Amplop?

1259 Kata
Dua hari telah berlalu tanpa kabar dari Dewa sama sekali. Sesungguhnya ada rasa gelisah di hati Ibi, tapi dia tahan sebab dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi tidak ada alasan untuknya minta maaf. Persis seperti dugaan Ibi, yang ngomel sejak kemarin adalah Zara. Sahabatnya itu terus mempertanyakan sikap Ibi yang terlalu polos membalas pesan Wahyu di depan Dewa. Bukan karena Zara memikirkan perasaan lelaki itu, melainkan dia memikirkan perkara liburan gratis ke Bali yang terancam batal gara-gara sikap Ibi. “Ih, kamu tuh ya, Bi. Kelewatan banget deh jadi cewek!” omel Zara. “Kelewatan gimana? Masa cuma gara-gara aku mau balas pesan Wahyu, Dewa sampai marah, gak masuk di akal deh Ra. Mungkin dianya aja kali yang emang lagi males ngobrol sama aku. Sibuk di kantor.” Begitu asumsi Ibi. “Astaga, polosnya sahabatku ini. Eh tapi, b**o sama polos beda tipis ya. Setipis kulit bawang.” Zara menggelengkan kepala menatap sahabatnya. “Udah jelas Dewa itu cemburu sama kamu, Bi. Kamu ngapain pake mau balas pesan si Wahyu di depan dia. Gak ada kerjaan banget deh. Emang gak bisa nunggu besok gitu,” sambung Zara lagi. “Cemburu? Atas dasar apa?” tanya Ibi lagi. “Dasarnya ya suka ‘lah. Dewa itu suka sama kamu sejak awal, Bi. Masa kamu gak ngerasa sih?” Ibi menggeleng. Dia bahkan baru tahu dari Zara kalau Dewa menyukainya. “Ngarang kamu, Ra. Dewa itu sayang sama aku kayak kakak sama adeknya. Udah itu doank.” Ibi mengatakan apa yang selama ini dia pahami. “Astaga naga! Ih, kalau naga beneran ada, dia udah nyemburin api ke kamu, Bi. Biar polosmu itu gak kelewatan.” Zara kembali mengomel. “Nih ya aku kasi tau. Sejak awal kamu kenalin aku sama Dewa, aku udah tau kalau dia naksir sama kamu. Tatapannya beda, Bi, ke kamu. Terus dia juga perhatiannya kebangetan. Setiap malam bela-belain mampir ke wartel dengan pura-pura nelepon. Di tambah lagi, selalu ngajak kamu jalan setiap weekend. Ya, walaupun aku selalu ada diantara kalian. Itu apa namanya coba?” Zara mencoba meyakinkan. “Kasih sayang,” jawab Ibi. “Nah itu kamu tau. Ya udah. Jadi si Dewa itu sayang banget sama kamu. Tapi bukan kayak kakak adek, melainkan kayak aku sama Adi.” Zara tersenyum malu-malu mengucapkannya. Dia menyebut nama Adi, teman satu kos Dewa yang dia taksir sejak pertama mereka berkenalan. “Loh?” Ibi sampai ternganga dibuatnya. “Kok jadi nyasar ke Adi? Emang kamu naksir dia ya, Ra?” Zara mengangguk. Sontak Ibi tertawa dibuat sahabatnya itu. Belum selesai kebingungannya atas asumsi Zara yang mengatakan kalau Dewa menyukainya sudah ditambah dengan berita baru perkara teman satu kost Dewa. “Sejak kapan?” Ibi jadi penasaran. “Sejak kalian kenalin aku ke dia, waktu kita piknik dua minggu yang lalu.” Zara mengaku jujur. “Hahaha ..., Zara ... Zara ..., pantang ngeliat cowok langsung naksir. Hati-hati loh, kata Dewa, Adi itu playboy.” Ibi kembali menertawai sahabatnya. “Iya aku tau. Dia cerita kok ke aku waktu itu. Tapi justru itu malah yang bikin aku naksir sama dia, Bi. Sumpah deh. Kali ini aku beneran naksir, gak main-main.” Zara menatap Ibi serius. “Persis kayak yang Dewa rasain ke kamu. Walau dia tau kamu gak pernah menganggap perasaannya selama ini, tapi dia gak berhenti untuk terus suka sama kamu, Bi,” sambung Zara lagi. Membuat Ibi terdiam dan merenungi kalimat Zara berulang. Apa benar seperti itu yang Dewa rasain ke aku? Artinya udah enam bulan berjalan donk Dewa naksir aku? Masa sih? Kok aku gak tau. Siang itu pulang sekolah Ibi bertekad menemui Dewa di tempat kostnya. Setelah sampai di depan pagar kost Ibi menelepon Dewa lewat ponsel. Tapi sudah tiga kali panggilan, tidak satupun yang dijawab oleh lelaki itu. Dewa kemana ya? Apa dia serius marah sama aku? Ibi lalu memutuskan untuk pulang. Tapi saat Ibi baru saja beberapa langkah pergi ponselnya berdering. Orang yang dia cari tadi menghubunginya kembali. “Ya, halo, Bi. Maaf ya tadi gak ke angkat. Ada apa?” saut Dewa diujung telepon. “Dewa lagi sibuk ya? Masih di kantor? Ibi mampir ke kost Dewa nih, tapi gak apa-apa deh, Ibi pulang aja.” “Ya udah, kamu hati-hati ya di jalan.” Jawaban Dewa di luar dugaan Ibi. Baru kali ini dia sedatar itu. Tidak mencoba bertanya balik atau sekedar basa-basi terhadap Ibi. Bahkan dia tidak menjawab satupun pertanyaan Ibi. Fix, Dewa beneran marah sama aku. Dia jadi cuek. Ya udahlah, mau gimana lagi. Mungkin aku kali yang gak peka sampe nyakitin hati Dewa kayak kemarin. Dengan langkah gontai Ibi pulang ke rumahnya. Sedih sudah pasti dia rasakan. Hanya saja dia tidak bisa berbuat apa-apa. Semua itu salahnya sendiri. Orang yang selalu ada dan membuatnya nyaman selama enam bulan belakangan ini harus pergi dan hilang dari kehidupannya. Sampai di rumah wajah lesu Ibi langsung tertangkap oleh mamanya. “Assalammu’alaikum.” Ibi melangkah masuk setelah membuka sepatu sekolahnya. “Wa’alaikumsalam. Loh, tumben lemes banget. Kamu kenapa, Bi?” tanya mamanya. “Ah, e ..., gak apa-apa, Ma. Cuma lagi gak semangat aja,” saut Ibi yang meneruskan langkah menuju kamar pribadinya. Tapi baru lima menit dia berada di dalam kamar, Ibi kemudian berlari menemui mamanya sembari memegang sebuah amplop. “Ma ...,” teriak Ibi. “Ya Allah, ada apa sih teriak-teriak, Bi?” mama yang sedang mengupas buah sampai terkejut dibuatnya. Aneh, tadi lemes tidak b*******h, eh sekarang malah udah jerit-jerit. “Ini amplop dari mana, Ma?” tanya Ibi langsung. “Dari tukang pos ‘lah. Masa dari mama. Kamu ‘kan bisa baca itu pengirimnya. Mayori ya kalo gak salah. Itu acara kuis yang waktu itu kamu ceritain ke mama ‘kan?” Mama menjawab sekaligus bertanya balik. Deg! Saat itu juga jantung Ibi bergemuruh. Kalau ini amplop dari acara kuis, itu artinya pengirimnya adalah Dewa. Ya, pasti Dewa yang mengirimkannya ke alamat rumah Ibi. Dan tentu amplop yang sama juga Dewa kirimkan ke alamat Zara. Sebelum membuka amplop miliknya, Ibi buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi Zara. Di depan mamanya dia menelepon sahabatnya itu. “Halo, Ra. Kamu dapat kiriman amplopnya juga gak?” tanya Ibi begitu telepon tersambung. “Alhamdulillah dapet, Bi. Itu artinya Dewa gak-“ Belum selesai Zara bicara Ibi langsung memotong. “Ya udah, kita buka masing-masing ya, Ra. Aku tutup teleponnya nih. Nanti setelah ngeliat isinya kita teleponan lagi.” Ibi langsung memutus sambungan telepon, khawatir Zara menyebut nama Dewa lagi. Mama menatap Ibi sejak tadi. Gara-gara kehebohan anaknya, dia menjadi tidak sabar ingin tahu apa sebenarnya isi dari amplop tersebut. “Ya udah, sekarang buka donk amplopnya. Mama jadi ikut penasaran.” Pelan-pelan Ibi membuka amplop tersebut. Isinya adalah sebuah surat resmi berikut tertera nama perusahaan dan nama event kuisnya. Disana tertulis daftar enam orang nama yang memenangkan acara kuis tersebut. Dan di urutan ke enam ada nama lengkap Ibi. Deg! Kembali jantung Ibi bergemuruh. Antara takut dan gugup dia harus seolah terkejut melihat namanya tertulis disana. “M-ma, ada nama Ibi,” ucap Ibi gagap. “Itu artinya kamu menang, ya? Emang hadiahnya apa sih?” Ibi mengangguk lalu meneruskan membuka lipatan berikutnya yang ada di amplop. “Pa-paket ke Bali, Ma.” Ibi menatap mamanya ragu. “Apa?” Persis seperti dugaan Ibi sebelumnya, mamanya terkejut bukan main. Untungnya disaat yang sama ponsel Ibi berbunyi. Zara yang menelepon. Sesuai dengan rencana yang telah mereka susun, Zara diwajibkan untuk pura-pura menangis karena tidak menang dalam acara kuis tersebut. “Huwaaa ..., aku gak menang, Bi. Kamu gimana?” Suara Zara nyaring berikut dengan tangisannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN