Sebenarnya Zean bukan tak berniat mengurus bisnis yang diberikan oleh papanya secara keseluruhan, hanya saja tak enak jika semua itu diberikan padanya. Toh, sebagai anak tunggal pun itu memang berhak didapatkannya. Tapi, ia juga berpikir pada saudara tirinya yang juga turut andil dalam pengembangan usaha papanya.
Bisa dikatakan untuk usaha di sini adalah tanggungannya semua, tapi tak berniat turun langsung. Rasanya lebih enak jika salah satu orang kepercayaan papanya saja yang mengurus.
Jarum jam sudah berada di angka 2 dini hari, itu artinya sudah beberapa jam ia duduk di kursi yang di mejanya dipenuhi oleh beberapa tumpukan map berkas-berkas pekerjaan dan sebuah laptop.
Sesekali memicingkan kedua mata dan memijit pelipisnya singkat, ketika rasa capek mulai melanda. Tapi, berhenti sepertinya tak bisa, karena semua ini harus selesai untuk besok pagi.
Di saat fokusnya tertuju pada kerjaan, getaran ponsel yang ada di meja membuat pandangan matanya mengarah pada benda itu dan menyambarnya.
Tampak heran, ketika melihat nama yang tertera di sana.
“Eren,” gumamnya sedikit berpikir. Ada apa? Kenapa dia tiba-tiba menelepon di jam segini.
“Serena, ini sudah jam berapa ... kamu masih saja meneleponku.” Langsung saja bicara.
“Kamu benar-benar belum tidur, ya, Kak." Terdengar suara serak khas bangun tidur. "Lihat, kan, ini udah mau subuh, loh. Ntar pagi-pagi, kamu juga udah duluan nyampe kantor, ngurusin kerjaan, ngurusin tugas di kampus. Kakak yakin masih ada waktu untuk istirahat?” Serena langsung saja mengoceh panjang tanpa jeda.
Zean menyenderkan punggungnya di kursi dengan senyuman terukir di sudut bibir ketika mendengar omelan Serena di tengah malam. Berasa diomelin emak emak rasanya.
“Kak Zean ... kamu dengerin aku ngomong nggak, sih?”
“Kamu teriak-teriak, nanti kedengeran sama Ken, loh. Jam segini masih teleponan denganku.”
“Kalau bukan liat kamu masih online di jam segini, aku juga nggak bakalan telepon.”
“Aku tadi udah tidur. Barusan dari bawah ngambil minum.”
Serena diam, tak membalas perkataan Zean. Entah diamnya karena memang percaya, atau justru malas memperpanjang karena pasti Zean akan memberikan seribu alasan kenapa masih aktif.
“Ren ...”
“Tidur lagi,” pintanya.
“Baiklah.”
“Bye.”
Menarik napasnya panjang, ketika mengatakan akan tidur, tapi tentu saja itu berkebalikan. Pekerjaannya masih banyak, hingga sepertinya malam ini waktu tidurnya akan lenyap.
---000---
Selesai dengan seragam sekolah yang masih melekat di badannya, kemudian lanjut melangkah menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan. Saat sampai di sana, ternyata sudah ada kedua orang tua dan juga kakaknya.
“Pagi,” sapanya pada semua.
“Pagi, Sayang,” sahut Arya dan Norin bergantian menyambut gadis itu. Ya, masih terlihat raut kesal tampak di wajah Serena, meskipun tak separah semalam.
Menikmati sarapan yang sudah disiapkan dengan diam tanpa berniat untuk mengeluarkan kata-kata.
“Tumben kamu diam? Zean ngasih sesuatu kah semalam, hingga bibir cerewetmu jadi bungkam.”
Ken malah membuka suara. Malah kata-katanya bikin kekesalan Serena langsung naik ke ubun-ubun.
Menatap tajam ke arah kakaknya itu. Rasanya pengin nyakar muka dia, tapi apa daya diri ini tak seberani itu melakukan tindakan yang ada di otaknya.
“Jangan membuat adikmu kesal terus,” komentar Norin pada sikap Ken.
Sebenarnya tak ingin bicara, tapi rasanya kok nggak tega, ya ... bersikap dingin dan acuh begini. Jujur saja, ini bukan sikapnya. Dirinya yang tak bisa diam, tiba-tiba jadi mode kalem. Sungguh, itu begitu berat rasanya.
Meletakkan sendok dan garpunya di piring, setelah sarapannya ia habiskan. Kemudian mengarahkan pandangan pada pasangan paruh baya itu bergantian.
“Jadi, gimana kehidupanku selanjutnya?”
Norin dan Wira saling pandang, ketika mendengar pertanyaan yang diutarakan oleh Serena.
“Ngomongnya yang bener, Ren,” respon Ken menanggapi pertanyaan Sang adik.
“Lah, itu kan udah bener, Kak.”
Wira seolah mengumpulkan kata demi kata yang pas untuk ia jelaskan pada Serena. Bukan apa-apa ... hanya saja memberikan penjelasan pada putrinya ini tak semudah memberikan penjelasan pada Kenzie. Salah sedikit saja, dia bisa salah sangka.
“Sebelumnya, Papa sama Mama minta maaf jika sikap kami malah membuat kamu merasa nggak diperhatikan selama ini. Ya, itu wajar. Sangat wajar. Tapi, kami masih berharap jika kamu masih mau mengerti tentang keadaan kita, Nak.”
Serena mengangguk.
“Untuk kelanjutan hubungan kamu sama Zean ...” Menghentikan kata katanya. Wira benar-benar takut jika perkataannya salah lagi di mata putrinya. “Papa sama Mama akan balik dua hari lagi. Kami nggak mau jika kamu nggak ada yang jagain dalam waktu yang nggak bisa ditentukan. Ken juga nggak bisa fokus jaga kamu, karena otomatis dia juga kuliah.”
Serena mengarahkan pandangannya pada Ken yang duduk di sebelahnya. Tak menanggapi perkataan papanya, tapi dia malah kembali fokus menikmati sarapannya.
“Kalian memaksa Kak Zean melakukan ini?”
“Tentu bukan, Sayang,” sahut Norin menanggapi. “Jujur, Papa sama Mama memang menginginkan ini semua terjadi. Tapi Zean, niatnya di awal memang juga sama, bukan karena paksaan dari siapapun.”
“Ren, jangan membahas masalah perihal paksaan atau tidak lagi. Semuanya sudah selesai. Tinggal masalahnya ada di kamu. Setuju untuk lanjut sama Zean atau tidak?”
Serena diam. Ia menyenderkan punggungnya di kursi, kemudian menyambar satu gelas minuman dan meneguk hingga habis.
“Aku sudah terima Kak Zean,” ungkapnya singkat.
Senyuman terukir jelas di wajah Norin dan Wira ketika mendengar pernyataan yang diungkap oleh Serena. Ya, Zean memang sudah memberikan kabar ini, hanya saja keduanya belum berani bertindak untuk lanjut jika Serena belum membahas. Sekarang sepertinya semua akan aman ... karena gadis ini sudah mengatakan seperti itu.
“Tapi, kamu nggak terpaksa, kan, melakukan ini, Sayang?” tanya Norin memastikan. “Meskipun Mama sama Papa menginginkan kamu sama Zean, tapi kami juga nggak ingin dia merasa kalau kamu terpaksa menerima dia.”
“Ini nggak ada hubungannya dengan perjodohan itu. Aku menginginkan dia dari hatiku, bukan perkara perjodohan itu lagi.”
Kenzie tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar perkataan sang adik. Ada rasa bahagia tersendiri yang ia rasakan ketika perkataan dan balasan Serena seakan akan dia benar-benar bersikap dewasa.
“Jadi, kita bisa melanjutkan rencana ke jenjang pernikahan, kan, Ren?” tanya Wira memastikan pada putrinya.
Serena tak langsung menjawab. Entahlah, rasanya hatinya masih belum sebegitu berani untuk menempuh hal yang di maksud orang tuanya, hanya saja ia yakin saja jika bersama Zean membuatnya bahagia. Maka dari itu, ketika Zean melamar dan mengajaknya menikah, ia menerima.
“Hmm,”angguknya pasti.
“Akhirnya.” Giliran Ken yang berucap lega. Pasalnya hingga sampai ke titik ini butuh kesabaran baik dirinya maupun Zean sendiri. Tentu saja ia merasa lega dengan hasilnya.
Beranjak dari kursinya, kemudian menghampiri Norin dan Wira. Menyambar dan mencium punggung tangan keduanya untuk pamit.
“Serena ...”
“Ma, aku nggak terpaksa. Jadi, jangan tanyakan lagi,” timpalnya seakan tahu jika mamanya pasti akan menanyakan perihal dirinya benar-benar setuju atau tidak. “Aku ... aku hanya menunggu apa yang akan kalian semua lakukan saja.”
Selesai berkata seperti itu, ia segera berlalu pergi.
Ken beranjak dari kursinya, menyambar kunci mobil dan ikut pamit untuk mengantarkan Serena sekolah.
“Aku antar dia sekolah dulu, Ma, Pa ... dan langsung lanjut ke kampus,” pamitnya.
Ya, memang Serena masih tampak tak bahagia. Hanya saja ketika dia bilang sudah menerima Zean, ada raut bahagia dan tenang yang terukir jelas di wajah itu. Baik Norin ataupun Wira seakan paham, jika putri mereka bukan mempermasalahkan tentang hubungan dengan Zean, tapi justu hubungan dengan keduanya yang benar benar tampak renggang.