Pasrah, seakan tak ada tenaga lagi untuk lepas dari tempat menyebalkan ini. Bahkan rasanya seolah dihampiri oleh malaikat maut saja. Dari siang, hingga sore hari dan sekarang sudah malam ... bahkan keduanya seakan dibuat mati perlahan terikat.
Sunyi, sepi, gelap, pengap tanpa cahaya. Bisa dipastikan kalau saat ini waktu sudah larut malam. Atau bahkan tengah malam. Karena sayup-sayup hanya terasa hembusan angin yang menerpa kulit. Dingin, hingga keduanya terkadang sampai bergidik.
Serena sebenarnya sedang menangis, hanya saja ia menahan suara tangisnya agar Kalina tak tahu. Takut jika sobatnya makin khawatir akan dirinya. Bukan takut gelap lagi, tapi justru karena tangannya saat ini yang terasa menyakitkan.
Berharap banyak seseorang bisa menemukan keduanya di sini, hingga bisa lepas dari jeratan yang menyakitkan. Tapi, harapan seolah begitu jauh dan tak mau mendekat.
Berniat untuk menghapus air matanya dengan seragam di bagian pundak, tapi justru lakban yang menutup mulutnya yang tiba-tiba terasa longgar. Entah karena efek air mata yang sedari tadi membasahi wajah hingga benda itu hilang serat lem nya.
Berusaha kembali menggeser-geser lakban itu dengan pundaknya, hingga akhirnya hasilpun didapat. Benda yang menjerat mulutnya selama berjam-jam, terlepas.
Langsung menangis ... membuat Kalina bingung.
“Kal, lakbannya lepas,” ungkapnya masih terisak menangis. Entahlah, rasanya lega saja ketika bisa mengeluarkan perasaannya lewat kata-kata. Setidaknya ia bisa komunikasi dengan Kalina. “Sekarang gue coba tarik lakban yang di mulut lo, ya.”
Kalina sebenarnya nggak terlalu mikirin lakban yang menutup mulutnya, setidaknya ia lega ketika Serena bisa mengeluarkan perasaannya. Karena ia bingung, saat harus bertindak, tapi tak tahu kondisi tangan sobatnya.
Susah, sih ... karena posisi keduanya saling memunggungi. Hanya bisa mengarahkan kepala dengan sedikit putaran, tapi tidak dengan posisi duduk. Karena keduanya terikat.
Pertama mencoba, itu langsung gagal. Karena Serena tak tahan saat tangannya ikut tertarik ketika memutar posisi. Tapi, kembali berpikir jika terus memikirkan rasa sakit, sepertinya bukan cara yang benar.
“Coba lagi, Kal,” ujarnya.
Lagi, kali ini ia sampai memegang erat tangan Kalina ketika tali itu terasa semakin kencang mengikat tangannya. Tapi bertahan, hingga akhirnya ia bisa menggigit ujung lakban yang menutup mulut Kalina dan menarik dengan kuat hingga akhirnya benda itu lepas.
Keduanya menghela napas lega saat usaha yang sedari tadi berhasil dilakukan. Memang bukan terlepas dari ikatan, tapi setidaknya lakban yang menutupi mulut keduanya bisa lepas hingga tak bingung cara berkomunikasi.
“Ren, lo baik-baik aja, kan? “ tanya Kalina. Ia benar-benar lega ketika bisa bertanya langsung tentang keadaan Serena. "Gue khawatir sama elo, Re."
“Iya, cuman ... tangan gue.”
“Makanya gue bingung. Takut kalau memaksa untuk narik tali ini, tangan lo sakit.” Tiba-tiba Kalina malah menangis.
“Kenapa lo malah nangis, sih?”
“Apa sakit banget?” tanya Kalina mengabaikan pertanyaan Serena padanya.
“Tangan gue berasa udah mau putus,” keluhnya,
“Keterlaluan itu si Glenn. Dia beneran niat mau bikin kita berdua mati di sini,” umpat Kalina gregetan dengan mantan kekasih dari sahabatnya itu.
“Bukan kita, tapi gue. Lo ikut kebawa gara-gara selalu aja bantuin gue. Gue nggak tega, saat dia nampar lo sampai terluka. Sorry, harusnya lo nggak ...”
“Ngomong gitu lagi gue pastiin saat talinya lepas, gue jitak kepala lo, Ren,” timpal Kalina langsung saat Serena malah berpikir jika semua yang ia alami ini terjadi karena dia.
Tiba-tiba Serena malah langsung menangis sesegukan.
“Ren ...”
“Kal, kalau dipaksain, talinya bisa lepas nggak, sih? Lo bisa narik dengan kuat nggak? Rasanya benar-benar perih. Setidaknya bisa lepas lebih cepat, biar nanti diobatin.”
“Yang benar aja. Tangan lo udah luka dan sekarang malah meminta gue untuk menarik paksa. Nggak bakalan gue lakuin,” berengut Kalina.
Di awal tadi saja dia sudah kesakitan saat Glenn mengikat kuat tangan Serena. Ia yakin kalau saat ini tangan sobatnya itu sudah terluka.
“Tapi, kalau nggak begitu ... kita berdua nggak bakalan lepas dari sini.”
Kalina diam. Otaknya ia usahakan memikirkan cara terbaik agar keduanya bisa lepas. Tapi, tetap saja ujungnya-ujungnya ia bingung. Ditambah lagi dengan suasana gelap gulita tanpa cahaya ... membuat keduanya makin berasa berada di dunia yang antah barantah. Hingga bingung mau mengarah kemana.
“Ren, posisi tas kita ada di sebelah mana, ya?” tanya Kalina.
“Sekitar tiga meter dari posisi kita, itu tas gue. Dan tas lo ada di sebelahnya. Kenapa?”
“Kita nggak bakalan bisa lepas dari ikatan ini, tapi ... lo kuat nggak menggeser kursi ini perlahan ke arah sana? Eh, tapi kalau ...”
“Ayok,” setuju Serena dengan usulan Kalina. Setidaknya sudah mencoba. Daripada modal pasrah di sini.
“Barengan, ya. Dalam hitungan ketiga, langkah satu kaki dan geser kursi.”
“Oke,” paham Serena dengan arahan Kalina.
Keringat seakan menetes dari wajahnya, ketika tenaganya seakan habis begitu saja. Napasnya juga sesak.
“Satu, dua, tiga.” Keduanya melangkahkan satu kaki ke samping bersamaan dan beringsut perlahan. Memang tak langsung dengan hasil yang bagus, apalagi dengan Serena yang menahan agar tali di pergelangan tangannya tak ikut bergeser dan Kalina juga menghindari itu terjadi.
Keduanya menghela napas panjang dan saling menyenderkan punggung.
“Tangan lo ...”
“Jangan mikirin gue terus,” sanggah Serena. Karena Kalina terus memikirkan kondisinya. Padahal ia yakin sekali jika dia juga tak baik-baik saja. Teringat ketika Glenn tadi juga menampar sobatnya ini habis-habisan. “Ayok, coba lagi.”
Jangankan Serena yang dalam keadaan begitu, ia saja berasa badannya juga ikut sulit digerakkan karena sedari siang tadi duduk terikat tak bisa kemana-mana.
Lagi, keduanya mengulangi hal barusan beberapa kali, hingga mereka terhenti saat Kaki Kalina menginjak sesuatu.
“Bentar, Ren ... sepertinya kaki gue menginjak sesuatu,” ujar Kalina meraba-raba benda yang berada di kakinya. “Ini tas kita,” ungkapnya.
“Syukurlah,” lega Serena sampai menelan salivanya dengan susah, saat rasa capek dan sakit seolah menggerogoti tubuhnya. Seperti kehilangan cairan tubuh besar-besaran hingga membuatnya seakan ingin pingsan saja.
Awalnya masih mengenakan sepatu, tapi Kalina mendorong sepatu dan kaos kakinya yang masih melekat dengan sebelah kaki hingga lepas. Hingga kini tak ada yang menutupi kedua kakinya itu.
Meraba-raba dengan kedua kakinya setiap sudut tas. Tapi langsung meringis dan mengaduh ketika tak sengaja malah menginjak benda tajam yang ada di lantai. Entahlah, sepertinya sebuah paku atau benda tajam apa yang berserakan di lantai. Maklum saja, ini ruangan sudah seperti gudang yang tak terurus.
“Lo kenapa?” tanya Serena saat ringisan itu didengarnya.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Kalina mengabaikan, meskipun rasanya perih.
Kembali meraba dengan kakinya. Sepertinya ini bukan tas miliknya, tapi milik Serena. Hingga akhirnya bisa membuka akses masuk benda itu beberapa waktu berusaha. Tersenyum, saat apa yang ia cari bisa ditemukannya. Yap, apalagi kalau bukan ponsel.
“Ren, Hp lo gue dapetin,” ungkapnya sumringah.
“Hmm.” Mengangguk dengan hasil yang didapatkan Kalina. “Tapi ... tangan kita masih terikat.”
“Kita nggak bisa menelepon, tapi setidaknya saat ada telepon masuk, kita bisa jawab panggilan itu. Lo tenang, biar gue yang urus,” ujar Kalina meyakinkan dan menenangkan Serena. Ia tahu jika sobatnya ini mulai resah, makanya ia berusaha agar secepatnya bisa keluar dari sini.
“Untung yang gue dapetin HP lo, Ren. Karena dari tadi siang hp gue bunyi terus, nggak yakin batrai nya masih ada,” tambah Kalina.
Padahal kan seharusnya ponsel milik Serena harusnya dibombardir panggilan dari keluarga dia yang khawatir karena belum pulang, tapi justru hp nya yang semenjak sore terus berdering.
“Ren ...”
“Hmm,” sahut Serena.
“Kirain lo tidur,” ujar Kalina.
"Cuman capek aja."
"Tenang, ya ... kita bakalan keluar dari sini secepatnya."
“Gue nggak kuat lagi,” ungkapnya menyenderkan kepalanya di punggung Kalina. Badannya terasa tak ada tenaga lagi. Napasnya juga makin terasa sesak. Kemudian langsung batuk-batuk saat menarik dan menghembuskan napas, bagian dalam dadanya terasa tak nyaman.
“Ren, jangan bikin gue panik dong. Sabar, ya ... bentar lagi kita bakalan keluar dari sini,” terang Kalina berusaha meyakinkan Serena.
Ia tahu jika sobatnya pasti kesakitan. Berharap banyak jika luka di tangan Serena tak parah dan baik-baik saja.
Serena berusaha menahan tangisnya, tapi tetap saja tak bisa. Tangannya benar-benar terasa sakit. Napasnya terasa sesak, bahkan detak jantungnya juga terasa makin cepat. Seakan-akan membuat napasnya ikut terhenti.
“Serena, jangan bikin gue khawatir. Lo akan baik-baik aja. Oke.” Kalina mulai menangis.
Tak ada jawaban atas perkataannya, bahkan tubuh Serena di belakangnya terasa tersandar padanya.
“Ren,” panggilnya.
Berusaha untuk tetap tenang. Kemudian kembali memanggil Serena. Tapi kali ini ia langsung menangis. “Serena lo nggak kenapa-kenapa, kan? Jawab gue, Ren. Gue sendirian,” isaknya. Memegang tangan Eren yang terasa benar-benar dingin. Membuat paniknya semakin menjadi-jadi.
Di saat yang bersamaan, ponsel yang ada di bawah, berdering. Membuat kepanikan Kalina seketika buyar mendengar deringan benda pipih itu. Segera, dengan cepat langsung menjawab panggilan yang terlihat jelas dari Zean.
“Hallo, Kak Zean,” sahutnya.
Tak terdengar jelas. Dengan jari kakinya, ia tekan tombol speaker yang ada di layar itu. Seketika barulah terdengar suara Zean.
“Kak Zean, ini aku Kalina.”
“Kamu sama Serena, kan. Dia mana? Apa baik baik saja?”
“Eren dia ...” Sedikit tertahan saat mengingat kondisi Serena yang sebenarnya. Ditambah lagi menahan isakan tangisnya.
“Kalian di mana?”
Kalina sedikit terdiam saat pertanyaan itu bukanlah dari Zean, tapi dari Kenzie.
“Kalina!”
“Kita di sekolah, Kak. Gedung lama, lantai dua, kelas paling ujung. Kondisi Eren nggak baik, ku mohon cepatlah ke sini.”
Percakapan di telepon langsung berakhir, saat Ken memutusnya.
Kalina menghela napasnya sedikit lega, karena dalam beberapa waktu lagi akan lepas dan keluar dari tempat ini. Tapi, ia kembali menangis saat mengingat kondisi Serena.
“Ren, lo jangan bikin gue khawatir, ya. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi sama lo. Gue akan merasa jadi sahabat yang nggak berguna, kalau sampai lo kenapa-kenapa,” isaknya sendiri.
Menunggu dalam sebuah ketakutan dan kesakitan adalah satu hal yang begitu sulit. Rasanya waktu seperti hanya jalan di tempat.