Serena diam, ketika sentuhan Zean di tangannya membuat otaknya yang kaget terasa diguyur hujan hingga terasa adem.
“T-tapi ini ... aku benar-benar kaget,” ungkapnya. “Kamu tadi baru melamarku, kan ... dan aku terima. Sekarang tiba-tiba malah mengajakku langsung nikah dalam waktu singkat. Jadi, menurutmu aku harus bersikap seperti apa?”
“Bersikaplah seperti kamu benar-benar menginginkan aku yang jadi pendampingmu.”
“Apakah ini terlalu cepat? Nikah? Aku bahkan ...”
“Jangan berpikiran tentang hal buruk lagi," timpal Zean memotong perkataan Serena. "Pikirkan saja, jika aku berada di sisimu, apa yang akan kamu rasakan? Pikirkan, saat kamu butuh seseorang, aku sudah pasti ada di sampingmu. Aku tahu jika masih ada Ken yang bisa menjaga kamu, tapi bolehkah tugas dia aku gantikan?"
“Aku takut justru malah membebanimu," gumam Seren. Ya, lagi-lagi masalag inilah yang jadi beban pikirannya.
“Aku nggak mau menerima penjelasan ataupun alasan lagi, Serena. Sekarang pertanyaanku padamu hanya satu? Mau menikah denganku dalam beberapa hari ke depan, atau tidak?” Hanya satu jawaban, bukan penjelasan ataupun penolakan lagi yang ia inginkan.
“Bagaimana dengan orang tuaku, bagaimana dengan Kak Ken ... mereka harus tahu ini.”
“Aku sudah melamarmu langsung pada mereka. Bahkan pernikahan ini, mereka yang mengatur.”
“Apa Mama dan Papa ku memaksamu lagi untuk melakukan ini?”
Zean menggeleng cepat. “Untuk apa aku dipaksa? Aku justru menginginkanmu secepatnya jadi milikku.”
Air mata Serena jatuh begitu saja membasahi kedua pipinya. Bahkan ia langsung menangis sesegukan. Perasannya tak dapat ia sembunyikan lagi.
“Ren, apa ajakanku ini membuatmu sedih?”
Serena menggeleng.
“Daripada kamu sedih, kamu boleh kok menolakku. Itu lebih baik daripada kamu terpaksa bersamaku.” Meskipun tak ingin mendapatkan penolakan, tapi itu justru lebih baik daripada dia terpaksa menerimanya.
Menghambur ke pelukan Zean, memeluk cowok itu erat seakan tak berniat ia lepaskan lagi dari dekapannya. Haruskah dia begitu membuatnya terperosok jauh dalam perasaan yang benar-benar bikin hatinya terharu.
Kemarin menolak lamaran Zean, seakan membuatnya gila karena seolah sedang melakukan kesalahan besar. Jadi, sekarang ketika Zean mengajaknya menikah dalam waktu dekat, rasanya tak sanggup jika menolak. Karena ia yakini hatinya akan benar-benar mengalami luka parah jika melakukan kesalahan itu lagi.
“Jadikan aku milikmu,” ujarnya dalam dekapan Zean.
Terukir senyuman bahagia di bibir Zean ketika apa yang ia harapkan akan segera terjadi. Mempererat pelukan Serena di badannya, kemudian mengecup pucuk kepala gadis itu dengan lembut. Demi apa rasa bahagianya tak dapat lagi ia ungkap dengan kata-kata, ketika gadis yang ia inginkan, akan menjadi miliknya.
Melepaskan pelukannya pada Zean.
“Tapi aku ...”
Perkataan Serena terhenti seketika ciuman Zean menerpa bibirnya dengan lembut. Sekilas, tapi mampu membuatnya bungkam dalam sekejap. Hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika sikap Zean membuatnya tak berkutik lagi untuk kembali membantah.
“Jangan ada kata tapi lagi. Paham?”
Mengangguk pasrah, saat dirinya berasa jadi seperti anak kerbau yang baru dicolok hidungnya.
“Aku mencintaimu,” ucapnya dengan senyuman penuh haru menghiasi bibirnya.
Malam yang benar-benar terasa indah, bukan. Dinner romantis, dilamar dan sekarang Zean langsung mengajaknya menikah dalam beberapa hari ke depan. Seperti sebuah mimpi yang baru saja dialami, tapi saat bangun ternyata itu adalah sebuah kenyataan. Rasanya benar-benar bikin hati senang nggak karuan.
Zean dan Serena sampai di rumah. Tampak raut bahagia begitu kentara terlihat di wajah keduanya. Bahkan saat keduanya belum mengungkap, orang-orang akan mudah menebak jika mereka sedang berbahagia.
Jujur, ya ... ini sudah dalam mode mengantuk parah. Sampai di rumah, pamit pada Zean ia langsung saja lanjut berjalan menuju kamar. Sedangkan cowok itu, malah menemui Ken. Terserahlah dia mau ngapain juga sama Ken yang merupakan sahabat dia, intinya dirinya kini sungguh mengantuk.
Sampai di kamar, langsung ganti baju. Saking ngantuknya, ia malah tak memikirkan tentang pernikahan yang ia dan Zean bahas tadi. Toh, masih ada hari esok. Sekarang yang terpenting adalah ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada gangguan.
“Good night,” gumamnya mulai memejamkan kedua mata, memasuki alam mimpi. Ya, berharap di dalam mimpi justru sosok Zean lah yang akan ia temui.
Zean berada di kamar Ken. Ya apalagi kalau bukan memberikan tugas yang diminta sobatnya tadi.
Merebahkan badannya di kasur, seakan melepaskan beban yang dari beberapa waktu tertahan. Rasanya begitu lega, seperti baru mendapatkan sebuah kabar baik.
“Nginep?”
“Nggak,” jawab Zean. “Tadi bokap kirim masalah kerjaan, mesti selesai malam ini.” Dengan mata terpejam terus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ken padanya.
“Gimana dengan Serena?”
“Aman,” responnya singkat.
Ken yang tadinya fokus pada buku-buku yang ada dihadapannya, kini mengarahkan pandangannya pada Zean yang sedang rebahan di kasur.
“Lo serius?”
"Hmm," anggukm Zean. “Adik lo sukses bikin otak gue terpecah ke segala arah. Berpikir gampang didapatkan, tapi ternyata butuh keringat yang bercucuran juga hingga sampai ke tahap ini,” ungkapnya tersenyum simpul.
Ken malah tertawa mendengar keluh-kesah sobatnya itu.
“Jadilah calon kakak ipar gue yang terbaik, Kenzie.”
Ken malah melempar Zean dengan bantal. Bisa-bisanya sekarang sobatnya ini sudah mulai memperkarakan sebuah status. Meskipun akan menjadi pasangan Serena, tetap saja, ya ... Zean adalah sahabatnya yang tentunya bisa tetap ia ajak baku hantam kalau perlu.
“Udah bicarakan masalah ini sama Om Dion?”
Ya, meskipun Dion adalah seorang Ayah yang membebaskan perihal jodoh pada Zean. Tetap saja, status seorang ayah adalah memberikan restu. Ia juga tak ingin jika Serena hadir di kehidupan dan tengah-tengah keluarga Zean, tanpa diketahui dan restu.
“Udah bicara jauh-jauh hari, sih. Tentang pernikahan ini ... mungkin besok akan gue kabari.” Tersenyum sisnis, ketika mengingat posisi orang tuanya yang sepertinya tak jauh berbeda dengan orang tua Ken. “Orang tua gue mungkin lebih parah dari apa yang dibayangkan semua orang,” lanjutnya.
“Dan, nyokap lo?”
Ken tahu jika Zean tak terlalu dekat dengan wanita paruh baya yang merupakan ibu pengganti sobatnya itu. Ya, dia bilang wanita itu bersikap baik, hanya saja karena tak terlalu dekat, membuat hubungan keduanya hanyalah seperti orang asing jika bertemu.
Zean menarik napasnya panjang, ketika malas untuk membahas orang-orang asing itu. “Gue nggak terlalu memikirkan mereka semua,” responnya beranjak dari posisi tidur. “Balik dulu, ya.”
Langsung berlalu pergi begitu saja meninggalkan Ken dengan langkah gontai. Jujur saja, ia berasa capek sendirian. Tidak dekat, setidaknya sebagai anak yang baik, ia hanya bisa membantu yang terbaik untuk papanya dalam bidang usaha. Intinya, papanya tetap akan jadi orang tuanya, bagaimanapun itu. Karena dari itulah, dirinya tetap berbakti, lewat perusahaan yang beliau embankan untuk dikelola. Ya, meskipun memilih untuk bekerja dibalik layar.
Ken hanya tersenyum menanggapi sikap Zean yang menurutnya terkesan begitu menutupi perasaan yang dia rasakan. Anak mana yang tak memikirkan orang tuanya, apalagi dengan posisi yang berjauhan dari kecil. Bahkan ia dan Serena juga paham rasanya karena posisi mereka semua sama saja.
Sampai di luar kamar Zean berlanjut untuk menuruni anak tangga, tapi kakinya terhenti ketika pintu kamar dengan cat berwarna putih itu tampak masih terbuka.
“Kebiasaan,” gumamnya berjalan mengarah ke ruangan itu.
Awalnya hanya ingin menutup rapat, tapi pandangannya justru malah mengarah pada si pemilik kamar yang tampak tertidur di sofa. Ayolah, bagaimana mungkin ia membiarkan itu.
Lanjut masuk dan berjalan menghampiri dia yang ada di sofa, dengan sebuah headseat yang masih menempel di kedua pendengarannya. Menanggalkan benda itu, kemudian perlahan mengangkat tubuh yang sudah dalam keadaan tidur nyenyak. Gadis yang ajaib. Padahal baru beberapa saat yang lalu masuk kamar, tiba-tiba sekarang dia sudah masuk alam mimpi.
Menidurkan Serena dan menyelimuti dia. Tak langsung pergi, tapi malah terus memandangi wajah tidur itu. Situasi yang terlalu manis untuk dilewatkan, dimana si tipe cerewet ini tampak diam.
Menyentuh lembut wajah dia, hingga jemarinya mencapai bibir manis itu. “Tunggu aku memilikimu,” gumamnya perlahan. Kemudian mencium lembut bibir Serena.
Berniat langsung pergi, tapi sikap Zean malah membuat Serena melakukan pergerakan dan erangan singkat. Tak hanya itu, gadis itu malah menarik tangan Zean dan memeluk erat.
Zean hanya bisa tersenyum menanggapi sikap yang diterimanya ini. Kemudian perlahan melepaskan rengkuhan di tangannya. “Tidak sekarang, ya,” bisiknya lagi.
Segera beranjak dan pergi dari sana. Menutup pintu itu rapat secara perlahan agar dia tak terjaga. Setidaknya ia sudah bahagia dan tenang untuk saat ini, karena apa yang diinginkannya sudah bisa diterima oleh Serena. Hanya itu yang ia takutkan, ketika dirinya tak dia terima. Bukan perkara lain.
Berstatus sebagai mahasiswa semester akhir, ini bukanlah hal yang mudah. Hari ini di kampus banyak tugas, membuatnya merasa sedikit kelelahan. Untungnya tadi Ken juga membantu beberapa tugasnya, kalau tidak ... mungkin acaranya dengan Serena akan batal. Tapi sekarang yang harus ia kerjakan juga sudah menunggu. Yap, pekerjaan yang dimintai oleh papanya.
Saat menapaki kaki di rumah, ponselnya tiba-tiba berdering. Ketika ia lihat, ternyata laki-laki paruh baya itulah yang menghubunginya.
“Ya, Pa?”
“Kamu di mana, Ze?”
“Di rumah. Baru pulang,” jawabnya sambil terus berjalan melangkah menuju kamar.
“Apa Papa membuatmu merasa terbebani dengan beberapa pekerjaan?”
“Aku tadi pergi sama Serena,” ungkapnya langsung. Karena papanya selalu berpikir jika dirinya merasa terbebani dengan masalah pekerjaan yang sering diberikan beliau. Padahal ia sendiri merasa baik-baik saja.
Terdengar tawa singkat dari laki-laki yang ia panggil dengan panggilan Papa itu.
“Jadi, gimana, Ze?”
“Iya, Pa ... dia menerima lamaranku.”
Jujur, ya ... sebagai seorang anak ketika mengungkapkan rasa bahagia ini bisa langsung dihadapan papanya. Ingin memeluk, seakan berbagi rasa. Hanya saja posisi keduanya benar-benar dalam keadaan yang jauh.
“Kamu bahagia?”
“Hmm,” angguknya.
“Papa ikut senang jika kamu bahagia.”
“Kedua orang tuanya akan balik ke LN beberapa hari lagi, jadi otomatis aku ...”
“Kamu tunggu, ya. Papa akan hadir,” timpal Dion langsung menanggapi perkataan Zean. Seakan paham kemana arah perkataan putranya itu.
“Aku tahu kalau Papa sibuk. Bukan melarang, tapi aku juga paham bagaimana posisi Papa di sana sebagai seseorang yang bekerja dan sebagai seorang suami. Aku nggak mau sampai mereka berpikir kalau aku memaksa Papa untuk datang jauh-jauh ke sini. Aku hanya butuh restu dari papa."
Terdengar helaan napas panjang Dion mennaggapi perkatan putranya.
“Ze, jangan terus berpikiran seperti itu. Papa tahu kamu terlalu mandiri dalam hal apapun. Hanya saja, berikan Papa kesempatan untuk bisa fokus pada dirimu. Kamu anak Papa, Zean.”
“Jangan sampai Tante sama Rey berpikir kalau aku memaksa Papa untuk datang.” Ia lebih memilih menghindari masalah daripada harus menimbulkan masalah baru dalam kehidupannya, apalagi sampai mempengaruhi rumah tangga papanya. bahkan kesendirian pun akan ia pilih, yang penting papanya tenang.
“Enggaklah, Ze. Mereka pasti paham apa yang akan Papa lakukan.”
“Hmm, baiklah. Aku tutup dulu teleponnya, Pa. Mau selesaiin pekerjaan tadi.”
Mengakhiri percakapan dengan papanya yang ... bisa dikatakan keduanya memang tiap hari saling telepon. Bukan hanya masalah pribadi, tapi justru kebanyakan malah masalah pekerjaan. Karena posisi laki-laki paruh baya itu yang ada di luar negeri, otomatis pekerjaan di sini Zean lah yang mengurus. Meskipun ia malah memilih seseorang kepercayaan papanya untuk maju ke depan saat ini.