Bikin Tenang Dan Rindu

1375 Kata
Sebulan sudah berlalu sejak Ibi putus dari pacarnya. Awalnya masih ada rasa sedih di hati Ibi setiap kali berpapasan dengan Abdi di sekolah, sebab Abdi terus menatapnya tanpa berkedip, seolah Ibi 'lah yang bersalah sepenuhnya atas kandasnya hubungan mereka. Tapi lambat laun Ibi sudah tidak acuh lagi. Dia sibuk dengan persiapan ujian akhir semester untuk kenaikan kelas. Ada hal yang harus Ibi prioritaskan daripada sibuk mengurus perasaan dan dugaan hatinya terhadap mantan pacarnya itu. Tapi ternyata ketidak pedulian Ibi itu membuat Abdi kesal. Dia seolah menaruh dendam pada Ibi. Berharap Ibi tidak akan bertemu bahagia karena sudah memutuskan hubungan dengannya secara sepihak. Suatu ketika saat istirahat sekolah, Abdi sengaja datang menghampiri Ibi bersama dengan perempuan yang mengaku mantan pacarnya itu. “Ada apa?” tanya Ibi yang menemui mereka di depan kelasnya. “Besok aku sama Silva mau berangkat ke Jogja. Kita mau tes masuk universitas disana. Aku mau pamit sekaligus minta maaf kalau aku pernah menyakiti hati kamu.” Ibi mengangguk. Dia sudah lama memaafkan mantan pacarnya itu. “Aku juga mau bilang terima kasih ke kamu. Berkat kamu, aku sadar kalau ada orang yang lebih sayang sama aku, lebih peduli sama aku dan lebih perhatian sama aku. Selama ini aku cuma terbuai oleh cover, aku lupa kalau sesungguhnya kita harus menilai seseorang dari isinya, bukan bungkusnya.” Tapi kalimat berikutnya dari Abdi sungguh membuat Ibi terkejut. Sontak matanya terasa panas. Hatinya kembali tersakiti. Dia buru-buru mengerjapkan mata berkali-kali, menahan tangisnya agar tidak jatuh. Jadi selama ini kamu nilai aku seperti itu? Tega kamu ngomong gitu, Di. Bahkan disaat terakhir kamu ada di sekolah ini. Memang begitulah yang Abdi mau. Dia sengaja meninggalkan kenangan menyakitkan pada Ibi sebelum dia dan Silva, pacar barunya, berangkat ke Jogjakarta. Tentu selepas mereka pergi, mata Ibi yang panas tadi mulai meluruhkan kehangatan. Bulir kristal bergerak pelan dari kedua sudut matanya. Jahat! Sejak kejadian itu Ibi bertekad untuk tidak lagi mudah membuka hati. Sudah cukup rasanya sakit yang Abdi tinggalkan untuknya. Dia tidak mau lagi. Bagi Ibi sekarang, pacaran hanya akan menambah rasa sakit hati. Tidak bermanfaat apa-apa. Toh, dia juga tidak kekurangan perhatian dari lelaki, sebab sudah ada Dewa yang akan selalu setia bersamanya. Ya, walau kenyataannya memang tidak ada hubungan jelas diantara mereka. Hari ini hari minggu terakhir sebelum Ibi menghadapi ujian kenaikan kelas. Dia dan Dewa sudah janjian untuk pergi ke taman kota. Tentunya bersama dengan Zara juga. Mereka berencana makan siang bersama dengan nuansa ala-ala piknik, yakni duduk lesehan di atas rerumputan beralaskan tikar bermotif. Demi mendukung kegiatan itu, Dewa sampai mencari tikar motif yang cantik seperti yang Ibi mau. Dia juga tidak lupa membeli satu buket bunga serta satu keranjang kecil buah-buahan. Sementara Ibi dari rumah sudah membawa samosa, paratha, serta kushari. Ketiganya adalah makanan khas Arab. Maklum Ibi yang keturunan Arab terbiasa makan makanan seperti itu. Zara sendiri bertugas untuk membawa minuman sebanyak dua jenis. Jus buah-buahan serta air mineral untuk mereka berempat. Mereka berempat maksudnya adalah Ibi, Dewa, Zara, dan Adi. Ya, kebetulan Dewa mengajak teman satu kosnya, Adi. Memang Adi sedang free minggu ini. Baru saja putus dari kedua pacarnya, jadi dia tidak ada jadwal sama sekali. Sampai di taman kota, Dewa langsung menggelar tikar yang dibawanya persis dekat dengan pohon yang rindang. Melindungi mereka dari sengatan matahari secara langsung. “Wah ..., beneran cantik tikarnya. Ibi suka.” Mata Ibi berbinar melihat motif tikar itu hingga senyum lebar pun tersungging di bibirnya. Allahuakbar ... Senyum kamu, Bi. Hatiku bergetar hanya melihat itu. Hanya sebuah senyum lebar dari Ibi mampu menggetarkan hati Dewa. Sungguh dia telah terjebak dengan pesona itu begitu dalam. Begitu semua makanan sudah tersusun rapi di atas tikar. Mereka berempat duduk berdampingan. Ibi bersama Dewa dan Zara bersama Adi. Ini pertama kalinya Zara bertemu dengan Adi. Dia terus mencuri pandang pada lelaki Betawi di sampingnya itu. Lelaki berkumis tipis, alis tebal dan berkulit sawo matang. Aduh, manis banget sih dia. Kok baru sekarang dikenalin ke aku. Zara berdecak kagum memandang Adi. Ya, dia terpesona pada pandangan pertama dengan teman satu kos Dewa itu. Dewa memperhatikan semua makan yang tersaji, dia seolah mencari-cari yang lain. Matanya menelisik hingga ke rantang susun yang dibawa Ibi. “Bi, nasinya mana?” Seperti orang Indonesia pada umumnya, Dewa wajib makan dengan nasi saat jam makan siang. “Ini.” Ibi menunjukkan pada semangkuk kushari yang dia bawa. Olahan makanan yang terbuat dari nasi brasmati, makaroni, lentil cokelat dan pasta yang dicampur bersamaan. Bagian atasnya dilumuri saus tomat dan cuka apel untuk menambah cita rasa pedas dan asam. Lalu kemudian ditaburi bawang goreng dan kacang chikpeas. Dahi Dewa sampai berkerut memandang makanan yang di tunjuk Ibi. Astaga ..., makanan apa ini? “Ya udah, ayuk makan.” Ibi menempatkan kushari ke atas piring lalu dia serahkan pada Dewa. Ragu-ragu Dewa menerimanya. Ini pertama kali dia melihat jenis makanan itu. Sebagai makanan pokok pula. Nasi dicampur macam-macam gini, apa enak? Dan ternyata rasanya luar biasa membingungkan bagi Dewa. Ada pedas, asam, dan kruncy dari kacang. Tapi demi menghargai orang terkasihnya, Dewa terpaksa menghabiskan sepiring makanan itu, walau dengan susah payah. Terbukti dengan dia yang berulang kali menenggak minuman. Hingga perutnya begah karena terlalu banyak minum. “Enak ‘kan?” tanya Ibi. Dewa mengangguk dengan senyum. “Aduh, sorry, Bi. Gua kagak suka, bukan selera gua soalnye. Maaf ye.” Adi berkata jujur dan Ibi menghargai itu. “Iya, gak apa-apa kok. Selera orang kan beda-beda. Nih, kamu makan yang lainnya, nih.” Ibi menyodorkan martabak dan paratha pada Adi. Sementara Zara yang sudah biasa makan makanan seperti itu di rumah Ibi, tentu memuji makanan tersebut. “Enak, Bi. Kayak biasa, aku selalu suka.” Zara mengacungkan jempolnya. Ibi lantas kembali melihat Dewa. “Dewa mau nambah?” tanyanya. “Eh, enggak, gak. Aku udah kenyang. Enak banget, Bi, tapi perutku udah gak muat lagi.” Dewa buru-buru menolak. Dia sungguh tidak bisa menelan makanan itu lagi. Selesai mereka makan bersama, Adi mengajak Zara berkeliling taman. Tentu dengan senang hati dia menerima. Sementara Ibi dan Dewa tetap duduk di tempatnya. Dewa memandang wajah cantik Ibi. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, tersapu angin hingga wajahnya tertutup sedikit. Bi ..., kapan aku bisa memiliki kamu? Aku serius, Bi. Aku sungguh-sungguh menginginkan itu ... “Kemarin Abdi nyamperin Ibi ke kelas.” Ibi membuka obrolan, membuyarkan lamunan Dewa terhadapnya. “Oh ya, mau ngapain lagi dia? Kamu gak balikan sama dia ‘kan, Bi?” Dewa langsung was-was mendengar nama mantan Ibi itu. Untung gadis dihadapannya menggeleng, membuatnya bisa tenang. “Dia datang Cuma mau bikin Ibi sakit hati. Pamit sekalian ngatain Ibi. Dia bilang kalau selama ini dia udah salah nilai Ibi. Cuma liat cover, tapi isinya gak bener.” Ibi tertunduk menjelaskan. “Apa? Hehehe, aku jadi prihatin sama dia. Sebegitu kesalnya dia kamu putusin sampai berani ngomong kayak gitu. Sesungguhnya dia menyesal, Bi. Dia menyesal udah kehilangan gadis secantik kamu. Bukan hanya itu, kamu juga baik dan tulus. Kamu pintar dan jujur. Dan yang paling penting kamu gadis baik-baik. Aku tau itu.” Dewa mengangkat dagu Ibi, meyakinkan gadis pujaannya untuk kembali percaya diri dan tidak menggubris kalimat bodoh Abdi. “Beneran Ibi kayak gitu?” “Iya, bener banget! Makanya aku betah sama kamu.” Dewa tersenyum memandang pujaan hatinya. Tidak hanya sebatas betah, bahkan dia sudah menempatkan seluruh hatinya pada Ibi. “Hehehe, kayak rumah aja bisa betah.” Ibi tertawa kecil. “Kamu lebih dari sekedar rumah buat aku, Bi. Gak hanya meneduhkan, bikin nyaman, dan bikin bahagia ada di dalamnya, tapi juga bikin aku tenang dan rindu, gak ingin lepas dari kamu.” Dewa mengungkapkan isi hatinya. Tapi lagi-lagi Ibi menangkap berbeda. “Kayak villa di Bali donk. Bikin tenang dan rindu pengen balik lagi kesana,” saut Ibi. “Emang kamu udah pernah ke Bali?” Ibi menggeleng. “Mau kesana, gak?” “Ya, pasti mau ‘lah.” Ibi antusias menjawab sebab Bali memang salah satu tempat impiannya. “Ya udah, kapan?” “Hah?” Ibi terperanjat dengan pertanyaan Dewa lalu kemudian dia tertawa. “Hahaha ..., Dewa becandanya bikin Ibi kaget.” “Aku serius, Bi. Kapan kamu mau kesana?” tanya Dewa lagi. “Kapan-kapan,” ceplos Ibi dengan sisa tawanya. Dewa emang selalu bisa bikin Ibi hepi. Ah, beruntungnya Ibi kenal kamu ..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN