Mobil putih tersebut memasuki gang menuju rumahku dengan penuh hati-hati karena memang ada papan peringatan bertanda ‘awas banyak anak-anak’, hingga akhirnya berhenti di sebuah rumah berlantai dua berwarna serba putih dan memiliki gerbang kokoh nan tinggi berwarna hitam. Aku membuka pintu mobil dan segera menutupnya kembali. Pak Lee tidak turut turun. "Mari Pak, mampir terlebih dahulu ke rumah saya." ajakku sebagai bentuk rasa terima kasih meskipun aku juga kurang yakin jika bosku itu mau mampir terlebih dahulu, nyatanya dia tidak ikut turun. "Tidak Hera saya harus segera melanjutkan perjalanan saja. Ini juga sudah malam dan kamu juga supaya bisa segera istirahat. Saya duluan ya!" tolaknya dengan halus. "Oh iya pak tidak apa-apa, terima kasih sekali lagi sudah mau mengantarkan saya, hat

