Bubur Diaduk bs Bubur Utuh

1148 Kata
Setelah menghadapi teman-teman kosnya, Dewa mengajak Ibi masuk ke dalam kamarnya. Hanya ada sebuah meja osin disana. Meja kecil yang biasa dipakai orang Jepang untuk makan. “Kamu gak apa-apa 'kan kalau kita makannya dibawah begini?” tanya Dewa sembari mengambil bantal alas duduk untuk Ibi. Ibi tersenyum dan menggeleng. “Gak apa-apa kok.” Mata Ibi berkeliling menyapu setiap sudut kamar Dewa. Ranjang queen size, lemari, jemuran handuk, rak kecil untuk menyimpan buku dan barang lain serta sebuah televisi empat belas inci. Disudut kamar dekat kamar mandi, ada keranjang pakaian kotor yang hampir penuh. “Hehehe, berantakan ya kamarku? Kemarin waktu lembur gak sempat nyuci.” Dewa seolah paham apa yang Ibi pikirkan. “Gak kok. Ini udah rapi untuk ukuran cowok. Daripada kamar Abang Ibi yang joroknya minta ampun.” Di lantai dua rumahnya, disitulah letak kamar Abang Ibi yang jorok itu. Berbanding terbalik dengan keadaan kamar Dewa yang dimasukinya sekarang. Jadi dia jujur mengakui kalau kamar Dewa tergolong rapi. Ibi lalu duduk di alas yang disiapkan Dewa. Mereka bersama menikmati sarapan di atas meja. “Dewa gak suka ya? Ibi gak tau mau beliin sarapan apa. Adanya tukang bubur ayam di deket rumah.” Ibi melirik Dewa yang terus mengaduk mangkuk buburnya sejak tadi. Semua toping tercampur rata, bahkan kerupuknya pun ikut lumer teraduk juga. “Suka kok. Ini nih aku makan.” Dewa menyuapkan bubur ke mulutnya. “Kalo gak suka, gak usah dipaksa. Kita beli yang lain aja.” Tapi Ibi tidak percaya dengan pengakuan Dewa. “Beneran aku suka kok, serius.” Dewa meyakinkan. Tapi Ibi masih tidak percaya. Pasalnya dia geli melihat isi mangkuk Dewa yang teraduk semuanya. Seperti muntahan kucing, pikir Ibi. “Tapi kok itu diaduk semua? Apa gak jijik?” Ibi bergidik. “Loh, kok jadi jijik? Kayak gini tuh buburnya jadi makin enak, Bi. Kamu cobain deh, aku selalu begini kalau makan bubur.” Dewa kembali menikmati suapan demi suapan. Tapi pemandangan itu justru membuat selera makan Ibi hilang padahal baru dua suap bubur yang masuk ke mulutnya. “Hm, Ibi tiba-tiba kenyang.” Ibi menenggak satu gelas air mineral cup untuk menghilangkan rasa jijiknya. “Yah, kok kamu yang udahan sih, Bi. Kenapa? Padahal buburnya enak loh,” protes Dewa. “Ibi gak kuat liat Dewa makan begitu. Langsung tiba-tiba kenyang,” jawab Ibi jujur. “Kok bisa? Ada yang salah ya dari aku?” Dewa jadi bingung. “Itu. Ibi jijik liat bubur Dewa. Mirip kayak muntahnya si Boy.” Ibi menyebut nama kucingnya. “Hah? Hahaha ..., astaga, Bi. Jadi kamu kehilangan selera makan gara-gara liat aku makan begini?” Ibi mengangguk. “Hahaha ..., lucu banget sih kamu.” Dewa mencubit gemas hidung Ibi. “Kalo gitu aku udahan juga deh makannya.” Dewa menghabiskan satu cup air mineral. “Kita keluar yuk, beli sarapan yang baru. Kasihan perut kamu masih kosong.” Selesai minum Dewa lalu menggandeng tangan Ibi. Mengajaknya pergi untuk membeli makanan yang baru. Ya, begitulah Dewa. Rasa cintanya pada Ibi begitu besar. Harusnya dia yang butuh perhatian Ibi karena sedang tidak enak badan, tapi nyatanya malah sebaliknya. Dia yang memperhatikan Ibi penuh. Sementara itu dari luar kamar ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka. Matanya terus mengawasi pintu kamar Dewa yang hanya terbuka setengahnya. Banyak pertanyaan muncul dikepalanya. Cakep banget anak itu. Dimana Dewa mengenalnya? Apa aja sih yang mereka lakukan di dalam? Kenapa suaranya gak kedengeran? Terus, kenapa pintunya gak dibuka seluruhnya sih? Mck, ah, bikin kepo aja! gumamnya kesal dalam hati. Dia lantas masuk ke kamarnya sendiri. Sejak hari itu hubungan Dewa dan Ibi kembali seperti sebelumnya. Saling perhatian, saling cerita, dan saling berkabar satu sama lain. Dewa merelakan kenyataan Ibi yang sudah punya pacar. Dia menekan egonya demi rasa cintanya pada Ibi. Sebab dia tidak ingin kehilangan momen kedekatannya dengan gadis itu. Apalagi dia jadi bisa mengatur langkah Ibi bersama pacarnya. Karena Ibi sendiri yang menanyakan segala sesuatunya pada Dewa sebelum melakukan lebih dulu. Walau terkadang ada beberapa hal yang luput darinya. Seperti saat tangan Ibi yang dipegang oleh Abdi untuk pertama kali. Ibi menceritakan perkara itu. Tentu membuat Dewa cemburu setengah mati. Bahkan rasanya dia ingin mematahkan tangan Abdi. Beraninya dia pegang tangan kamu, Bi. Kurang ajar! Ya, walau kenyataannya Dewa sudah beberapa kali menggenggam tangan Ibi lebih dulu, tapi tetap saja dia tidak rela Ibi dipegang lelaki lain yang bukan mahramnya. Dewa menahan emosi dengan mengepalkan tangannya kencang serta mengatur ritme napas agar Ibi tidak curiga. Lalu kemudian Dewa mengganti topik pembicaraan mereka agar emosinya tidak kembali tersulut. “Minggu ini kita jalan ke mall yuk, Bi. Kayak biasa, kita bertiga sama Zara,” ajak Dewa. “Yah, maaf ... Minggu ini Ibi gak bisa. Abdi udah lebih dulu ajak Ibi kemarin. Ibi lupa bilang sama Dewa.” Rasanya kepala Dewa seperti baru saja dilempar dengan petasan. Pelan-pelan senyum di bibirnya memudar. Berharap bisa hangout bersama gadis yang paling dia kagumi malah mendengar kabar yang semakin membuatnya emosi. Tapi apa boleh buat, Dewa tidak punya hak apapun untuk marah pada Ibi. Dia hanya bisa diam dan membiarkan hatinya kembali tergores atas penolakan itu. “Dewa gak marah ‘kan sama Ibi? Ibi minta maaf ya ...” Ibi menatap Dewa sendu. Wajahnya dibuat seolah memelas agar lelaki dewasa di hadapannya tidak kecewa. “Tapi Ibi janji, minggu depan Ibi gak akan pergi sama Abdi. Biar kita bisa jalan bareng, oke?” Ibi menyunggingkan senyum termanisnya seperti biasa. Sungguh Dewa tidak tahan menolak senyuman itu. Hatinya langsung adem. Tapi egonya sedikit menolak. Dia tidak menjawab ucapan Ibi namun membalasnya dengan pertanyaan berbeda. “Kamu jalan sama Abdi, Zara juga ikut ‘kan, Bi?” “Awalnya sih Abdi gak mau ajak Zara. Dia kayak ngambek gitu. Tapi Ibi paksa aja. Mana mungkin Ibi pergi sama cowok tanpa Zara. Mama sama Baba bakalan marah besar. Makanya mau gak mau dia terima,” jelas Ibi. Bener-bener kurang ajar bocah itu! Pasti dia mau curi-curi kesempatan sama Ibi. “Bagus deh kalo gitu. Karena aku juga bakalan marah kalau kalian pergi berdua doank.” Dewa berkata jujur. “Iya Ibi tau. Dewa ‘kan fotokopinya Baba. Penjaga ketatnya Ibi. Hehehe ...” Ibi tertawa. Lesung pipi kecilnya baru menyumbul begitu dia tertawa. Sampai kapan kamu paham Bi? Aku bahkan bisa memberikan cinta yang sangat besar melebihi siapapun di dunia ini jika itu untuk kamu ... Dewa terpaksa senyum lalu mengusap lembut puncak kepala Ibi. Ternyata cinta itu merelakan sakit berkali-kali hanya untuk melihat orang yang kita cintai bahagia. Persis seperti Dewa pada Ibi. Tidak mengapa sakit asal tidak berjarak. Begitulah yang ada dipikiran Dewa saat ini. Tapi begitupun tidak serta merta membuatnya tenang. Dewa sudah bertekad akan menjadi penguntit diacara ngedate pertama Ibi dengan pacarnya. Tidak akan dia biarkan Ibi lepas lagi dari pengawasannya seperti kemarin. Dia akan mengawasi gerak-gerik Abdi terhadap Ibi. Huh, liat aja nanti bocah! Aku gak akan biarkan kamu berbuat lebih pada Ibiku!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN