Ke Ruangan Bos

1130 Kata
Tok! Tok! Tok! "Permisi Pak, saya Hera." ucap Hera ijin memasuki ruangan Bosnya tersebut. "Masuk!" suara dari empunya ruangan telah bergema, menggetarkan sukma Hera yang dilanda kekaguman pada sosok di dalam. Wanita itu menghela nafas lalu segera membuka kenop pintu. Seketika semerbak parfum ruangan yang menentramkan menyeruak ke hidungnya. "Bapak tadi memanggil saya?" tanya Hera hanya untuk formalitas awal obrolan saja, tentunya dia tau jika Nur sang sekertaris sudah memanggil berarti itu atas perintah atasannya. "Benar, silakan duduk!" Pak Lee menunjuk ke arah kursi empuk yang ada di depannya. Dengan berusaha berjalan tegap dan tidak grogi, Hera memposisikan dirinya untuk duduk di atas kursi berwarna hitam tersebut. "Hera, saya mau tanya, kamu lembur nanti?" tanya Pak Lee kemudian. Hera berpikir sebentar mengira-ngira apakah pekerjaannya nanti bisa diselesaikan dengan segera cepat selesai pada jam pulang. Ada sekitar kurang dari semenit Hera akhirnya menjawab singkat, "Sepertinya tidak Pak." Pak Lee yang mendengar jawaban tersebut malah mengangkat alis sebelah kanannya menjadi lebih tinggi, "Kok jawabannya begitu? Kamu masih ragu? Coba diulangi, jadi nanti kamu lembur atau tidak?" Hera yang menyadari bahwa dia dalam keragu-raguan akhirnya menggeleng sambil tersenyum tipis, "Tidak Pak, pekerjaan saya akan segera selesai sebelum jam pulang, Pak." "Bagus. Ada acara setelah pulang kerja?" tanya Pak Lee lagi, dan seketika jantung Hera berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada apa ini? Kenapa bosku tiba-tiba menanyakan sesuatu hal seperti itu? Seperti bertanya, jika nanti aku bilang 'tidak ada' lalu setelahnya akan mengajakku kencan saja. Ha ha ha tentu saja itu tidak mungkin, memangnya siapa aku ini? "Tidak ada juga, Pak. Kenapa ya Pak?" Jawab Pak, katakan jika Bapak ingin mengajak saya kencan nanti seusai pulang kerja! "Bagus, lalu bagaimana dengan teman-temanmu yang lain?" tanya Pak Lee lagi. Ternyata malah giliran menanyakan soal mereka, pupus sudah ajakan kencan berdua! "Mereka juga tidak ada yang lembur, Pak." Balas Hera lagi dan setelah itu tampak senyum Pak Lee berkembang. Ia menyandarkan badannya sejajar dengan kursi eksklusif yang sedang didudukinya sambil digerakkan kursi itu ke kanan dan ke kiri. "Bagus! Setelah ini saya akan memberikan pengumuman untuk kalian, saya ingin mengajak kalian untuk makan bersama di tempat biasa." Raut wajahku pasti terlihat tampak senang, meski bukan ajakan kencan seperti yang kuharapkan, ya iyalah lagian itu hanya bagian dari halu diriku saja, tak akan mungkin jadi nyata. Tetap senang dengan pemberitahuan itu lantaran si Bos akan mengajak kami pergi ke tempat biasa, tempat biasa yang dimaksud itu sebuah restoran yang kantorku sering tuku jika ingin makan bersama. Ada menu all you can it dan kami bisa memilih berbagai makanan seperti siput ataupun yang lainnya di sana sepuasnya dan pastinya gratis karena Bos yang ajak pastinya dia yang akan tanggung semua bon makan kami. "Baik, Pak. Terimakasih." hanya itu ucapku menanggapi info menggembirakan itu. "Ya, sudah. Kamu bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu." perintah Pak Lee untuk mengizinkanku keluar dari kantornya. "Baik, Pak. Saya permisi dulu." pamitku dengan rasa penuh hormat dan sedikit menganggukkan kepala dan Pak Lee juga melakukan hal sama sebagai balasannya. Cara jalanku masih tegap dan elegan sampai aku menutup kembali pintu ruangan Pak Lee dan memastikan bosku tak melihatku lagi. Cara jalanku jadi berubah, aku berjalan sambil melompat-lompat kecil dan bersenandung lirih. Melihat wajah ceria yang kutampakkan setelah berbicara berdua saja dengan Pak Lee, membuat rekan seruangan penasaran. Kepala mereka nongol dari balik layar PC yang besar. Nampak wajah kepo berat yang ada di wajah mereka. "Hera, cepetan ke sini jangan lemot seperti itu. Kamu wajib memberitahukan kepada kami apa saja yang kalian bicarakan di dalam sana!" cecar deren yang sudah tidak sabar menantikan berak keluar dari ruangan Bos tadi. "Yaelah, sabar kenapa, kamu ini cowok tapi cerewetnya melebihi kami para cewek!" protes Hera seraya mendekat ke meja Deren. "Biarin, aku bangga menjadi diriku yang cerewet seperti ini biar bisa menginterogasi kalian Jika ada hal-hal yang mencurigakan." balas Deren membela diri. "Mengintrogasi buat dijadiin bahan julitan?" tanya Bella ikut nyaut pernyataan Deren, secara Bella dan aku sering menjadi sasaran bahan julid si Deren. Aku hanya terkikik saja menanggapi mereka berdua. "Iya, itu salah satunya." jawab Deren tanpa rasa dosa. Lagian mana peduli dia jika kejulidan dirinya membawa dosa bersamanya, yang terpenting baginya pria itu merasa terhibur dari sela-sela tekanan pekerjaan. "Aku rahasiakan dulu aja ya." kataku membuat dern Bella dan rekan kerjaku yang lain tampak sedikit kecewa karena mereka sudah terlalu lama menunggu ku dan membawa sesuatu yang bisa menarik perhatian mereka. "Jangan gitu dong Ra, Kamu sangat tidak berperikemanusiaan sekali sudah lama lo Kami nunggu kamu tuh!" protes Deren yang diikuti anggukan setuju kawan lainnya. "Sabar, bukan begitu maksudku. Aku nggak mau saja melangkahi Bos, karena nanti juga beliau bakal ngomong sendiri kok ke kalian. Aku hanya bisa mengatakan bakal ada pengumuman yang menyenangkan untuk kita semua!" Senyum merekah kutampakkan, dan teman-temanku ikut tertular rasa senang itu dengan berita yang aku bawa. Meskipun mereka sangat penasaran, tapi mereka segera memahami. Aku lanjut kembali ke meja kubikelku dan segera menyelesaikan pekerjaan input data siang itu. Di sela-sela menyelesaikan pekerjaanku itu, sesekali aku memandangi ruangan si bos. Kapan pria itu akan segera keluar dan ngasih pemberitahuan. Tak berselang berapa lama dari aku melamun memandangi pintu ruangan Pak Lee, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan sedikit membuatku tersentak. Sesaat kemudian ia sudah berdiri di depanku dengan menghadap ke seluruh karyawan yang ada di ruangan itu. "Teman-teman, saya ingin infokan algoritma penjualan bulan ini meningkat, jadi sebagai bentuk rasa syukur, saya berniat akan mengajak kalian makan bersama seusai kerja. Bagaimana? Apakah kalian bisa hari ini?" tanya Pak Lee memastikan meskipun aku sudah mengatakan jika kami semua tidak ada yang berencana lembur hari ini. "Asyik! Bisa Pak, kami free nanti. Iya kan teman-teman?" timpal Deren paling terlihat antusias. Sebenarnya bukan pria itu yang benar-benar antusias, ada aku yang di posisi pertama antusias pada rencana makan bersama ini. Tapi tentu saja aku tak memperlihatkan berlebih, aku harus tetap jaga image. "Bagus. Kalau begitu deal ya hari ini makan bersama di tempat biasanya." ucap Pak Lee membawa keriuhan seisi ruangan sebelum kemudian pria itu kembali masuk ke ruangannya. "Lumayan banget, tanggal tua dan kita malah dapat privilege makan all you can eat!" komen Bella seraya mengelus perutnya dan mengulurkan lidahnya membayangkan makanan yang tersaji. "Bener banget, udah cakep nggak pelit lagi ke kita." kataku salah fokus membahas si bos. "Oh, taunya tadi kamu dipanggil gegara ini?" "Iya, cari tau kita ada yang lembur nggak, kalo sampai satu orang lembur alhasil gagal total makan enak hari ini." jawabku santai. "Untung, kerjaan hari ini nggak numpuk. Yaudah, mari kita lanjutkan selesaikan pekerjaan ini." Bella kembali fokus pada layar di depannya, sejurus kemudian sepuluh jari lentiknya sudah lihai kembali menekan tombol-tombol keyboard. Begitu juga yang lainnya, sejak Pak Lee mengumumkan rencana hari ini, mereka langsung buru-buru fokus ke penyelesaian pekerjaan. Mereka tentu saja tidak mau rugi masih lembur ketika yang lainnya sedang makan enak bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN