Ternyata kakak kelas Ibi yang bernama Abdi itu tidak pantang menyerah. Sudah di tolak Ibi baik-baik setelah pernyataan cintanya yang pertama, tapi dia terus gencar memberi perhatian pada Ibi di sekolah.
Tidak hanya lewat puisi, Abdi juga menyelipkan sebungkus roti dan air mineral setiap pagi di laci meja Ibi di kelasnya. Tentu dengan sebuah note kecil yang menunjukkan bahwa itu darinya.
Jangan lupa sarapan, from, Abdi.
Ibi tersenyum menerima perhatian itu. Bukan karena apa yang diberi melainkan karena ini adalah pengalaman pertama bagi Ibi. Diperlakukan spesial oleh lawan jenis yang jelas-jelas memiliki perasaan suka terhadapnya.
Ibi dan Abdi memang tidak pernah terlibat obrolan secara langsung, terkecuali saat lelaki itu menyatakan perasaannya dan saat Ibi menolaknya. Itu pun dengan kalimat singkat. Sebab Abdi memang memiliki karakter yang pendiam terutama dengan lawan jenis. Ditambah lagi dengan Ibi yang susah bergaul jika tidak dimulai.
Akhirnya setelah dua bulan gencatan perhatian dan siraman puisi dari Abdi, lelaki itu kembali menyatakan perasaan untuk kedua kalinya. Dan entah anugerah dari mana yang jelas siang itu setelah pulang sekolah Ibi menerima dia menjadi pacarnya, pacar pertama.
Lantas bagaimana dengan Dewa? Dia baik-baik saja dengan kesibukan yang padat di kantor seminggu belakangan. Membuatnya tidak bisa bertemu dengan Ibi selama itu. Tapi siang ini setelah Ibi pulang sekolah, mereka janjian bertemu di samping warnet. Kebetulan ada warung penjual jus disana.
Sejujurnya Dewa sangat lelah karena lembur beberapa hari untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Tapi rasa rindunya pada Ibi mengalahkan rasa lelahnya.
Dewa baru saja sampai dengan motornya. Matanya berkeliling mencari keberadaan Ibi, tapi tidak ketemu. Diliriknya jam tangan, terlihat pukul dua lebih sepuluh menit. Itu artinya dia telat sepuluh menit dari janji, tapi kenapa Ibi tidak tampak? Harusnya gadis itu sudah lebih dulu sampai disana.
Dewa lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya, membuka kontak lalu menekan nomor Ibi.
“Halo, Bi. Kamu dimana?” Setelah nada sambung yang kedua Ibi mengangkat ponselnya.
“Eh, iya, Ibi masih di sekolah. Ini Ibi baru mau jalan kesana. Tungguin Ibi ya. Ada hal yang mau Ibi ceriain ke Dewa. Pokoknya seru deh.” Rupanya Ibi baru saja akan berangkat dari sekolahnya.
Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya Ibi sampai di warung jus. Dewa yang melihat kedatangannya melambaikan tangan, memberitahu posisinya. Dia duduk di kursi paling sudut sebelah kanan.
Ibi lalu mendekati Dewa. Wajahnya tampak berseri. Tentu itu menjadi vitamin terbaik buat Dewa yang sudah seminggu penuh digempur oleh pekerjaan kantor yang menumpuk.
Ya Tuhan ..., melihat wajah kamu aja bikin capekku hilang, Bi.
Senyum manis langsung merekah di bibir Dewa. Cuping hidungnya yang mancung jadi sedikit melebar karenanya. Tapi tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.
“Maaf ya, Ibi telat.” Ibi duduk berhadapan dengan Dewa. Di depannya sudah tersedia satu cup jus melon kesukaannya yang sudah lebih dulu dipesankan oleh Dewa.
“Gak apa-apa kok. Minum dulu tuh jusnya.” Ibi langsung menempatkan sedotan untuk meminum jus tersebut.
“Uh, segernya ...” puji Ibi sembari memejamkan mata menikmati jus.
“Eh, iya, Dewa sehat kan? Gimana masalah di kantornya? Udah beres?” tanya Ibi kemudian.
“Alhamdulillah, semua udah beres. Anak magang yang kemarin bikin kesalahan juga udah di pindahin. Tapi karena laporan yang dia bikin kacau semua, aku jadi harus lembur beberapa hari untuk beresin ulang.” Ternyata itu yang menjadi penyebab kesibukan Dewa seminggu belakangan. Laporan divisinya yang kacau disebabkan oleh anak magang.
“Syukur deh kalo gitu. Tapi Dewa keliatan banget capeknya. Matanya sampe cekung gitu. Kayak gak bobo berhari-hari.” Dewa tersenyum. Itu artinya Ibi memperhatikan wajahnya detail.
Capek badanku gak sebanding dengan kangennya aku ke kamu, Bi. Satu minggu kita gak ketemu, dan itu rasanya gak enak banget. Makanya hari ini aku paksakan untuk ketemu kamu lebih dulu sebelum istirahat.
Ya, nyatanya sudah dua hari Dewa tidak tidur agar bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Pikirnya semakin cepat selesai dia akan semakin cepat bertemu dengan gadis pujaannya.
“Kamu apa kabar? Satu minggu aku gak denger cerita kamu, Bi. Ada apa aja di sekolah?” Seminggu berlalu tidak ingin Dewa lewatkan tanpa cerita dari Ibi. Dia menagih cerita itu saat ini. Tapi waktunya tidak tepat. Kali ini waktu tidak berpihak padanya.
“Nah, itu dia yang mau Ibi ceritain. Minggu lalu waktu Dewa sibuk, kak Abdi terus aja nyamperin Ibi.” Ibi antusias bercerita, tapi mendengar nama Abdi membuat raut wajah Dewa berubah.
“Dia ngajak Ibi makan bareng di kantin. Terus dia juga ngasi bahan buat tempelan di mading (majalah dinding). Jadi bantuin tugas Ibi deh sebagai pengurus mading. Pas banget waktu itu lagi banyak tugas sekolah, jadi Ibi gak sempet buat bahan mading,” sambung Ibi.
“Dan terus cerita serunya adalah ..., jeng-jeng-jeng ..., Ibi udah jadian sama kak Abdi.” Sontak mata Dewa terbelalak. Lelah dan kantuknya seolah terkena setrum tegangan tinggi. Membuatnya melotot. Untung syaraf mata adalah ciptaan Allah Swt, kalau tidak mungkin sudah putus karena kejutan yang super mengejutkan itu.
Astaghfirullah aladzim ... Apa ini? Aku gak salah dengar 'kan?!
“Maksud kamu?” tanya Dewa ragu.
“Iya, makanya hari ini biar Ibi ya yang traktir Dewa. Itung-itung selamatan buat hari jadiannya Ibi sama Kak Abdi.” Mata Ibi menyipit, senyum paling manis terlukis di bibirnya. Dia bahagia menceritakan itu pada Dewa.
Tapi yang mendengar malah sebaliknya. Dewa seperti tersengat aliran listrik. Walau sudah dua tahun dia bekerja di perusahaan listrik negara, tapi baru kali ini dia merasakan sakitnya tersengat yang langsung menghujam ke hatinya.
Saat itu juga mood Dewa jadi berantakan. Senyum termanis Ibi sekalipun tidak sanggup membuat moodnya membaik. Waktu benar-benar tidak memihak padanya. Baru satu minggu dia lewatkan tanpa Ibi, tapi perubahan yang terjadi sudah sejauh itu.
Astaghfirullah ... Ya Allah ... Kenapa?
Dewa menopang kepalanya dengan kedua tangan. Dia bertanya-tanya kenapa hal ini harus terjadi. Fisiknya yang lelah ditambah dengan kabar tidak mengenakkan itu membuat dia tidak karuan. Rasanya kepalanya mau pecah sekarang.
“Dewa kenapa? Kepalanya sakit?” Tentu tingkah Dewa membuat Ibi bingung.
Jadi selama ini aku, kamu anggap apa, Bi? Kenapa kamu gak mikirin perasaan aku lebih dulu sebelum pacaran dengan orang lain? Tega kamu, Bi!
Dewa tidak menjawab. Dia memilih diam sambil terus menopang kepalanya. Tentu sikapnya itu membuat Ibi cemas.
“Ini pasti karena kebanyakan kerja ya, sampe sakit kepala. Kalau gitu sekarang Dewa harus istirahat, pulang ke kostan.” Ibi mengusap pelan tangan Dewa tapi kemudian dia menghindar.
Loh, Dewa kenapa, ya?
Detik itu juga Dewa bangkit dari duduknya.
“Kepalaku gak enak banget, Bi. Aku balik duluan ya, maaf.” Dewa meletakkan satu lembar uang biru di atas meja untuk bayar tagihan jus lalu dia pergi.
“Eh, kan Ibi yang mau traktir.” Kalimat Ibi terlambat. Orang yang diajaknya bicara sudah berlalu pergi.
Pasti Dewa kecapekkan kerja, kasihan dia.