Goresan Luka Pertama

1567 Kata
Sampai di kost Dewa langsung masuk ke kamarnya lalu menuju ke kamar mandi. Dia melepas kemejanya, menyisakan kaos dalam berwarna putih yang melekat di badannya. Tanpa melepas apapun lagi, Dewa langsung menyalakan shower, mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar sakit di kepalanya mereda. Tanpa terasa setengah jam berlalu, Dewa baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang. Kepalanya sudah sedikit lebih ringan walau tidak mungkin sepenuhnya sembuh. Sebab yang membuatnya sakit bukanlah penyakit yang sesungguhnya melainkan penyakit yang ada di hati. Goresan luka pertama yang ditorehkan oleh gadis yang begitu dia puja dan dia kagumi. Ibtisam Kamila Bafagih. Ya, dialah gadis itu. Gadis belia berusia enam belas tahun yang dengan polosnya menceritakan bahwa dia sudah resmi berpacaran dengan kakak kelasnya pada Dewa. Tentu itu kejutan dahsyat untuk seorang Dewa. Perasaannya, perhatiannya hingga pengorbanan yang sudah Dewa lakukan pada Ibi tiga bulan belakangan ini seolah tidak berarti apa-apa. Sungguh Ibi tidak berperasaan. Dia anggap apa aku selama ini? Tidakkah Ibi bisa merasa bahwa aku sudah menunjukkan perhatian dan kasih sayang padanya? Tidakkah dia bisa merasa bahwa aku begitu mengagumi dan bahkan memujanya? Tidakkah dia merasa bahwa segala pintanya kulakukan? Semua itu sudah lebih dari sekedar pendekatan. Bahkan kedekatan mereka persis seperti orang pacaran. Setiap malam bertemu, setiap weekend makan bersama. Bahkan berbagi cerita tentang segalanya bersama. Terkecuali cerita tentang Hanin. Dewa menutup rapat soal itu dari Ibi. Tapi apakah Ibi tidak merasakan apapun terhadapnya? Tidak adakah secuil rasa di hati Ibi untuk Dewa? Tit-tit! Tiba-tiba ponsel Dewa berbunyi, ada pesan masuk dari Ibi. Setelah mengenakan pakaian Dewa membaca pesan itu. Dewa istirahat yang banyak ya, biar besok bisa fit lagi kerjanya. Tidak ada hasrat di hati Dewa untuk membalas pesan dari Ibi. Rasa kecewanya masih besar. Tapi saat Dewa baru saja melemparkan ponselnya ke atas ranjang, ponsel itu berdering. Dengan malas terpaksa dia raih kembali. Kali ini tampak di layar bertuliskan nama Hanin. “Halo, Nin,” sapa Dewa begitu mengangkat telepon. Suaranya terdengar lemas dan sedikit serak. “Halo, Mas, lagi ngapain kamu? Gimana kerjaannya, udah beres semua toh?” tanya Hanin di ujung telepon. “Alhamdulillah sudah. Ini Mas udah di kost, baru aja mau istirahat.” “Kamu baik-baik aja ‘kan Mas? Kok suaranya serak gitu? Kayaknya kamu masuk angin itu Mas. Tadi udah makan siang ndak, Mas?” Feeling Hanin sangat tajam. Pertanyaannya sungguh mengingatkan Dewa pada kenyataan. Ya, sehabis bekerja tadi Dewa tidak terpikir lagi untuk makan siang. Prioritasnya adalah bertemu dengan Ibi. Melepas rindu yang sudah menumpuk selama satu minggu. “Belum, aku lupa,” jawab Dewa jujur. “Astaga Mas, kok sampe lupa toh. Padahal udah aku sms. Apa gak kamu baca? Nanti magh kamu kumat loh, Mas. Terus kepalane bisa sakit dan ganggu pekerjaanmu.” Hanin hapal betul tentang kekasihnya. Jika sakit magh Dewa sudah kumat, tidak hanya perut tetapi kepalanya pun ikut sakit. “Iya, kamu bener, Nin. Maaf, aku kecapekan sampe lupa makan. Ini kepalaku sakit daritadi. Udah aku guyur air dingin, berkurang sih, tapi sedikit,” ucap Dewa. “Aduh, Mas, aku ndak ada disana. Jangan sakit-sakit toh. Sopo yang ngurusi kamu nanti?” Suara Hanin terdengar sedih membayangkan lelaki yang dia cintai sedang sakit. “Gak apa-apa kok, Nin. Insya Allah sembuh sebentar lagi. Aku minumin obat. Yang penting kamu terus doain Mas ya. Walau kamu gak ada disini tapi doa kamu bisa menjaga Mas.” Sedikit senyuman tersungging di bibir Dewa. Hanin. Ya, hanya dialah perempuan yang sungguh-sungguh mencintai Dewa saat ini. Tidak pernah absen memberi perhatian, bahkan selalu mengakhiri telepon dengan kalimat, i love you. Kalimat yang diharapkan Dewa bisa dia dengar juga dari Ibi. Tapi nyatanya harapan itu terlalu jauh. Selesai bicara dengan Hanin, Dewa pun memejamkan mata sejenak. Berniat menunggu waktu ashar tiba setengah jam lagi. Tapi saat adzan berkumandang, bukannya terbangun, Dewa bahkan masih tertidur sampai ba'da isya. Ini dikarenakan dia minum obat yang membuat tidurnya begitu pulas. Dia baru tersadar saat Adi mengetuk pintu kamarnya. Tok-tok-tok! “Wa, lu ade di dalem kagak? Gua mau pinjem motor lu nih,” seru Adi dari balik pintu kamar Dewa. Dengan kepala yang masih terasa berat, perlahan Dewa bangkit dari ranjang, meraih kunci motornya di atas meja, lalu dia pun membuka pintu kamar. “Nih,” Dewa menyerahkan kunci motornya pada Adi. “Buset! Jelek amat tampang lu. Kayak abis ditabokin setan.” Adi terkejut melihat wajah Dewa yang kacau dan memerah. “Iya nih, aku lagi gak enak badan, Di. Kamu mau pergi 'kan? Aku sekalian nitip beliin makanan ya.” Walau sesungguhnya dia sedang tidak berselera, tapi Dewa teringat kata-kata Hanin. Dia harus makan agar tidak jatuh sakit yang lebih parah. “Nasi kuning Bu Mar aja ya, Di. Pake telur,” sambung Dewa lagi. “Wokeh, ntaran ya, gua beliin dulu.” Adi bergegas pergi. Dewa menunggu Adi sembari meraih ponselnya. Tampak tiga pesan masuk dari Ibi tertulis di layar. Sejujurnya Dewa enggan membuka pesan tersebut, tapi hati kecilnya tidak henti penasaran. Akhirnya dia baca satu persatu pesan dari Ibi. Dewa lagi apa? Kok gak dibalas? Dewa bobok ya? Dewa baik-baik aja kan? Kepalanya gimana? Masih sakit atau udah sembuh? Kembali hati kecil Dewa menariknya untuk membalas pesan tersebut. Maaf ya, Bi, baru balas. Aku baru bangun. Lagi gak enak badan soalnya. Doain aku sehat ya, biar besok fit lagi. Dewa mengirimkan balasan pesan pada Ibi lalu kemudian mematikan ponselnya. Pagi menjelang. Jam sudah menunjuk ke angka delapan pagi dan Dewa baru saja terbangun. Sehabis solat subuh tadi dia kembali tertidur. Membalaskan rasa lelah yang diakibatkan pekerjaan lembur kemarin. Di raihnya ponsel di atas nakas untuk dia nyalakan. Lalu dengan gontai dia menuju ke kamar mandi, melakukan ritual pagi untuk mengosongkan perutnya. Selesai dengan itu, Dewa membersihkan diri. Dia mengganti semua pakaiannya dengan yang ada di lemari. Baru saja selesai mengenakan pakaian, ponselnya berdering. Biasanya hari sabtu pagi begini Hanin yang menelepon. Dia langsung menekan tombol hijau untuk mengangkat. “Halo, Nin,” ucap Dewa. “Nin siapa? Dewa, ini Ibi.” Ternyata suara Ibi yang menyahut diujung telepon. Dewa reflek melihat layar ponselnya. Ya, tertulis nama Ibi disana. “Ah ya, Ibi. Maaf lidahku keserimpet. Ada apa, Bi?” Dengan santai Dewa menjawab. “Ibi sekarang udah di depan kosannya Dewa. Ibi bawain sarapan nih. Dewa pasti belum makan 'kan?” Dewa mengerutkan dahi, bingung bercampur heran. Ini pertama kalinya Ibi datang ke kos, bahkan membawakannya makanan. Serius dia datang? Dewa melangkah menuju ke pagar depan. Dan memang benar, Ibi tampak berdiri dibalik pagar. Dia lalu menutup sambungan telepon, bergegas keluar menemui Ibi. “Hei, Bi. Kok pagi-pagi kamu udah nyampe kesini?” tanya Dewa. “Iya, Ibi kepikiran sama Dewa. Kemarin kepala Dewa sakit, terus malamnya Dewa bilang di pesan kalau lagi gak enak badan. Ibi jadi khawatir. Pasti Dewa kecapekan karena satu minggu lembur kemarin. Ya udah, Ibi pikir pagi ini Ibi bawain aja Dewa sarapan, sekalian jenguk.” Ibi mengakhiri kalimatnya dengan senyum paling manis yang dia punya. Hal yang sudah pasti meluluh lantakkan hati Dewa. Seketika Dewa lupa dengan rasa kecewanya terhadap Ibi. Hatinya seperti dihujani oleh embun yang sejuk di pagi hari. Senyum gadis belia itu seolah menyihirnya untuk kembali terpikat dan tergila-gila. Dewa lantas menyunggingkan senyum yang sama pada Ibi. Dia bahkan mempersilahkan Ibi masuk ke dalam. “Masuk yuk, kita makan bareng di kamarku.” Dewa menggenggam tangan Ibi, melangkah bersama menuju ke kamar. “Gak apa-apa nih Ibi masuk? Gak ada yang marah 'kan?” Ibi bertanya dengan kepolosannya. Maksudnya adalah memastikan bahwa tidak ada penjaga kos ataupun pemilik kos yang marah jika dia masuk ke dalam. Tapi Dewa menangkap berbeda. “Baru kamu cewek yang aku ajak masuk kesini. Karena kamu spesial buatku, Bi.” Begitu sampai di depan kamar. Dewa dan Ibi bertemu dengan Adi, Remon, dan Elvan teman satu kos Dewa. Ya, tempat kosnya khusus menerima penyewa lelaki saja. “Eits, sape nih?” saut Adi begitu melihat Ibi. Pandangannya langsung fokus melihat tangan Dewa yang menggandeng tangan Ibi. Jelas Adi, Remon dan Elvan terkejut. Mereka bahkan memperhatikan Ibi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tidak satupun dari mereka yang tidak mengakui kecantikan wajah polos Ibi. Gadis belia berponi yang saat itu menggerai rambut lurusnya. “Eh, hai ...” Ibi melepas genggaman Dewa lalu melambaikan tangan pada tiga lelaki dewasa di hadapannya sambil tersenyum. “Namaku Ibtisam, aku te-“ Kalimat Ibi terputus seiring dengan mulutnya yang tertutup oleh satu jari telunjuk Dewa. “Punya gue, paham 'kan?” Dewa tersenyum pada ketiga temannya, khususnya pada Adi yang sudah pernah mendengar ceritanya soal Ibi tempo hari. “Wokeh, paham,” jawab Adi dengan senyum penuh arti. “Aman, Wa,” sambung Remon dengan mengacungkan jempol. “Aduh, gue jadi ngiri. Hahaha ...,” tambah Elvan sembari tertawa. Untuk sesama laki-laki mereka sudah paham dengan apa yang dimaksud oleh Dewa. Dan memang baru Ibi lah perempuan pertama yang Dewa bawa masuk kesitu. Sementara mereka bertiga, sudah silih berganti membawa perempuan. Entah itu pacar, teman, atau hanya keperluan untuk beberapa jam saja. Ya, begitulah laki-laki. Mereka punya kesenangannya masing-masing. Sejujurnya Dewa tidak bermaksud buruk dengan mengatakan kalau Ibi adalah miliknya. Dia hanya bingung harus menjelaskan siapa Ibi. Ingin mengakui pacar, tidak ada hubungan seperti itu diantara mereka. Ingin mengakui adik, terlalu naif rasanya. Ingin mengakui teman, pasti akan jadi pertanyaan sebab Ibi terlalu belia untuk dijadikan teman oleh lelaki dewasa seperti Dewa. Jadi jalan satu-satunya yang terpikir olehnya adalah menjawab Ibi sebagai miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN