Acara Usai

1041 Kata
Hari semakin larut. Sudah hampir dua jam rupanya kami berada di restoran bergaya Jepang itu. Waktu yang lumayan cukup lama di tempat khusus makan dan bukan tempat nongkrong. Kami ingat, ke sini datang ketika lampu-lampu jalanan dan di seluruh penjuru kota masih dimatikan serta cahaya mentari masih bisa terlihat dan terasa panasnya lalu kini sampai matahari berubah digantikan oleh rembulan yang cahayanya temaram dan diselimuti oleh lampu-lampu kota serta gedung-gedung bertingkat. Kami juga berada di restoran itu dari yang awalnya perut masih kosong keroncongan hingga sekarang hampir dari kami semua merasakan kekenyangan yang sangat. Hebatnya karena tak ingin menanggung biaya charge yang akan dikenakan jika makanan di atas meja tersisa, maka semua kawan-kawanku dan tentu saja diriku bahu-membahu menghabiskan makanan yang ada di atas meja. Meskipun sebenarnya hampir tidak ada lagi ruang kosong di dalam perut kami. Beberapa justru terdengar bersendawa meskipun mereka berhasil menutupinya, namun tak serta merta bisa menyembunyikan suaranya begitu saja meskipun terdengar pelan, tapi kami semua dapat mendengar suara sendawa dari teman-teman secara bergantian. Salah satu pelayan menghampiri ke tempat kami dan memberitahukan bahwa waktu kami sudah selesai dan kami segera memahami itu lalu bersiap-siap untuk pergi. Tentu saja kami tidak merasa terusir karena memang begitulah peraturan di restoran yang menawarkan menu all you can eat, selalu ada batasan waktu supaya mereka juga tidak merasa rugi jika sewaktu-waktu saja ada pengunjung yang ingin makan lebih ataupun tempat itu bisa digunakan bergantian karena memang di restoran tersebut orang-orang bahkan sampai rela antri dan pastinya beberapa menit lagi tempat yang baru saja kami gunakan untuk makan selama dua jam di sini akan segera digantikan oleh pengunjung yang lain. "Baik, terimakasih karena teman-teman sudah mau memenuhi acara kecil-kecilan ini, sebagai bentuk rasa syukur karena telah meningkatnya hasil penjualan kita pada bulan ini. Sekian untuk malam ini semoga kinerja kita kedepannya semakin lebih tinggi lagi dan jaga selalu kesehatan kalian." Kata Pak Lee memberikan sambutan terakhir sebelum kami semua pulang, dan kami pun menyambut dengan sukacita. Kami semua berdiri dengan sedikit kesusahan karena duduk lesehan dalam waktu dua jam membuat kaki-kaki kami yang tak terbiasa terasa keram, belum lagi perut memang masih kekenyangan dan belum sepenuhnya makanan turun ke dalam perut. Benar saja di luar rupanya ketika hari menjadi petang orang-orang justru memilih untuk antri menikmati menu makanan di sini untuk makan malam mereka. Di luar restoran aku dan yang lainnya segera berpencar untuk pulang ke tujuan masing-masing. Tentu saja Deren membawa serta rombongannya di mobil untuk kembali ke kantor dan menurunkan mereka di sana, baru kemudian ia dan lainnya baru bisa pulang ke rumah masing-masing, Bella tidak lagi membonceng diriku karena memang dari restoran tersebut kediaman kami sangat berlawanan arah dan tak mungkin aku meminta Bella mengantarkan ke rumah, jika itu dilakukan maka dia akan menempuh jarak yang terlampau jauh jadi aku lebih memilih untuk diantar sampai ke halte terdekat dengan restoran saja, dari sana nanti aku bisa menaiki bus menuju ke kediamanku. Paling hanya transit dua kali setelah itu aku berjalan sebentar dan sampai ke tujuanku, dan sedangkan untuk Pak Lee harusnya beliau sudah pulang dari tadi setelah membayarkan kami traktiran hari ini ke kasir. "Bel, sampai sini saja." pintaku ke Bella yang jarak antara halte dengan tempatku turun masih kurang sedikit lagi. "Kenapa di sini? Nanggung tahu, di sana aja!" "Heh nanti pas bertepatan bus datang malah kamu diklakson melulu dan pelanggaran!” "Oalah ya sudah." Dengan hati-hati aku segera turun dari belakang motor Bella, untungnya hari itu aku mengenakan celana bahan jadi membuatku mudah untuk turun naik dari motor. Coba bayangkan saja jika pada hari itu aku mengenakan rok span selututku, pasti aku justru kesusahan saat membonceng Bella, apalagi dengan posisi miring duduknya, bisa-bisa aku terjungkal jatuh ketika Bella mendadak mengerem. Meskipun hal seperti itu tak terjadi karena selama perjalanan kami tidak mengalami rem mendadak karena Bela merupakan pengendara ulung aku hanya berimajinasi saja jika sesuatu hal tersebut terjadi. "Kamu hati-hati ya, kejadian yang tak mengenakkan yang pernah kamu ceritakan itu jangan sampai terulang kembali. Waspada itu juga penting!" ucap Bella. "Iya, aku tahu itu semua, aku akan waspada." "Bagus dan kalau bisa jangan tertidur ya karena jika kamu tertidur kewaspadaan juga tentunya akan berkurang, kurang yakin kamu bisa tidak untuk tidak tidur apalagi kita baru saja kekenyangan makan, pasti rasanya ingin segera tidur dan terbuai dengan AC dalam bis." tambah Bella memicingkan sebelah matanya. "He he he, nah itu yang lumayan sulit. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Kamu juga ya hati-hati di jalan Bel, kekenyangan juga bisa membuatmu merasakan ngantuk saat berkendara." balasku. "Kamu usahakan terus terjaga pokoknya, aku pun juga sama berusaha demikian dan nanti jika di tengah perjalanan terasa mengantuk aku pasti berhenti kok di minimarket untuk membeli kopi ataupun minuman penyegar agar membuatku berstamina kembali." kata Bella lagi seraya menaruh helm yang tadi aku berikan kepadanya. "Ya sudah, aku pergi duluan ya bye!" tambah Bella dan aku turut melambaikan tangan kepadanya. Baru setelah Bella dan motornya hilang dari pandangan setelah menembus kemacetan yang terjadi karena ada lampu lalu lintas dalam jarak beberapa meter ke depan, aku pun berjalan dengan santai menuju halte yang rupanya hanya berisikan dua orang muda-mudi di sana. Aku mengambil duduk tak jauh dari muda-mudi tadi yang tampak sedang curhat satu sama lain dan sepertinya mereka terlibat dalam obrolan yang sangat serius. Aku tak ingin ambil pusing dengan mencuri dengar persoalan mereka, akhirnya kuputuskan untuk fokus saja melihat pemandangan kota yang mataku bisa jangkau. Sesekali aku juga mengecek layar ponselku, siapa tahu ada pesan masuk pribadi ke nomor w******p ku. Hanya ada beberapa pesan untukku, sebagian besar adalah dari keluargaku yang tadi akan lupa memberitahu jika bakal pulang telat dan pesan lainnya berasal dari teman ku dulu sewaktu masih SMA untuk menanyakan kabar. Setelah membalas pesan-pesan itu semua, tiba-tiba ada suara klakson mobil membuyarkan lamunanku dan juga muda-mudi yang tadi sedang sibuk berbincang-bincang. Aku yang sedikit juga merasa terganggu akhirnya mau tidak mau memusatkan perhatian ke sumber suara klakson tadi. Ketika aku amati sepertinya aku mengenal mobil tersebut, tapi lupa -lupa ingat juga, sampai akhirnya kaca mobil depan bergerak turun dan memperlihatkan sosok si pengemudi dan alangkah terkejutnya aku rupanya itu adalah bosku! "Pak Lee?" ucapku sedikit ragu-ragu karena apakah benar itu dirinya? Atau bukan? Tapi jika dilihat dari mobilnya itu memang mobil milik bosku, tapi sedang apa dia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN