Arthur menyibak kerumunan. Ia berusaha maju sampai dapat melihat apa yang menjadi sumber keramaian ini. Sesampainya di bagian depan, Arthur dapat melihat Verrel tengah mendorong mundur kerumunan yang makin mendekat ke tong sampah di depan ruang BEM dan ruang Senat itu.
"Rel, udah dipastiin mereka udah nggak bernyawa?" tanya Arthur saat Verrel mendekatinya.
"Tadi ada Kak Panji di sini. Dia yang mastiin kalau dua korban di dalam tong sampah itu udah nggak bernyawa," jawab Verrel.
Arthur melongokkan kepala, mencari tahu siapa kedua mayat itu. Barangkali dia mengenal mereka. Tapi ternyata Arthur tidak dapat melihat dengan jelas karena posisi mereka meringkuk di dalam tong sampah.
"Mereka siapa?" tanya Arthur pada Verrel lagi.
Verrel mendekatkan bibirnya ke telinga Arthur. Ia lalu berbisik, "Mereka orang yang semalem kita intai."
"Aci sama Cila?" Arthur balas berbisik bertanya memastikan.
Verrel mengangguk mantap. Ia lalu turut mengamati tong sampah itu sekali lagi.
"Permisi, permisi," ujar seseorang tegas sembari menyibak kerumunan. Dia adalah Langir.
Langir tampak mengusap wajahnya kasar. Ia menatap tak percaya pada apa yang ada di dalam sana.
Arthur menyipitkan matanya. Benar, kemarin saat evaluasi panitia ospek, Morus menyebut-nyebut kalau Aci adalah pacar Langir. Pasti saat ini Langir sangat terpukul.
Arthur menoleh saat lagi-lagi ada orang yang menyibak kerumunan. Yang datang itu Panji.
Panji segera menghampiri Langir. Ia menepuk-nepuk bahu sobatnya itu.
Tak lama setelah kedatangan Panji, lagi-lagi kerumunan harus menyingkir sejenak untuk memberi jalan. Kali ini, pihak kepolisian lah yang datang, termasuk ayahnya Shana.
"Kami dari kepolisian," ucap Gerald pada Langir dan Panji.
Langir dan Panji mengangguk. Mereka sedikit bergeser dan membiarkan para polisi melakukan tugas mereka.
Gerald melirik ke arah Arthur dan Verrel. Ia memberi isyarat agar Arthur dan Verrel membubarkan kerumunan.
Menyadari isyarat yang diberikan Gerald, Arthur dan Verrel segera membubarkan kerumunan. Protes terdengar di sana sini. Tapi begitu Panji dan Langir turut turun tangan dalam membubarkan, akhirnya kerumunan itu terurai juga.
"Panitia merapat," ujar Panji memerintah. Beberapa panitia yang ada di sekitar ruang BEM dan ruang Senat berkumpul di sekitar Panji dan Langir.
Panji melirik ke arah Arthur dan Verrel yang tampak bergeming di sana. Panji menatap tajam ke kedua maba itu sambil menggerakkan kepala, isyarat mengusir mereka.
Arthur dan Verrel memisahkan diri. Mereka agak menjauh dari ruang BEM dan ruang Senat yang saat ini tengah disterilkan polisi.
Panitia ospek hanya berkumpul sebentar, lalu mereka juga membubarkan diri. Sepertinya mereka akan segera memulai apel pagi.
Sebelum pergi dari sana, Arthur menoleh sejenak. Ia melihat dua mayat itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Dua mayat itu lalu dibawa menggunakan ambulans keluar dari area fakultas ekonomi. Beberapa polisi masih ada yang tinggal dan berjaga di sana. Terlihat juga Pak Gerald tengah berbicara dengan Panji dan Langir.
Merasa memang tidak seharusnya ia ada di sana, Arthur beranjak menuju lapangan di depan gedung dekanat. Ia dan Verrel akan mengikuti apel pagi seperti maba yang lainnya.
***
Shana dan Agatha berkali-kali menoleh ke arah gedung kegiatan mahasiswa. Mereka memang tidak ikut berkerumun di sana karena tadi ayah Shana sempat melarang mereka ikut mendekat. Alhasil, Shana dan Agatha hanya bisa terus menerus mengamati dari jauh.
Dua ambulans melintas di depan Agatha dan Shana. Pasti itu ambulans yang membawa kedua mayat yang ditemukan di tong sampah ruang BEM dan ruang Senat.
Tak lama berselang, Arthur dan Verrel juga lewat di depan Shana dan Agatha. Tapi dua cowok itu tidak menyadari keberadaan Shana dan Agatha.
"Woi kalian," panggil Agatha. Ia lalu berlari-lari kecil mendekati Verrel dan Arthur.
Shana juga menyusul Agatha. Setelah bergabung dengan ketiga temannya, Shana buka suara, "Jadi dua mayat tadi beneran Kak Aci sama Kak Cila?"
"Yup," jawab Verrel.
"Tapi mereka kan kemarin baik-baik aja. Kita temenin mereka sampai balik, lho." Agatha menimpali sembari sibuk mengikat ulang rambutnya yang berantakan.
Arthur menggeleng, "Kita cuma temenin mereka sampai jam sembilan malam. Kita nggak tau apa yang mereka lakuin setelah jam itu."
"Iya, tapi kan mereka udah posisi nggak di kampus." Agatha menyatukan alisnya.
"Mungkin mereka dilukai pas jalan mau pulang ya, kan?" Shana mengetuk-ngetukkan jari ke bibirnya.
Arthur mengangguki ucapan Shana. "Kayanya gitu, mereka dilukai di luar kampus. Habis itu di bawa kemari. Seolah-olah mereka tewas ketika masih di kampus."
Verrel menjentikkan jarinya, "Gue ada kemungkinan lain nih. Mereka bisa aja balik ke sini atas perintah seseorang. Terus mereka dicelakai di sini. Dan kita nggak tau kalau mereka balik lagi ke sini karena kita juga langsung pergi setelah mereka pergi."
"Mungkin juga," gumam Arthur.
Shana menoleh ke arah ketiga temannya, "Gue curiga sama panitia deh. Kan cuma mereka yang tau kalau ada panitia lain yang masih dihukum lembur semalem."
Sayangnya pembicaraan mereka harus terjeda karena panitia ospek sudah menghimbau agar semua maba mempercepat langkah mereka dan segera berkumpul di lapangan depan gedung dekanat. Apel pagi akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.
***
Ospek hari ketiga lumayan tidak kondusif. Para panitia banyak yang terguncang oleh kasus penemuan mayat tadi pagi. Sedangkan konsentrasi para maba justru tidak tertuju pada sesi ospek.
Saat ini, para maba diminta duduk berkelompok. Seharusnya mereka membahas kegiatan sosial yang harus mereka kerjakan nanti sore sepulang ospek. Tapi yang terjadi justru mereka bisik-bisik rumpi.
"Arthur, menurut lo, kejadian tadi pagi beneran apa cuma gimmick dari panitia?" tanya seorang cewek dengan bando merah yang duduk di sebelah Arthur.
Arthur mengedikkan bahu, pura-pura tidak tahu. Padahal Arthur jelas tahu kalau penemuan mayat tadi pagi bukanlah bercandaan atau gimmick belaka. Jelas-jelas ada pihak kepolisian dan medis yang turut mengurus mayat dan TKP.
"Arthur," panggil seseorang dari arah belakang tubuh Arthur.
Arthur mendapati Shana berdiri di sana. Shana tampak gelisah dan pucat. Tanpa basa-basi, Arthur menarik Shana keluar ruangan. Kebetulan sekali para panitia sedang sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak ada yang memperhatikan ulah Arthur dan Shana.
"Lo kenapa pucat gitu?" tanya Arthur to the point. Ia mengamati Shana dengan alis tertaut.
Shana menggeleng, "Barusan kakak observer kelompok gue bisikin gue, habis ini gue, lo, Agatha, dan Verrel diminta ketemu Kak Morus."
"Kenapa harus nemuin Morus?" Arthur menoleh ke sana kemari. Ia lalu menatap Shana lagi, "Kita nggak ada urusan sama dia."
Shana berdecak, "Ada, Ar. Kak Morus berpesan pada kakak observer kelompok gue, katanya semalem gue berkeliaran di kampus. Makanya Kak Morus mau tanya-tanya soal itu."
"s**l," desis Arthur. Ia tidak menyangka kalau akan ada yang mengetahui kalau ia dan kawan-kawannya mengintai Aci dan Cila.
"Verrel sama Agatha ke mana, ya?" tanya Shana celingukan. "Kita harus bawa mereka juga buat ketemu Kak Morus."
Arthur menunjukkan pintu keluar di gedung dekanat. "Kelompok mereka kayanya bahas rencana kegiatan sosial di luar gedung dekanat. Coba aja kita cari di luar. Mungkin mereka bahas-bahas di selasar."
Shana mengangguk. Ia segera berjalan ke pintu keluar. Dan benar saja, ada beberapa kelompok yang memilih membahas kegiatan sosial mereka di luar kelas ospek. Termasuk di antaranya adalah kelompok Agatha dan Verrel.
Shana melambaikan tangan ke arah Agatha saat kebetulan Agatha menoleh ke arah pintu masuk gedung dekanat. Merasa terpanggil, Agatha pamit pada teman-temannya dan bergerak mendekati Shana.
"Verrel sekalian," ujar Shana dengan gerakan bibir. Shana juga menunjuk ke arah di mana Verrel duduk bersama kelompok ospeknya.
Agatha berhenti melangkah. Ia berusaha mencerna maksud Shana. Setelah berhasil mengartikan kode dari Shana, Agatha mendekati Verrel dan meminta cowok itu memisahkan diri dari kelompoknya.
Agatha dan Verrel mendekati Shana dan Arthur. Mereka memasang wajah penuh tanya.
"Kenapa tiba-tiba ngumpul kaya gini?" Verrel bertanya.
"Kalian nggak bahas-bahas buat kegiatan sosial nanti sore sama kelompok kalian?" Agatha tampak ingin tahu.
Shana menggeleng, "Kita disuruh nemuin Kak Morus."
"Buat apa?" Verrel menatap Shana ragu.
"Kita ketahuan kalau semalam nguntit Aci sama Cila," jelas Arthur.
"Hah?" teriak Verrel dan Agatha berbarengan.
***
Sekarang, empat s*****n itu tengah menghadap Morus dan Panji. Dua orang senior yang memiliki kuasa atas kegiatan ospek itu menatap empat s*****n dengan tampang curiga.
"Jadi bener semalam kalian keliaran di kampus?" tanya Morus dengan tatapan lurus dan menghujam pada Arthur. Berhubung Arthur lah yang duduk di tengah.
"Ya, kami memang ada di kampus kemarin malam," balas Arthur singkat. Ia balas menatap lurus ke mata Morus.
"Ngapain kalian di kampus sampai malam? Bukankah ospek sudah dibubarkan sejak pukul empat sore?" Kali ini giliran Panji yang bertanya. Ia menatap ke satu per satu dari empat s*****n itu secara bergantian.
"Kita cuma penasaran aja kenapa ada dua panitia yang lembur, sementara panitia lain udah bubar." Agatha menjawab dengan sebuah kebohongan.
Panji mengangguk-angguk. Tapi kelihatan kalau dia tidak percaya begitu saja pada ucapan Agatha.
"Hanya itu alasannya?" tanya Panji lagi. Cowok itu mengusap dagunya, "Bukan karena kalian dendam sama Aci dan Cila? Kalian turut jadi korban keracunan gas di gudang, kan?"
"Jangan asal menuduh, Kak." Shana menukas dengan nada dingin.
Panji menggeleng, "Enggak, gue nggak menuduh. Hanya mencoba menebak-nebak aja."
"Terus apa yang kalian lakukan selama di kampus tadi malam?" Morus lagi-lagi buka suara.
"Kami cuma mengamati aktivitas Kak Aci dan Kak Cila di ruang BEM." Kini giliran Verrel yang menjawab.
"Berarti kalian tau siapa yang bunuh Aci dan Cila?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tempat empat s*****n diinterogasi oleh para petinggi panitia ospek.
Empat s*****n itu menoleh dan mendapati Langir berdiri di ambang pintu. Langir menatap tajam ke arah empat s*****n. Mata Langir tampak merah, seperti habis menangis atau malah menahan marah. Wajar saja melihat Langir emosional begitu, mengingat Aci pacarnya baru saja ditemukan tewas.
"Kami nggak tau, Kak," ujar Arthur masih dengan ketenangan yang sama. Arthur tampak tidak terusik dengan tekanan dari para petinggi panitia ospek itu.
"Bohong! Oh, jangan-jangan kalian berempat pelakunya." Langir bicara sembari merangsek maju. Ia menarik kerah baju Verrel berhubung Verrel lah yang posisinya paling dekat dengan Langir. Tanpa pikir panjang, Langir melayangkan sebuah tonjokan ke rahang Verrel.
***