Zean tadinya ingin menjemput Serena ke sekolah, tapi saat sampai di depan gerbang, justru area sekolah sudah tampak sepi dan kosong. Ditambah lagi ketika ia bertanya pada penjaga di gerbang depan, mengatakan kalau semua siswa dan siswi semua sudah pulang.
Berkali-kali menelepon gadis itu, sekalipun panggilannya tak mendapatkan jawaban. Bahkan pesannya tak dibalas. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak.
“Ren, kamu kemana, sih? Bikin aku panik aja,” gumamnya segera melajukan mobil meninggalkan area sekolah.
Tadinya ingin menelepon Kenzie untuk memastikan di mana Serena berada, tapi ia memilih untuk langsung menemui sobatnya itu di rumah.
Segera turun dari mobil dan berjalan cepat memasuki area rumah. Bertemu dengan Norin yang posisinya sedang duduk di ruang keluarga.
“Siang, Tante,” sapanya menghampiri dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
“Zean, kok panik gitu?” tanya Norin melihat raut tak biasa di wajah Zean. “Ada masalah?”
“Serena udah pulang, Tan?”
“Belum,” jawab Norin. “Tante pikir kamu yang jemput. Soalnya Ken tadi bilang gitu.”
“Ken di mana, Tante?”
“Ada di kamar. Lagi nggak enak badan kayaknya dia.”
Langsung saja Zean beranjak pergi dengan langkah cepat menuju kamar Ken yang ada di lantai atas. Jujur saja, ini hatinya mulai terasa cemas. Karena tak biasanya gadis itu pergi tanpa ijin darinya ataupun Ken. Ditambah lagi saat dihubungi, malah tak ada respon.
Langsung masuk ke dalam kamar sobatnya. Yap, seperti kata Norin, Ken sedang istirahat. Karena ia dapati dia meringkuk dibalik selimut.
“Ken! Serena nelepon lo, nggak?”
“Kan lo yang jemput dia,” sahut cowok itu masih berada dibalik selimutnya, seolah tak ingin bangun. Hanya suara serak, seperti sedang pilek itu saja yang jadi balasan.
“Masalahnya sekarang adalah dia nggak ada di sekolah. Gue juga udah hubungi ponselnya berkali-kali dan hasilnya nggak ada jawaban satupun.”
Ken yang tadinya seolah tak perduli, tapi kini langsung bangun dari posisi tidurnya. Rasanya kepalanya seakan mau meledak, ditambah lagi kedua matanya berasa mau copot. Tapi memikirkan Serena, membuat semua rasa itu harus diabaikan.
“Lo udah pastiin di sekolah?”
“Udah,” jawab Zean. “Gue juga udah tanya sama penjaga sekolah dan katanya semua udah pada pulang.”
Ken menyambar ponsel miliknya yang ada di nakas, mencoba menelepon Serena. Ya, siapa tahu tadi adiknya itu masih dalam posisi ada di kelas. Hingga tak menjawab panggilan telepon dari Zean.
“Masuk, tapi nggak dijawab,” ungkap Ken ketika hal yang sama juga ia dapati.
“Lo punya nomernya Kalina, kan. Coba telepon dia, siapa tahu mereka bareng bareng,” saran Zean.
Ken langsung melakukan apa yang disarankan Zean. Hanya saja hasil yang sama kembali ia dapatkan. Mengarahkan pandangannya pada sobatnya itu dengan wajah mulai tampak cemas.
“Hasilnya sama, Ze. Ponsel Kalina aktif, tapi panggilan telepon gue nggak dijawab,” ungkapnya.
Zean menarik napasnya panjang. Ingin berpikiran positive, tapi justru pikiran buruk langsung merasuki otaknya.
“Apa menurut lo mereka berdua bareng-bareng?” tanya Zean.
“Gue nggak bisa menebak. Ini jam pulang sekolah, bisa jadi Kalina sudah pulang ke rumah. Tapi, Eren kemana?”
“Dia punya teman lain selain Kalina?” tanya Zean.
“Lo pun juga tahu kalau mereka cuman bertiga.” Ken berpikir sesaat. “Bagaimana dengan Sandra? Tapi, masa iya mereka baikan lagi setelah kejadian itu.”
“Punya kontaknya?”
“Nggak,” jawab Ken. “Tapi gue punya alamatnya.”
“Gue cek ke rumahnya.”
Ken segera beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan gontai menuju sofa. Menyambar sweater miliknya yang ada di sana.
“Lo mau kemana?” tanya Zean heran.
“Nyariin Serena lah.”
“Ken, gue tahu yang nggak ada kabar adalah adik lo. Cuman masalahnya sekarang, lo itu lagi sakit.”
“Ngomel aja terus, kayak emak-emak,” balas Ken malah mengabaikan perkataan Zean dan malah menyelonong pergi gitu aja dari kamar.
Hanya menghela napasnya berat dan mengekori Ken yang sudah lebih dulu keluar dari sana. Padahal ia hanya memberi peringatan karena terlihat jelas dia sedang tak baik-baik saja, malah dikatai kayak emak-emak.
“Loh, kalian berdua mau kemana?” tanya Norin pada dua cowok yang tampak bergegas pergi.
“Aku ada urusan bentar sama Zean di kampus, Ma.” Mencium punggung tangan Norin untuk pamit. Begitupun dengan Zean yang melakukan hal sama.
“Ken, kamu itu lagi sakit, loh. Malah keluyuran terus,” oceh Norin. “Lihat, muka kamu sampai merah saking panasnya.” Menyentuh wajah putranya yang memerah karena suhu badan yang teralu panas.
“Aku udah larang, Tante.” Melirik Ken untuk tetap di rumah saja.
“Bye, Ma.” Langsung saja menggeret Zean untuk segera pergi dari sana.
“Ya ampun, anak ini benar-benar bikin orang tuanya khawatir!” Norin mengoceh panjang ketika perkataannya justru tak ditanggapi dengan serius oleh putranya. “Kenzie!”
Melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sementara Ken kembali mencoba menghubungi Serena maupun Kalina, tetap saja tak ada hasilnya. Dua gadis itu seolah membuatnya semakin sakit kepala.
“Gimana?”
“Nggak dijawab,” jawab Ken. “Feeling gue mengatakan kalau mereka berdua bareng-bareng. Cuman, posisinya di mana?”
Yap, keduanya sampai di kediaman Sandra yang merupakan mantan sahabat dari adiknya. Sebenarnya ia malas menemui gadis ini, hanya saja bingung harus mencari Serena kemana. Setidaknya sudah mencoba bertanya pada seseorang yang ... mungkin tahu keberadaan dia.
Kebetulan, saat sampai di sana, Sandra ternyata baru turun dari taksi. Melihat mobil yang berhenti di depan pagar rumahnya, tentu saja membuatnya ikut terhenti.
“Kak, Ken,” ujarnya Mendapati Ken yang turun dari mobil dan berjalan menghampirinya. Tak hanya Ken, ternyata ada Zean juga.
“Ada apa, ya, Kak?” tanya Sandra pada Ken.
“Kamu tahu Serena di mana?”
“Serena?”
Ken berdecak kesal. “Kamu sudah lupa dengan nama itu?”
Sandra tampak takut-takut dan langsung jaga sikap ketika mendengar perkataan dingin dari Ken.
“Jadi, Serena di mana?” Giliran Zean yang bertanya.
“Maaf, Kak ... aku nggak tahu di mana Serena.”
“Yakin?”
“Kak, aku juga nggak seburuk itu yang sampai harus menyembunyikan keberadaan Serena." Mengela napasnya berat. "Dan lagi, mereka berdua nggak mau sahabatan denganku lagi.”
“Mulai tak percaya setelah kejadian itu,” respon Ken bergumam.
“M-maaf, Kak.” Menundukkan kepalanya pertanda merasa merasa bersalah. Kemudian kembali menatap cowok itu. “Tapi tadi mereka sudah pulang, kok. Kami sempat papasan dan bicara pas di koridor sekolah. Trus, aku ditinggal dan mereka langsung pulang.”
"Kalina dan Serena?"
"Iya, mereka berdua."
Ken dan Zean saling melempar pandang, kemudian kembali fokus pada Sandra.
“Kamu yakin mereka udah pulang?”
“Kalau itu aku nggak bisa pastiin, Kak. Karena kita cuman papasan di koridor. Tapi, seharusnya udah pulang. Ini juga udah sore, otomatis semua penghuni sekolah juga sudah bubar.”
Tak bertanya ataupun membalas perkataan Sandra lagi, Zean dan Ken berlalu dari hadapan gadis itu dan bergegas masuk mobil. Keduanya seolah semakin yakin kalau Serena memang bersama dengan Kalina.
“Kita cek Kalina di rumahnya,” ujar Ken yang diangguki oleh Zean.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke kediaman gadis itu, tapi pandangan keduanya malah dibuat bingung ketika sampai di sana. Mobil milik Kalina tampak terparkir di pinggir jalan, bukan di area pekarangan rumah.
“Kok mobilnya ada di pinggir jalan?” tanya Ken bingung. “Kurang kerjaan banget dia parkir di luar.”
Keduanya turun dari mobil. Kemudian berjalan menuju pagar pembatas yang langsung disambut oleh pak satpam dibalik sana. Melihat Ken, laki-laki paruh baya itu segera membuka akses masuk itu.
“Den Kenzie, mau nyariin Non Kalina, ya?”
Berasa ia sering ke sini untuk menemui Kalina saja, ketika mendengar pertanyaan Pak satpam. Padahal juga beberapa kali doang.
“Hmm, Kalina ada, kan, Pak?” tanya Ken.
“Maaf, Den ... Non Kalina belum pulang dari sekolah. Saya juga bingung, ini juga udah sore menjelang malam dan Non juga nggak kasih kabar apa-apa. Bibik juga udah menghubungi lewat telepon, tapi nggak ada jawaban,” jelas pak satpam sedikit khawatir.
Mendengar penjelasan Pak satpam, tentu saja membuat keduanya dibuat semakin bingung.
“Lalu, kenapa mobil Kalina parkir di luar?” tanya Ken.
Pak satpam langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Ken. Tampak kendaraan majikannya terparkir di pinggir jalan. Tak jauh dari pagar tempatnya berjaga.
“Loh, kok mobilnya ada di situ? Tapi Non Kalina memang belum pulang, Den. Duh, saya jadi bingung.” Menunjukkan raut bingung dan cemas dalam waktu bersamaan. “Kalau Nyonya sama Tuan telepon, saya sama Bibik harus jawab apa, ya.”
Ken berjalan menghampiri mobil milik Kalina. Ia pikir kendaraan itu dikunci, tapi ternyata tidak. Karena saat ia buka, pintu mobil itu langsung terbuka ... dengan posisi kunci yang masih berada di kontaknya.
“Buka pagar, Pak!” pinta Ken pada pak satpam, kemudian masuk ke dalam kendaraan itu dan mengemudikan memasuki area pekarangan rumah.
Setelah memarkirkan mobil milik Kalina di garasi, Ken kembali dan menyerahkan kunci pada pak satpam.
“Pak, kalau ada kabar atau Kalina udah pulang, segera hubungi aku, ya.”
“Baik, Den,” sahut laki-laki paruh baya itu mengangguk paham.
Ken dan Zean segera berlalu pergi. Kini keduanya seolah tak tahu tujuan mencari keberadaan Serena dan Kalina. Pasalnya mereka berdua bukanlah gadis yang suka keluyuran bareng teman-teman sekolah, hingga memiliki banyak kenalan. Jadi, mau bertanya pada teman sekelas pun, sepertinya akan mustahil.
“Jujur, ya ... gue saat ini khawatir, Ken,” ungkap Zean memijit pelipisnya saat mengendarai mobil tanpa arah dan tujuan.