Datangnya Orang Baru

1155 Kata
Seminggu sudah Ibi melalui ujian semester akhir dan alhamdulillah berjalan dengan lancar. Walau Ibi bukan termasuk murid unggulan di kelas, tapi nilainya tidak pernah keluar dari sepuluh peringkat teratas di kelas. Setidaknya masih bisa membanggakan bagi mama dan Babanya. Selesai dengan ujian, minggu berikutnya Ibi tetap bersekolah walau tidak ada kegiatan belajar-mengajar lagi. Minggu ini biasa disebut minggu tenang. Dimana semua murid bisa saling berkumpul disekolah dan saling rumpi sembari harap-harap cemas menunggu hasil ujian mereka. Begitu pula yang terjadi pada Ibi dan Zara. “Haduh, Bi, mati aku. Kemarin ujian matematika aku cuma bisa jawab soalnya setengah dari jumlah soal. Sisanya aku bikin cap-cip-cup belalang kuncup. Itu juga karena soal pilihan ganda, jadi tinggal pilih mau jawab yang mana sesuai dengan lagu.” Zara mengeluh pada Ibi saat mereka duduk di bangku koridor kelas. Ya, kelakuan Zara memang begitu. Saat dia sudah tidak bisa lagi menjawab soal dia akan menyanyi dengan membawa telunjuknya ke beberapa pilihan jawaban secara bergantian. Dimana lagu yang dia nyanyikan berhenti, maka itulah jawaban yang dia pilih. “Hehehe, ada-ada aja kamu, Ra. Masih juga begitu dari dulu. Ya udah, sekarang kamu tinggal berdoa yang banyak deh. Semoga jawaban cap-cip-cup kamu itu bener.” Ibi menertawai sahabatnya. “Eh tapi, daripada pusing mikirin itu, mending kita bahas soal liburan ke Bali, yuk. Gimana? Kamu udh ijin ke Bunda, belum?” Ibi menyebut panggilan ibu yang biasa digunakan Zara di rumah. “Ih, ngaco, kamu, Bi. Mana mungkin aku langsung ijin ke bunda mau pergi. Bisa bahaya ‘lah. Aku Cuma bilang ke bunda kalau aku ikut kuis yang hadiahnya jalan-jalan ke Bali,” jelas Zara. “Terus bunda bilang apa?” “Gak bilang apa-apa sih, Cuma ketawa aja. Mungkin Bunda udah yakin aku gak bakal menang, hehehe. Kalau kamu gimana, Bi? Udah bilang ke mama?” Sekarang giliran Zara yang bertanya. Bukannya menjawab Ibi malah termenung mendengar pertanyaan Zara. Semudah itu dia bicara pada Ibunya sementara Ibi kebingungan sendiri sejak kemarin. Takut salah ucap, takut gugup, dan takut belepotan yang ujung-ujungnya akan membuat mamanya curiga dengan apa yang mau dia sampaikan. “Aku yakin, pasti kamu belum bilang ‘kan? Udah, kamu gak usah bingung, Bi. Kuncinya kamu harus bayangin yang indah-indah biar gak gugup waktu ngomong ke mama. Lagian ‘kan ada aku. Kita pergi bertiga, jadi insya Allah semuanya aman. Tiket pulang pergi juga bakal Dewa kirim ke alamat kamu ‘kan?” Zara menenangkan sekaligus meyakinkan. Dan Ibi pun kemudian mengangguk. Selesai dengan pembahasan tentang Bali, tiba-tiba seorang murid laki-laki kelas atas datang menghampiri mereka. “Kamu Ibi ‘kan?” tanyanya begitu mendekat. “Ha? Iya. Ada perlu apa ya?” Ibi menoleh, lalu menanyakan maksud tujuan anak tersebut. “Gak perlu apa-apa, kok. Cuma pengen kenalan,” jawabnya. “Kenalin, namaku Wahyu. Kelas 1-10.” Anak itu mengulurkan tangannya pada Ibi dan Zara bergantian. Selesai dengan itu dia meminta ijin duduk di bangku yang sama dengan mereka. Tepat bersebelahan dengan Ibi. “Kalau boleh tau, kami ikut ekskul apa, Bi?” Ekskul yang dimaksud adalah kegiatan extra kulikuler di luar jam belajar yang ada di sekolah mereka. Ibi menggeleng, menandakan kalau dia tidak ikut ekskul apapun. “Serius kamu gak ikut apa-apa?” tanyanya lagi. “Kita bedua emang gak ekskul apa-apa.” Zara mengambil alih menjawab. “Gimana kalau kalian ikut gabung di ekskulku. Seru loh. Bisa melatih bakat masing-masing,” tawarnya. “Emang ekskul kamu apa?” “Temulah, teater muda sekolah.” Ternyata dia ikut di kegiatan teater sekolah. Tempat melatih bakat acting, menyanyi, membaca puisi dan bakat yang sejenis lainnya. “Enggak, ah. Ibi gak punya bakat apa-apa.” Mendengar jawaban Wahyu, Ibi langsung menolak. Ibi yang pemalu jelas tidak bisa ikut dalam kegiatan seperti itu. Lagipula tidak ada satupun bakatnya yang menjurus pada pertunjukan teater. “Hehehe, udah langsung nolak aja. Ya udah kalau gak mau, yang penting temenan sama aku mau ya,” ucap Wahyu dengan tawa kecil. Sejak saat itu setiap hari selama minggu tenang, Wahyu datang menemui Ibi dan Zara. Sekedar untuk mengobrol ataupun mengajak mereka makan bersama di kantin sekolah. Tidak hanya itu, Wahyu juga meminta nomor ponsel Ibi. Bukan untuk bertelepon ria, dia hanya sekedar mengirim pesan singkat, memberi perhatian pada Ibi lewat pertanyaan kecil. Ibi yang pada dasarnya baik dan polos menyambut perhatian itu dengan terbuka. Dia selalu menjawab setiap pesan yang dikirimkan oleh Wahyu di ponselnya. Hingga suatu ketika saat di wartel Ibi akan membalas pesan Wahyu, ponselnya kehabisan pulsa. Kebetulan ketika itu ada Dewa yang sedang mampir seperti biasa. “Aduh, pulsa Ibi abis. Mana udah malem lagi,” celoteh Ibi di wartel. “Besok pagi ya aku isiin,” saut Dewa sembari mengotak-atik ponselnya. Berkirim pesan dengan Hanin. “Tapi Ibi butuhnya sekarang,” jawab Ibi. “Emang kamu mau nelepon siapa, Bi? Kan bisa dari wartel.” Fokus Dewa dari ponsel berpindah menatap Ibi. “Bukan nelepon. Ibi mau balas pesannya Wahyu. Kasihan dia nunggu kelamaan,” jawab Ibi jujur. “Siapa?” Dewa meyakinkan sekali lagi apa yang barusan dia dengar. “Wahyu,” jawab Ibi santai “Siapa dia?” Dewa sedikit meninggikan suaranya, membuat Ibi agak terkejut. “Dewa marah, ya? Wahyu itu temen sekolah Ibi. Satu angkatan tapi beda kelas.” Ibi menjawab hati-hati. “Sejak kapan dia kirim-kiriman pesan sama kamu?” tanya Dewa lagi masih dengan nada yang sama. “Sejak dia minta nomor ponsel Ibi. Sekitar tiga hari yang lalu.” Ibi menatap Dewa dengan seksama, mencari celah apakah benar Dewa sedang marah padanya atau tidak. Huuuft ..., kelewatan kamu, Bi. Berkirim pesan sama cowok lain. Aku ini kamu anggap apa? Bahkan setelah tiga hari terjadi aku baru tahu. “Kok kamu gak cerita ke aku?” Kali ini nada suara Dewa sudah turun. Sekali lagi Ibi mengecewakan hatinya. Dewa merasa Ibi tidak menghargai keberadaannya di samping Ibi selama ini sampai hal seperti itu luput dari pengetahuannya. “Maaf, Dewa. Ibi pikir itu bukan hal penting, makanya Ibi lupa cerita ke Dewa.” Ibi menjawab jujur. Dia tidak menyangka pertemanannya yang baru tiga hari bersama Wahyu harus menjadi pembahasan penting diantaranya dan Dewa. “Oh gitu. Ya udah, terserah. Apa yang mau kamu ceritain ataupun enggak, aku gak akan ambil pusing. Kamu yang atur mau seperti apa, Bi.” Dewa sudah lemas mendengar setiap kalimat Ibi. Hatinya kembali tergores, sebab merasa tidak dianggap oleh pujaan hatinya tersebut. “Sekarang aku pamit pulang ya. Ada kerjaan yang mau aku beresin di kost,” sambung Dewa lagi kemudian berlalu pergi meninggalkan wartel Ibi. Langsung Ibi menahan dengan kata-kata. “Eh, Dewa. Tunggu dulu.” Tapi percuma, sebab langkah Dewa sengaja dia percepat agar segera menjauh dari sumber goresan hatinya. “Aduh, kok jadi gini? Masa Dewa marah Cuma gara-gara Wahyu? Memangnya apa yang salah dari pesan Wahyu?” Ibi bertanya-tanya sendiri. Ah, ya ampun, kacau deh ... Bakal batal pergi ke Bali-nya, padahal Ibi udah kasih tau ke mama. Pasti ntar yang ngomel Zara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN