Dua Puluh Panggilan Tak Terjawab

1066 Kata
Dewa berlari mengejar Ibi. Dia tidak menyangka kalau perbuatannya menelepon ke rumah Ibi, membuat gadis itu ketakutan hingga kabur meninggalkan pacarnya. Padahal maksudnya hanya ingin membuat mood Ibi rusak hingga dia mengajak pacarnya pulang saat itu juga. Tapi yang terjadi malah di luar dugaan Dewa. Ramainya pengunjung di night market, membuat Dewa kehilangan jejak Ibi. Apalagi jarak mereka sebelumnya juga lumayan jauh. Ibi tidak terlihat dimana pun. Tentu keadaan itu membuat Dewa panik. Dia berulang kali menghubungi ponsel Ibi tapi tidak tersambung. Hanya operator provider yang menjawab, memberitahukan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Dewa tidak putus asa. Dia terus saja berkeliling hingga hampir satu jam dan akhirnya dia pun menemukan sosok Ibi sedang jongkok, tertunduk di tengah kerumunan orang yang menonton panggung hiburan. Tanpa pikir panjang Dewa langsung menyentuh bahunya, memanggil namanya. Ibi mendongak. Wajahnya basah penuh air mata. Jelas terlihat raut ketakutan disana. Melihat itu Dewa reflek meraih tubuh Ibi masuk dalam rengkuhannya, mendekapnya erat penuh kehangatan. Dewa menyesal. Benar-benar menyesal. Rencananya merusak dating Ibi berujung menjadi tangis ketakutan gadis itu di tengah kerumunan. Setelah keadaan Ibi sedikit tenang, Dewa mengajaknya menepi. Duduk di kedai penjual minuman di sudut. Dia meminta Ibi minum sebotol air agar keadaannya membaik. “Maafin aku ya, Bi.” Dewa mengusap sisa air mata di kedua pipi Ibi. Dia juga merapikan poni gadis itu kesamping. “Kenapa Dewa yang minta maaf? Ibi bersyukur Dewa udah datang nolongin Ibi. Kalau gak ada Dewa, Ibi gak tau harus gimana. Mungkin Ibi masih jongkok dan nangis disana,” ucap Ibi. Masih ada sisa kesedihan di matanya. “Ya, maaf karena aku kelamaan. Kalau aja aku datang lebih awal, kamu gak perlu nangis sesenggukan kayak tadi, Bi.” Dewa sungguh merasa bersalah sudah menyakiti pujaan hatinya itu. “Tapi ..., kok Dewa bisa tahu kalau Ibi ada disini?” Ibi baru sadar, darimana Dewa tahu dirinya berada di night market. “Ha, o, itu, iya, tadi aku coba telepon ponsel kamu, tapi gak aktif. Jadi aku telepon Zara, dia yang bilang kalian ada disini. Pas kebetulan banget aku lagi main ke rumah temen yang gak jauh dari tempat ini. Jadi aku coba mampir, siapa tahu ketemu kalian. Tapi yang ada aku malah ketemu kamu lagi nangis kayak tadi.” Awalnya Dewa sedikit gagap, tapi kemudian dia pintar menjawab. Jawaban yang sudah pasti berbohong. Dewa lalu menelepon Zara sesuai permintaan Ibi. Meminta Zara menemui mereka di pintu keluar agar mereka segera pulang ke rumah saat itu juga. Sampai di kost, Dewa termenung di teras kamarnya. Dia memandang bintang sembari mengingat apa yang telah dia lakukan pada Ibi tadi. Baru kali itu dia melihat Ibi menangis ketakutan dan dia sungguh menyesal. Ya Tuhan, aku benar-benar gak tau kalau kejadiannya akan seperti itu. Aku menyakiti orang yang paling aku sayangi hanya karena cemburu. Arrkh ... Dewa menjambak rambutnya kesal. Sesalnya belum hilang. Disaat yang sama Adi teman kostnya baru saja pulang. Dia menegur Dewa. “Woi, menung aje lu,” sapa Adi. “Eh, kamu, Di. Baru pulang?” saut Dewa. “Yo’i, biasalah ngapelin doski, hehehe,” jawab Adi cengengesan. Dewa hanya tersenyum sekilas. “Lu kenape, Wa? Kok menung sendiri di mari?” tanya Adi kemudian. “Gak apa-apa. Lagi pengen aja,” jawab Dewa asal. “Emang si Hanin kagak nelpon? Biasanye lu bedua lagi sayang-sayangan di hape sampe tengah malem.” Adi menyebut nama Hanin. Ya, betul, Hanin. Dewa hampir melupakan gadis itu. Astaga, Hanin. Dewa buru-buru mengecek ponselnya. Dan benar saja, sudah ada dua puluh panggilan tidak terjawab dari Hanin disana. Memang sejak Dewa masih di night market tadi Hanin sudah meneleponnya. Tapi karena Dewa sedang bersama Ibi, dia sengaja mengubah profile ponselnya menjadi hening. Agar suara dering maupun getar telepon masuk tidak terdengar sama sekali. Maksud hati Dewa akan menelepon Hanin balik setelah dia sampai di kost. Tapi nyatanya dia lupa. Rasa bersalahnya pada Ibi membuatnya melupakan Hanin. Dilihatnya jam ponsel sudah menunjuk ke angka dua belas lebih. Tidak mungkin lagi dia menelepon Hanin sekarang. Sudah terlalu malam. Dan Hanin pasti sudah tidur, pikirnya. Tapi kenyataannya di seberang sana, di kota Surabaya, gadis yang bernama Hanin itu masih terjaga. Dia terus memandangi ponselnya. Melihat foto lelaki yang paling dia cintai saat ini. Orang yang sudah mengisi hatinya selama tiga tahun belakangan ini. Siapa lagi kalau bukan Sadewa Handaru. Tanpa terasa air mata gadis itu menetes. Perasaannya tidak enak, khawatir dengan Dewa. Sedang apa kamu, Mas? Dua puluh kali aku telepon tapi gak kamu angkat. Perasaanku gak enak. Ada apa dengan kamu sebenarnya, Mas? Apa kamu udah bosan sama aku? Feeling Hanin memang kuat. Dia selalu tahu jika ada yang berbeda dari Dewa. Terutama sejak Dewa menaruh hati pada gadis lain. Banyak yang berubah dari Dewa. Dia tidak lagi rutin berkirim pesan pada Hanin. Hanya dua atau tiga kali dalam sehari. Padahal sebelumnya Dewa bisa berkirim pesan dengan Hanin delapan hingga sepuluh kali. Tidak hanya itu, setiap malam sebelum tidur Dewa pasti akan menyempatkan waktu menelepon Hanin selama satu jam. Tapi sekarang tidak kurang dari lima belas menit. Jelas sekali perbedaan yang Dewa lakukan. Jadi wajar kalau sekarang Hanin merasa kecil hati. Dugaannya kuat kalau Dewa sedang ada apa-apa. Aku gak akan biarin itu terjadi, Mas. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku benar-benar sayang kamu, Mas Dewa. Kita udah susun rencana masa depan kita. Kamu harus ingat itu, Mas. Dua tahun lagi rencana kita menikah. Dan aku gak mau rencana itu gagal. Aku gak mau ... Air mata Hanin semakin banyak menetes. Dia menaruh harapan yang begitu besar pada Dewa. Kasihan gadis itu. Dia menjadi korban keegoisan perasaan seorang Dewa. Dewa yang sampai saat ini tidak bisa memutuskan harus pilih yang mana. Di satu sisi dia memiliki Hanin yang selalu setia menanti dan memberikannya cinta tanpa batas. Tapi di sisi lain dia begitu mencintai Ibi, memujanya bahkan bermimpi ingin memiliki gadis itu walau perasaannya tidak berbalas. Bodoh memang. Tapi itulah yang terjadi. Dewa larut dalam senyuman manis Ibi. Senyum yang membuatnya terpenjara dalam cinta Ibtisam. Langkah, rezeki, jodoh, pertemuan dan maut, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang tahu. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas ijin Tuhan. Termasuk pertemuan Dewa dengan Ibi. Tapi manusia berhak memilih. Memilih yang terbaik untuknya, dan yang paling cocok dengannya. Bukan hanya karena napsu ataupun pandangan mata, tetapi hati yang bicara. Hati yang tulus meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Sebab sebaik-baiknya pilihan adalah yang melibatkan Tuhan di dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN