. “Dan kalo aku gak disini lagi, kamu bakal cerita sama siapa? Kamu bakal dekat dengan siapa? Aku gak mau kamu dekat sama cowok asing, Bi. Aku gak sanggup mikirinnya. Ujung-ujungnya cowok itu pasti akan nyakitin hati kamu kayak mantan kamu yang dulu itu.” Sekarang Dewa sudah menggenggam tangan Ibi. Rasa khawatirnya berpisah dengan Ibi sungguh menjadi beban baginya. Ibi jadi bingung harus menjawab apa. Ada benarnya yang Dewa katakan. Kepolosan Ibi membuatnya tidak bisa menilai mana orang yang baik dan mana yang bukan. Tapi dia juga tidak mau keberadaannya menjadi penghambat karir Dewa. Lelaki itu harus sukses sebab dia sudah merantau begitu jauh dari kampungnya demi karir, masa hanya gara-gara seorang Ibi karirnya harus tersendat. Pasti orang tua Dewa akan sedih melihat anaknya begitu. “Menurut Ibi, Dewa harus berangkat. Dewa harus terima tawaran itu walau bagaimana pun. Karena kesempatan gak datang dua kali. Ini semua ‘kan juga buat masa depan Dewa. Buat bahagiain orang tua Dewa di kampung,” ucap Ibi. Buat bahagiain kamu juga, Bi. Karena itu yang jadi tujuanku sekarang. “Oke, aku ikutin saran kamu. Tapi aku minta kamu janji satu hal, Bi,” pinta Dewa pada akhirnya. “Janji apa?” tanya Ibi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN