Sampai di luar, Ken langsung disambut oleh Serena. Gadis itu menyodorkan telapak tangan ke arahnya.
“Apa?”
“Jajanku.”
“Minta Papa sana.” Padahal ia sedang mengerjai adiknya.
Dengan muka malas, Serena berniat kembali lagi ke dalam rumah untuk meminta uang jajan pada papanya. Hanya saja Zean menahan niatnya.
“Kelamaan, udah telat ini, Ren,” ujar Zean menarik gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobil.”
Zean mengantarkan Eren ke sekolah, sementara Ken lanjut menuju kampus. Setidaknya ada waktu sekitar beberapa bulan lagi hingga akhirnya status siswi SMA ini lepas dari yang usianya sudah menginjak 18 tahun.
Sampai di depan gerbang sekolah, mobil terhenti. Eren menyambar dan mencium punggung tangan Zean untuk pamit. Kebiasaan, karena sikap ini juga ia lakukan pada Ken.
“Aku masuk dulu, Kak,” pamitnya.
“Bukannya barusan minta jajan?”
Serena tersenyum, ketika Zean malah benar-benar menyodorkan uang jajan untuknya.
“Ish, Kak Zean apaan, sih. Aku masih punya uang, kok. Jangan melakukan itu padaku.”
“Sebentar lagi jadi tanggung jawabku.”
“Maksudnya?”
“Ingat apa yang kamu sudah putuskan, kan ... kamu terima aku yang akan bertanggung jawab padamu. Itu artinya, apapun yang kamu butuhkan adalah tanggung jawabku.”
Serena menangkup wajah Zean, membuat fokus cowok itu hanya tertuju padanya.
“Masalahnya sekarang, aku ini belum tanggung jawabmu, Kak Zean. Jadi, jangan bersikap begitu.”
“Akan ku percepat,” respon Zean.
“Kamu kira apaan dipercepat.”
“Nggak percaya?”
Melepaskan tangannya yang berada di wajah Zean. “Terserah kamu sajalah, kak,” respon Eren terkekeh menanggapi perkataan Zean. Yang jelas baginya, cowok ini nggak pergi dari sisinya.
“Nanti aku jemput, ya?”
“Oke. Bye.”
Melangkah memasuki area sekolah setelah Pak satpam memberikannya akses untuk masuk. Ya, lumayanlah ... masuk di jam pelajaran ketiga dan keempat. Padahal tadi niatnya mau libur saja. Tapi berhubung Zean tipe nyebelin, malah tak mendapatkan ijin. Ditambah lagi dengan Ken yang ikut ikutan melarangnya libur.
Sampai di kelas, langsung heboh berlari menghampiri Kalina yang duduk sendirian di kursi.
“Eren! Akhirnya gue ketemu elo. Sobat gue tercinta, tersayang, terbaik.” Memeluk Serena erat dan menciumi sobatnya itu dengan bersemangat.
Rasanya ketemu Eren, sudah seperti setahun nggak ketemu. Biasanya ketemu di sekolah, chatan, video call, atau vn ... tiba-tiba semua terhenti.
“Lo udah nggak apa-apa, kan ... masih sakit nggak?” Memeriksa bekas luka yang ada di dahi Kalina, berkat sikap yang dilakukan Glenn beberapa hari yang lalu.
Masih tampak sebuah plester yang menempel di sana.
“Gue udah baik-baik aja, udah nggak sakit lagi.”
“Gila aja gue nggak ketemu sama elo, berasa nyawa gue hilang separo tahu, nggak.” Mewek-mewek nggak jelas saking histerisnya ia bisa berhadapan dengan sobatnya ini.
“Dua hari kita nggak ketemuan,” ujar Kalina membenarkan.
Kalina mengangguk. “Lo nggak kenapa-kenapa, kan? Semua baik, kan? Gimana hubungan lo sama Kak Zean?”
“Nyaris aja gue kehilangan dia,” ujar Eren memasang wajah prihatin. “Bisa matek beneran gue kalau sampai terjadi.”
“Gue kemarin tahu juga pas dengar orang tua lo ngobrol sama Kak Ken. Kalau engga mah, gue juga nggak bakalan tahu. Sorry, ya ... harusnya di saat saat seperti itu, gue sebagai sahabat ada di samping lo. Ini gue malah ...”
Eren mencubit hidung Kalina ... membuat perkataan sobatnya itu terhenti seketika.
“Lo itu udah bikin gue panik tahu, ngga ... dengan terluka kayak gini. Yakali mau ngurusin permasalahan gue sama Kak Zean.” Menghembuskan napasnya berat sembari menyenderkan punggungnya di kursi. “Yang terpenting sekarang adalah gue sama Kak Zean nggak pisah. Udah, itu aja, sih.”
Kalina memasang muka penuh telisik. Menatap ke arah Eren yang ada di sampingnya.
“Tatapan macam apa itu?”
“Gue semalam nginep di rumah lo dan elo nggak pulang ke rumah. Hayooo ... jujurlah padaku Serena, Sayang. Dirimu semalam sama Kak Zean, kan. Curiga gue ... kalian ngapain aja.”
Menggoda Serena, berharap sobatnya ini berkata jujur. Tapi serius, sih ... ia penasaran masalah beginian.
“Udah deh, jangan mikirin yang buruk. Kita nggak ngapa-ngapain, apalagi melakukan perbuatan m***m seperti yang ada di otak lo saat ini.”
Kalina tertawa mendengar perkataan Eren. “Padahal gue nggak berpikiran m***m, loh ... serius.” Mencoba menahan tawanya, tapi tetap saja ini nggak bisa ditahan.
“Ketebak, elah. Gue ciuman aja lo penasaran, apalagi kalau gue nginap semalam sama dia.”
Seketika menutup mulutnya rapat, kemudian mengarahkan pandangan ke segala arah ... saat menyadari dirinya kini ada di kelas. Yakali koar-koar perkara ciuman dan menginap. Bisa jadi masalah besar banget itu.
“Untung nggak ada anak-anak di kelas,” leganya.
Lagi-lagi Kalina malah tertawa puas melihat ketakutan dan raut kaget di wajah Serena.
“Ketawa aja terus, sampe gigi lo kering.”
Bel berbunyi, pertanda jam istirahat usai. Satu-persatu siswa dan siswi memasuki kelas. Tak terkecuali, Sandra. Ayolah, waktu yang paling menyebalkan baginya kini adalah ketika di mana ia harus lagi dan lagi dipertemukan dengan pengkhianat. Mencoba melupakan, tapi sakitnya itu justru lebih terasa. Bahkan sakit hati pada Glenn pun terabaikan.
Awalnya Sandra sudah duduk di kursi belakang, tapi kembali bangkit dan berjalan menghampiri Serena.
Serena yang tahu pasti jika Sandra akan bicara, dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Kalina yang ada di sampingnya.
“Kal, ntar pulang sekolah kita jalan, ya. Udah lama juga kita nggak keluar,” ajak Serena langsung.
“Oke,” sahut Kalina seakan tahu saja jika Eren sedang menghindari Sandra. “Cukup kita berdua aja. Percuma punya banyak teman juga, kan ... kalau akhirnya berkhianat.”
Fokus Sandra yang tadinya terarah pada Serena, kini beralih pada Kalina.
“Lo juga masih belum maafin gue, Kal?” tanya Sandra.
Kalina tadinya berusaha ikut mengabaikan adanya Sandra, tapi hatinya kok nggak tahan, ya. Nggak tahan untuk nggak mengeluarkan kata-kata pedas pada mantan sahabatnya ini. Tidak, lebih tepatnya pengkhianat.
“Gue yakin, kalau elo jadi gue ataupun Eren, nggak bakalan dengan begitu mudahnya memaafkan. Saat orang yang jadi tempat curhat, keluh-kesah, masalah pribadi ... tiba-tiba malah menyerang balik.” Menarik napasnya berat. “Udahlah, lo fokus aja sama cowok lo yang ... bekas Serena itu. Kali aja lo dapat tempat khusus di hati dia.”
“Kalian benar-benar melupakan kebersamaan kita sekian tahun gitu aja?” tanya Sandra.
“Harusnya sebelum bertindak ... lo kasih pertanyaan itu buat diri lo sendiri, San,” timpal Serena langsung membombardir Sandra. “Lo ngelepasin kebersamaan kita, demi keegoisan sendiri!”
Sandra menangis, bahkan ia tak sanggup menatap dan menghadapi Serena dan Kalina.
“Gue memang salah,” isaknya.
“Dan anggap aja kita cuman sekadar manusia asing yang pernah lewat di kehidupan lo beberapa tahun silam. Karena jujur, gue benar-benar nyesal pernah jadi sahabat lo, Sandra. Terserah, lo mau depresi, frustasi atau bunuh diri sekalian!”
Berasa didepak dari sekumpulan manusia yang menganggapnya asing. Sandra kembali ke kursinya seakan sedang merutuki.
“Panas otak gue kalau terus terusan berada di dekat pengkhianat,” omel Kalina mengibas-ngibaskan sebuah buku di depannya, demi mencari sebuah angin segar. Kemudian mengipas-ngipaskan juga pada Serena.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Kalina malah tersentak kaget. Matanya seketika menatap fokus pada sesuatu objek.
Serena tampak bingung. “Lo kenapa?” Bingung ditatap seperti itu oleh Kalina.
Duduk semakin mendekat pada Eren, kemudian berbisik. “Lo yakin semalam nggak lakuin sesuatu sama Kak Zean?”
Menatap Kalina dengan tampang shock, seakan rahasianya sudah diketahui oleh sobatnya ini.
“M-maksud lo apaan, ya?” Mulai panik.
“Ada sebuah tanda di leher lo.” Menaikturunkan kedua alisnya, seakan sudah memergoki. Senyuman jahil juga langsung ia tunjukkan demi meyakinkan sobatnya ini kalau ia sedang memergoki sesuatu yang amat sangat membangongkan.
Eren langsung salah tingkah, kemudian merapikan rambutnya agar bagian lehernya tertutupi. Tidak, lebih tepatnya agar bagian yang dibuat Zean tadi pagi tertutupi. Benar, kan ... cowok itu memang nyari masalah baru untuknya. Kenapa harus bikin beginian coba.
“Gue serius, nggak lakuin hal apapun sama dia. Ini cuman sekadar ... hmm, tanda aja. Udah, itu doang,” jelas Eren mencoba meyakin Kalina yang sepertinya nggak yakin yakin.
“Gue nggak yakin,” respon Kalina.
“Ish, tanya Kak Zean kalau nggak percaya,” berengutnya mulai mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas.
“Kalau gue tanya sama Kak Ken, gimana?”
“Kalina,” berengutnya ketika Kalina justru malah membuat jantungnya mau copot. Yakali sampai Ken tahu masalah ini, auto dipaksa nikah sama Zean ia detik ini juga. Kebayang saja, hal mengerikan itu terjadi.