Chapter 9

1481 Kata
    Melihat Verrel ditarik paksa oleh Langir, Arthur segera bangkit dari duduknya. Ia berniat melerai tapi masih kalah cepat dengan tinju Langir yang sudah mendarat di rahang Verrel.     "Kak, jangan langsung main fisik dong." Arthur mendorong Langir mundur dan melepaskan cekalan Langir di kerah baju Verrel.     Panji turut menarik Langir dan menenangkan emosi cowok itu. Panji membawa Langir ke seberang meja tepat di samping Morus.     "Langir, lo turunin emosi lo. Ini kita lagi bicara baik-baik sama mereka," ujar Morus.     "Ini semua gara-gara lo, Mor. Kalau semalem lo nggak kasih hukuman ke Aci sama Cila buat lembur, mereka nggak akan tewas kaya gini." Langir berbalik menyerang Morus.     "Bro, udah. Lo tenang dulu. Jangan saling salah-salahan gini." Panji meremas bahu Langir.     "Jadi kalian nggak tau apa yang terjadi sama Aci dan Cila semalam?" Morus kembali fokus pada empat s*****n.     Arthur mengangguk tanpa ragu, "Ya, kami memang berniat mengawasi mereka. Kak Aci dan Kak Cila meninggalkan kampus tepat pukul sembilan. Kami juga pulang setelah itu."     "Siapa yang menjamin kalau kalian nggak berbuat macam-macam pada Aci dan Cila saat posisi mereka sudah di luar kampus?" Panji bertanya dengan tenang. Tapi nadanya sedikit memprovokasi.     Untunglah Arthur tidak terpancing emosi. Dia terus menghadapi Panji dan Morus dengan tenang dan terkendali. Arthur menjadi juru bicara yang bisa diandalkan oleh ketiga temannya.     Arthur mengangguk, "Setelah keluar dari kampus, kami memesan taksi online. Kami pergi ke rumah Shana untuk mengerjakan oleh-oleh ospek. Ada ayah Shana di rumah yang bisa menjamin keberadaan kami. Bukti transaksi dengan taksi online juga kami punya."     Panji menyipit menatap Arthur. Sepertinya dia agak tertarik dengan pembawaan Arthur yang tenang dan tidak mudah terprovokasi ucapannya. Panji jelas bisa merasakan kalau ada yang beda dari Arthur.     "Ayah Shana adalah penyidik bernama Gerald, kan?" tanya Panji sekadar memastikan.     Shana yang sedari tadi menunduk akhirnya mengangkat kepalanya, agak kaget dengan ucapan Panji.     "Ya sudah, terima kasih buat waktu kalian. Semoga ucapan kalian memang bisa dipegang." Morus bangkit berdiri. Dia berjalan ke pintu.     Panji juga membawa Langir keluar dari ruangan ini. Meski terlihat Langir masih ingin melampiaskan kekesalannya pada keempat s*****n itu.     Sepeninggal para petinggi panitia ospek, keempat s*****n itu saling tatap.     "Wah, nggak beres nih. Masa mereka jadi menaruh curiga ke kita," ucap Verrel sambil mengusap-usap rahangnya yang tadi kena tinju Langir. Sekarang ada bekas memar biru keunguan di bagian rahang Verrel.     "Gue rasa, mereka justru berusaha menutupi sesuatu," balas Arthur singkat dan memancing rasa penasaran sobat-sobatnya.     "Tunggu, gue nggak paham. Jelasin apa maksud lo!" Shana mencondongkan tubuhnya ke arah Arthur. Ia terlihat tertarik dengan pembicaraan ini.     Arthur menarik napas panjang. Ia lalu memperjelas maksud ucapannya, "Dari yang gue tangkep, mereka tengah memastikan apa aja yang kita lihat malam itu. Pasti ada hal nggak beres yang berusaha mereka tutup-tutupi." ***     Ospek hari ketiga tetap berlanjut meski dari awal tidak kondusif. Bahkan menjelang akhir-akhir, acara semakin membosankan dan membuat para maba memilih abai pada apa yang disampaikan kakak-kakak panitia ospek.     Sampai pada saat pemutaran video pendukung materi, ternyata lagi-lagi panitia ospek salah memutar video. Video yang seharusnya memberikan simulasi terkait materi, justru menampilkan rekaman amatir yang menyorot empat orang yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan tengah berdua-duaan di sudut gelap kampus ini.     Beberapa maba yang tadi abai, sekarang justru memasang mata baik-baik. Sesekali mereka menyoraki keempat orang yang ada dalam rekaman video amatir itu.     "Eh, itu dua ceweknya pake seragam hitam putih, kan? Berarti mereka maba dong," celetuk salah seorang maba agak keras. Itu membuat peserta ospek lain akhirnya tergiring untuk berpikir demikian.     "Kalau itu maba, berarti dua cowok yang pake jas almamater itu panitia ospek dong," imbuh yang lain.     "Tolong jangan berisik. Jangan bikin kesimpulan yang menyesatkan," tegur salah seorang panitia menggunakan mikrofon untuk mengalahkan berisiknya bisik-bisik para maba.     Tapi sepertinya teguran itu tidak dihiraukan oleh para maba. Terbukti dari suasana ruangan yang makin berisik.     "Ar, itu bukannya Kak Langir sama Kak Panji?" tanya Shana pada Arthur. Kebetulan mereka duduk bersebelahan.     Arthur menoleh sekilas pada Shana, "Iya, itu mereka."     Agatha turut menoleh saat mendengar bisik-bisik antara Shana dan Arthur. "Ngomongin apa kalian?"     Shana menunjuk ke arah layar di bagian depan, "Itu, dua cowok yang ada di video itu nggak lain ya Kak Panji sama Kak Langir."     "Wah, Kak Langir kan pacarnya Kak Aci. Berarti semalem dia selingkuh dong sama maba di video itu?" Verrel sudah menimbrung. "Gue penasaran, siapa dua cewek di video itu. Mereka pasti ada di sini, kan?"     "Harusnya sih dua maba itu ada di sini. Kalau nggak bolos kaya lo sama Arthur pas ospek hari pertama," tukas Agatha.     Shana berdecak, "Jadi tadi itu Kak Panji sama Kak Langir beneran cuma mau mastiin apa aja yang kita lihat malam itu."     "Meski kita nggak liat apa-apa malam itu, sekarang justru video mereka lagi modusin dua cewek maba tersiar di hadapan seluruh maba." Verrel menyeringai puas. Sepertinya dia masih kesal pada Langir yang tadi tiba-tiba menonjoknya.     Percakapan empat s*****n itu terhenti. Fokus mereka tersita oleh pintu auditorium yang terbuka dengan agak kasar. Morus, Panji, dan Langir muncul dari sana.     Morus segera menghampiri bagian pemutaran video. Tapi dia kelihatannya gagal mengatasi masalah. Panji turut membantu Morus tapi hasilnya sama. Semetara itu, Langir menanya-nanyai para panitia yang sedari tadi ada di ruangan ini.     Video itu akhirnya berhenti dengan sendirinya saat durasinya telah habis. Meski begitu, semua tampilan yang ada di video itu sudah melekat pada ingatan para maba.     Morus maju selangkah dengan tangan menggenggam mikrofon. Ia meminta para maba untuk tenang dan memberi kesempatan padanya agar bisa menjelaskan, "Yang barusan itu adalah kesalahan teknis. Ingat pasal 1 dan pasal 2 peraturan dasar ospek? Pasal 1, panitia selalu benar. Pasal 2, panitia juga manusia, kalau panitia melakukan kesalahan maka kembali ke Pasal 1. Kalian paham, kan? Jadi bisa berhenti bicara dan jangan menyimpulkan yang tidak-tidak?"     Para maba terdiam. Tidak ada yang berani buka suara atau sekadar ngobrol dengan teman sebelah. Sepertinya kebanyakan dari mereka juga sadar kalau yang mereka lakukan barusan dengan menggunjingkan panitia adalah kesalahan.     "Oke, jangan terlalu tegang. Ospek bukan ajang penindasan. Tapi jangan jadi nggak serius. Nanti tujuan ospek tidak terpenuhi. Di sini kami panitia nggak akan bersikap senioritas, selama kalian kooperatif dengan acara ospek," tutup Morus sebelum ia berlalu keluar kelas ospek. ***     Istirahat makan siang digunakan Arthur, Verrel, Agatha, dan Shana untuk mengamati bagian ruang BEM dan ruang Senat.     Sambil menenteng kotak makan siang, empat s*****n itu berjalan ke selasar perpustakaan. Dari selasar itu, mereka bisa menatapi kedua ruangan yang diberi garis polisi.     "Gue nggak nafsu makan, nih. Jijik liat garis polisi." Agatha meletakkan makan siangnya. Ia lalu menyangga dagu dan menatapi kedua ruangan yang jadi TKP.     "Ruangannya digaris polisi, berarti panitia pindah markas dong?" Shana bertanya sembari mengupas kertas pembungkus sendok makan siangnya.     Verrel menoleh, "Oh iya ya, panitia pasti nggak boleh ke sana. Di mana tempat baru mereka?"     "Tadi gue liat mereka masuk-masukin berkas ke ruangan yang ada di sebelah auditorium. Mungkin itu tempat kumpul mereka sekarang." Arthur menimpali.     Shana menelan makanannya. Ia lalu bertanya, "Eh, seriusan deh, ini kerjaan siapa sih?"     "Menurut gue sih, ada panitia sinting yang berniat bikin ulah di kegiatan ospek," ujar Arthur.     Agatha menghela napas, "Tapi siapa panitia sinting itu? Kenapa dia berniat merusuh sampe bunuh dua panitia lainnya?"     "Kadang nggak perlu alasan buat jadi orang psiko." Verrel berkata serius tapi wajahnya tetap jenaka. Sontak saja Agatha menggeplak kepala Verrel.     Verrel mengaduh tapi Agatha justru kelihatan puas. Toh Varrel tidak akan berani balas menggeplak Agatha.     "Gue sih curiga sama tiga cowok superior itu." Arthur menggerakkan dagunya ke arah tiga cowok petinggi ospek yang tanpa disadari sering bersinggungan dengan empat s*****n itu. "Salah satu atau beberapa di antara tiga cowok itu berpotensi buat jadi pelaku."     "Tapi gimana cara kita buat buktiin hal itu? Kita nggak tau apa-apa soal mereka." Verrel mengangkat sebelah alisnya.     "Nanti malem, kita buntutin mereka aja gimana?" usul Agatha.     Shana mengerutkan dahinya, "Satu-satu gitu? Kita kekurangan personel buat lakuin hal itu. Terlalu bahaya kalau kita jalan sendiri-sendiri. Karena kita nggak tau yang mana pelakunya dan mereka bertiga juga belum tentu pelaku sebenarnya."     "Mending nanti malem kita buntutin Morus dulu. Dia yang paling gue curigai." Arthur menunjuk-nunjuk Morus yang saat ini tengah bersedekap dan menatap tajam TKP.     "Oke, semoga kita cepet dapet bukti-bukti dan meringkus tersangka." Agatha bergumam lirih. ***     Apel penutupan ospek hari ketiga telah selesai dilaksanakan. Semua mahasiswa baru berkumpul dengan kelompok kecil ospek. Mereka berkumpul dengan kelompok kecil untuk mengerjakan tugas video kegiatan sosial ospek.     Verrel berjalan mencari-cari kelompok kecilnya. Ia bergabung bersama dengan teman-temannya yang tengah menunggu di sisi kiri lapangan gedung dekanat. Setelah berkumpul semua, Verrel dan teman-teman sekelompoknya pergi keluar dari area kampus.     Tiba di tempat yang sekiranya cocok untuk melakukan kegiatan sosial mereka dengan membagikan air mineral pada para tukang parkir, mereka pun segera mengambil rekaman. Sebenarnya para maba ini merasa tidak enak hati pada para tukang parkir. Pasalnya mereka harus mengabadikan momen pembagian air mineral ini untuk dokumentasi ospek. Padahal apa yang mereka berikan tidak seberapa. Bukankah ini merendahkan dan menyakiti hati mereka? Sayangnya, para maba ini terpaksa tetap mengambil video untuk keperluan tugas mereka.     "Maaf, ya Pak kalau sambil kita rekam. Soalnya tugas ospek," ucap Verrel lirih pada seorang tukang parkir di depan tempat fotokopi.     "Nggak papa, Mas. Terima kasih ya kebetulan saya haus ini," ujar pak parkir itu diakhiri kekehan.     Verrel mengulas senyum, lalu pamit undur diri. Verrel dan teman-teman sekelompoknya terus berjalan di sepanjang jalan. Hingga akhirnya, botol air mineral yang mereka bagikan telah tandas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN