Belum sampai di rumah, mungkin sekitar setengah perjalanan Zean kembali menghentikan laju mobilnya saat ponselnya berdering. Saat ia lihat, ternyata panggilan dari Ken.
“Hallo.”
“Lo di mana?” tanya Ken.
“Ini udah di jalan, mau pulang ngaterin Serena.” Mengarahkan pandangannya pada Serena yang ada di sampingnya.
“Bisa ambil tugas tadi siang ke rumah lo nggak. Habis itu baru antar Eren ke sini.”
“Oh, oke.”
Zean yang tadinya ingin langsung mengantarkan Serena pulang, kini memutar laju kendaraannya menuju kediamannya.
“Kak Ken bilang apa, Kak?”
“Ke rumah ku bentar, ya ... mau ambil tugas.”
“Hmm,” angguk Serena menyetujui.
Sampai di kediaman Zean, Serena malah ikut turun dan mengekori langkah cowok itu memasuki rumah. Sepi, sunyi, itulah yang benar-benar terasa di dalam rumah ini. Ya, bagaimana tidak ... Zean hanya tinggal sendirian. Tak ada orang tua, penjaga, apalagi asisten rumah tangga.
Duduk di kursi yang ada di rumah tamu, sementara Zean menuju kamarnya untuk mengambil benda yang diminta kakaknya. Tak lama, terdengar langkah kaki cowok itu yang menuruni anak tangga, kemudian menghampirinya.
“Kak, kamu nggak merasa kesepian di rumah ini sendirian?”
Pertanyaan yang diutarakan Serena membuat Zean yang tadinya sudah bersiap untuk lanjut melangkah pergi, jadi terhenti. Kemudian duduk di samping gadis yang sedang menatapnya dengan wajah serius.
Meletakkan sebuah buku yang ia bawa dari kamar di meja. Kemudian fokus pada Serena.
“Aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar, bahkan di rumahmu. Jadi, menurutmu bagaimana rasanya aku berada di rumah ini?”
“Boleh aku bertanya hal yang lebih pribadi? Eh, itu kalau Kakak mau jawab aja, sih. Kalau enggak ...”
“Apapun pertanyaanmu akan ku jawab,” timpal Zean.
“Papamu, kemana?”
Zean tersenyum menanggapi pertanyaan Serena. Udah bisa ketebak, sih ... apa yang akan dia tanyakan. Karena Serena memang tak terlalu mengetahui perihal orang tuanya sampai detail. Hanya Ken yang tahu semua.
“Papaku ada, beliau bisnis di luar negeri. Setelah mamaku meninggal, menikahi seorang janda dengan seorang anak. Dia seumuran denganku. Kemudian bermukim di sana.”
“Anaknya cewek atau cowok?”
“Cowok,” jawab Zean.
“Trus, sekarang dia di mana?”
“Siapa?”
“Ya, saudaramu itu.”
Zean menatap Serena penuh telisik. “Kenapa kamu malah fokus pada dia?”
“Eh, bukan gitu, Kak. Aku kan cuman nanya. Siapa tahu bisa ketemuan, meet up an juga bisa, kan,” candanya.
“Fokus padaku saja, bisa?”
Serena malah tertawa melihat sikap Zean yang menurutnya terlalu cemburu. Padahal ia kan hanya ingin bertanya ... ya, siapa tahu bisa dekat dengan keluarga dia, kan. Lah, ini hanya sekadar bertanya malah balasannya justru tak suka begitu.
Serena menyentuh wajah Zean dengan lembut.
“Aku cuman sekadar ingin tahu semua tentang keluarga dan kehidupanmu.”
Zean menarik napasnya berat, menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.
“Hidupku itu monoton. Nggak ada warna, apalagi corak. Intinya, hidup hanya sekadar bernapas saja, mungkin,” ungkapnya.
Serena menjadi seorang pendengar yang fokus mendengarkan setiap kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Zean. Karena dengan begini, ia bisa memahami seperti apa sosok cowok yang nantinya akan mengisi hari harinya.
“Papaku memang mengurus semua kebutuhanku, apapun itu. Intinya hidupku sudah terjamin. Termasuk perusahaan yang ku urus di sini. Meskipun nggak menginginkan itu, tetap saja menurut beliau itu penting untuk kehidupanku selanjutnya. Ya, sepertinya memang penting. Karena kalau bukan dengan hal itu, bagaimana bisa aku menghidupimu nanti," jelasnya sambil terkekeh.
“Aku baru tahu kalau kamu kerja.” Tiba-tiba Serena menatap Zean dengan raut kaget.
Ini jujur, loh ... karena menurutnya Zean hanya seorang mahasiswa yang statusnya masih seperti Ken yang masih menunggu jadwal wisuda. Ya, ia tahu kalau Zean kerja, tapi berpikir jika dia hanya seperti kakaknya yang sesekali membantu papanya mengurus pekerjaan.
“Ada yang mengurus,” responnya tersenyum. “Aku hanya seorang mahasiswa. Toh, itu perusahaan milik papaku.”
Memutar bola matanya ketika Zean terus mencoba untuk mengelak tentang dunia yang dia geluti. “Setidaknya aku nggak ingin hanya dikasih makan cinta olehmu,” tawa Serena menanggapi perkataan Zean.
“Tentu saja enggak,” respon Zean. “Kehidupan rumah tangga, bukan hanya berpatokan pada perasaan, tapi justru lahir dan bathin. Dua duanya harus seimbang satu sama lain.”
Zean sudah membahas hal-hal tentang rumah tangga. Otaknya yang masih mentok di kursi sekolah, berasa diajak dewasa sebelum waktunya. Entahlah, tapi rasanya kok sekarang malah pikirannya tenang-tenang saja, ya. Yang tadinya takut akan status itu, tapi kini malah sebaliknya.
“Jadi, gimana?”
“Hmm, apanya yang gimana?”
“Masih mau lanjut denganku yang hanya hidup monoton ini, kan?”
“Tentu saja,” sahut Serena langsung dengan pasti. “Kakak mau apa? Lamaran, tunangan, atau kita nikah sekalian. Hayuk aja. Aku mah siap.” Biar Zean nggak berpikir lagi jika dirinya hanya bilang iya sekadar kata-kata.
Zean malah tersenyum menanggapi perkataan demi perkataan Serena yang menurutnya ... dia sadar atau enggak, sih, dengan apa yang dikatakannya itu?
“Ren, aku serius loh, ini.”
“Aku juga serius,” balas Serena yakin.
“Kita nikah.”
“Iya, nikah,” ulang Serena.
Selang beberapa detik kemudian, tiba-tiba ia terdiam ... menatap tajam ke arah Zean. Menelan salivanya dengan susah. “N-nikah?”
Zean mengangguk. “Hmm, kita akan segera menikah dalam waktu yang sangat dekat ini.”
“Jangan bercanda,” komentar Serena masih kaget. Eh, nikah loh, ya. Bukan tunangan. Padahal ia berpikiran tentang tunangan loh tadinya.
“Aku nggak pernah bercanda, apalagi tentang perasaan."
“Kak, aku ...”
“Nggak akan ku ijinkan kamu mengeluarkan kata-kata penolakan,” timpal Zean langsung.
Tersenyum penuh paksa. Sungguh, ia benar-benar kaget jika ini menyangkut pernikahan.
“Tadi kamu menangis karena kesal saat kedua orang tuamu harus pergi dalam waktu dekat ini, kan?”
“Aku cuman kesal,” mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Mengamit kedua tangan gadis itu. berusaha membuat dia merasa nyaman dan tenang, sebelum mendengarkan penjelasan apa yang akan ia utarakan.
“Ren, ini akan terkesan mendadak. Entah kamu akan berpikir jika aku justru sedang memaksamu. Hanya saja, memang inilah yang harus kita lakukan. Aku tahu, mungkin untuk sebuah kepercayaan, kamu masih meragukanku. Tapi ku mohon, berikan kepercayaan itu padaku sepenuhnya.”
Serena memadang fokus ke arah Zean yang ada dihadapannya.
“Dua hari lagi orang tua kamu akan balik ke luar negri. Itu benar-benar terlalu cepat dan mendadak. Tapi keinginan mereka sebelum pergi adalah ... melihat kamu berada di tangan yang tepat. Setidaknya merek yakin jika putri satu-satunya, bisa mendapatkan sebuah tanggung jawab dari seseorang.”
“Bisakah langsung ke inti permasalahannya?”
Zean sedikit terdiam, sebelum memberitahukan apa yang sedang semuanya rencanakan.
“Dua hari lagi kita nikah.”
“Hah!?”
Seakan jantungnya disentil dengan kuat oleh perkataan Zean.
“M-maksudnya gimana, Kak? Kita ...” Menunjuk ke arah dirinya dan Zean secara bergantian. “Ki-kita nikah beneran?” Tertawa nggak jelas. “Pliss, kak ... jangan bercanda. Aku tahu jika kamu melamarku, tapi nikah dalam waktu yang sangat dekat ... jangan membuatku kaget.”
Kembali menyambar tangan Serena yang barusan dia lepaskan karena kaget. “Lihat aku ... apakah menurutmu aku sedang bercanda untuk sebuah hubungan yang serius?”