Di perjalanan Zean tak langsung bertanya atau membahas perihal masalah yang sedang dipikirkan Serena. Takut, jika mood gadis ini masih mode kesal. Baru juga adem dengannya, masa iya udah mau panas lagi.
“Kenapa menatapku terus, sih?” tanya Serena saat setengah perjalanan.
Zean malah tersenyum menanggapi pertanyaan yang diberikan Serena padanya. Bukan apa-apa, hanya saja ia lega saat gadis ini mengeluarkan suara yang sedari tadi justru malah diam.
“Akhirnya aku lega, saat kamu sudah normal kembali,” ungkap Zean. “Berdua denganmu di dalam mobil, tapi kamu cuman diam seribu bahasa. Jujur saja, aku berpikir jika aku sudah melakukan kesalahan apalagi padamu,” tambahnya menjelaskan.
“Berhenti sebentar, bisa?”
Zean mengangguk. Kemudian mencari posisi yang aman untuk menepi dan menghentikan laju kendaraannya.
Mobil berhenti, kemudian Zean menanggalkan safety belt yang melilit badannya. Menatap fokus pada Serena yang duduk di sampingnya.
“Ada apa, hem?”
Serena merentangkan kedua tangannya.
Zean tampak bingung dengan sikap Serena.
“Bisakah memelukku sekarang? Aku butuh.”
Langsung melakukan apa yang diminta oleh gadis situ. Mendekat dan memeluk dia penuh.
“Kamu kenapa ... apa ada masalah? Cerita padaku.”
“Tidak ada, aku hanya minta dipeluk saja, kok. Apa nggak boleh?”
“Apapun akan ku lakukan untukmu. Mau lebih dari pelukan juga hayuk,” tanggap Zean seakan ingin mengajak Serena untuk tak terlalu serius.
Melepaskan Zean dari pelukannya, kemudian tersenyum manis pada cowok itu.
“Hanya minta dipeluk sebentar. Kemarin ku berikan dengan suka rela kamu juga menolak, kan.”
Jujur, ya ... ia merasa Serena sengaja memancing-mancing perasaannya. Harus tahan, karena memang belum saatnya dan bukan halal baginya.
Zean tersenyum dan kembali mengenakan safety belt nya. “Kamu nggak akan tahu, jika aku benar-benar berhasil tergoda ... jangankan kabur, bahkan untuk mengelak sedikit saja kamu nggak akan mampu, Serena.”
Entah apa yang sebenarnya terjadi ... tapi dengan pelukannya barusan seolah sudah membuat bongkahan es langsung mencair. Dia seolah kembali pada kepribadiannya yang manis dan ceria. Cerewetnya dia, seakan memenuhi perjalanan menuju restoran.
Turun dari mobil, Zean membukakan pintu mobil untuk Serena. Ada rasa bahagia tersendiri yang dirasakan Serena, ketika Zean terus menggenggam tangannya saat turun dari mobil hingga memasuki restoran.
Menuju meja yang sudah dipesan sebelumnya, keduanya duduk dengan Zean yang terlebih dahulu menyiapkan kursi untuk gadis pujaannya itu.
“Bagus restorannya, nggak terlalu rame,” ungkap Serena melirik keadaan di sekitar.
Ya, tak seperti cafe atau restoran yang sering ia kunjungi dengan Kalina yang terkesan ramai dan agak heboh. Di sini, justru benar-benar elegan. Seolah-olah pengunjung yang berkunjung seperti dibatasi dan bisa fokus pada pasangan masing-masing.
“Ken sering ke sini,” ungkap Zean.
“Sama siapa?” tanyanya tiba-tiba penasaran.
“Dengan tumpukan buku,” jawab Zean tersenyum.
Sudah ketebak, sih. Lagian, sama siapa lagi kakaknya itu akan jalan keluar. Cewek? Jangan berharap lebih. Tapi tidak dengan sekarang ... karena kecurigaannya sedang merajalela jika kakaknya itu sedang dekat dengan seseorang.
Seorang pelayan restoran menghampiri keduanya. Bukan membawa buku menu, justru sudah langsung membawa beberapa menu yang sudah siap ke hadapan mereka.
“Kan kita belum pesan,” komentar Serena pada Zean.
“Makanan kesukaanmu, kan?” tanya Zean balik.
Tersenyum ketika apa yang ia suka, bisa diketahui oleh Zean. Yap, pelayan sudah menyiapkan berbagai menu dihadapannya keduanya. Ada Spring chiken, wagyu cheek dan Beef tenderloin salad and black forest. Lengkap dengan minuman masing-masing.
Menikmati makan malam berdua, jujur saja di sini benar-benar dapat banget kesan romantisnya. Entah karena datang bersama pasangan terkasih, ya ... jadi kesannya benar-benar dapat. Mungkin akan beda cerita kalau ia datang bersama Kalina. Yang bisa saja membuat kehebohan di tempat ini.
Makan malam sambil ngobrol dan bercanda, rasanya menyenangkan. Berpikir jika Zean setipe dengan Ken yang akan fokus pada makanan, ternyata tidak juga. Cowok ini mampu membuatnya merasa nyaman di manapun dan kapan pun.
“Aku mau bicara serius sama kamu,” ujar Zean buka suara ketika selesai menikmati makan malam.
“Ya?”
“Masalah kita.”
Tadinya Serena masih belum terlalu serius menanggapi perkataan Zean, tapi mendengar jika fokus cowok ini adalah perkara hubungan keduanya, ia langsung serius.
“Ada apa, Kak?”
Menggenggam kedua tangan Eren dan mengusap lembut punggung tangan itu.
“Maukah kamu menerima lamaranku?”
Serena tak langsung menjawab, tapi sesaat kemudian ia tersenyum menanggapi pertanyaan Zean. “Kalau aku nggak setuju, bagaimana mungkin aku mau menahanmu untuk tetap di sini denganku,” responnya. “Itu tandanya, aku menerimamu.”
“Kita lanjut?”
Barulah dahi Serena berkerut mendengar pertanyaan Zean.
“Maksudnya?”
Zean melepaskan genggaman tangannya di tangan Serena, mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyodorkan sebuah benda berbentuk lingkaran dihadapan gadis itu.
“Menikahlah denganku, Serena.”
Tiba-tiba ia tercekat saat Zean langsung mengajaknya menikah. Jujur, ia masih ragu. Ya, ragu dengan dirinya sendiri yang masih labil. Bahkan saat inipun merasa dirinya dalam mode labil. Menginginkan Zean untuk tetap di sisinya, tapi justru ragu menerima lamaran dia.
“Aku tahu jika ini terlalu cepat, bahkan tiba-tiba. Hanya saja aku mau menjadikan kamu tanggung jawabku. Bukan karena desakan orang tuamu, tapi ini tulus dari hatiku.”
“Kak, aku ...”
“Aku tahu kamu ragu karena merasa belum pantas untuk menyandang status sebagai seorang istri. Tapi, tolong ijinkan aku untuk menjadikan kamu sebagai tanggung jawabku. Itu saja. Agar aku bisa punya keleluasaan pada dirimu tanpa batasan.”
Fokus pada benda berbentuk ring yang ada dihadapannya. Cincin emas putih, dengan sebuah diamond kecil yang tampak mewah di tengahnya. Ya, benda yang pernah ia tolak beberapa waktu lalu. Kini kembali berada dihadapannya, memintanya untuk diterima.
Zean sampai memejamkan kedua matanya, takut saja jika kali ini lagi-lagi Serena kembali memberikan penolakan. Bisa dipastikan bagaimana rasa sakitnya jika itu kembali terjadi.
“Ku mohon,” gumamnya.
Baru juga berkata demikian, tiba-tiba ia tersentak ketika benda yang berada di pegangannya diambil alih. Matanya seketika terbuka, menatap fokus pada dia yang tampak mengumbar senyuman manis ke arahnya.
“Lihat, ukurannya pas, kan, di jariku?” tersenyum, sambil menunjukkan jari manisnya yang sudah melingkar benda mewah itu.
Zean langsung beranjak dari posisi duduknya dan dengan cepat beralih pada Serena. Memeluk gadis itu erat dan menciumi dia dengan penuh rasa bahagia.
“Kak, ya ampun ... ini tempat umum loh. Kamu ngapain, sih.”
Lihatlah, orang-orang di sekitar sampai memberikan tatapan aneh pada ia dan Zean. Benar-benar bikin nganu ini cowok, kenapa juga harus menciuminya di tempat umum begini. Astaga! Ternyata Zean juga bisa bikin malu-maluin, ya.
“Kak Zean, kita jadi tatapan publik loh,” komentar Serena yang masih berada dalam pelukan Zean. Jujur saja ini memalukan. Kecuali Zean memeluknya di tempat yang aman, ya okelah,
“Aku nggak perduli,” responnya. “Yang jelas aku hanya ingin menunjukkan rasa bahagiaku.”
“Bahagianya ntar aja, disimpan dulu buat di rumah.”
Saking senangnya, ia sampai lupa diri dan lupa situasi. Bagaimana tidak, ini Serena bukan menerima cintanya, loh ... tapi justru menerima lamarannya.
Jadilah, makan malam kali ini bukan hanya sekadar makan malam biasa. Karena saat inilah dirinya merasakan apa yang namanya kebahagiaan yang sebenarnya. Jauh-jauh hari berpikir jika Serena menerima cintanya, itu sudah terjadi. Dan kini, ia ingin memiliki gadis ini sepenuhnya ... dan dia setuju.
“Kakak baik-baik aja, kan?” tanya Serena pada Zean yang bahkan dia terus memandangi dirinya sambil senyum-senyum nggak jelas. Takutnya dia kesambet, karena setahunya Zean bukanlah tipe cowok yang murah senyum Apalagi sampai senyum-senyum.
“Aku nggak baik-baik saja karena kamu.”
“Lama-lama aku takut padamu,” gumam Serena.
“Aku hanya bahagia, karena kamu menerimaku.”
“Sebahagia itukah?”
“Salah satu rasa bahagia ketika aku hidup di dunia ini,” sahutnya.
“Itu berlebihan, Kak.”
“Itu nyatanya. Karena kamu, adalah kebahagiaanku.”
Bagaimana ia tak dibuat semakin merasa tersanjung, jika Zean bersikap berlebihan begini padanya.
Zean melirik waktu di jam yang ada di pergelangan tangannya, ternyata sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tak terasa, bahkan waktu begitu cepat berputar jika bersama dengan Serena.
“Kita pulang, ya. Udah malam. Besok kamu juga sekolah, kan.”
Serena mengangguk cepat. Kemudian menghela napasnya lelah. “Berharap status seorang siswi SMA segera lenyap dalam kehidupanku. Betapa itu menyenangkan.”
Zean hanya tersenyum mendengar gumaman Serena yang terdengar lucu. “Setelah status siswi Sma, masih ada status mahasiswi yang menantikanmu.”
“Jalanku masih panjang untuk mengakhiri semua hal yang berhubungan dengan buku pelajaran,” gerutunya mulai beranjak dari posisi duduk.
Keduanya segera meninggalkan restoran dan berjalan bergandengan menuju mobil yang ada di parkiran. Setidaknya sebagai seorang yang pengertian, Zean tahu dan sadar diri jika Serena masih anak sekolah, yang tak akan ia berikan kebebasan untuk berkeliaran hingga lupa waktu.