Hari yang ditunggu tiba, yakni hari dimana Ibi dan pacarnya pergi ngedate untuk pertama kali. Ternyata pacarnya itu mengajak Ibi pergi ke night market, pusat jajanan malam yang terdapat panggung hiburan disana. Sudah pasti suasananya riuh dan ramai. Muda-mudi di kota mereka berkumpul disana. Tapi sayangnya Ibi tidak menyukai suasana seperti itu. Dia bahkan terus saja merasa khawatir. Was-was dengan keadaan. Pikiran buruk satu persatu muncul di kepalanya. Maklumlah Ibi memang anak yang kuper (kurang pergaulan), tidak terbiasa dengan suasana begitu.
Lain hal dengan sahabatnya, Zara, sejak sampai disana mulutnya terus saja bersenandung menyanyikan lagu yang dibawakan oleh penyanyi di panggung. Zara juga tidak datang sendiri. Dia sudah janjian dengan teman laki-laki yang dikenalnya dari aplikasi chat. Namanya Roni. Dan sesuai kesepakatan, Zara dan Ibi berpisah lalu akan kembali bertemu lagi dua jam berikutnya di pintu keluar night market. Agar mereka bisa menikmati waktu bersama pasangan masing-masing.
Baru beberapa langkah Ibi berjalan, dia lalu berbisik kencang di telinga Abdi, pacarnya.
“Kita kok kesini sih? Memangnya gak ada tempat makan yang lain?” Kepala Ibi menoleh ke kanan dan kiri, takut dengan keadaan.
“Kenapa? Disini ‘kan asik, banyak pasangan juga. Apalagi pilihan makanannya beragam,” jawab Abdi.
“Tapi aku takut, rame banget. Nanti kalo aku kepisah sama kamu gimana?” Abdi tersenyum menatap pacarnya yang lugu. Dia lalu menggandeng tangan Ibi dengan erat. Melangkah bersama menelusuri kedai makanan satu persatu, memilih menu yang mereka sukai.
Dari kejuahan, ternyata ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Siapa lagi kalau bukan Dewa. Pria yang begitu menginginkan Ibi sebagai kekasihnya. Ya, walau kenyataannya dia juga sudah memiliki kekasih yang lain.
Huh, apa-apaan ini? Zara bukannya mengawasi malah berpisah dengan mereka! Itu berarti aku gak boleh meleng dari mereka.
Dewa mengikuti langkah Ibi dengan jarak lima meter di belakang. Dia mengenakan topi dan masker, menyamarkan diri agar tidak mudah dikenali. Setelah berjalan selama setengah jam akhirnya Ibi dan Abdi selesai dengan pilihan makanan mereka. Selama itu pula genggaman tangan mereka tidak lepas. Bahkan saat mencari tempat kosong untuk duduk pun, mereka masih saja bergandengan. Sesekali Ibi tampak tersenyum. Entah apa yang dikatakan Abdi, yang pasti membuatnya tersenyum.
Hal itu justru membuat Dewa meradang. Terutama dengan genggaman tangan mereka yang tidak kunjung lepas. Ingin rasanya Dewa melepas paksa genggaman itu, lalu menarik Ibi pergi bersamanya. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Akan jadi masalah besar antara dia dan Ibi nantinya. Sekarang yang harus Dewa pikirkan adalah bagaimana mencari cara agar dating Ibi berantakan. Setidaknya mood mereka harus kacau agar mereka segera memutuskan untuk pulang. Tidak berlama-lama di tempat itu.
Dewa lalu mendapatkan ide. Dia mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang. Entah siapa yang dia hubungi yang pasti itu akan membantu rencananya.
Berselang lima menit, Ibi yang sudah duduk berhadapan dengan Abdi, sibuk merogoh saku celananya. Ponselnya bergetar, ada telepon masuk dari seseorang. Awalnya dia tidak ingin mengangkat, tapi ponselnya tidak henti bergetar, hingga dia terpaksa harus mengecek siapa yang menelepon. Dan saat Ibi melihat layar ponselnya, wajahnya berubah cemas. Ternyata yang menelepon adalah mamanya.
“Siapa yang nelepon?” Abdi yang melihat perubahan wajah pacarnya, tentu bertanya.
“Mama ...” Sekarang wajah Ibi sudah berubah takut.
“Ya udah, angkat aja. Bilang kamu lagi makan sama Zara di luar,” saran Abdi. Zara adalah satu-satunya alasan yang membuat Ibi diperbolehkan pergi malam itu.
“Gak, gak mau! Gak bisa. Mama pasti nanya kenapa tempat makannya berisik banget. Dan dia bakal curiga Ibi pergi sama siapa aja.” Ibi tidak bisa tenang sekarang. Ketakutannya semakin menjadi.
“Kalo gitu gak usah diangkat, cuekin aja,” saut Abdi lagi. Sejujurnya dia tidak suka dengan keadaan seperti ini. Pacaran dengan Ibi mengharuskannya main kucing-kucingan. Contohnya seperti sekarang, pertama kali mengajak Ibi makan di luar saja susahnya bukan main, padahal hanya makan bukan melakukan yang lain. Lagipula di tempat ramai, apa masalahnya?
Tapi peraturan orang tua Ibi yang ketat tidak bisa diganggu gugat. Sejak kecil Ibi terbiasa dengan aturan yang begitu. Dan ketika dia beranjak SMA peraturan sudah sedikit diperlonggar. Ibi sudah diijinkan pergi kemanapun asalkan bersama dengan sahabatnya Zara.
“Ih, kamu gimana sih?! Ini ‘kan mama aku. Bakal lebih gawat lagi kalau aku gak angkat teleponnya. Aduuuh ...,” Ibi merengek tidak tentu.
Akhirnya tanpa pikir panjang dia berlari meninggalkan Abdi. Dia terus berlari jauh sampai suara berisik dari panggung hiburan tidak terdengar. Dan saat Ibi hendak menelepon balik mamanya, ponselnya mati kehabisan daya. Sontak saat itu juga Ibi berteriak kesal sendiri. Kenapa nasibnya bisa seburuk itu. Apa kata mamanya nanti jika tidak bisa menghubunginya.
Astaga, bodohnya! Ibi lupa ngecharge sebelum berangkat. Pasti mama bakal mikir macem-macem sama Ibi kalau handphone mati kayak gini. Aduh ..., gimana ini? Ibi harus pulang sekarang!
Ibi memutuskan kembali ke night market, menemui Abdi untuk mengajaknya pulang. Tapi saat dia sudah sampai di tempat duduk mereka tadi, pacarnya itu sudah tidak ada disana. Ibi bingung, dia menoleh ke kanan dan kiri. Kemana dia harus mencari Abdi di tengah keramaian seperti ini sementara ponselnya mati tidak bisa menghubungi siapapun, termasuk Zara.
Lima belas menit berkeliling mencari, kebingungan Ibi berubah jadi gelisah lalu kemudian menjadi takut. Ramainya pengunjung night market serta suara berisik dari panggung membuat otaknya tidak sanggup berpikir. Ibi mulai stres dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia terjongkok di tengah-tengah kerumunan. Ketakutannya memuncak hingga membuatnya mencengkeram lengannya sendiri sambil tertunduk, seolah berlindung dari rasa takut yang luar biasa mendera. Bersamaan dengan itu air matanya pun menetes tanpa henti.
Ibi takut. Benar-benar takut. Mungkin bagi banyak orang apa yang terjadi dengannya terlihat berlebihan. Tapi memang begitulah gadis itu. Dia sungguh tidak pernah berada dalam kerumunan asing sebelumnya. Apalagi seorang diri. Sebab mamanya selalu mengatakan kalau di dalam kerumunan banyak hal buruk yang terjadi. Mulai dari copet, jambret, hipnotis, hingga pelecehan seksual. Kata-kata itu terus berputar di kepala Ibi. Membuat tangisnya semakin menjadi-jadi sampai sesunggukan.
Tiba-tiba dari arah depan sebuah tangan menyentuh bahu Ibi.
“Bi ...” Suara orang yang begitu Ibi kenal, memanggil namanya. Reflek dia mengangkat kepala. Tampak wajahnya yang begitu kacau, basah dengan linangan air mata. Tapi saat menyadari sosok di hadapannya itu Ibi menangis semakin kencang.
Orang itu pun langsung menarik Ibi masuk dalam pelukannya. Mendekapnya erat agar rasa takut yang dirasakan Ibi perlahan sirna. Menggantinya dengan kenyaman dan kehangatan.
Maafin aku, Bi ... Maafin aku ... Aku gak tahu kalau kejadiannya bakal seperti ini. Aku janji, aku gak akan biarin kamu begini lagi. Aku gak akan biarin kamu nangis sendirian lagi. Aku akan selalu ada buat kamu, Bi. Selalu ...