Menjelang subuh Dewa bangun lebih dulu. Selesai wudhu sejujurnya dia ingin membangun Ibi tapi tidak sampai hati. Tidur gadis itu begitu nyenyak. Bahkan dia sudah berganti posisi dengan rebahan miring sembari memeluk guling.
Selesai beribadah Dewa lanjut berbenah di kamar mandi, membersihkan diri dari segala aroma tidak sedap yang menempel di tubuhnya. Tak lupa dia memilih kaos tipis berbahan adem untuknya mengeskplore Bali di hari terakhir mereka.
Tepat jam enam pagi Dewa sudah selesai dan duduk rapi di sofa. Dia lantas teringat dengan dua pesan dari Hanin kemarin. Diraihnya ponsel untuk membaca pesan tersebut.
Mas, maaf aku ganggu. Tapi aku kangen sama kamu, Mas. Jika ada waktu kamu sempetin telepon aku, ya.
Mas jangan marah karena aku nekat kirim pesan. Aku kepikiran terus sama kamu, Mas, soalnya udah beberapa hari kamu gak ada kabar.
Cuma itu isi pesan dari Hanin. Ungkapan rasa rindu yang tidak bisa dia tahan lagi karena Dewa tidak mengabarinya beberapa hari. Tapi bukannya langsung dia balas, Dewa malah meletakkan ponselnya di atas meja. Dia memandang wajah Ibi yang masih tertidur di atas ranjangnya.
Aku gak akan main-main di depan kamu, Bi. Waktuku selama di Bali ini Cuma buat kamu. Gak akan ada seorangpun yang bisa ganggu kebersamaan kita disini. Dewa sungguh sudah dibutakan oleh cinta Ibi. Dia tidak merasa kasihan sedikitpun pada kekasih hati yang sudah menemaninya sejak dia belum jadi apa-apa. Setega itukah Dewa?
Setengah jam memandang Ibi, rupanya pelan-pelan yang dipandang membuka matanya. Bahkan Ibi sempat menguap lebar sebelum matanya benar-benar terbuka sempurna. Dihirupnya aroma berbeda dari bantal guling yang dia peluk sekarang. Kok bantalnya kayak bau parfum Dewa, ya?
Sesaat kemudian Ibi baru sadar kalau dia tidak sedang berada di kamarnya bersama Zara. Astaga, inikan kamar Dewa.
Pandangan Ibi beralih pada sosok yang disebutnya tadi, yang memandang padanya dengan senyum. Dewa, kok dia udah rapi? Reflek Ibi bangkit dari ranjang.
“Aduh, Ibi ketiduran ya di kamar Dewa. Jam berapa sekarang?” tanya Ibi kemudian.
“Jam setengah tujuh pagi, Bi.” Jawaban Dewa membuat gadis itu menepuk keningnya.
“Ya Allah, Ibi kelewatan subuh, donk. Kok Dewa gak bangunin, sih?”
“Maaf, tapi aku gak tega, Bi. Kamu kelihatan nyenyak banget tidurnya.” Dewa tersenyum menjelaskan.
“Terus tadi malam Dewa tidur dimana?” tanya Ibi lagi.
“Disini, sama kamu,” sautnya cepat.
“Hah? Seranjang?” Mata Ibi melotot seperti mau keluar.
Sontak Dewa terkekeh melihat reaksinya itu. “Hahaha .... Enggak, Bi. Aku di sofa, kamu yang di ranjang,” jelasnya.
Oh, alhamdulillah .... Ibi masih suci, batin Ibi polos.
“Ya udah deh, kalo gitu Ibi mandi dulu ya.” Ibi melangkah cepat menuju kamarnya. Rupanya ada yang lebih parah tidurnya dari Ibi, yakni Zara. Dia belum juga bangun bahkan sampai meneteskan air liur di bantal. Entah apa yang dia mimpikan sampai bisa sepulas itu tidurnya.
Tepat jam delapan pagi mereka bertiga sudah duduk menikmati sarapan di restoran hotel. Selesai makan seperti biasa Ibi tidak lupa menelepon mamanya, mengabari kegiatan apa yang akan mereka lakukan hari itu. Berbincang macam-macam sebentar lalu kemudian mengakhiri telepon.
Hari itu Dewa hanya berencana mengajak Ibi berjalan-jalan di Pantai lalu kemudian berbelanja sedikit oleh-oleh untuk mama dan babanya. Dan malamnya ditutup dengan dinner di pinggir pantai. Dimana lagi kalau bukan di Jimbaran. Tempat dinner pinggir pantai favorit para turis.
Sungguh tiga hari tiga malam yang penuh dengan kebersamaan yang tidak Dewa lewatkan sedetikpun bersama Ibi. Lelaki itu sungguh-sungguh puas dan merasa bahagia sekaligus bangga bisa membahagiakan gadis pujaannya.
Sesampainya kembali mereka di kamar hotel, Dewa ngobrol sebentar dengan Ibi di kamarnya.
“Kamu bahagia ‘kan, Bi, dengan liburan ini?” tanya Dewa.
“Bahagia banget Dewa. Gak pernah terbayang di benak Ibi akan menginjakkan kaki di Bali, dan ini semua karena Dewa. Ibi berterimakasih banget. Dewa emang the best. Udah gak tau kata-kata apa yang bisa menggambarkan kebaikan Dewa sama Ibi,” jawab Ibi antusias panjang lebar.
“Alhamdulillah kalo kamu bahagia, Bi. Sebab keinginanku cuma itu. Membuat kamu tersenyum bahagia.”
“Tapi Ibi jadi gak tau harus balas kebaikan Dewa dengan apa. Dewa ‘kan tau, tabungan aja Ibi gak punya. Setiap hari masih dikasi uang saku sama mama.” Rupanya dibalik bahagianya Ibi jadi bingung harus membalas kebaikan Dewa lewat apa.
“Loh, memangnya aku minta kamu balas? Kan enggak. Kamu cukup kasih perasaan yang tulus buat aku, itu udah lebih dari cukup kok, Bi,” jawab Dewa.
“Dan satu hal lagi, please, jangan dekat ataupun kenalan dengan lawan jenis tanpa ngobrol dulu ke aku. Mau ‘kan?” sambung Dewa lagi. Dia meminta hal itu pada Ibi agar hatinya tidak kembali tersakiti oleh sikap tidak peka Ibi yang seenaknya saja menerima teman dekat laki-laki.
Langsung Ibi mengangguk. Bukan perkara sulit baginya jika Dewa hanya meminta yang seperti itu. Toh itu adalah hal yang wajar. Perhatian seorang kakak yang khawatir jika adik perempuannya berkenalan dekat dengan lelaki asing. Begitu yang ada di pikiran Ibi. Sangat polos? Sesungguhnya perasaan Ibi itu wajar, mengingat usia yang sangat jauh diantara mereka berdua. Apalagi belum pernah Ibi temui atau ketahui sebelumnya ada seorang gadis kecil yang berpacaran dengan lelaki dewasa seorang pekerja. Di luar dari konteks perempuan gampangan ataupun menjajakan diri.
“Nah, pinter.” Dewa mengusap puncak kepala Ibi. Setelah itu tiba-tiba saja dia merentangkan tangan dan meraih Ibi masuk dalam pelukannya.
Tentu Ibi terkejut. Wajahnya berubah tegang. Tanpa aba-aba Dewa langsung memeluknya. Ibi seolah membeku, tidak melakukan pergerakan apapun. Kedua tangannya terjuntai lemas tanpa berinisiatif membalas pelukan tersebut. Ini pertama kalinya terjadi dalam hidup Ibi. Ya, pertama kalinya dia dipeluk oleh lawan jenis yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Walau dianggap seperti kakak, tapi Dewa tetaplah orang asing. Seketika ada getaran berbeda di d**a Ibi. Jantungnya berdetak cepat. Takut bercampur bingung. Bingung dengan perasaan yang sempat menjalar di hatinya.
Tapi pelukan itu hanya berlangsung sebentar. Tidak sampai satu menit Dewa sudah melapasnya lalu beralih ke hal lain. Bukan karena dia tidak ingin mendekap Ibi lebih lama, melainkan karena dia takut tidak bisa mengendalikan diri. Takut akan berharap yang lain, yang lebih dari sekedar pelukan. Karena walau bagaimanapun Dewa adalah seorang lelaki dewasa. Berdua bersama, saling menatap jarak dekat dengan gadis yang dicintai tentu akan membangkitkan keinginan yang lebih di dirinya.
Aku gak akan ngerusak kamu, Bi. Aku akan jaga kamu baik-baik layaknya hal yang paling berharga di hidupku. Karena buatku kamu spesial. Buatku kamu adalah masa depan. Aku yakin dengan begini kesabaranku akan berbuah manis. Akan datang saatnya aku bisa memiliki kamu seutuhnya. Dan itu saat kamu telah menyelesaikan studi.
Perjalanan pulang dari Bali ke kota M berjalan mulus. Sampai di bandara, keluar dari pesawat Dewa masih terus menggenggam tangan Ibi sembari menunggu antrian koper yang keluar dari bagasi pesawat. Mereka berdua seolah pasangan muda yang begitu harmonis. Setiap mata yang memandang pasti menangkap hal seperti itu. Tanpa terkecuali Zara. Walau dia sudah tahu status antara sahabatnya dengan Dewa tapi tetap saja dia menganggap mereka adalah pasangan sungguhan.
Dewa memutuskan untuk keluar bandara lebih dulu. Sebab dia tahu Ibi pasti dijemput oleh orangtuanya. Berselang sepuluh menit Ibi dan Zara berdampingan keluar dari pintu bandara. Langsung mereka disambut oleh mama Ibi. Cium tangan dan saling peluk. Ungkapan rasa rindu seorang ibu yang berpisah selama tiga hari dengan anaknya.
Dari kejauhan Dewa melihat pemandangan itu. Dia baru beranjak pergi setelah Ibi dan Zara beserta orangtuanya yang menjemput hilang tak terlihat lagi.
Dewa lalu menaiki taksi konvensional menuju kostnya. Di dalam taksi dia teringat dengan pesan dari Hanin kemarin. Dewa membacanya ulang lalu kemudian membalas pesan itu.