Jadi Datang Kan?

1712 Kata
Terik di luar ruangan sekarang sudah mulai meredup sinarnya membuat seluruh penjuru kota menjadi tidak begitu panas lagi dan aku menyukai itu karena rupanya cuaca hari ini sangat mendukung kami semua untuk melakukan aktivitas lebih bebas. Aku menangkupkan kedua tangan dan memastikan bahwa dadaku masih berdetak di tempatnya karena kini sangking grogi aku membayangkan nanti akan bersama dengan Pak Lee dengan leluasa. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku tepat 15 menit sebelum jam pulang. Tapi 15 menit terakhir terasa sangat panjang bagiku karena menit demi menit aku selalu melihat ke arah jam dinding yang terpasang begitu besar dan gagahnya menghiasi ruangan kami. Aku fokus pada jam tersebut, suara dari jam tersebut seperti hanya satu-satunya suara yang ada di ruangan itu. 3… 2… 1… Yay! Jarum panjang jam sekarang tepat berada sejajar dengan jarum pendek jam yang keduanya sekarang presisi di angka lima. Saatnya pulang dari kerja! Seluruh rekan kerjaku juga menyadari itu lalu bersukacita, tetiba saja perut mereka sangat keroncongan membayangkan bakal ada banyak makanan lezat di atas meja mereka nantinya. Tentu saja siapa yang tak senang ditraktir oleh Pak Lee, terutama aku tentunya, karena aku bakal melihat dengan jelas dan waktu yang cukup lama sosok bos yang aku kagumi, bila tadi ketika aku di mintanya ke ruangannya dan hanya berani menatapnya sebentar kemudian menunduk, maka nanti ketika di restoran aku pastikan akan bisa sangat puas memandanginya dalam jarak dekat. Aku harus lekas-lekas sampai di sana duluan dan mengambil tempat duduk yang bersebelahan atau berseberangan dengan bosku itu. Kegatelan? Jangan sebut aku seperti itu! Ini adalah yang namanya cinta dan aku tidak bisa menghalau begitu saja rasa yang telah hadir dan positifnya dengan perasaan yang kumiliki ini justru semakin membuatku semakin rajin dalam bekerja dan tentunya semangatku dan rajin diriku ini bisa membawa dampak baik untuk kedepannya bagi perusahaan, bukan? Saat kami sedang bersiap-siap itulah, tiba-tiba bos dengan cepat sudah muncul ke hadapan kami, dia keluar dari ruangannya sambil tak lepas pandangannya dari ponsel yang sekarang sedang di geser-geser layarnya oleh jarinya itu. Ada apa ini? Aku mulai deg-degan sesuatu yang tak kuharapkan bakal terlontar dari bibirnya. "Semuanya saya ingin minta maaf terlebih dahulu, karena sebelumnya saya ada keperluan sebentar, kalian bisa kesana terlebih dahulu ya, sudah saya pesankan tempat juga, untuk tepatnya dimana nanti petugas akan memberitahukan kalian, sebut saja reservasi atas nama saya.” ucap Pak Lee dengan memperlihatkan wajah yang tampak terlihat sangat sibuk. Tuh kan, rasa was-was yang kumiliki ketika bosku mengatakan demikian benar terjadi. Tapi apa maksudnya? Jangan bilang kami akan mengadakan makan bersama tanpa dirinya, aku sudah berpikiran negatif seperti itu dahulu tanpa mencerna kata-kata apa yang bisa saja bermakna lain. Sedangkan yang lainnya mengiyakan saja dengan mudahnya dan masih dengan ekspresi gembira karena mereka akan menikmati traktiran makan all you can eat secara gratis dan sepuasnya. Merasa semuanya sudah terkondisi dan Pak Lee berniat berbalik akan masuk ke dalam ruangannya, namun aku menghentikannya. “Maaf Pak Lee. Apakah Bapak tidak jadi ikut bersama kami?” tanyaku begitu saja efek dari gundah karena impian di depan mata seperti sirna. Makan gratis sepuasnya memang menyenangkan tapi bagiku bersama dengannya dalam satu meja makan adalah harapanku. Semua rekan kerjaku yang berada di ruangan itu langsung terdiam dan mengarahkan pandangannya terhadap ku lalu beralih ke Pak Lee. Saat ini mereka sedikit kaget ketika aku menghentikan bosku itu dari perjalanannya kembali ke ruangannya. Ada raut muka heran yang tergambar di muka mereka ketika menatapku lagi. Mereka seperti memberi kode ‘Kamu nggak paham!’ Pak Lee yang mendengar aku memanggilnya lantas berbalik dan mengarahkan pandangannya ke arahku sembari memberi senyum manis yang tersungging, “Bukan begitu Hera, saya pasti akan segera kesana setelah urusan saya selesai, hanya saja saya mungkin akan sedikit telat, begitu saja kok.” Mendengar hal itu perasaanku langsung plong, “Oh, iya Pak. dimengerti.” jawabku salah tingkah. “Baik, apakah ada yang ditanyakan lagi sebelum saya masuk?” tanyanya ke arahku kemudian kawan-kawanku dan dibalas gelengan oleh kami. “Tidak, Pak. Cukup dimengerti.” balas mereka juga dengan formal dan penuh hormat. Aku merasa bloon karena tidak berpikiran lebih jauh soal maksud perkataan Pak Lee tadi di awal dan malah justru membuat diriku malu sendiri. “Ya sudah, saya selesaikan dulu pekerjaan saya ya, sampai ketemu di sana.” katanya setelah itu melenggang meninggalkan ruangan kami. Setelah Pak Lee sudah menutup pintu ruangannya dan dirasa dipastikan dia tidak akan bisa mendengar apapun percakapan yang akan kami bicarakan, seketika Deren dan Bella mendekatiku. “Hera, kamu yakin tadi menanyakan hal itu pada Bos kita? Atau akal-akalan saja supaya bisa berbicara dengannya?” tanya Bella setelah meninggalkan beres-beresnya yang belum selesai dan justru merapatkan kursinya untuk bergeser ke kursiku. “Tidak ya, aku menanyakannya karena aku pikir Bos tak jadi ikut bersama kita dan membiarkan kita bersenang-senang sendiri di sana, kan aku merasa gimana gitu.” jawabku memang apa adanya seperti itu. “Aku mah langsung paham dengan apa yang Pak Lee bilang, kalau dia pasti tetap ikut, kan memang biasanya seperti itu atau kalau misalnya tidak jadi ikut mendingan dibatalkan dan diganti hari lain.” Deren sekarang ikut menimpali. “Iya sama, aku juga langsung tahu kalau Pak Lee bakal datang, meskipun telat.” ucap Bella lagi. Kemudian kedua rekan kerjaku tersebut terkikik geli. “Bisa terbaca dengan jelas, Hera sudah sok tau duluan tanpa mencerna kata-kata dari bos kita, segitu cintanya ya sama si Bos sampai-sampai takut merasa dikecewakan?” goda Deren lagi yang semakin membuatku bingung harus berkata apa, yang jelas pipiku langsung merona merah karena tebakan Deren sangat tepat sasaran. “He he sejujurnya iya, aku tadi langsung berpikiran bahwa bos tidak akan ikut kita, jujur aja aku langsung sedih sekali tadi” balasku sembari nyengir kuda. “Dasar kamu ini!” ucap Bella seraya menoel lenganku. Kami lantas segera berberes membenahi meja masing-masing. Aku ke restoran itu dengan membonceng Bella yang mengendarai motor maticnya. Sedangkan rekan kerja lain nebeng mobil Deren, teman kerja satu-satunya yang ke kantor dengan membawa mobil jika yang lainnya pada memilih motor karena dirasa lebih hemat dan efisien saat menerobos kemacetan. Di antara kami, hanya aku yang kemana-mana selalu mengandalkan naik ojek online atau bus trans yang lewat tak jauh dari kantor kami berada. Iya, di era yang serba maju begini aku masih takut untuk mengendarai motor. Jujur saja bukannya aku malas mencoba, tapi dulu aku sudah berusaha berlatih dan justru enam kali aku kecelakaan kecil, hampir nabrak anak kecil ketika dibelokkan, nabrak tiang listrik, jatuh di jalan, parahnya juga pernah nyusruk ke sawah yang tingginya semeter dan untungnya saat itu sedang musim tanam jadi tanahnya sedang lembek sehingga tak membuatku terluka, hanya saja sandal dan motor ayahku masuk dalam kubangan terlalu dalam sampai butuh beberapa bapak-bapak yang menolongku untuk mengangkatnya dan mencarikan sebelah sandalku. Memang aku tak apa-apa tapi malunya itu yang nggak ketulungan jika mengingat bagaimana rupaku saat itu. Tapi itu semua belum cukup menghentikan ku untuk terus belajar lagi dan lagi karena meskipun aku dengan beberapa kali kecelakaan tapi aku sendirian jadi korbannya hingga suatu hari hal yang membuatku untuk tak berani lagi kemampuan berkendara aku adalah ketika aku coba memboncengkan kakakku Ji-soo, saat itu Kak jisoo berkata padaku aku untuk jangan takut berlatih lucky akhirnya dia mau menemaniku untuk belajar padahal saat itu aku mengatakan tidak jomblo karena aku juga takut membawa Kak aku pesan aku ketika aku mengetahui track record dalam berkendara sangatlah buruk, Aku hanya takut ketika ada yang mengerti maksud aku maka aku buru-buru menghentikan kendaraan ku dan kemudian kabur meninggalkan kendaraanku tapi takdir berkata hal itu tak akan terjadi jika dia ikut denganku. Setuju beberapa kilometer berhasil kulalui dengan aman terkendali, tiba-tiba saja perutku terasa mules gali-gali itu hingga akhirnya aku berusaha mencari-cari toilet umum di sepanjang jalan hingga membuatku dan tiba-tiba saja tir yang aku pegang ngegas dengan sendirinya tanpa terkendali hingga motor melaju dengan sangat cepat bagikan di dalam sirkuit lomba saja, aku seketika kaget luar biasa dan sangat takut apa yang harus aku lakukan saat itu terlebih Aku membawa Kakak bersamaku aku sangat takut dengan keadaannya jika menjadi korban kecelakaan warna planet atau apa yang harus dilakukan jika tidak saja aku melepaskan tanganku akhirnya itu terjatuh dengan bebas begitu saja. Contoh usaha kecil berdebar sekali bukan kondisiku yang aku takutkan takutnya pikiranku langsung tertuju pada kakakku Apakah dia baik-baik saja, langsung tujuanku pertama ketika jatuh melihat kondisi Kak Ji-soo. Syukurlah, dirinya baik-baik saja tanpa ada luka ataupun lecet sedikit pun hanya saja wajahnya tampak merengut karena mereka hampir saja kecelakaan untungnya saat itu jalanan di tengah persawahan lenggang padahal biasanya ramai akan kendaraan berupa mobil pick up ataupun truk. Aku bisa bernapas lega. "Mbak, ditabrak siapa?" tanya seorang petani yang kebetulan berada tak jauh dari tempat kami terjatuh tadi. Karena memang tak ada yang mencelakai kami tadi itu jatuh murni karena kelalaian ku sendiri, "Eh tidak Pak, saya jatuh sendiri terpeleset tadi." kataku dengan kikuk merasa konyol. Selanjutnya aku jujur pada Kak Ji-soo jika perutku kala itu sedang bermasalah. Akhirnya kakak yang kemudian membawa motornya da berhenti di sebuah rumah untuk nunut ke kamar mandi. Saat itu rupanya rumah di empunya sedang banyak ibu-ibu yang sedang menyiapkan masakan, sepertinya yang punya rumah sedang mengadakan hajat. Aku sudah tak tahan lagi, meski banyak orang di sana lebih baik aku menahan malu dan ijin ke kamar mandi, untung baik si pemilik rumah. Rupanya baru kusadari, jika akulah yang mengalami luka-luka, celana jeans kesayanganku robek di bagian lutut sampai membuat luka berdarah di sana. Sebelum aku mengetahui aku terluka rasanya kakiku baik-baik saja, tapi setelah sadar malah saat itu setelahnya terasa perih. Sekembalinya dari kamar mandi, kulihat Kak Ji-soo menungguku masih dengan muka cemberut dan aku pun tak memberi tahunya soal luka yang kudapatkan. Dia masih kesal denganku yang tak mau jujur sedang mulas tadi sampai kecelakaan itu terjadi. Jujur saja, itu adalah latihan terakhirku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk tak lagi berlatih berkendara. Saat itu saja aku sudah bersyukur kami baik-baik saja terlebih kakakku, mungkin tak apa jika aku yang mengalami kecelakaan kecil tunggal, tapi aku akan menyalakan diriku dalam waktu yang lama jika saat itu Kak Ji-soo kenapa-kenapa. Meskipun dia mengomel tak henti selama perjalanan pulang ke rumah, tapi aku justru tersenyum. Yang penting kau baik-baik saja, Kak. Kunikmati udara di sekitar persawahan yang terasa menyegarkan saat itu, kenyataan jika kami masih diberi keselamatan adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN