Sebagian dari kami sudah menahan air liur cukup lama karena melihat tontonan bahan makanan mentah di depan kami seperti menari-nari dengan penuh mengejek. Untung sesuai janji Pak Lee, yang katanya sebentar lagi akan menyusul rupanya benar adanya. Sepuluh menit setelah kami duduk manis dan rapi secara berjajar memanjang, Pak Lee nongol dari arah pintu.
"Loh, ko masih utuh? Dari tadi belum dimulai?" tanyanya setelah melepaskan sepatu pantofel warna hitam glossy ke rak sepatu yang disediakan.
"He he, iya, nunggu Bapak." jawab Deren bagai juru bicara kami.
"Waduh, harusnya duluan saja tidak apa-apa, karena saya tidak tau kapan pastinya bakal selesai tadi. Makanya saya minta kalian ke sini duluan supaya bisa start dulu tanpa saya." kata bos melihat makanan yang bahkan masih rapi dalam kemasan berplastik menandakan belum ada yang membuka bahan makanan-makanan itu. Deren lantas melirik ke aku dan menaikan kedua alisnya seperti mengatakan 'tuh kan disuruh duluan!'.
"Tidak apa-apa Pak, lebih enak jika dimulai bersama-sama." timpal Nur sang sekretaris Pak Lee yang dari tadi lebih banyak diam, seusai wanita itu berkata demikian kami semua mengangguk setuju.
"Wah, saya jadi terharu. Tadi ada klien yang mau reschedule meeting, untung bisa cepat selesai." tambah Pak Lee.
"Oh, biar saya catat Pak." kata Nur tanggap mengingat itu salah satu jobdesk-nya dalam mencatat kegiatan pertemuan atasannya itu. Ia tampak mengaduk-aduk isi tas kerjanya untuk mencari buku catatan.
"Tak usah, Nur. Ini di luar jam kerja, aku akan memberitahumu besok saja!" cegah Pak Lee dengan mengangkat tapak tangannya tak ingin menginterupsi pesta kecil-kecilan ini dengan pekerjaan.
Nur langsung paham dan menghentikan rencananya, padahal buku catatan yang ia cari sudah dalam genggaman, "Oh, iya Pak. Maaf."
"Iya tak apa-apa." balas Pak Lee dengan ramah dan lemah lembut.
Kini waktu yang paling mendebarkan buatku mulai terjadi. Pak Lee tampak mendekati meja untuk mengambil tempat duduk, dan saat itu hanya ada dua tempat kosong yang tersisa sekarang, masing-masing berada di pangkal meja kanan dan kiri dan jika kiri letaknya terlalu jauh. Aku berharap Pak Lee akan duduk di ujung kanan karena itu bersebelahan dengan tempatku duduk sekarang. Tanganku mulai berkeringat dingin sekarang dan aku sedikit menggigit bibir bawahku karena berharap-harap cemas dan… yes!
Pria itu duduk tepat di ujung meja di mana aku berada di sebelahnya. Kini ia duduk bersila sembari menatap para anak buahnya termasuk aku tentunya.
"Baiklah, lebih baik kita segera mulai saja, sebelum makan siapa yang akan memimpin berdoa?" tanya Pak Lee melempar pertanyaan itu ke kami.
"Saya, Bos!" Deren dengan sukarela mengacungkan jari telunjuknya bak seorang siswa yang rajin tanpa perlu ditunjuk-tunjuk oleh gurunya. Aku yakin Deren ketika sekolah dulu dia adalah termasuk murid yang teladan, rajin dan sangat menyenangkan guru-gurunya karena over percaya dirinya, mungkin bagi teman-teman sekelasnya sewaktu-waktu itu merupakan hal yang menyebalkan karena Deren bisa dianggap siswa yang suka cari perhatian guru, tapi di sisi lain juga dia justru menjadi tameng untuk para teman-temannya agar tidak ditunjuk-tunjuk.
“Oke deren, silahkan!”
“Terima kasih, Bos. Semuanya sebelum kita memulai acara syukuran karena meningkatnya penjualan produk-produk perusahaan kita, mari kita berdoa dulu sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai!” instruksi Deren seketika membuat kami menundukkan kepala dan memanjatkan doa-doa terutama doa sebelum makan.
“Berdoa selesai!” Deren mengakhiri sesi doa kali ini.
“Oke terima kasih saudara Deren. Jadi mari kita menyantap semua sajian yang tersedia di sini sepuas kalian, nanti jika kurang akan saya pesankan lagi tinggal bilang saja ya. Saya harap kinerja kalian tetap terjaga bagusnya dan syukur-syukur bisa semakin meningkat.” pesan Pak Lee tanpa berlama-lama memberi sambutan.
“Aamin..” balas kompak kami semua.
Sejurus kemudian semua orang mulai mengambil daging untuk diletakkan di atas wajan khusus untuk memanggang. Sedangkan aku memilih untuk mengambil seafood sebagai menu pembuka. Pak Lee juga melakukan hal yang sama, ia mulai mengambil selembar sirloin slice beef dan diletakkan di atas wajan dan ketika ia melirik ke arahku, “Oh, Hera suka makan seafood?”
Tiba-tiba ditanya seperti itu membuatku jadi sedikit canggung, “Eh, iya Pak, makanan favorit saya.”
“Jarang-jarang loh yang diambil langsung seafood, tidak amis?” tanyanya lagi sembari menunggu daging yang dipanggangnya matang.
“Tidak Pak, saya suka aroma seafood di sini. Terasa seperti aroma ikan segar.” balasku
“I see, baiklah silahkan makan sebanyak mungkin.”
“Baik Pak, terima kasih.” balasku sedikit menunduk.
Perasaanku sangat senang ketika aku begitu berada dekat dengan orang yang sudah kutaksir sejak pertama kali aku berjumpa dengan bosku ini. Memang sebagai gantinya karena aku terlalu dekat dengannya ada rasa grogi luar biasa yang kurasakan apalagi sejak Pak Lee benar-benar duduk di sebelahku, rasanya aroma parfum yang dipakai Pak Lee begitu memanjakan hidungku dan akupun juga berusaha makan dengan se-elegan mungkin. Jika sedang sendirian aku bisa makan seperti biasa dan sesuka hatiku, biasanya aku lebih suka makan langsung menggunakan tangan lalu menyesap jari-jariku jika makanannya terlampau lezat. Sekarang aku harus jaga sikap dong, apalagi di dekat bosku sendiri, ya ala-ala bersikap dengan sangat elegan makan dengan garpu dan juga pisau di tanganku. Cara makanan yang saling berbanding terbalik.
Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencuri waktu untuk memandang bosku itu, membuatku bisa melihat dengan jelas bagaimana cara dia makan, cara mengunyahnya, sampai ketika dia menyadari jika ada seseorang yang sudah memperhatikannya, lalu ketika dia berusaha melihat ke arahku dengan sesegera mungkin hal itu membuat aku jadi salah tingkah dan langsung memasukkan gurita slice mentah yang akan ku panggang ke dalam mulutku.
“Maaf Hera, rupanya kamu pecinta makanan mentah juga ya?” tanya Pak Lee karena melihat aku masukkan seafood mentah ke dalam mulutku tadi.
Aku yang saat itu dengan tololnya memasukkan makanan mentah dan mengunyahnya langsung seketika rasanya pengen muntah. Aku bukanlah pecinta sashimi ataupun makan mentah lainnya. Aku memang menyukai seafood, tapi harus diolah terlebih dahulu dan sekarang rasanya benar-benar terasa aneh di mulutku dan wajahku cukup memberitahukan Pak Lee untuk jawabannya. Dengan wajahku yang sedikit mengernyit karena menahan rasa mual saat mencoba mengunyah dan memasukkan ke dalam tenggorokanku gurita tersebut. Aku berusaha menjawab Pak Lee dengan gelengan kepala pelan-pelan.
“Ti..dak Pak, I..ni pertama kalinya saya mencoba…” kataku lirih dan gugup karena tak tau harus menelan sisa gurita yang masih berada di mulutku.
Pak Lee kemudian sedikit terperanjat, “Pasti rasanya tidak karuan itu, sepertinya kamu butuh segera ke toilet, Hera.” usul pria itu.
“Ba..ik Pak, saya izin ke toilet sebentar ya.”
“Iya, iya.”
Ketika aku berdiri hampir semua rekan ku menatap ke arahku yang memandang betapa wajahku terasa menggelikan dan bagi mereka itu terlihat lucu. Tapi aku masa bodoh, buru-buru segera ku pakai alas kakiku lalu menuju ke toilet dan memuntahkan apa yang ada di mulutku.
“Hoekh! Tidak enak…” aku mencoba berkumur kumur dengan air keran yang mengalir. Mataku sampai berembun karena tak terbiasa memakan makanan mentah seperti itu. Ini pasti hukuman karena aku sudah lancang memandangi bosku tanpa seijinnya. Setelah merasa yakin semuanya baik-baik saja, aku mulai ke depan wastafel dan memperhatikan tampilan diriku. Lipstik di bibirku mulai memudar, untungnya tadi aku membawa tasku, sehingga aku bisa touch up di sini, lalu kembali ke ruangan tempat dimana bosku dan kawan-kawanku masih menikmati menu makanan yang disediakan.