My Boss

1588 Kata
Kini usiaku sudah menginjak 22 tahun. Setelah lulus kuliah dengan menyandang gelar sarjana ekonomi yang tersemat di belakang namaku dari sebuah perguruan tinggi ternama di Surabaya setahun lalu, aku pun dengan segera mendapat sebuah pekerjaan sebagai staff di Departemen General Affair atau biasa disingkat Departemen GA di PT. LeeDae Logistik Indonesia, sebuah anak perusahaan bioteknologi modern di Surabaya, asal kamu tahu saja, perusahaan tempatku bekerja ini memiliki pusat di Korea Selatan sana bernama LeeDae Group. Perusahaan ini sendiri memproduksi berbagai macam produk suplemen kesehatan kimia dan juga herbal. Mereka langsung menerimaku terlebih saat melihat nilai IP cumlaude di ijazahku sesuai dengan kepuasan mereka saat mewawancarai secara langsung maka aku berhasil menyisihkan kandidat lain yang rata-rata juga fresh graduate atau lulusan baru seperti diriku. Hari itu adalah jatahku mengambil pesanan minuman yang aku dan team Departemen GA pesan dari sebuah aplikasi. Saat aku membuka pintu utama yang terbuat dari kaca, kulihat dari kejauhan sudah ada kurir yang tampak sedang berbicara dengan seorang satpam di pos satpam. Sepertinya kurir itu membawa pesanan kami. Aku langsung menghampirinya. “Ini pesanan minuman dari Starbug ya, Pak?” Tanyaku setelah sampai di depan kurir dan satpam itu. Sang kurir menoleh dan bertanya balik, “Atas nama Nona Hera?” “Benar, dengan saya sendiri, Pak.” Kurir itu menyerahkan satu plastik penuh dengan minum pesanan kami, “Ini ya Mbak, tadi sudah dibayar sesuai aplikasi ya dan struk ada di dalamnya.” Katanya memastikan. “Benar, Pak” “Terima kasih sudah menggunakan layanan kami. Mohon di klik tanda terima dan beri bintang limanya ya, Mbak.” Si kurir sedikit nyengir malu-malu di penghujung kalimatnya. Aku tersenyum menanggapi permintaan umumnya itu, “Sama-sama, dan baik akan segera saya beri penilaiannya nanti.” Aku kemudian beranjak kembali menuju kantorku yang terletak di lantai lima gedung ini. Lumayan kerepotan memencet tombol open pada lift karena tak ada orang lain di sekitarku yang bisa dimintai tolong. Namun, saat aku menatap layar di atas lift, tampaknya ada yang naik dari arah basemen tempat parkiran berada, aku melongok jam tanganku, lumayan jam istirahat masih tersisa banyak. Ketika pintu lift terbuka, aku cukup terkejut dengan siapa yang ada di dalam. Bosku! Ia berdiri dengan tegap dengan tangan kiri dimasukkan ke saku celananya dan sebelah lagi sedang sibuk mengotak atik layar ponselnya. “Siang, Pak Lee.” Sapaku seraya tersenyum dan sedikit menganggukan kepala pada seseorang yang di dalam lift sendirian itu. “Siang.” Sapanya balik seraya menunjukan senyum mautnya yang sudah terkenal di seantero kantor. Sedikit gugup aku memasuki lift, ketika akan menekan tombol close, Pak Lee justru sudah berinisiatif menekannya terlebih dahulu untukku. Mungkin karena tau aku tampak begitu rempong dengan tangan penuh bawaan. “Terima kasih, Pak.” Kataku lirih disertai ada rasa segan. Lantas aku melangkah ke belakang Pak Lee dan berdiri di sana. “Hera ke lantai yang sama dengan saya kan? Atau mau ke lantai lain?” Tolehnya sedikit. “Sama Pak.” Balasku sopan. “Ok.” Melewati lantai tiap lantai hanya berdua dengan Pak Lee di dalam lift terasa sangat lama dan mendebarkan bagiku. Untungnya lift gedung ini dirancang sedemikian rupa dengan sisi-sisinya berupa kaca tebal yang memungkinkan penumpangnya dapat melihat pemandangan luar yang sangat menakjubkan sehingga setidaknya dapat mengurangi sedikit kegugupanku. Sesekali aku memandang Pria di depanku ini. Aku ingat, saat wawancara terakhirku sebelum resmi bekerja di sini aku diwawancarai oleh Pria ini. Awalnya meskipun aku dijanjikan akan diwawancarai oleh bosnya langsung dan ketika melihat pria ini tahun lalu kukira ada perubahan mendadak mungkin si bos berhalangan hadir dan digantikan entah sekretaris atau mengutus team HRD muda untuk mewawancaraiku. Namun, siapa sangka wajah pria yang tampak begitu masih muda ini memang bos di sini! Mungkin jika kau melihat kau akan sepemikiran denganku bahwa usianya antara pertengahan dua puluh lima atau dua puluh tujuh, nyatanya tidak, dialah Bos perusahaan ini yang usianya sudah memasuki kepala tiga. Namanya Lee Ha-jin, kami para karyawan biasa memanggilnya Pak Lee. Sebenarnya pria ini jauh jika harus disebut Bapak karena wajah baby face-nya itu lebih cocok disebut Mas atau Kakak hahaha. Tapi karena bentuk rasa hormat tentu saja kami wajib memanggilnya demikian. Ia merupakan pria berkebangsaan Korea Selatan namun sudah sering bolak-balik Korea-Indonesia dan bahkan sudah lama menetap di Indonesia lantaran ia dipasrahi untuk menjadi Direktur di PT. LeeDae Logistik Indonesia ini. Sebenarnya perusahaan ini adalah perusahaan cabang Indonesia, perusahaan utamanya sendiri berada di Korea Selatan sana yang dipimpin oleh CEO sekaligus foundernya sendiri yaitu ayah dari Pak Lee sendiri. Jika melihat dari background keluarganya tak salah bila aku menduga jika parfum yang digunakannya saat ini adalah jenis parfum mahal. Aromanya sangat lembut terhirup oleh hidungku, enak dan tahan lama, jelas khas yang mungkin harganya setara dengan gaji sebulanku di sana, yang pasti tidak dijual di pasaran seperti yang biasa aku kenakan. Tak ada percakapan lagi di antara kami, yang ada sekali lagi aku sangat gugup meski hanya melihat punggung bidang Pak Lee dari belakang dengan setelan pakaian jas warna abu-abu dan sepatu pantofel hitam yang tampak eksklusif khas seperti seseorang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan ini. Suara lift berdenting, menandakan kami sudah di lantai tujuan. Pintu pun terbuka. “Saya duluan ya.” Kata Pak Lee lagi. Ia berjalan dengan gagahnya, membuat terkesiap wanita manapun yang sedang menyaksikannya, ya aku! “Iya, Pak. Silahkan.” Balasku masih dengan segan. Akhirnya, aku bisa bernafas lega dan dingin di kakiku mulai ke suhu normal. Berada berdua saja dengan pria itu adalah sesuatu yang jarang, terlebih ketika Pria itu menyebut namaku dua kali, tambah tak karuanlah hati ini. Aku mengekor di belakangnya, ini kulakukan bukan karena aku mau menguntit Pak Lee melainkan memang ruang kantorku berada di ruang yang sama dengannya. Bukan benar-benar dalam satu ruangan juga sih, maksudku ruangan Departemen GA itu sangatlah luas, nah di dalam ruangan kami masih ada satu ruangan khusus yang juga cukup luas dimana ruang Pak Lee berada. Jadi, semacam ruang dalam ruangan. Terkadang aku merasa amat beruntung, karena bisa sesekali mencuri lihat bosku itu melalui celah-celah gorden yang terbuka dari meja kerjaku. Meskipun Pak Lee memiliki jabatan teratas di perusahaan ini, namun Pria 30 tahun itu terkenal humble dan low profile kepada siapapun, ia merupakan seorang yang gigih, berkarisma, cerdas, elegan dan terkenal ramah ke para karyawannya. Bahkan di hari-hari besar atau ketika perusahaan telah berhasil mencapai target penjualan biasanya bos kami itu akan mentraktir kami sekedar makan bersama di tempat yang menawarkan menu all you can eat. Sebuah hal yang kami nantikan, favoritku adalah seafood, ketika tiba saatnya di restoran sea food itu bak surga kecil bagiku, tidak hanya mendapatkan makanan super enak, mahal secara gratis tapi jadi bisa menatap secara lebih dekat dengan Pak Lee. “Kenapa kamu datang senyum-senyum sendiri kaya orang gila gitu, Ra?” Tanya Bella yang meja kerjanya tepat bersebelahan dengan meja kerjaku. “Barusan aku se-lift dengan si Bos.” Kuletakkan minuman pesanan rekan kerjaku di atas mejaku. Aku mengambil Caffé Americano milikku dan Hazelnut latte milik Bella yang aku letakkan di atas mejanya. Sengaja aku membeli kopi untuk menambah staminaku dan membuatku tetap terjaga di jam-jam yang rawan akan kantuk menyerang. Rekan kerjaku mulai berdatangan mengambil pesanan mereka. Ada 5 cup besar minuman hari ini, untuk makan siangnya kami dapat catering dari perusahaan. “Cie, yang datangnya barengan dengan Pak Bos.” Goda Deren yang baru datang. “Iya, tau gitu kita digratisin ini minuman karena gegara ini kamu jadi berbarengan dengan Pak Lee.” Sahut Bella menanggapi. “Helah, nggak ada!” Protesku. Mereka tertawa melihat ekspresi tak terimaku. “Loh, kalau mau mendapat kejadian baik seperti tadi, sering-seringlah kamu beramal supaya berkah dilipat gandakan.” Sambung Deren. “Ngada-ngada aja beramal sama kalian, yang pendapatannya saja sebelas dua belas denganku.” Balasku lagi. Tiba-tiba telepon di mejaku berdering. Saat aku mengangkatnya terdengar suara wanita dari ujung telepon. “Hera, bisa nanti setelah istirahat ke ruangan Pak Lee sebentar, ada yang mau dibicarakan.” Kata Nur, sekretaris Pak Lee yang sudah cukup lama bekerja jauh sebelum aku diterima di perusahaan ini. Wanita itu menjadi orang paling dekat dengan Pak Lee lantaran ke mana-mana ia selalu berada di sisinya kecuali saat di luar jam kerja bahkan meja kerjanya tepat di dekat pintu masuk ruangan Pak Lee. Cemburu? Tentu tidak. Siapa sih yang tak tahu jika aku menyukai Pak Lee, kurasa semua rekan kerjaku se-departemen tau bahkan di luar departemen kami pun juga. Sebenarnya tak ada yang tidak menaruh hati atau sekedar mengagumi sosok Bos kami yang baik hati itu, hanya saja Nur memang tak seharusnya ditakutkan atau dianggap rival akan menggoda Pak Lee maupun melakukan hal-hal buruk lainnya seperti sekretaris yang sering kalian tonton di sinetron dan drama atau diceritakan dalam novel tentang perselingkuhan antara sekretaris dan Bosnya yang sering membuat pembaca gregetan. Tidak, kami yakin Nur wanita yang sangat menjaga profesionalisme dan harkat martabatnya sebagai wanita, terlebih ia dikenal sebagai sosok yang agamis dan sudah berkeluarga dengan memiliki seorang anak itu. “Baik, Bu. Saya akan segera ke sana.” Ucapku kemudian, yang kemudian telepon ditutup setelah Nur mengucap terima kasih. “Ada apa?” Tanya Bella Kepo “Aku diminta ke ruangan Pak Lee nanti.” Balasku dengan sedikit nyengir. “Tuh kan, hari ini kamu benar-benar diberkahi dengan keberuntungan bertubi-tubi. Fix, ini minuman gratis sebagai tanda syukur!” Ucap Deren sambil ngeluyur pergi membawa minumannya. “How dare you, Deren!” Kataku sambil berkacak pinggang pura-pura marah. Teman-temanku sungguh hobi sekali mengerjaiku, dan aku juga bersyukur memiliki mereka yang sportif dalam bekerja, bahkan kau tak menemukan adanya saling iri atau berusaha menjatuhkan sesama rekan, kami lebih mirip seperti keluarga!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN