Saat sampai, Kalina langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah ... sedangkan Serena malah ngobrol dengan Zean di dalam mobil.
“Ada tugas dari sekolah?”
“Dari sekolah nggak ada, sih ... cuman aku nggak tahu ntar kalau dari Kak Ken,” jawabnya malas. Kemudian menatap takut-takut ke arah Zean. “Jangan bilang kalau Kakak mau ngasih aku tugas.”
Zean mencubit pipi Serena gemas. Kebiasaan dirinya yang suka ngasih tugas, pas bilang nggak ada tugas dia udah horor duluan.
“Ntar malam kita makan di luar, ya,” ajak Zean.
Serena langsung memasang wajah cemas.
“Jangan bilang padaku kalau kamu mau pergi lagi.”
“Kamu mau aku pergi?”
“Jangan dong,” respon Serena langsung. “Kakak nggak boleh kemana-mana kecuali jika aku mengijinkan.”
Zean malah tertawa kecil mendengar perkataan Serena.
“Baiklah, aku nggak akan pergi tanpa ijin darimu. Tapi, bisa, kan, nanti malah makan di luar denganku?”
Mengangguk cepat dengan senyuman penuh bahagia menanggapi ajakan Zean.
“Sana masuk. Aku nggak mampir, ya. Mau balik kerja,” ungkap Zean. “Titip salam aja sama Tante.”
“Iya,” jawab Serena.
Turun dari mobil, kemudian melambaikan tangannya pada Zean dengan mobil yang segera dia lajukan meninggalkan area rumah.
Dengan berlari kecil, Serena memasuki rumah. Tampak mamanya dan Kalina sedang ngobrol di ruang keluarga. Sobatnya masih mengenakan seragam sekolah, itu berarti dia belum masuk kamar.
“Acieee ... yang habis ehem-ehem,” ledek Kalina ketika mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya. “Gimana, sukses?” Menaikturunkan alisnya menatap ke arah Serena penuh telisik.
Eren malah melempari Kalina dengan bantal sofa, ketika sobatnya ini malah bikin dirinya terancam. Lihatlah, tatapan mamanya seakan sedang bertanya maksud dari perkataan dia.
“Ehem-ehem, ngapain?” tanya Norin.
“Duh, Tante nggak ngerti ehem-ehem, ya?”
“Berdehem kah?”
Kalina memutar bola matanya, ketika mendengar jawaban dari Norin.
“Ehem-ehem itu adalah ... sebuah pekerjaan atau aktifitas fisik yang bisa bikin otak jadi panas, jantung jadi deg-deg an nggak beraturan, hingga terkadang bisa meninggalkan sebuah bekas yang ...”
Serena langsung membekap mulut sobatnya itu, ketika kalimat akhir justru sepertinya akan membawanya menuju sebuah masalah.
“Bekas yang?” Norin masih menunggu kalimat lanjutan dari Kalina.
“Yang biasa saja,” lanjut Serena menanggapi pertanyaan mamanya. “Ayok, gue mau curhat panjang sama sobat gue yang satu ini. Udah lama rasanya kita nggak gelud di kamar, kan.” tersenyum licik ke arah Kalina yang mulut dia masih ia kekepin.
“Eh, itu Kalina kamu bekap gitu loh,” peringatkan Norin.
“Dia suka kekurangan napas daripada kelebihan napas, Ma,” sahut Serena langsung membawa pergi Kalina dari sana.
Sampai di kamar, langsunglah ... dua kaum hawa itu saling berlarian, saling mengejar satu sama lain, saling lempar bantal.
“Lo mau bikin gue kepergok sama Mama, ya ... sialan lo Kalina. Sobat luchnut!” heboh Serena yang kekeuh mengejar Kalina yang berlari menghindarinya.
Kalina malah tertawa puas, ketika melihat Eren berasa jantungan karena takut ketahuan.
“Gue kan cuman bercanda, Beb ... yakali Tante Norin tahu masalah cium-mencium dan adegan m***m itu yang lo lakuin sama Kak Zean.”
“Anjayyy ... siapa yang lakuin adegan m***m, hah? Kalina!”
Seperti kata orang, saat punya sodara cowok ... itu rasanya berasa dikekepin, dilarang ini itu, pokoknya semuanya ada dalam aturan dia. Sekarang, sebagai sobat ... ia dan Kalina berasa kayak bocah tengik yang nggak ada aturannya sama sekali. Sepertinya sosok cowok memang harus ada di antara dirinya maupun Kalina. Kalau enggak, mungkin ketengikan ini akan terus berlangsung lama tanpa ending.
Sore hari, Kalina memutuskan untuk pulang ke rumah. Jujur saja, saat pulang dari rumah sakit pun ia sudah merasa baik-baik saja ... hanya orang tua Eren nggak membiarkan dirinya pulang ke rumah karena khawatir. Karena ia hanya berdua dengan asisten rumah tangga. Takut, nggak ada yang menjaga.
“Akhirnya, gue bisa lepas dari pandangan mata tajamnya Kak Ken yang bikin pernapasan gue nyesek sampai ke ulu hati,” leganya saat menapakkan kaki di rumah.
“Ya ampun, Non ... Bibik sampai bingung nyari Non kemana, loh,” heboh seorang wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga di rumah Kalina.
“Kenapa nggak nyariin aku kalau khawatir, Bik?
“Kata Den Kenzie Non nginep di rumahnya, sama Non Eren. Jadi, kekhawatiran Bibik pudar begitu saja.”
Langkahnya terhenti ketika mendengar nama Ken disebut. “Kak Ken ke sini?”
“Iya, Non. Setelah bicara sama Nyonya lewat telepon, si Aden ke sini nyamperin Bibik. Trus, bilang kalau Non nginep di rumah dia buat bikin tugas sekolah yang banyak sama Non Eren.”
Mengangguk perlahan, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar. Kamar yang sudah beberapa hari tak ia tempati.
“Aku istirahat dulu, ya, Bik. Jangan diganggu,” pesannya yang langsung disetujui oleh wanita paruh baya itu.
Sampai di kamar, langsung merebahkan badannya di kasur. Lega, bebas, nggak takut ditelisik oleh sesemakhluk yang bernama Ken lagi. Hidupnya berasa damai. Tapi, itu artinya akan kembali seperti beberapa hari sebelumnya. Nggak bisa menatap dengan gratis cogan yang menarik perhatiannya itu.
Tanpa berniat mengganti seragam sekolah, ia langsung saja tidur ... memicingkan kedua matanya. Sebelum pulang tadi, sempat minum obat. Sepertinya pengaruh obat membuat matanya benar-benar terasa mengantuk. Berat membuka kelopak mata, seperti sudah begadang beberapa hari lamanya. Yap, meskipun pada kenyataannya ia memang begadang beberapa hari ini.
Tidur sore benar-benar bikin nyaman, ya. Saking enaknya, hingga berjam-jam lamanya tak terasa. Ditambah dengan hembusan angin yang masuk melalui balkon kamar ... membuat mata seolah tak berniat untuk melek.
Suara dering suatu benda membuatnya melakukan pergerakan, seolah terganggu. Berdecak kesal, ketika baru saja berhenti, deringan itu kembali menghiasi pendengarannya.
Seketika langsung menyambar benda pipih yang berada di sampingnya dan menggeser gambar telepon berwarna hijau ke arah kanan.
“Heii ... siapa, sih, dari tadi nggak berhenti berhenti nelepon. Kurang kerjaan, ya. Benar-benar gangguin orang lagi tidur aja, elahh,” berengutnya langsung berkicau panjang layaknya burung pipik di ponsel.
“Suaramu merusak pendengaranku.”
Mata Kalina langsung melek sempurna. Pikirannya langsung berkelana ketika meresapi, mencerna dan memikirkan siapa pemilik suara ini. Hanya sesaat, hingga akhirnya ia seakan tak sanggup menarik napasnya sendiri.
Melirik nama yang ada di layar datar itu. Seketika jantungnya seakan mau berhenti berdetak saat itu juga. Menutup mulutnya rapat rapat sambil menelan salivanya dengan susah ... berharap tak mengeluarkan kata kata lagi. Langsung, dengan mode gercep ia tutup panggilan telepon dan melempar ponsel sembarangan.
Langsung berteriak teriak histeris, antara rasa takut, kaget, atau ... jantungnya berasa mau copot saja. Bayangin, ia sudah ngomel koar-koar di awal pas jawab telepon, ternyata yang menghubunginya adalah Kenzie.
“Demi apa gue takut,” erangnya menutup mukanya dengan bantal. “Nggak berharap banyak ketemu sama cowok itu untuk beberapa hari ke depan. Ngeri gue!”
Bertemu dengan Ken saja ia seolah jadi mode kalem, nggak banyak bicara, nggak kuat mau mengelurkan semua isi hati. Tapi saat di telepon barusan, ia berasa seperti sedang mengeluarkan sikap aslinya yang ia tutupi selama ini. Sungguh, nyeseknya sampe ke ubun ubun.
“Kira-kira dia kaget nggak, sih?” Berpikir keras tentang perasaan Ken ketika mendengar ia mengomel. “Berharap dia nggak kaget,” jawabnya sendiri.
“Tapi masa nggak kaget?” tanya sendiri lagi. “Gue aja yang bicara, kadang bisa kaget sendiri.”
Ujung-ujungnya hanya merutuki sikapnya barusan. Bagusnya Ken tak menghubunginya lagi. Karena kalau iya ... itu otomatis dia kesal diberikan sikap seperti tadi.
Baru juga berpikir. Tiba-tiba sebuah pesan memasuki ponselnya yang sudah ia abaikan. Menyambar benda itu dan mengecek siapa yang mengirim pesan. Lagi-lagi harus kaget, karena ternyata pesan dari Kenzie. Ah, sudahlah ... ia berasa tak ada muka lagi berhadapan dengan kakak dari sobatnya itu.
Membuka pesan yang dikirim oleh Ken dengan waspada. Meskipun orangnya tak berada dihadapannya, terkadang pesannya aja udah bikin jantung cekot-cekot.
“Maaf, tadi aku nggak bisa jemput di sekolah. Ada tugas di kampus.”
“Heh?”
Tadinya berpikir akan kaget mendapatkan balasan ceramah dari Kenzie akan sikapnya, tapi ia justru kaget ketika pesan yang diberikan cowok itu justru malah mode manis. Saking manisnya ia berasa mau kejengkang dari tempat tidur.
“I-ini Kak Ken lagi kumat atau gimana, sih? Kenapa malah ...” Tak mampu berkata-kata lagi. “Serius, ini pasti hp dia lagi dibajak sama temannya. Atau, dia mau kirim pesan sama cewek lain, trus malah terkirim ke gue. Pasti, nih, kayak gitu kronologinya.” Mengangguk-angguk, mencoba berpikiran positif.
Kembali memberengut. Seakan-akan pesan yang diberikan Ken memang tertuju padanya. Kebetulan juga, kan, tadi ia nggak ada yang jemput.
“Kamu masih tidur atau gimana, sih?!”
Bingung, kan, harus memberikan jawaban apa. Ia keburu baper dengan pesan Kenzie, tapi takut terPHP karena nyatanya itu cuman hp dia yang kena bajak. Kan ngenes kalau baper duluan.
Masih mode berpikir, benda pipih yang ada di tangannya kembali berdering. Tampak nama Ken terpampang jelas segede gaban memenuhi ruang hp dan otaknya.
Menarik napasnya perlahan. “Ayolah, Kalina ... jangan baper. Anggap saja nggak terjadi apa-apa.”
Langsung menjawab panggilan itu.
“I-iya, Kak. Ada apa?”
“Bagus. Akhirnya napasmu sudah terkumpul kembali.”
“Dikira aku matek,” umpat Kalina perlahan mendengar perkataan Ken. Nyelekit amat ini cowok.
“Pesanku kamu read, tapi nggak kamu balas. Itu maksudnya apaan coba,” ujar Ken langsung.
“Pe-pesan?” Tiba-tiba hilang ingatan.
Terdengar tarikan napas panjang dari Ken, ketika mendengar pertanyaan darinya.
“Maaf, aku nggak bisa jemput kamu tadi di sekolah.”
“Itu pesan untukku?”
“Untung jauh, kalau dekat ... sudah ku habisi kamu saking kesalnya,” respon Ken membalas reaksi Kalina.
“Kaget aku,” respon Kalina dengan tawanya yang penuh paksa. Karena ia tak akan seberani itu tertawa pada Ken.
“Jadi?”
“Eh, apa?” Otaknya berasa ngelag kalau menghadapi Ken yang tiba-tiba jadi aneh begini. Karena setahunya, dia tak pernah begini.
“Udah baik-baik aja, kan?”
“Kak, aku nggak kenapa-kenapa. Jadi, jangan bersikap terlalu ...”
“Aku memang sedang memikirkan kondisimu. Jadi, jangan memintaku untuk tak melakukan itu. Bisa membiarkan apa yang sedang ku lakukan, kan?”
“Hmm,” angguknya.
“Jangan lupa minum obat. Bye.”
Langsung menutup pembicaraan dengannya secara sepihak. Bahkan di saat ia masih memikirkan apa yang tengah terjadi pada pikiran seorang Ken yang tiba-tiba jadi aneh.
Menarik dan menghembuskan napasnya secara perlahan. Demi membuat hatinya kembali normal dan jantungnya berdetak secara normal.
“Dia kenapa, sih? Kok jadi berasa terlalu mikirin kondisi gue. Jujur, awalnya ini berasa dia tersesat, tapi setelah dia bicara barusan malah gue merasa dia ... “
Nggak ingin memikirkan terlalu jauh, tapi serius ... siapapun gadisnya, pasti akan merasakan hal yang sama dengan apa yang tengah ia rasakan kini. Baper akut.
Tadinya yang mengantuk parah, bahkan untuk berniat bangun saja rasanya begitu malas. Tapi setelah Ken meneleponnya, ia justru seakan tak akan bisa tidur nyenyak dalam beberapa hari ke depan. Dia benar-benar merusak jam tidurnya secara permanent.
Beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ternyata hari sudah mulai gelap, tampak langit sudah berwarna kemerahan karena awan sore dan matahari mulai terbenam ... lelah bekerja sepanjang hari.
Berendam selama satu jam di dalam bath-up, jujur saja ia masih kepikiran tentang perilaku dan sikap Ken akhir-akhir ini padanya. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali dia seakan berubah sikap.
Selesai mandi dan berbenah diri, dengan pakaian rumahan ia turun menuju lantai bawah. Mengambil minum di dapur dan sepiring kue bolu ... berpapasan dengan Bibik yang sibuk memasak.
“Non udah mau makan?” tanya wanita paruh baya itu.
“Ntar dulu, Bik,” jawabnya segera meninggalkan dapur, berjalan menuju teras depan.
Duduk di kursi yang ada di teras, menikmati kue bolu yang ia bawa dengan piring dari dapur dan segelas air minum. Satu tangan sibuk dengan ponsel, satu tangan sibuk bolak-balik mengambil kue dan menyerbu mulutnya tanpa henti.
Jangan heran, karena dirinya adalah tipe pemakan segala. Tapi jangan menyodorkan satu makanan yang patang baginya. Apalagi kalau bukan makan berbahan berbahan biji-bijian, terutama kacang tanah. Karena dalam beberapa detik kemudian akan langsung bereaksi buruk padanya. Awalnya akan mual, muntah-muntah ... dan dalam hitungan menit, dirinya akan langsung tak sadarkan diri. Berharap jika memiliki musuh, tak akan ada yang tahu dengan kelemahannya ini.