Dinner Seusai Kerja

1011 Kata
Jadi, yah, beginilah aku sekarang. Meski kejadian kecelakaan bersama Kak Ji-soo itu telah berlangsung sangat lama, yaitu ketika kami masih di bangku sekolah. Tapi setelahnya aku benar-benar enggan berlatih lagi. Aku lebih suka memakai kendaraan umum saja, sekalian berdalih untuk mengurangi kendaraan di jalanan dan mengurangi polusi udara. Aku merasa semua itu ada alasannya, aku diminta jadi warga negara yang baik karena sudah mensukseskan program pemerintah untuk peduli dengan lingkungan dan mengurangi kemacetan. Merepotkan memang, di saat-saat sedang dalam kondisi genting dan aku harus ke suatu tempat maka aku harus menunggu datangnya kendaraan atau merepotkan temanku untuk mengantarkanku jika benar-benar mendesak kebutuhannya. Tapi mau gimana lagi, rupanya yang awal memang membuat repot tapi akhirnya aku merasa nyaman saja terlebih semuanya baik-baik saja, tak ada orang yang kubuat celaka. Hanya saja akupun tak lepas dari kejadian apes, dua kali aku kecopetan di dalam bus umum yang pertama ponsel yang aku beli baru dua bulan dicuri dan amplop yang berisi gaji aku memberi les selama dua minggu diambil juga. Sedih. Tapi kejadian lain yang tak jauh lebih membuat tak enak adalah ketika aku duduk bersebelahan dengan seorang pria tua yang tampak tidur tapi rupanya tangannya berusaha meraih pahaku. Aku yang terkadang tulalit, sempat ragu kala itu, si Bapak tampaknya tidur dengan pulas, tak mungkin sengaja kan tangannya menggerayang kemana-mana, baru setelah hal itu terulang lagi membuatku yakin dan segera menyingkirkan tangan itu dengan kasar hingga si bapak kaget dan terbangun, lalu entah memang merasa ketahuan atau memang tempat tujuannya sudah terlihat, pria itu menginformasikan ke kernet untuk turun di perempatan, sebelum dia turun dari bus, sempat dia melihat ke arah belakang tepatnya ke arahku dan langsung kupelototi. Ah, seharusnya aku teriak saja saat itu biar dapat hukuman sosial dari penumpang bus yang berjubel di sana. Rasanya menyesal karena kepikiran cara itu setelah si pria sudah turun. Waktu itu hanya terpikir takutnya aku salah tuduh jadi tak berani bertindak lebih jauh untuk membalasnya. Meskipun begitu, setelahnya aku tetap tak takut menaiki kendaraan umum. Mau takut bagaimana? Itu satu-satunya cara supaya aku bisa bepergian. Aku hanya cukup menepis rasa takutku dan memotivasi diriku untuk berani lebih lagi, dan lebih berhati-hati ke depannya. Kini aku berada di jok belakang membonceng Bella. Untung Bella rekan yang baik, dia selalu membawa helm serep jika sewaktu-waktu aku atau teman yang lain ingin membonceng. Jadi, tak usah cari-cari lagi jika butuh bantuan wanita itu, tinggal nemplok dan jalan he he he. Butuh 15 menit untuk kami sampai di lokasi resto yang letaknya nya berada di pusat kota. Saat pertama kali menjejakkan kaki di depan pintu rasanya aroma dari daging yang dipanggang menyerbak keluar hingga tercium oleh hidung kami. Resto yang dijadikan langganan untuk acara perayaan seperti kenaikan jabatan, acara ulang tahun perusahaan, ataupun seperti tadi untuk acara peningkatan penjualan kantor suka memilih tempat ini. Resto all you can it yang bergaya Jepang terlengkap dan jadi rekomendasi resto Jepang yang sangat enak di kota ini. Untuk kapasitas tempatnya sendiri orang-orang tak perlu merasa takut kesempitan ataupun tidak nyaman, karena tempat ini benar-benar sangat luas dan membuat nyaman para pengunjung untuk betah berlama-lama berada di sini dan menikmati semua makanan all you can eat yang disediakan. Yah, tentu saja asalkan mereka bisa menghabiskan semuanya jika tidak jangan coba-coba deh mengambil makanan terlalu banyak nanti bisa-bisa dapat denda. pernah suatu kali salah satu teman kantorku mengambil terlalu banyak mungkin itu pertama kalinya dia ke resto all you can eat dan merupakan karyawan baru juga, rupanya dia menyisakan terlalu banyak daging di atas piringnya dan karena sudah merasa sangat kekenyangan bahkan tampak tersiksa karena berulang kali dirinya mual ingin memuntahkan makanannya jadi dia tidak sanggup lagi menghabiskan. Akhirnya dia kena charge sekitar lima puluh ribu untuk dirinya sendiri. Jam buka restoran ini setiap hari dari pukul 10 pagi sampai 9 malam itu tandanya kami memiliki cukup banyak waktu untuk berlama-lama di sini. Aku dan Bella menunggu kawan lain yang masih di belakang yang tadi numpang bersama Deren di dalam mobil pria itu, Rasanya menunggu mereka membuat perutku semakin keroncongan. Saat mobil mereka sudah terlihat memasuki gerbang, akhirnya aku sedikit excited. Kami masuk bersama ke dalam resto tersebut dan mencari reservasi tempat atas nama Pak Lee. Rupanya Pak Lee sudah memesankan tempat dengan satu ruangan yang sangat cozy dengan meja bentuknya persegi panjang dan duduknya berupa lesehan ada banyak bantal bantal untuk duduk seperti yang sering kita lihat pada rumah orang-orang Jepang kebanyakan. Rasanya Kami ingin segera melahap daging-daging yang sudah siapkan untuk kami. Poin plus dari restoran adalah pelayanannya yang sangat ramah, baik, dan profesional sekali dalam membuat para pengunjung merasa dilayani dengan sebaik mungkin. Untuk pilihan menunya juga sangat bervariasi, di sini tidak hanya ada daging saja tapi juga ada ayam lalu juga seafood serta dessert nya berupa ice cream dan juga buah-buahan yang sudah dipotong-potong. Untuk kebersihan dari tempat dan alat-alat yang digunakan juga bisa diacungi jempol karena tempat ini memang sangat bersih dan untuk semua peralatannya sudah di steril bahkan di warp sehingga terlihat tampak rapi dan terjaga kebersihannya. “Kita sudah boleh makan tidak sih?” tanya Deren kepada yang lainnya, dia adalah satu-satunya orang yang berani bertanya blak-blakan padahal jawabannya sudah ketahuan. “Jangan dong, kita harus nunggu Bos datang dulu, nggak sopan lah masak nanti dia makan sendirian kitanya sudah kekenyangan dan hanya nontonin dia.” balasku. “Hehehe bener juga. Tapi lihatlah semua makanan-makanan ini mereka semuanya seperti berteriak-teriak ‘ayo makan kami, ayo makan kami segera!’” kata Deren mendramatisir hingga membuatnya semakin konyol. Tentu saja aku dan yang lainnya geli bahkan tertawa melihat aksinya itu. “Eh tapi ngapain juga bos meminta kita pergi ke sini duluan, jika tidak kita makan terlebih dahulu?” Kini Bella ikut menimpali. “Mungkin biar kita ngeliat ini semua dan terbawa ngiler duluan.”. balas Deren. “Udah-udah yang jelas kan si Bos sudah bilang bahwa dia hanya telat sebentar saja Mungkin sebentar lagi dia benar-benar datang.” kataku meskipun sedikit ragu juga sebentar itu seberapa lama ukurannya. “Ceilah iya iya yang selalu bela si Bos nggak terima.” sahut yang lainnya dan membuatku tersipu malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN