“Aku dengan Ji-soo!” Teriak seorang anak laki-laki yang biasa dipanggil Jabrik lalu menghampiri kakakku dan segera menggandeng lengannya.
“Jangan begitu, kemarin kan kamu sudah dengan Ji-soo!” Protes anak lain yang sedikit gemuk di antara teman-temannya tak terima.
“Aku yang duluan dengannya!” Si Jabrik yang sedang bersama Ji-soo masih tetap mempertahankannya.
Anak laki-laki lain yang tak mendapat Ji-soo segera berpencar untuk meraih tangan anak-anak perempuan lain yang ada di taman komplek perumahan.
“Biarkan aku bersama adikku saja.” Sahut Ji-soo seraya mendekatiku dan berusaha melindungiku.
“Jangan, kau itu pengantinku Ji-soo!” Jabrik masih terus tak mau melepaskan genggamannya. Ia benar-benar anak lelaki yang keras kepala dan tak peduli dengan seseorang yang sedang digandengnya. Sangat menyebalkan!
Di saat anak perempuan lain selain aku sudah mendapatkan pasangannya, aku hanya berdiri di pojokan taman dekat ayunan dan melihat ke sekeliling siapa tau ada anak laki-laki yang belum mendapatkan pasangan pengantin. Melihat dari ujung ke ujung, melongok dari arah belokan jalan menuju taman Tak ada satupun. Aku lumayan sedih karena di antara semua anak hanya aku yang merasa dikucilkan. Ingus keluar dari lubang hidung sebelah kiriku dan bercampur dengan air mata yang sempat menetes beberapa karena saking kesalnya, aku berusaha menyekanya dengan tangan telanjangku seperti biasa.
“Lihat! Hera melakukannya lagi, iuh kau jorok sekali!” Hardik seorang anak.
“Makanya tak ada yang mau bersamamu, Hera.” Sahut yang lainnya.
Ini kisahku saat usiaku tujuh tahun. Hera kecil yang penampilannya dekil, dengan rambut dipotong cepak karena aku tak suka dengan rambut panjang sedikitpun, tak seperti kakakku Ji-soo yang perpenampilan manis dengan rambut sepunggungnya. Terlebih ingus sering keluar dari hidung yang terus aku seka lantaran terlalu ngeyel meminum es ketika aku tak begitu kuat minum yang dingin-dingin. Kami sedang bermain pasangan-pasangan, semacam bermain peran ketika kau kecil ada yang menjadi Bapak, Ibu, anak, penjual, dan pembeli. Bedanya ini kami bermain peran menjadi pasangan pengantin, setiap anak akan memilih pasangannya dan nanti anak laki-laki akan memasangkan mahkota bunga dan memberikan sebuah buket bunga dari bunga-bunga liar yang banyak tumbuh di sekitar kebun. Nanti pasangan lain memberikan ucapan dan undangan untuk bergantian datang di acara pernikahan mereka. Kami para anak komplek memang sering sekali bermain apapun di taman ini. Para orang tua di komplek ini pun sangat mendukung penuh kegiatan anak-anaknya, sampai-sampai mereka memfasilitasi lengkap mainan di taman komplek yang cukup luas ini untuk menunjang tumbuh kembang anak-anak. Ada berbagai mainan utama yang biasanya ada di taman yang diletakkan di sana, seperti ayunan yang bawahnya diberi pasir supaya jika terjatuh dari sana tak terlalu sakit, ada jungkat jungkit untuk mengasah keseimbangan, perosotan untuk melatih keberanian, komidi putar yang kendalinya dengan cara memutar setir di tengahnya, dan tiang gelantung untuk melatih otot. Bahkan sebagai tambahannya para orang tua juga memfasilitasi tenda berkemah jika kami ingin bermain kemah-kemahan dilengkapi dengan alat masak yang tersimpan di pos dekat taman. Kami bebas bermain apa saja selama tidak selalu bermain gawai dan kebetulan orang tuaku adalah pelopor pencetus program “Ayo bermain di luar, minim bermain gawai!” di komplek ini. Biasanya kami bermain gobak sodor, petak umpet, lompat tali, kucing-kucingan dan bermain peran pengantin-pengantinan seperti yang kami mainkan hari ini.
Ya, aku paham kok meskipun tak ada yang mau menjadikanku pengantin mereka dengan kondisiku yang dekil seperti itu, eh tapi jangankan mereka, akupun jika menjadi mereka pasti akan berebut mendapatkan Ji-soo ataupun anak perempuan lain asal selain diriku. Makanya aku memilih menyendiri saja atau menjadi tamu di pernikahan mereka jika giliran jenis permainan ini yang dimainkan.
Sampai sebuah kejadian yang tak akan pernah aku lupakan terjadi. Seorang anak laki-laki yang kisaran umurnya terpaut berbeda dari anak-anak di komplek datang. Kehadirannya seketika membuat kami yang ada di sana berhenti sejenak untuk bermain demi melihat siapa yang datang. Dengan langkah mantap, anak dengan pakaian kerah motif garis-garis itu mendekat ke arahku. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan membantu mengelap ingus yang keluar dari hidungku.
“Hera, kalau mau jadi pengantin ya harus dibersihkan dahulu hidungnya.” Katanya dengan telaten. Aku hanya terpaku memandangi perlakuannya terhadapku. Teman-temanku seakan merasa jijik ketika anak itu menyeka ingusku.
Ia melipat sapu tangan itu kembali dan memberikannya padaku.
“Ini buat pengantinku, disimpan ya.” Pintanya seraya menyelipkan sapu tangan itu ke dalam genggaman tanganku.
Aku mengangguk dan sangat girang.
“Jadi Mas Aji mau jadi pengantinku?” Ulangku memastikan.
“Tentu saja, aku akan terus menjadi pengantin laki-laki untuk Hera.” Lanjutnya diikuti rasa kagum bercampur iri dari teman-teman perempuanku yang lain. Memang, meski kami masih anak-anak, kami sudah bisa membedakan mana yang orang yang masuk dalam kategori good looking dan Mas Aji adalah anak laki-laki tertampan di komplek perumahan kami saat itu. Hanya saja ia jarang keluar rumah dan bermain dengan kami. Kabarnya karena memang ia sering bepergian mengikuti orang tuanya bekerja.
“Itupun kalau Hera memperbolehkan.” Lanjut Aji lagi.
“Boleh banget, aku malah senang, karena tak ada yang mau jadi pengantinku selain Mas Aji.” Nah, aku malah mengadu ke Mas Aji kalau seringkali ditolak dengan wajah cemberut. Tak apa, namanya juga anak kecil suka blak-blakan apa saja yang dirasakan.
Ia tersenyum dan membelai rambutku dengan gemas, “baiklah, jadi mulai sekarang dan seterusnya Hera adalah pengantinku.” Katanya seperti mengumumkan ke para anak-anak lain. Mereka pun bertepuk tangan dan memberikan mahkota dan buket bunga yang disediakan kepada Aji untuk segera diberikan kepadaku. Tentu saja, aku yang saat kecil masih polos dan suka di hardik tema-temanku menjadi sangat spesial untuk pertama kalinya. Bunga-bunga cinta seakan bermekaran di sekitar tempatku berdiri, karena mulai hari itu aku sangat mengidolakan Aji karena telah menyelamatkanku.
“Mas Aji kapan kembali?” Tanya Ji-soo setelah berhasil lepas dari si Jabrik karena anak lelaki itu akhirnya mau melepaskan kakakku untuk mengobrol dengan teman-temannya yang lain.
“Barusan, Amma dan Appa sedang berkunjung ke rumah kalian dan aku ijin untuk mencari kalian karena aku tak menemukan kalian di rumah.” Balas Aji kemudian.
“Mas Aji akan lama tinggal di sini kan?” Kataku ikut nimbrung.
“Iya, lagian pengantinku kan ada di sini.” Aji kemudian tertawa dan begitupun Ji-soo. Setelah itu Aji bercerita tentang kepergiannya selama seminggu ini bersama orang tuanya. Katanya ia baru saja pergi dari sebuah tempat yang banyak pohon sakuranya. Aku dan Ji-soo selalu antusias mendengarkan cerita Aji, karena setelah bepergian anak itu selalu mempunyai cerita yang sangat menarik dan membuat kami jadi menghayal berada di tempat itu dan melakukan apa yang Aji lakukan. Saking asiknya mendengar cerita Aji, kami sampai lupa untuk melanjutkan bermain peran pengantin dan waktupun sudah menjelang petang.
“Aji! Kemari Nak, ayo kita pulang dulu!” Seru sebuah suara dari kejauhan. Saat kami menoleh terlihat Tante Im sedang memanggil Aji. Ya, wanita itu adalah Amma dari Aji.
“Baik, Amma. Sebentar lagi aku nyusul!” lalu Aji menoleh ke arah kami dan berkata, “Lanjut besok lagi yang main dan ceritanya.”
Kami setuju lagipula kami juga harus segera pulang.
“Ji-soo, Hera, kami pulang dulu ya.” Kata tante Im pamit dari kejauhan setelah aji berada di sisinya.
“Baik, Tante!” jawab kami kompakan. Dan ketika kami melihat sekeliling taman komplek, suasana sudah mulai sepi, beberapa anak sudah dijemput orang tua mereka, menyisakan aku, Ji-soo an beberapa anak lain.
Kami memutuskan untuk pulang juga tanpa dijemput orang tua, karena sebelumnya kami sudah meminta tak perlu dijemput lantaran kami bermain hanya di sekitar rumah saja, kebetulan rumah kami terlihat jelas jika dilihat dari taman, bahkan jika orang tua kami berada di balkon lantai dua rumah kami, maka mereka akan bisa menyaksikan kami dari kejauhan.
Ji-soo menggandengku memastikan aku tetap dalam jangkauannya. Aku memandangnya, kakakku itu memang sangat cantik. Jika di komplek ini Aji adalah anak tertampan maka Ji-soo adalah anak tercantik, hal itu tak diragukan lagi oleh teman-teman kami bahkan para orang tua sekalipun. Maka tak ayal, Ji-soo sering menjadi rebutan para anak laki-laki, jauh berbeda denganku yang justru para anak laki-laki itu enggan untuk menjadikanku pasangan atau lebih baik tidak ikut bermain pengantin-pengantinan jika anak perempuan hanya tersisa aku saja. Yah Ji-soo, kakakku yang berperawakan mungil dan cantik berbeda denganku yang memiliki badan bongsor, justru orang-orang sering salah kira dengan menganggapku sebagai kakaknya Ji-so, padahal jarak lahirku dengannya terpaut dua tahun.
Namun, hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupku. Aku yang biasanya tak memiliki pengantin justru dijadikan pengantin oleh anak yang paling diidolakan para anak perempuan lain. Aku sungguh merasa spesial. Aku bahkan sampai menuliskan nama Aji di dalam buku diary sederhanaku dan menjadikannya sebagai anak laki-laki spesial pertamaku. Baru kusadari setelah agak dewasa ternyata itu yang dinamakan cinta pertama. Gila memang, baru kelas 1 SD sudah mengenal perasaan aneh semacam itu namun hanya ke Aji seorang itupun mungkin karena aku merasa tersanjung akan aksi heroiknya menyelamatkanku dari permainan itu.. Ya, sejak itu nama Aji sering disebut dalam buku mungilku, aku memang suka menulis meski itu berupa kalimat yang sederhana asal bisa menjadi kenangan yang bisa selalu aku baca jika ingin bernostalgia. Lalu sapu tangan darinya setelah di cuci dan bersih kusimpan dan sengaja tak ku kembalikan karena seingatku Aji memang sudah memberikannya kepadaku. Bahkan sampai usiaku beranjak dewasa buku diary dan sapu tangan itu masih kusimpan rapi di dalam sebuah box bergembok khusus yang hanya aku bisa membukanya.