Kalina dan Serena berjalan melewati lorong-lorong kelas, ketika jam pulang sekolah ... sambil ngobrol dan bercanda. Seketika langkah keduanya terhenti saat seorang guru memanggil.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Serena.
“Kalian berdua ikut saya ke ruang BK, ya.”
“Apa kita lakuin kesalahan, Pak?”
Tak mendapatkan jawaban hingga keduanya hanya mengekori langkah guru itu. Sampai di ruangan yang di maksud, agak kaget karena di sana ternyata juga ada Sandra dan Glenn. Sudahlah, jangan ditanyakan lagi apa masalahnya ... udah bisa ketebak.
Lihatlah tampang songong Glenn, yang bahkan rasanya ingin ia cakar saking kesalnya. Ini bukan karena permasalahannya lagi, tapi justru karena dia sudah menyakiti Kalina.
“Maaf, Pak ... ada apa, ya?” tanya Serena seolah tak tahu permasalahannya.
Glenn berdecak ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan Serena. “Pura-pura nggak tahu,” berengutnya dengan nada kesal menatap ke arah Serena.
Serena langsung panas dong, ketika mendengar perkataan Glenn. Berusaha untuk tak melawan, tapi sepertinya cowok ini seolah tak tahu malu atas tindakan yang sudah dia lakukan.
“Kalian semua ada masalah apa, sih, sebenarnya?” tanya seoramg guru yang merupakan guru BK. “Berantem, menyakiti sampai sampai ...” Menunjuk ke arah Kalina yang terluka.
“Permasalahan sebenarnya nggak ribet-ribet banget, Pak ... cuman mereka berdua aja yang bikin semua nggak berujung,” respon Kalina melirik tajam ke arah Glenn dan Sandra, menanggapi perkataan Guru.
“Intinya?”
Jadilah, Serena menceritakan semua masalah pada guru Bk. Setidaknya status itu memang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi para siswa dan siswi, kan. Terserah, mau masalah keluarga, pribadi, ataupun pacaran.
Mata Guru tertuju pada Glenn. Membuat cowok yang berprofesi sebagai ketua basket di sekolah ini, seakan mau didepak.
“Jadi, Glenn ... kamu mau memberikan pembelaan seperti apa?”
“Kenapa Bapak malah nyalahin saya.” Tak terima dengan perkataan sang guru. “Jelas-jelas mereka yang salah, karena terus saja menyalahkan Sandra.”
“Eh, itu mulut bisa dijaga nggak, sih?” Kalina langsung komentar tak terima atas perkataan Glenn. “Nyalahin Sandra?” Terkekeh heran. “Bahkan kita berdua nggak mau bicara sama dia, gimana juga mau nyalahin. Dia aja yang berasa nggak salah, tapi kenyataannya memang salah!”
“Kalina,” lerai sang guru pada sikap Kalina.
“Saya nggak akan mempermasalahkan perihal dengan Glenn kok, Pak,” tambah Serena. “Ya, syukur ... setidaknya bisa lepas dari dia. Cuman sekarang yang jadi masalah adalah tiap kali Sandra ngedeketin kita, Glenn malah mikir kita nyakitin Sandra.”
Sandra yang jadi bahan pembicaraan, seakan tak bisa berkomentar lagi. Ia bingung, takut dan nggak tenang. Karena masalah ini terjadi karena dirinya.
“Apa betul itu, Sandra?”
Sandra tersentak, ketika pertanyaan itu menghampirinya.
“Sandra nggak salah, Pak,” timpal Glenn.
Kalina tersenyum sinis. “Bapak lihat sendiri, kan ... bahkan Bapak baru ngasih pertanyaan itu saja untuk Sandra, Glenn langsung nggak terima.”
“Pak, saya nggak mau memperpanjang masalah ini lagi. Toh semua udah terjadi dan ... antara saya, Glenn dan Sandra anggaplah kita nggak pernah saling berhubungan. Dan lagi, saya juga minta Sandra untuk jangan dekat-dekat lagi sama saya. Bukan apa-apa, takutnya Glenn kesal hingga kejadian kemarin malah terulang lagi.”
Sandra mengarahkan pandangan tak biasa pada Serena. Jujur saja, hatinya sedih ketika mendengar semua perkataan Serena. Hanya saja, ia bisa apalagi? Apakah ini yang dinamakan buta karena cinta. Membuatnya ingin bersama Serena dan Kalina, tapi tak ingin melepaskan Glenn.
“Dan Kalina. Kamu kemarin sampai terluka, kan?”
Sebenarnya ingin menuntut, setidaknya bikin Glenn jadi terkenal lah di sekolahan gara-gara sikap arogan dia. Hanya saja seperti Eren, ia juga tak ingin bikin masalah lagi.
“Nggak apa-apa, Pak. Anggap aja kemarin dia lagi khilaf,” respon Kalina.
“Jadi, masalah ini clear, ya?”
Serena dan Kalina mengangguk.
“Kecuali kalau nanti terulang lagi, baru saya tuntut sekalian. Masukin dia ke penjara bawah tanah. Apalagi sampai bikin kepala saya bocor. Otomatis saya penggal kepala dia juga,” tambah Kalina mengancam Glenn.
“Kita permisi dulu, Pak,” pamit Serena langsung saja mengajak Kalina untuk pergi dari ruangan itu. Ntar sobatnya ini dibikin panas lagi oleh Glenn, berabe juga masalah nya.
Sampai di dekat gerbang, Kalina masih saja mode panas, ngomel-ngomel. Sebenarnya ia nggak mau loh masalah itu clear gitu aja, cuman kalau diteruskan sepertinya Serena juga kena imbas dari Glenn.
“Serius, ya ... itu si Glenn sama Sandra bikin esmosi gue naik ke ubun-ubun,” umpatnya. “Nggak habis pikir, kita pernah punya sahabat kayak gitu.”
“Lo aja kesal, apa kabar gue. Cuman ya, setidaknya dengan masalah ini kita bisa tahu, sebenarnya seperti apa Sandra maupun Glenn. Udahlah, jangan mikirin mereka lagi.”
Kalina mengangguk setuju. “Bener, Beb. Masih ada yang penting dan lebih enak dipikirin,” responnya merangkul pundak Serena.
“Mikirin Kak Ken juga termasuk, kan?” melirik Kalina penuh telisik.
Kalina langsung salting, melepaskan rengkuhannya di pundak Serena. Oke, tiba-tiba cuaca langsung panas terik membakar otaknya kalau sudah membahas Ken.
Serena malah tertawa melihat reaksi Kalina yang selalu saja begitu kalau sudah membahas kakaknya. Ia tahu betul kalau sobatnya ini menyukai Ken dari jauh-jauh hari, hanya saja ... kenapa harus separah itu salah tingkah dia. Seakan-akan sesuatu pernah terjadi di antara keduanya, hingga meninggalkan bekas yang sulit dilupakan.
“Nggak setakut sebelumnya, kan, ketemu Kak Ken?” tanya Serena terus merayu.
“Gue bukan takut Serena, cuman ya ... gitulah.”
“Gitulah gimana?”
Kalina menatap tajam ke arah Serena. “Dia benar-benar meresahkan otak dan jantung gue dalam waktu bersamaan.” Menarik napasnya panjang. “Sudahlah, jangan dibahas lagi. Gue suka ngelag kalau bahas dia.”
“Terjadi sesuatu kah saat di rumah sakit? Gue ingat kemarin, Kak Ken pulang-pulang pake mode kesal itu mukanya,” ungkap Serena mengingat kejadian saat Ken kembali dari rumah sakit. “Dia sempat membahas masalah cewek. Jangan jangan ...” Mengarahkan telunjuknya pada Kalina dengan tatapan curiga.
Shock, karena mendengar tebakan Serena yang tiba tiba benar.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan keduanya, membuat dua gadis itu beralih pada sosok yang turun dari sana.
Senyuman manis itu terarah pada Serena dari sosok cogan yang menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Zean.
“Ayok, pulang,” ajaknya pada Serena. Kemudian mengarahkan pandangan pada Kalina. “Bareng kita, Kal ... Ken lagi ada acara di luar sama anak kelasnya,” ajak Zean pada sahabat dari kekasihnya itu.
Mata Serena terbelalak ketika mendengar perkataan Zean dan langsung mengarahkan pandangan pada Kalina yang ada di sampingnya.
“Lo nungguin Kak Ken?”
Kalina menggeleng cepat. “Eh, bukan, bukan ... gue nggak nungguin dia, kok. Serius. Ini mau nungguin taksi, karena mobil gue masih ada di rumah lo, kan,” jelas Kalina.
“Tadi pagi?”
“I-itu, gue dianterin Kak Ken,” jawab Kalina ragu-ragu. Ayolah, sobatnya ini punya daya telisik yang tajam, hingga berbohong pun bakalan percuma.
"Nah," mengarahkan telunjuknya pada Kalina seolah sudah memergoki sesuatu rahasia di antara kakaknya dan Kalina.
"Ih, Serena," berengutnya.
Zean malah terkekeh melihat tingkah dua gadis ini.
“Ayok, Pulang,” ajak Serena pada Kalina, menyeret sobatnya itu segera masuk mobil.