Ibi Putus

1338 Kata
Sejak dating pertama Abdi dan Ibi, hubungan pacaran mereka jadi merenggang. Ibi marah karena dia meninggalkan Ibi di tempat seramai itu. Tapi Abdi juga marah karena Ibi tiba-tiba saja lari entah kemana malam itu. Satu persatu kesalahpahaman diantara mereka pun terus muncul, membuat hubungan makin tidak harmonis. “Tega ya kami ninggalin aku kemarin!” seru Ibi di kantin saat jam pulang sekolah. “Bukannya kamu yang ninggalin aku lebih dulu?” jawab Abdi santai. “Gak usah balikin kata-kata aku deh. Kamu ‘kan tau kalau saat itu aku angkat telepon dari mama.” Ibi tersungut. “Huh, dimana kamu angkat telepon mama kamu? Di hutan? Lari sampe sejauh itu. Terlalu berlebihan, Bi. Aku Cuma ajak kamu makan, bukan ajak kamu clubing. Jadi kamu gak perlu sampe ketakutan kayak gitu. Lebay!” Kali ini kalimat Abdi menyakiti hati Ibi. “Aku lebay? Itu artinya kamu memang gak paham dengan keadaanku. Padahal sebelum kita jadian aku udah jelasin kalau aturan di keluargaku itu ketat banget. Gak boleh punya teman cowok, apalagi pacaran.” Mata Ibi sudah panas dikatai begitu. “Ya Tuhan, tahun berapa ini, masih ada aja aturan begitu. Ya udahlah, aku yang salah. Aku minta maaf. Maafin aku ya, Bi.” Abdi mengalah walau diawalinya dengan menggerutu. Tapi Ibi yang sudah terlanjur kesal, meneteskan air mata. “Eh, kok nangis? Jangan nangis donk! Ntar dikirain aku ngapa-ngapain kamu lagi. Udah ah, apus air matanya. Aku gak suka cewek cengeng!” Bukannya berhenti tapi semakin menangis dikatai cengeng. Ah, tega kamu ngomong gitu sama aku ... Tidak hanya sampai disitu. Masalah diantara Abdi dan Ibi datang lagi. lbi yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja didatangi dua orang kakak kelas perempuan saat dia baru saja keluar dari kamar mandi sekolah. “Jadi lo yang namanya, Ibtisam?” ucap seorang gadis berambut pendek. Dia menarik dagu Ibi, memandangi wajah Ibi beberapa saat, lalu kemudian menghempasnya pelan. “Iya. Ada apa ya, Kak?” tanya Ibi polos. “Gue mantannya Abdi dan gue mau balikan sama dia. Tapi gara-gara lo muncul, semuanya jadi batal!” Gadis berambut pendek itu melotot pada Ibi. Namanya Silva. Oh, mantannya Abdi. Pantesan putus, galak banget sih. “Jadi sekarang gue minta lo jauhin dia. Gak usah lagi lo tanggepin dia. Paham?” perintah gadis itu. Tapi Ibi yang polos itu malah berkata jujur. “Tapi ‘kan aku belum putus sama dia, Kak. Gimana jauhinnya? Atau Kakak minta aja dia putusin aku, biar kalian bisa balikan.” “Heh, bodoh! Kayak gitu mesti diajarin! Ya lo tinggalin ajalah dia! Lo yang putusin dia! Beres ‘kan?!” “Oh, gitu. Oke.” Ibi menurut. Pikirnya mungkin memang harus begitu nasib hubungannya dengan Abdi. Sebab semakin hari semakin banyak ketidakcocokan diantara mereka. Abdi banyak mengeluh dengan aturan yang harus Ibi jalani. Contohnya seperti, tidak boleh pergi terkecuali mengajak Zara, tidak boleh mengantarkan Ibi pulang ke rumah sebab takut ketahuan oleh orang tuanya, tidak boleh menelepon saat sudah malam, dan tidak boleh bicara lama di telepon lebih dari sepuluh menit agar orang tuanya tidak curiga. Langsung saat pulang sekolah, Abdi yang biasanya menunggu di gerbang, ditarik Ibi untuk bicara serius. “Ada apa?” “Aku mau kita putus.” Ibi langsung pada intinya. “Loh, kenapa?” tanya Abdi bingung bercampur terkejut. “Mantan kamu tadi nyamperin aku. Dia bilang kalau dia mau kalian balikkan. Ya udah kita putus dulu, biar kalian bisa balikan.” Ibi memang sepolos itu. Dia berkata jujur pada Abdi. “Terus cuma karena itu, begitu mudahnya kamu putusin aku?” Abdi tidak habis pikir dengan permintaan Ibi. “Daripada mantan kamu nyamperin aku terus. Mungkin lebih baik kita putus.” Wajah Ibi berubah. Sejujurnya dia sedih harus mengatakan hal itu tapi dia tahu kalau pacarnya itu tidak nyaman pacaran dengannya. Namun Abdi menangkap berbeda. Dia berpikir kalau Ibi sudah bosan dan memang sengaja ingin meninggalkannya. “Gak punya perasaan kamu, Bi! Pantas memang aku tinggalin kamu waktu itu di night market!” Dia kecewa dengan ucapan Ibi hingga mengungkit masalah saat dating mereka kemarin. “Kalau kamu seperti ini terus, aku jamin gak akan ada cowok yang betah sama kamu! Lebih baik kamu sendiri!” sambung Abdi lagi kemudian berlalu pergi. Dia meyakini kalau Ibi memang ingin mencampakkan dirinya. Mata Ibi berkaca-kaca. Kembali hatinya sakit dikatai begitu oleh pacarnya sendiri. Seperti biasa, selesai solat magrib Ibi bertugas menjaga wartel milik orang tuanya. Malam itu dia sedang mengerjakan tugas mata pelajaran biologi disana, yakni tugas menggambar anatomi tubuh. Ibi yang memang tidak pandai menggambar serta ditambah dengan kesedihan atas putusnya hubungan dengan pacarnya, mengerjakan tugas dengan mood yang berantakan. Dia menggambar sembari meneteskan air mata. Di saat yang sama Dewa baru saja sampai disana. Ya, lelaki itu memang setiap malam datang ke wartel Ibi. Pura-pura menelepon lalu kemudian berbincang dengan Ibi hingga satu jam. Begitu setiap malam rutinitas yang Dewa lakukan. Tidak peduli seberapa lelahnya dia di kantor, tapi setiap malam dia wajib menghampiri Ibi. Dewa tidak mau lagi Ibi luput dari pengawasannya seperti waktu itu. “Berapa, Bi?” Dewa menanyakan billing teleponnya. “Dua ribu,” saut Ibi. Masih ada bekas air mata di pipinya. “Loh, kamu abis nangis ya, Bi?” tentu Dewa terkejut melihat itu. “Enggak.” Ibi berhohong. Dewa lalu melirik ke buku tulis yang ada di hadapan Ibi. Di lihatnya banyak bekas coretan pensil yang sudah berkali-kali di hapus, membuat kertasnya jadi lecek. Jika Ibi mengulanginya lagi, mungkin kertas itu akan robek. Dewa lalu tersenyum. Apa hanya karena gak bisa gambar itu dia sampai nangis? Dewa bertanya dalam hati. Hehehe, ada-ada aja kamu, Bi. “Sini, aku bantu gambar.” Dewa mengambil buku dan pensil Ibi. Dia mulai menorehkan garisan tangannya disana. Tidak sampai lima menit gambar antomi tubuh manusia selesai dengan rapi di atas kertas. “Makasih ya,” ujar Ibi saat Dewa menyerahkan kembali buku tulisnya. Tumben cuma begitu aja. Biasanya Ibi akan tersenyum dan memuji hasil gambarku. Pasti ada apa-apa dengannya. “Iya, sama-sama. Sekarang aku boleh tanya satu hal gak ke kamu? Tapi janji harus jawab jujur,” pinta Dewa dan Ibi mengangguk. “Kamu tadi nangis kenapa, Bi?” Wajar Ibi yang semula lesu berubah jadi sedih sekarang. Dia kembali mengingat kejadian di sekolah tadi. Ibi lantas menceritakan semuanya pada Dewa. Kembali air matanya menetes. Cepat-cepat Dewa mengusapnya sebelum jatuh ke buku tulis yang sudah di gambar Dewa tadi. “Memangnya kamu sayang banget ya sama pacar kamu itu?” Dewa ingin tahu seberapa besar perasaan Ibi terhadap pacarnya. “Ya, sayang, tapi ...” Ibi sendiri bingung harus menjawab bagaimana. Memang benar dia sayang dengan Abdi, tapi bukan berarti dia menggilai lelaki itu sampai berlebihan. Ibi hanya tidak terima maksud baiknya malah dibalas Abdi dengan kalimat yang menyakitkan. “Tapi apa?” “Tapi kenapa dia tega banget sih ngomong gitu ke Ibi. Kayak nyumpahin Ibi gitu,” jawab Ibi. “Gak usah dimasukin ke hati. Mungkin karena dia marah makanya dia ngomong gitu ke kamu. Tapi aku yakin kok, kata-katanya itu gak bakal jadi nyata. Buktinya aku. Sampai sekarang kita baik-baik aja ‘kan? Aku betah kok deket sama kamu. Bahkan aku lebih dulu kenal kamu dibanding dia kenal kamu. Bener gak?” Dewa tersenyum meyakinkan Ibi. Dan pelan-pelan Ibi mengangguk, pikirannya jadi terbuka berkat Dewa. Memang begitulah nyatanya anak yang teramat polos seperti Ibi. Baru pertama kali pacaran, hingga menanggapi semua kalimat yang keluar dari mulut pacarnya seperti momok yang menakuti dirinya sendiri. “Dewa jangan tinggalin Ibi ya. Dan jangan ngomong kata-kata yang bikin Ibi sakit hati,” saut Ibi kemudian. Tentu kalimat singkat itu menyentuh hati Dewa yang terdalam. Perasaannya yang memang sudah terlanjur besar pada Ibi membuatnya menanggapi sepenggal kalimat itu seolah bunga yang bertebaran di hatinya. “Iya, aku janji.” Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Bi. Gak akan pernah. Sekalipun raga ini tidak lagi ditempatnya, tapi aku yakin, aku akan selalu bersama kamu. Sungguh teramat dalam rasa yang Dewa punya untuk Ibi. Dia tidak main-main, sampai berucap demikian. Meminta ruhnya terus bersama Ibi walau raganya tidak mampu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN