Apa yang Dewa cetuskan dari mulut dan hatinya tidak pernah main-main. Dia serius dengan niatnya mengajak Ibi pergi ke Bali. Sekali lagi dia menanyakan perkara itu pada gadis pujaannya.
“Habis ujian ini, kamu libur panjang ‘kan, Bi?” Ibi mengangguk.
“Gak panjang banget sih, sekitar dua minggu gitu. Kenapa? Pasti Dewa mau ajak Ibi makan keliling cafe ‘kan?” Ibi menebak hal yang selalu mereka lakukan setiap weekend. Makan dari satu cafe ke cafe lain seperti wisata kuliner.
“Bukan itu.” Dewa tertawa kecil. Memang sungguh polos gadis di hadapannya ini. Pikirannya tidak pernah macam-macam hanya sebatas apa yang sudah menjadi rutinitas mereka.
“Terus apa? Mau piknik lagi kayak gini? Ayuk,” ucap Ibi antusias.
“Hehehe, bukan itu juga, Bi. Bukan.” Saking gemasnya Dewa mencubit pelan hidung Ibi.
“Terus apa donk?”
“Kita liburan ke Bali, yuk. Kamu mau ‘kan?” Sekarang gantian, Dewa yang antusias dengan kalimatnya. Tapi malah disambut Ibi dengan tawanya yang begitu lebar.
“Hahaha ..., Dewa konsisten ya. Tetep bikin Ibi ketawa soal itu. Hahaha ...” Mata Ibi sampai berair karena tawanya.
“Ya Tuhan, aku serius, Bi. Gak becanda,” saut Dewa, perlahan Ibi menghentikan tawanya.
“Terus setting-nya dimana? Pantai ‘kan jauh dari sini, sekitar tiga jam perjalanan naik mobil.” Rupanya Ibi menduga kalau Dewa mengajaknya piknik ala Bali di pinggir pantai.
“Gak sampai satu jam kok dari rumah kamu ke bandara. Lalu kita duduk manis dan nikmati perjalanannya hingga sampai di Bali.” Ibi kembali terperanjat dengan kalimat Dewa.
“Dewa serius?”
“Semua yang aku bilang ke kamu selalu serius, Bi, sekalipun aku bicaranya dengan tertawa.” Sekarang wajah Ibi berubah bingung.
“Tapi Bali ‘kan jauh dari sini. Bisa dua kali naik pesawat. Ih, Ibi gak punya duit ah. Tiketnya pasti mahal. Mama sama Baba juga gak bakal ngijinin.” Dewa tampak berpikir sejenak. Beberapa menit kemudian dia mendapatkan ide.
“Kalau kita bikin seolah kamu menang kuis, bisa gak ya? Jadi ntar hadiahnya kamu dapat tiket pulang pergi dari sini ke Bali untuk dua orang. Gimana? Bagus gak ide aku?” Ide Dewa itu membuat Ibi ternganga. Sungguh pintar lelaki di hadapannya, bisa berpikir sampai kesitu.
Tapi ..., apa itu mungkin? Aku ‘kan belum pernah ikut kuis apa-apa sebelumnya. Mama sama Baba pasti heran.
“Biar orang tua kamu gak curiga, aku yang siapin datanya. Surat menyurat dari penyelenggara kuis kepada pemenang nanti aku kirim langsung ke alamat kamu. Isinya tiket pulang pergi Bali untuk dua orang. Tapi kamu harus yakinkan orang tua kamu, kalau orang yang kamu ajak adalah Zara. Gak boleh yang lain. Gimana?” Ibi belum bisa berpikir. Menurutnya ide Dewa itu terlalu canggih sampai bisa menyusun rencana seperti itu.
“Supaya lebih meyakinkan, kamu harus kompakin Zara. Bilang ke dia soal rencana kita, dan minta dia seolah juga mengikuti kuis yang sama seperti kamu. Terus tanpa kalian tau ternyata yang menang adalah kamu. Jadi kamu berinisiatif mengajak Zara, sahabat kamu yang gak terpilih jadi pemenang.”
“Nanti kalau mama kamu masih belum yakin, aku akan telepon ke rumah kamu lewat telepon kantor. Mengkonfirmasi paket hadiah yang dikirim ke rumah serta kesediaan pemenang untuk mengambil paket hadiah tersebut. Semuanya free ditanggung perusahaan. Jika paketnya tidak diambil akan dikenakan denda.”
“Gak hanya itu. Saat hari keberangkatan nanti, aku akan minta bantuan dua orang temen kantorku untuk berpura-pura jadi pemenang juga. Jadi saat kamu diantar orang tua kamu ke bandara, bisa ketemu mereka disana. Dengan begitu mereka akan lebih yakin sama rencana kita.” Dewa tersenyum di akhir kalimat. Tidak perlu waktu lama baginya berpikir. Semuanya digerakkan oleh hati. Hatinya yang begitu menggilai Ibi hingga dengan mudah dia bisa mencari jalan untuk bersama gadis itu.
“T-terus, Zara juga pura-pura berangkat?” Saking takjubnya, Ibi sampai gagap.
“Hehehe, ya enggak ‘lah, Bi. Zara beneran berangkat bareng kamu. Kita ketemu di dalam bandara saat check in.” Dewa mengelus puncak kepala Ibi, menenangkannya dari kebingungan.
Huuuuft ...
“Tapi Dewa ...” Setelah menghembus napas panjang, Ibi menjeda kalimatnya.
“Tapi apa?”
“Pakai apa Ibi beli tiketnya? Ibi gak mungkin minta duit sama Baba. Baba pasti bakal curiga. Lagian Zara juga gak mungkin punya duit beli tiket pulang pergi ke Bali. Belum lagi biaya hotel dan makan. Aduh ..., hek-hek ... Udah deh, kita gak usah bayangin ketinggian. Ntar aja kalo Ibi udah kerja dan bisa cari duit sendiri.” Benar kata Ibi. Dia dan Zara tidak mungkin punya uang sebanyak itu.
“Bi, aku loh yang ajak kamu. Jadi pasti aku yang tanggung semuanya. Kamu gak percaya sama aku?” Dewa menatap Ibi serius.
“Bukan gak percaya Dewa. Ibi percaya seratus persen sama Dewa. Tapi itu ‘kan biayanya besar. Bareng Zara pula. Tanggungan Dewa jadi makin gede. Ntar tabungan Dewa abis donk kalo gitu.” Kekhawatiran Ibi tidak salah. Dewa akan kehilangan enam digit angka tabungannya jika rencana pergi ke Bali itu tetap mereka lakukan.
Buat kamu apapun akan aku lakukan, Bi. Aku serius!
“Hehehe, enggak. Kamu jangan khawatir, Bi. Aku baru dapet bonus gede dari kantor. Hadiah karena terpilih sebagai karyawan teladan.” Dewa jelas berbohong. Tapi dia sengaja tertawa menutupi kebohongannya.
“Benaran? Kapan?”
“Kalo gak bener, masa aku berani ajak kamu ke Bali. Mau bayar pake apa? Kamu ‘kan tahu sendiri tiap bulan aku selalu kirim uang ke ibuku di kampung.” Dewa memang selalu rutin mengirimkan uang pada Ibunya di kampung. Namun uang yang akan dipakainya pergi ke Bali nanti adalah uang tabungan yang sudah sejak lama dia sisihkan untuk biaya menikah dengan Hanin.
Kegilaannya terhadap Ibi sungguh sudah di luar batas, membuatnya melupakan Hanin dan semua rencana indah mereka. Sekarang yang menjadi prioritasnya adalah Ibi. Kebahagian Ibi dan kebersamaannya dengan Ibi.
Dewa tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Cukup satu kali dia membiarkan Ibi pacaran dengan lelaki lain dan itu tidak boleh terulang. Dewa bertekad tidak akan menyia-nyiakan Ibi. Semampunya dia akan membuat gadis itu bahagia bersamanya.
“Ya Allah ..., Ibi kayak mimpi deh. Beruntungnya Ibi kenal sama Dewa. Dewa selalu bikin Ibi hepi.” Ibi mencubit pipi kanan dan kiri Dewa saking bahagianya. Layaknya mencubit bocah kecil yang menggemaskan.
Disaat yang sama Zara dan Adi baru saja kembali dari mengelilingi taman.
“Eits, ada ape nih? Maen cubit-cubitan lu pada?” tegur Adi, membuat Ibi reflek melepas cubitannya lalu salah tingkah.
“Ceilah, si Ibi malu-malu. Hahaha, mukanye ampe merah noh.” Adi menunjuk wajah Ibi. Tapi langsung dipelototi Dewa saat itu juga. Dia tidak suka Adi terus menggoda pujaan hatinya.
“Aduh, gua diplototi Romeo. Kapok dah ngetawain Juliet.” Sontak kalimat Adi yang ini mengundang gelak tawa mereka berempat.
Hari itu sungguh membahagiakan bagi Ibi. Sedihnya atas kalimat menyakitkan dari mantan pacarnya seolah terganti dengan bahagia berkali lipat. Benar memang kalau dibalik tangis pasti tersimpan tawa yang menanti. Sekarang tinggal bagaimana Ibi bisa meyakinkan orang tuanya persis seperti rencana yang disusun Dewa tadi. Akankah Ibi melakukannya?