BAB : 44

1487 Kata
Sampai di sekolah, Serena tak langsung turun dari mobil. Ia seakan masih berpikir panjang tentang kehidupannya beberapa hari lagi dengan status yang berbeda tentunya. “Ren, udahlah ... jangan mikirin sampai bikin waktuku terbuang percuma,” komentar Ken kesal. Serena menatap Ken dengan wajah aneh. Seakan-akan sebuah tanda tanya besar sedang nemplok di otaknya. Tahu situasi, bahkan ia feeling saja dengan pertanyaan yang akan diutarakan adiknya ini padanya. “Kak, rasanya ...” “Jangan bertanya apa-apa atau membahas apapun denganku masalah pernikahan. Mending kamu konsultasi langsung sama Zean. Dia nanti yang akan jadi suamimu,” timpal Kenzie langsung memotong perkataan adiknya. Serius, ya. Ini adiknya berniat bikin otaknya eror kayaknya. “Ish, aku belum juga nanya ... udah main serobot aja.” “Karena aku tahu apa yang akan kamu tanyakan," timpal Ken. “Kan aku takut,” responnya bergidik ngeri. “Tapi jangan membahas masalah itu denganku juga dong. Hal yang private, bahasnya sama Zean aja ... jangan denganku. Cepetan turun, aku mau ke kampus, loh.” Serena malah memukul Ken dengan buku yang ia pegang. “Kamu nggak asik, Kak,” umpatnya segera berlalu turun dari mobil. Segera berjalan menuju area sekolah. Ternyata malah berpapasan dengan Kalina yang juga baru dari arah parkiran. Langsung heboh dan berlari menghampiri sobatnya itu sambil mewek-mewek nggak jelas. “Ren, lo kenapa, sih?” tanya Kalina bingung. “Gue, pengin nangis,” ungkapnya masih memeluk Kalina erat. “Gue butuh bahu untuk bersandar.” “Meluk gue, tapi itu ingus tolong kondisikan, ya. Nanti gue terkontaminasi virus.” Serena langsung melepaskan diri dari Kalina dengan memasang wajah jutek. “Lama-lama lo endingnya kayak Kak Ken, tahu nggak,” gerutunya. “Enak aja,” respon Kalina memberengut. Kembali ke mode sendu, menatap fokus pada sobatnya itu. “Ih, Serena lo kenapa, sih? Jangan bikin gue mikir yang enggak-enggak, nih.” Serena tak langsung merespon pertanyaan dan perkataan Kalina. Ia malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seakan sedang menelisik keadaan sekitar. Laksana burung elang yang sedang melihat musuh, kali aja ada yang sedang mengintai dari kejauhan. “Kenapa? Hello ... haruskah gue bongkar isi kepala lo buat cari tahu?” “Gue mau curhat, tapi mending di kelas aja,” ujarnya langsung menggeret Kalina segera menuju kelas. Entahlah, takut saja jika curhatannya justru didengar sama yang lain. Bisa-bisa belum dapat ijazah SMA malah kena depak duluan dirinya dari sekolah ini. Di kelas, keduanya mencari posisi duduk paling belakang. Mumpung yang lain belum pada datang karena ini masih terlalu pagi. “Jadi masalahnya?” Masih memikirkan bagaimana caranya memberitahukan pada Kalina. Semoga saja sobatnya ini nggak kaget dengan apa yang akan ia utarakan. “Ren!” Kalina sampai greget sendiri saat rasa penasarannya malah dibuat makin panjang oleh Serena. “Gue mau nikah,” ungkap Serena langsung karena tersentak kaget. Saking kagetnya, ia langsung menutup mulutnya sendiri saat perkataan itu ia ucapkan. “What?!” “Jangan kaget.” “Lo bilang nikah?” Masih memasang muka kaget. “Demi apa lo bikin otak gue mikir dan mencar ke Antartika, Serena.” Langsung Terkekeh, ketika berpikir jika candaan sobatnya ini sukses bikin perutnya diobok-obok di pagi hari. Serius, ya ... bikin mood nya seakan naik drastis. “Gue serius, Kalina ... bukan bercanda. Lagian, kurang kerjaan banget rasanya bikin candaan sebuah pernikahan,” terang Eren berusaha meyakinkan sobatnya. Bahkan saat bicara pun ia dalam kondisi serius, agar dia percaya. “J-jadi?” Masih berpikir jika ini candaan yang benar-benar terasa nyata. “Gue dan Kak Zean akan segera menikah dalam waktu dekat. Bukan, bukan ... lebih tepatnya beberapa hari lagi.” Jangankan Kalina, ia saja yang mengalami serasa ini nggak nyata. Ayolah, ia masih berstatus sebagai siswi SMA yang ... masa iya menikah. Hello ... buku pelajarannya seakan kalah oleh status itu. Kalina menangkup wajah Serena agar fokus menatapnya. “Ren, bilang sama gue kalau lo sama Kak Zean baik-baik aja? Kalian berdua nggak ngelakuin sesuatu yang bikin anu, hingga harus menikah, kan? Bilang sama gue, Serena! Jangan bikin gue auto panic.” Serena melepaskan tangan Kalina yang ada di kedua pipinya. Serius, ya ... ini pipinya berasa panas sampai ditangkup kayak gitu. “Kak Zean itu cowok baik-baik, yakali lakuin hal gila itu ke gue. Saking baiknya, bahkan saat gue meminta dia lakuin hal yang nggak wajar sekalipun tetap dia tolak. Jadi, jangan membuat nama dia jadi buruk gara-gara kita nikah dadakan,” terang Serena membela Zean. Kalina sampai menelan salivanya susah, ketika mendengar penjelasan Serena. “Lo lakuin apa sama Kak Zean?” Serena seketika langsung menutup mulutnya saat menyadari kata-katanya malah membuka tingkah gilanya pada Zean beberapa waktu yang lalu. “Ren ...” “Gue nggak lakuin apa-apa. Cuman .... ah sudahlah. Yang penting adalah beberapa hari lagi gue sama Kak Zean nikah. Udah, itu aja.” Tak berharap banyak jika Kalina terus bertanya. “Gue masih penasaran.” Menatap tajam ke arah Serena. “Lo malah nanyain perihal itu, harusnya tanya dong perasaan gue sekarang kayak gimana. Bayangin, gue nikah. Demi apa itu status kok nakutin banget, ya, rasanya.” Mencoba mengalihkan pembicaraan. Kalina seketika ngakak mendengar curhatan perasaan sobatnya ini. Jujur saja ia masih belum percaya sepenuhnya perihal pernikahan yang diakui oleh Serena. “Ini nggak lucu, elah,” berengut Serena. “Orang masih pada teori pernikahan dan elo main gercep aja langsung ke praktek. Serius, Ren ... gue kalau jadi elo, pasti merasa deg-deg an parah. Jantung gue ngos-ngosan pastinya. Dan di saat tertentu, gue butuh tambahan oksigen." “Lo mikirin apa, sih?” “Mikirin malam pertama,” ungkap Kalina langsung tanpa berpikir panjang lagi. Ya iyalah ... apalagi yang jadi bahan utama dalam pernikahan kalau bukan first night. Serena seketika berteriak histeris saat mendengar jawaban Kalina. Bahkan ini tuh sudah nemplok di otaknya semenjak bangun tidur tadi pagi. Entahlah, kok tiba-tiba ia merasa takut saja menghadapi waktu itu. Padahal kemarin dengan gilanya ia bersikap nyaris ke tahap itu pada Zean. Tapi kok deg-degan nya malah terasa banget sekarang. “Gue mau menenggelemkan diri ke dasar lautan rasanya,” gumamnya bergidik ngeri. “Kok horor banget, sih.” Sobat luchnut memang. Ia ketakutan, sementara Kalina malah dengan begitu bahagianya menertawakan sikap hebohnya. “Tapi, Ren ... lo beneran mau nikah?” Lagi-lagi Kalina berusaha meyakinkan hatinya jika apa yang dikatakan Serena adalah nyata. Tapi, kok rasanya seperti mimpi saja. Ini nikah, loh, ya ... bukan hanya sekadar hubungan cinta-cintaan yang sebelumnya dijalani oleh Serena dengan Julian yang bisa putus kapan saja. “Orang tua gue akan balik dalam waktu dekat. Tiba-tiba Kaka Zean malah ngajakin gue nikah. Jadi, situasinya sekarang adalah ... antara keinginan orang tua gue dan dia itu satu jalan.” “Dan lo masih bisa menolak jika nggak siap, kan?” Serena memasang muka serius, dengan sedikit berpikir sebelum memberikan penjelasan kenapa ia menerima. “Jujur, ini terlalu cepat buat gue. Bahkan belum kepikiran sama sekali. Hanya saja, kalau gue nggak terima Kak Zean, kita nggak bisa sama-sama. Sebelumnya gue udah nolak dia dan hasilnya dia malah memilih pergi, daripada di sini tapi nggak bisa sama-sama. Jadi, gue harus apalagi?” Kalina mengangguk-angguk seolah paham apa yang dirasakan Serena. "Ini seperti elo cinta sama Kak Ken dan tiba-tiba dia ngajakin lo nikah. Kalau nggak terima dia, dia bakalan pergi jauh. Lo pilih mana? Lepasin dia pergi jauh dan kubur dalam-dalam rasa cinta, atau terima dia?" Kalina menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Lo kenapa malah bahas gue sama Kak Ken, sih," gumamnya. "Gue kan cuman ngasih perumpamaan, dan kebetulan lo juga naksir kan sama dia." Serena terkekeh geli saat bilang begitu. "Udah, udah ... jangan bikin hati gue senut-senut di pagi hari," komentar Kalina. “Tapi, lo cinta kan sama Kak Zean? Maksud gue ... lo menikah bukan gara-gara terpaksa atau dipaksa sama orang tua lo, kan?” Serena menggeleng cepat. “Daripada gue kehilangan dia, mending ya ... ya udah, terima aja.” Muka pasrah. “Segampang itu?” Serena melirik Kalina dengan tatapan tajam. “Elo kalau diajak nikah sama Kak Ken juga pasti nggak bakalan nolak. Ye, kan?” Membalas pertanyaan pada Kalina yang sedari tadi seolah sengaja menodongnya perihal cintanya pada Zean. Kalina langsung salah tingkah. Entah kenapa kalau mendengar nama Ken disebut membuat otaknya seakan dibuat kalang kabut untuk bersikap. Tapi Serena seakan sengaja membuatnya mati kutu. “Nah, nah ... lihat. Itu muka udah nggak jelas bentukannya. Baru juga ngomongin Kak Ken. Apa kabar lo yang akhir-akhir itu sering ketemuan sama dia. Gue yakin, sesuatu sedang terjadi dengan hati dan jantung lo, Kal.” Bukan sekadar menebak, ya ... hanya saja sikap Kalina dan sikap kakaknya akhir-akhir ini jadi sedikit aneh. Kan, membuat ia mencurigai sesuatu. Kalina tak menjawab. Ia justru langsung beranjak dari posisi duduknya dan berjalan meninggalkan Serena kembali ke kursi depan. Penasaran, tentu saja membuat Serena makin dibuat bingung dengan sikap sobatnya ini. Tadinya tak kepikiran, tapi melihat reaksi Kalina membuat dirinya yakin jika dia dan kakaknya ada something problem yang terjadi.                      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN