Jam pulang sekolah, saat keduanya tengah berjalan di koridor sambil ngobrol, tiba-iba seseorang menghentikan langkah keduanya. Sontak, membuat langkah mereka terhenti. Raut tak suka pun langsung terlihat saat mendapati siapa yang ada di depan mata.
“Berusaha menghindari masalah, tapi sepertinya masalah yang justru begitu semangat mendekati,” gumam Kalina menggerutu.
“Apalagi?” tanya Serena dingin pada dia yang kini berdiri menghalangi langkahnya.
“Gue udah mutusin untuk nggak punya hubungan sama Glenn,” ungkapnya langsung.
Serena menatap ke arah Kalina, kemudian kembali menatap tajam pada seorang pengkhianat yang ada dihadapannya. Yap, siapa lagi kalau bukan Sandra.
“Trus, masalahnya buat gue dan Kalina, apa?”
“Ren, pliss ... gue nggak mau kita ..."
“Jangan ada lagi kata kita!” bentak Serena pada Sandra. “Karena kita, hanya digunakan untuk sebuah hubungan yang baik. Elo sama gue, nggak punya hubungan apa-apa. Sudah gue bilang, kan ... anggap aja sebelumnya gue khilaf pernah sahabatan dengan seseorang yang justru bukan nganggap gue sahabat!”
“Eren, gue tahu salah dan gue sadar sekarang kalau ternyata sahabat lebih bikin nyaman daripada rasa suka sama seorang cowok. Tapi, bisakah kasih gue kesempatan kedua untuk memperbaiki persahabatan kita? Gue mohon, Ren. Hidup gue nggak tenang kalau nggak ada kalian.”
Sementara Kalina, ia menahan mulutnya untuk tak mengeluarkan kata-kata. Meskipun rasanya ingin mengumpat pada Sandra.
Serena menarik napasnya panjang, ketika rasa capek harus menjelaskan lagi dan lagi pada Sandra.
“Dan berapa kali gue bilang kalau elo gue maafin, Sandra. Tapi untuk kembali bersikap dan berhubungan seperti sebelumnya, udah nggak bisa. Karena apa? Kesalahan sekali yang lo lakuin, itu membuat gue berpikir ... ternyata persahabatan kita yang bertahun-tahun, bisa lo lepaskan dengan mudah.”
Wajah Sandra tampak sendu. Ya, memang terlihat keseriusan saat dia berkata, hanya saja Serena seolah tak memperdulikan itu. Baginya rasa kecewa dikhianati seorang sahabat, efeknya justru lebih terasa dibandingkan kandasnya hubungannya dengan Glenn.
“Lo tahu, San ... nyari sahabat terbaik itu begitu susah. Bukan setahun dua tahun, tapi bertahun tahun untuk berada di satu pemikiran. Jadi, ketika dikianati, rasa sakitnya nggak akan ada obat. Lebih baik menghindari, daripada sakit dua kali.”
Selesai bicara begitu, Serena menyambar tangan Kalina dan membawa sobatnya pergi dari hadapan Sandra dengan langkah cepat. Kelamaan, bisa-bisa pertahanannya roboh karena merasa simpati.
Sampai di dekat parkiran, keduanya justru dihadang oleh Glenn. Sontak, membuat Serena dan Kalina kaget karena dia muncul tiba-tiba. Bukan sendiri, tapi ada beberapa temannya yang juga muncul.
“Ren, gue udah bilang, kan ... jangan mendekati Sandra lagi," gertak Glenn langsung.
Serena tersenyum sinis. “Astaga! Bener benar gila. Sejak kapan gue ngedeketin cewek lo itu, hah?!”
“Gara-gara elo, dia mutusin gue!”
“Trus, masalahnya sama gue apa?”
“Udahlah, Ren ... dia kalau diladenin, makin ngelunjak. Mending kita pulang aja. Ngadepin orang gila, ntar kita ikutan gila,” ujar Kalina mengajak Serena untuk lanjut menuju mobilnya.
Kalina bukannya takut, tapi situasi saat ini bukanlah hal yang aman. Glenn tak sendirian, ada beberapa temannya yang berada di sini. Itu berarti, cowok ini punya niat yang tak baik dari awal. Situasi sekolah juga sudah sepi, karena sudah pada pulang.
Benar apa yang dipikirkan Kalina, karena saat keduanya hendak pergi, Glenn menghentikan langkah mereka. Tampak seringaian di bibir dia.
“Gue kesal sama lo, Ren. Setidaknya lo harus merasakan sesuatu yang bikin elo kesal juga.”
“Minggir!” bentak Serena.
Langsung, beberapa teman Glenn memegangi Kalina dan Serena kuat. Bukan hanya itu, mulut keduanya bahkan dibekap dan ditutupi dengan lakban hingga tak bisa mengeluarkan suara apalagi teriakan.
Mereka semua membawa Kalina dan Serena secara diam-diam, agar tak diketahui oleh satpam penjaga yang tampak mondar-mandir di gerbang depan. Melewati area samping, hingga mencapai sebuah ruangan yang ada di area belakang sekolah yang memang jarang dilewati. Lebih tepatnya, ini adalah gedung lama sekolahan yang sudah tak digunakan lagi karena sudah dimakan usia.
Tampak ketakutan di wajah Serena dan Kalina, ketika dipaksa untuk memasuki sebuah ruangan. Pintu terbuka, memperlihatkan suasana yang menakutkan di sana. Gelap, pengap, tanpa cahaya bahkan justru aura horor yang terasa menyengat pemikiran keduanya.
“Lihat, kan ... ini adalah tempat ternyaman untuk kalian berdua malam ini,” tawa Glenn puas dengan apa yang akan dirasakan Kalina dan Serena.
Serena langsung berontak saat mendengar perkataan Glenn. Tapi apa yang terjadi? Justru langsung mengikat kedua tangannya ke arah belakang dengan sebuah tali, hingga ia meringis saat ikatan itu terasa perih dan panas di kulitnya.
“Ren, harusnya lo sadar diri. Lo itu nggak ada apa-apanya dibandingkan Sandra. Dia pengertian, dia tahu apa yang gue inginkan. Sekarang, dia memilih untuk putus sama gue. Itu karena elo!” Mengencangkan ikatan itu saat mengakhiri kata-katanya.
Seketika Serena langsung meringis, saat ikatan itu sengaja dikencangkan oleh Glenn di tangannya. Mulutnya dilakban, hingga teriakan sakitnya hanya tertahan. Tali itu benar-benar terasa mau memutus pergelangan tangannya.
Kalina menendang tulang kering Glenn, kesal dengan sikap cowok itu. Dan hasilnya, dia malah menamparnya dengan kuat ... hingga jatuh ke lantai.
“Lo benar-benar cowok yang nggak punya hati!” bentak Kalina atas perlakuan yang ia dapatkan.
Glenn menarik paksa Kalina agar kembali bangkit.
“Lepasin gue!”
Meminta dua temannya untuk memegangi Kalina dan memberikan beberapa kali tamparan pada gadis itu. Kedua pipi Kalina merah, bekas tamparan kasar Glenn. Bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Serena yang melihat itu tentu saja makin tak tahan. Ia menangis, ketika sahabatnya disiksa begitu kasar oleh Glenn karena terus membelanya. Berontak, tapi lagi-lagi ikatan di tangannya dieratkan oleh teman Glenn yang sedang memeganginya.
“Ikat mereka berdua!” perintahnya pada teman-temannya yang langsung mereka kerjakan.
Memaksa Serena dan Kalina untuk duduk di kursi dengan posisi saling membelakangi. Kemudian mengikat keduanya dengan kuat pada kursi itu. Bahkan seakan tahu saja, Glenn dengan sengaja malah mengikat tangan Serena dan Kalina jadi satu. Karena otomatis saat Kalina bergerak, Serena akan merasakan sakit.
Selesai, Glenn langsung tertawa puas melihat Serena tampak tak berdaya. Sementara Kalina, sebenarnya ia tak ingin membuat gadis ini ikut-ikutan. Hanya saja mereka sahabatan ... yang terkadang malah ikut-ikutan menyerangnya dan Sandra. Intinya, Serena yang pertama dan Kalina adalah orang kedua yang juga harus disiksa.
“Sorry, Kal ... gue bilang aja, ya. Sebenarnya gue nggak mau nyiksa elo. Cuman gue kesal, karena elo ikut-ikutan membully Sandra. Jadi, lo harus menikmati apa yang yang Serena rasakan! Sahabat sejati pasti akan ikut menderita!”
Kalina berteriak kesal, hanya saja suaranya tertahan karena lakban menyebalkan yang menutupi mulutnya. Kesal, jangan ditanya lagi. Rasanya ingin membunuh cowok ini dengan tangannya. Tapi sekarang, ia dan Serena dibuat tak berdaya.
“Besok minggu, jadi ...” Tertawa terbahak-bahak dengan teman-temannya. “Lumayan, kan ... kalian berdua bisa menghabiskan dua malam di sini tanpa gangguan.”
Glenn menyambar tas milik Kalina dan mengambil kunci mobil milik gadis itu.
“Selamat berakhir pekan buat kalian berdua di sini.”
Selesai bicara dan puas tertawa, mereka semua pergi meninggalkan Serena dan Kalina yang terikat di kursi. Pintu ditutup, hingga semuanya gelap-gulita. Bahkan untuk menarik napas saja rasanya begitu pengap, karena semua ruangan seolah tertutup mati tanpa celah. Hanya ada beberapa cahaya yang menembus dari celah dinding yang tampak berlubang.
Kalina berusaha bergerak dan menarik tangannya agar ikatan itu terlepas, tapi terhenti ketika Serena yang terikat di belakangnya malah terdengar meringis. Lupa kalau ikatan di tangan sobatnya tadi benar-benar terikat kuat, hingga mungkin saat ia melakukan pergerakan akan menimbulkan rasa sakit.
Seakan dibuat bingung harus berbuat apa. Bahkan bicara saja keduanya tak bisa. Setidaknya, lakban yang membekam mulut keduanya bisa terlepas hingga bisa saling bicara.
Serena meringis tertahan. Bukan lagi memikirkan situasi gelap atau apa ... tapi tangannya sungguh terasa sakit. Tali yang mengikat seakan membuat darahnya ikut terhenti mengalir di sana. Kalau lakban di mulutnya terlepas, mungkin ia akan menangis atau berteriak karena sakit.
Kalina bingung harus bagaimana melepaskan tali yang mengikat keduanya. Kalau nekad menarik dengan kuat, otomatis Serena akan merasa sakit. Tapi jika tidak, otomatis keduanya akan tetap di sini hingga dua malam. Bisa-bisa malah mati sia sia di sini.
Kalina memegang tangan Eren, terasa gemetar ... menunjukkan kalau dia kesakitan. Terdengar ringisan dari suara dia yang tertahan.
Sekitar satu jam kemudian, keduanya hanya bisa pasrah. Sesekali Kalina berteriak tertahan karena kesal tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang ada di dalam tas Serena. Ingin menjawab panggilan itu, tapi apa daya tak bisa.
Ia yakini jika yang meneleponnya adalah Ken, atau Zean. Karena hanya dua orang itu yang akan heboh jika ia tak pulang ke rumah tepat waktu. Menarik napasnya perlahan, berpikir untuk menahan rasa perih di tangannya.
Memanggil Kalina dengan suara tertahan, kemudian mengangguk dan menarik tangan dia agar sobatnya itu paham apa yang sedang ia katakan. Yang jelas sekarang keduanya harus bisa lepas dari kursi ini, meskipun terasa sulit mengabaikan rasa sakit.
Kalina tak menarik tangannya, tapi justru berusaha mencari ujung dari tali yang terikat di kursi. Karena itu adalah intinya. Jika ujungnya ditemukan, otomatis keduanya bisa beranjak dari kursi ini. Setidaknya bisa untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memotong tali yang mengikat keduanya.
Terasa mencari jarum dalam tumpukan jerami, itulah yang sedang dilakukan Kalina. Pergerakannya bahkan terkadang membuat Serena terdengar melenguh karena manahan sakit. Tapi mau bagaimana lagi, kalau kelamaan terikat, justru akan lebih buruk resikonya.