Serena menghampiri orang tuanya yang duduk di ruang keluarga. Kemudian menatap keduanya bergantian dengan pandangan serius. Seakan tahu jika ia ingin bicara sesuatu, papanya langsung menutup buku yang beliau baca.
“Ada apa, Ren?”
“Mama sama Papa akan lama di sini, kan?” tanyanya langsung.
Pasangan suami istri itu saling melempar pandang, kemudian kembali fokus pada gadis belasan tahun yang sedang menatap keduanya serius.
Menghela napasnya dengan berat, ketika tanpa harus mendapatkan jawaban langsung, ia sudah bisa menebak jawabannya dari reaksi keduanya dalam menanggapi pertanyaannya.
“Nggak usah dijawab, karena aku sudah tahu jawabannya,” ujarnya langsung dengan wajah tak baik.
Di saat yang bersamaan, Ken yang baru pulang, ikut duduk di antara ketiganya.
“Ada apa?” tanyanya melihat reaksi orang tua dan adiknya yang tampak tak baik-baik saja. “Ada masalah?”
“Aku kadang heran, antara memiliki orang tua atau enggak, sih.” Mulai bicara dan mengeluh dengan apa yang sedang dirasakannya. Terutama pada kedua orang tuanya. “Papa sama Mama seolah-olah membuang aku sama Kakak, tahu nggak.”
“Serena ...” Melerai sikap adiknya yang tiba-tiba kembali berulah. Terakhir justru tahun lalu, dan sekarang dia mulai komentar lagi.
“Memang begitu, kan, Kak?”
“Aku sudah memberikan penjelasan sama kamu, kan? Apa kurang jelas?”
“Itu dari Kakak, aku paham karena kamu nggak mau komentar. Tapi sebagai anak, aku juga punya pertanyaan dan pendapat sendiri.”
Ken menarik lengan Serena untuk mengikutinya, meskipun dia menolak tetap saja ia paksa. Berjalan menuju ke dalam kamar gadis itu.
“Bicara sekarang apa yang mau kamu keluhkan,” suruh Kenzie pada adiknya itu.
“Aku mau mengeluh langsung sama mereka, bukan sama Kakak. Kenapa keluhanku harus pake perantara, sih?”
Ken memijit pelipisnya yang terasa dipukul langsung oleh perkataan Serena. Ya, ia tak marah ... hanya saja untuk kembali membahas hal hal semacam ini butuh kesabaran juga. Karena Serena selalu memberikan komentar pada setiap penjelasannya.
“Ren, kamu adikku ... bisa, kan, percaya saja padaku?”
“Aku percaya padamu, apapun itu," sabar Serena langsung.
“Ketika aku percaya dengan keputusan Mama dan Papa, bisa lakukan itu juga?” tanya Ken.
“Enggak,” jawabnya cepat. “Kamu selalu mengomeliku, tapi aku percaya padamu ... karena kamu selalu bersamaku. Selalu menjaga dan ada untukku. Tapi Mama sama Papa enggak. Aku sakit, mereka nggak di sini. Aku sedih, mereka sibuk. Jadi, gimana aku percaya kalau semua yang mereka lakukan adalah hal yang terbaik untukku?”
Ken duduk di pinggiran tempat tidur, berusaha menenangkan hatinya ketika harus membuat adiknya ini tenang.
“Sebuah kehidupan, nggak bisa dalam aturan kita sendiri, Ren. Di luaran, banyak orang tua justru membuang anak mereka karena nggak mampu untuk mengurus. Posisi orang tua kita justru terhalang waktu untuk mengurus, karena sibuk mencari nafkah. Mereka cuman pengin kita sebagai anak, dapat kehidupan yang layak tanpa kekurangan.”
“Kekurangan kasih sayang, bagaimana?” tanya Serena makin tak terima.
“Pilihan yang sulit dilakukan Mama sama Papa. Memilih antara anak dipenuhi kasih sayang, tapi tak berkecukupan. Atau, anak berkecukupan, tapi justru minim kasih sayang.”
“Kalau bisa memilih, aku akan memilih pilihan yang pertama.”
“Masalahnya pilihan itu bukan takdir yang harus kamu tempuh,” timpal Ken langsung menanggapi respon sang adik. “Sudah ku bilang, kan, manusia bukan ditakdirkan untuk memilih, tapi justru takdir yang memilih seperti apa kehidupan yang akan kamu jalani.”
Serena menghempaskan bokongnya di tempat tidur, memasang wajah cemberut. Tak terima dengan apa yang dijelaskan kakaknya.
“Bisa, kan ... jangan mempertanyakan perihal ini lagi? Aku kadang sampai bingung harus terus menjelaskan sama kamu, Ren. Hingga terkadang aku justru merasa kamu nggak baik-baik saja di sini denganku.”
“Aku nggak pernah merasa begitu,” tanggap Serena atas pemikiran kakaknya.
Ya, meskipun Ken menyebalkan hingga terkadang ia suka sekali merutuki sikap kakaknya yang terkesan berlebihan dan memaksa, tapi untuk merasa tak bahagia, tentu saja tidak. Dia harus di sini menjaganya, mengurusnya ... bahkan ia merasa Ken jauh lebih baik dari orang tuanya yang lebih fokus pada materi.
“Tapi mereka hanya sebentar di sini, aku nggak suka itu,” isaknya langsung. “Nggak bisakah fokus ke kita hingga beberapa waktu ke depan?”
Ken tersenyum menanggapi pertanyaan Serena. Membawa adiknya itu ke pelukannya.
“Mama sama Papa itu perhatian sama kita, terutama sama kamu. Saat ulang tahun, mereka bela-belain datang, kan. Sekarang, mereka juga fokus dengan hubungan kamu dan Zean.”
Melepaskan diri dari pelukan kakaknya.
“Mereka juga mau yang terbaik untuk kamu, termasuk masalah pasangan. Kalau bukan campur tangan Mama dan Papa, semua ini juga nggak akan berlangsung mulus," lanjut Ken.
Hanya menundukkan kepalanya. Bingung mau komentar apalagi.
Ken membelai kepala Serena lembut. “Maaf, jika hubungan kamu dan Zean malah terkesan terburu-buru. Aku tahu kamu merasa didesak untuk segera dewasa. Hanya saja, aku, Mama dan Papa ... hanya ingin kamu baik-baik saja. Dimiliki oleh seseorang yang bisa bertanggung jawab atas dirimu. Lihat, kan ... terkadang aku diminta Papa untuk mengurus pekerjaan. Membuat kamu harus di sini sendirian.”
Serena menggelang cepat. “Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Kakak nggak salah jika bersikap begitu. Justru aku yang merasa terlalu merepotkanmu ikut campur mengurusku.”
“Terima Zean, ya? Ku mohon.”
Serena mengangguk.
“Zean itu cowok baik-baik. Mungkin kamu akan berpikir jika sikap dia sama denganku, tapi justru itulah yang ku mau. Aku mau, dia bahkan akan lebih baik menjaga kamu daripada aku.”
Kembali mewek nggak jelas ketika mendengar penjelasan Ken.
“Apa kata-kataku bikin kamu kesal?”
“Biasanya kamu akan mengomeliku, tapi sekarang aku justru terharu punya kakak sepertimu.” Memeluk Ken erat. “Nanti adikmu ini akan ikut andil dalam pencarian jodohmu. Aku janji.”
Seketika Ken salah tingkah.
“Jangan ikut campur masalahku,” komentar Ken.
Melepaskan pelukannya pada Ken.
“Kenapa? Kamu mencarikanku jodoh, kenapa aku nggak boleh mencarikanmu jodoh? Enak aja. Nggak bisa gitu dong.” Tak terima ketika Ken menolak.
“Aku bisa cari sendiri,” respon Ken beralasan.
“Kalau gitu, aku juga bisa cari sendiri.”
“Heh, yakin? Ku bilang Zean ntar, suruh dia pergi aja yang jauh ke ujung dunia,” ancam Ken akan perkataan sang adik yang dengan beraninya ikut campur masalah jodohnya.
“Ken!”
“Hmm.” Melirik tajam Serena. “Jangan melawan kakakmu ini. Karena itu butuh nyali yang besar.”
Salah satu yang bikin bingung adalah, siapakah yang sedang dipikirkan Ken akhir-akhir ini? Bukan apa-apa, hanya saja sikap dia menunjukkan seperti seorang cowok yang lagi kasmaran. Bukan, bukan ... lebih tepatnya perkataannya malah bahas masalah cewek terus. Jujur saja, membuka kedok Ken itu susah. Karena dia nggak akan dengan mudahnya terbuka.
Terdengar deru mobil yang memasuki pekarangan rumah, membuat Ken menatap ke arah Serena.
“Zean?”
“Hmm,” angguknya. “Aku ijin makan di luar. Boleh?”
Mencubit pipi Serena. “Zean nyampe di sini, baru kamu minta ijin padaku. Gadis pintar.”
“Ya percuma juga aku yang minta ijin. Karena ku yakin dia pasti udah ijin sama kakak,” terang Serena terkekeh.
“Sana siap-siap, aku keluar dulu,” ujar Ken meninggalkan kamar Serena.
Segera mandi dan lanjut berbenah diri. Bukan tipe cewek glamour, yang jika makan malam di luar saja harus berpenampilan heboh dan berkilau. Jujur saja, itu bukan dirinya dan bukan kadar usianya.
Mengenakan stelan rok selutut, rambut sepinggangnya yang digerai, sepatu kets dan tas selempang mini. Oke, simple untuk dirinya yang tipe simple.
Keluar dari kamar, kemudian lanjut menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang keluarga. Masih tampak kedua orang tuanya di sana mengobrol. Bukan hanya mereka, tapi ada Ken dan Zean juga.
Pandangan Zean fokus pada kedua mata Serena yang tampak memerah. Ayolah, saking hapalnya dengan watak, sikap dan perubahan yang ada pada dia, hingga membuatnya tahu jika gadis ini habis menangis.
Ken memberikan kode pada adiknya itu untuk minta ijin pada kedua orang tuanya. Ya, meskipun masih terlihat jelas raut kesal di wajah itu, tetap saja ijin harus dia dapatkan.
Menghampiri Norin dan Wira, kemudian menyambar dan mencium punggung tangan keduanya bergantian.
“Aku ijin keluar sama Kak Zean Pa, Ma,” ucapnya perlahan.
“Hati-hati, ya,” pesan Norin.
“Hmm,” angguknya langsung saja berlalu begitu saja melangkah lebih dulu dari sana, menuju keluar rumah.
“Jaga Serena ya, Ze,” tambah Wira pada Zean.
“Iya, Om,” sahut Zean. “Kalau gitu kita berangkat dulu,” pamitnya pada pasangan suami istri itu. Melirik Ken agar ikut keluar dengannya.
Paham, Ken pun beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Zean. Keduanya bicara di ruang tamu.
“Ada masalah?”
“Seperti biasa ... masalahnya sama Papa dan Mama. Pulang dadakan, pergi juga akan dadakan dan dia nggak terima,” ujar Ken.
Zean mengangguk, karena ia sudah paham maksud dari perkataan Ken.
“Gue titip Serena, ya.”
“Oke.”
Zean lanjut melangkah pergi menyusul Serena yang sudah terlebih dahulu menuju mobil, meninggalkan Ken yang juga langsung kembali ke dalam.
Sampai di dekat mobil, ia dapati gadis itu malah duduk di anak tangga di teras. Lihatlah, meskipun wajah itu begitu manis, hingga matanya tak bisa berpaling dari dia ... tapi sangat terlihat jika dia dalam kondisi yang tak baik-baik saja.
“Ayok,” ajaknya menyambar tangan Serena untuk segera beranjak dari duduknya dan membukakan pintu mobil untuk akses masuk.