BAB : 35

1374 Kata
Saat sampai di dalam rumah, keduanya mendapati Norin dan Wira berada di ruang tamu. Bukan hanya pasangan suami istri itu, tapi juga dengan Ken yang berada di antara mereka. “Serena Sayang, kamu bikin kita semua khawatir tahu nggak,” ujar Norin langsung menghampiri putri semata wayangnya itu. “Udah pergi nggak ada kabar, nggak pulang ... dan sekarang sama Zean.” Serena langsung mode gugup. “Lain kali kalau pergi nggak jelas lagi, uang jajan kamu benar-benar papa potong,” ancam Wira. “Yahh ... jangan dong, Pa,” berengutnya. “I-ini nggak seperti yang Mama bayangkan, kok. Aku cuman beneran nginep doang di rumahnya Kak Zean. Oke.” Berusaha meyakinkan kedua orang tuanya agar tak mikir macam-macam. Zean malah tersenyum seakan sedang meledek perkataannya. Awas saja kalau dia sampai bicara aneh-aneh perkara sikapnya tadi. Dia kan gitu ... suka sekali kalau Ken mengomelinya. Meskipun Norin dan suaminya sudah tahu dari semalam, jika Eren bersama dengan Zean ... tetap saja naluri sebagai orang tua akan pasti khawatir jika anak gadisnya tak pulang ke rumah. Apalagi jika pergi dalam masalah. “Maaf, Ma,” ucapnya singkat. Yang ia takutkan justru bukan pada mama atau papanya, loh, ya ... tapi justru pada Ken. Entahlah, mungkin selama ini karena ia hanya tinggal dan hidup bersama Ken, jadi ketika bermasalah atau berbuat salah, yang ia pikirkan lebih dulu justru perasaan kakaknya. Menghampiri cowok yang posisinya duduk di sofa, dengan Zean yang duduk di samping dia. “Kak, maaf,” ucapnya. Mata Ken beralih dari ponsel mengarah pada sang adik. “Atas?” “Semua.” “Salah satunya?” Eren melirik ke arah Zean, berharap dapat klu satu jawaban ... tapi lihatlah, dia seolah melempar dirinya sendirian. Padahal ia begini kan gara-gara takut kehilangan dia. “Ini salah kamu, bukan salahnya Zean ... jadi jangan meminta jawaban dari dia lagi,” komentar Ken mulai dengan omelannya. “Ya, makanya kalau ada masalah ngomong dong sama aku. Bukan bikin aku tahu di akhir. Jadi salah kaprah, kan, jadinya.” Malah balik mengomeli kakaknya. “Kenapa malah menyalahkanku?” Ken tak terima. “Bukan cuman kamu, tapi Kak Zean juga salah. Semua yang di rumah ini salah ... karena sudah membohongiku. Udah, sekian. No koment dan nggak terima koment.” Langsung berlalu pergi dengan langkah cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Ken melirik ke arah Zean yang duduk di sampingnya. “Kenapa?” bingung Zean yang melihat tatapan aneh sobatnya itu. “Lo kasih makan apa itu bocah semalam?” Zean tak langsung menjawab. Ia malah mengedarkan pandangannya pada Wira dan Norin, seakan-akan tiga pasang mata ini sedang menatapnya dengan kecurigaan penuh. “Ayolah, jangan menatapku seperti itu. Serius, Om, Tante ... aku nggak lakuin hal aneh-aneh kok sama Eren.” “Yakin?” Ken makin menelisik. Zean melempar Ken dengan bantal, ketika sobatnya ini malah sedang membuatnya merasa dipojokkan. “Apaan, sih, lo ... gue serius.” Ken langsung terkekeh melihat sikap Zean yang tampak takut. Padahal ia kan hanya sedang bercanda. Lagian, sebagai sahabat ... ia tahu kok jenis cowok seperti apa Zean. Terlebih pada Eren, dia akan melakukan hal yang terbaik. “Udah, udah ... ini dua cowok kok bercanda terus deh,” omel Norin pada Zean dan Ken yang malah perang lempar bantal. “Ken yang mulai, Tante. Masa aku dikira cowok ...” “Hayoo ... apaan,” timpal Ken. “Ken, sialan lo!” “Jadi gimana, Ze?” tanya Wira yang langsung membuat cowok itu menghentikan tangannya yang hendak melempar Ken. "Maksudnya, Om?" “Hubungan kamu sama Eren.” Ken beranjak dari posisi duduknya. “Lo bicara sama Mama Papa dulu, gue mau siap-siap,” ujar Ken menepuk pundak Zean, kemudian berlalu melangkah menuju kamarnya. Sebagai seorang Kakak, sepertinya tugasnya mencarikan pasangan yang cocok untuk Eren juga sudah benar. Sekarang, tinggal urusan Zean dengan kedua orang tuanya. Berusaha meyakinkan mereka, jika dia bisa menjaga Eren. “Eren gimana?” tambah Norin bertanya. “Om juga tahu, kan, jika kemarin dia nolak aku?” Wira mengangguk. Meskipun tak berada di tempat mereka bicara, tapi perkataan dan balasan Serena padanya kemarin sudah jelas sekali jika putrinya memang sudah menolak lamaran Zean. Bukan hanya menolak, bahkan dia sudah berpikiran buruk tentang Zean yang hanya dekat dengan dia karena sebuah perjodohan. “Seperti yang ku bilang di awal ... kalau aku nggak akan memaksa dia, jika memang menolak. Jadi, kemarin aku udah pake modal pasrah, terima keputusan dia. Aku udah siap pergi ... paspor semua sudah ku urus, kerjaan yang Papa kasih tugas ke aku di sini juga udah ku alihkan sama yang lain. Karena alasanku di sini ya karena dia.” “Jadi benar, kamu akan pergi?” Zean tersenyum pada wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti mamanya sendiri itu. “Enggak, Tante ... aku nggak jadi pergi.” Tersenyum lega ketika mendapat jawaban dari Zean, begitupun dengan Wira. “Syukurlah,” lega Wira ikut menanggapi. “Om pikir kamu benar-benar akan pergi. Bukan apa-apa, hanya saja kamu sudah terbiasa di sini sama keluarga kami, jadi saat kamu beneran pergi rasanya ...” “Dia melarangku,” timpal Zean langsung. “Kalau enggak, mungkin aku memang akan pergi.” “Kalau begitu, kita bisa lanjutkan semuanya? Ya, bukan Om mendesak kamu, Zean. Cuman masalahnya Om sama Tante nggak bisa lama-lama di sini. Kita kemarin pulang juga karena kebetulan Eren ulang tahun dan ...” Zean mengangguk. “Pa, aku hari ini mau bawa mobil sendiri.” Suara Eren langsung membuat pembicaraan ketiganya terhenti, menatap ke arah gadis yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. “Ijin sama Ken,” suruh Wira. “Kenapa semua harus ijin Kakak, sih?” berengutnya kesal. Pokoknya, apapun masalahnya dan apapun persoalannya, pasti harus dapat ijin dari kakaknya. “Tentu saja, karena dia yang bertanggung jawab padamu di sini. Atau, mau Papa limpahkan tanggung jawab mu sama Zean sekarang?” Mengarahkan pandangannya pada Zean. “Gimana?” tanya Zean ikut bertanya pada gadis itu. Seketika Serena jadi salah tingkah, bingung mau bersikap bagaimana. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Menyambar dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian. “Aku sekolah dulu, Ma, Pa,” pamitnya. Kemudian mengarahkan pandangannya pada Zean yang masih duduk anteng. “Anterin aku sekolah, Kak.” “Nggak jadi bawa mobil?” tanya Wira. “Daripada kena omel sama kakak,” berengutnya dengan muka ditekuk langsung jalan berlalu mendahului Zean. Zean beranjak dari posisi duduknya, kemudian pamit pada Wira dan Norin untuk mengantar Eren sekolah. “Oiya, Ze ... Om mau bilang sesuatu sama kamu.” Langkah cowok itu langsung terhenti. “Ya, Om?” “Kemungkinan dua hari lagi kami akan balik. Jadi ...” “Apa secepat itu?” “Kamu tahu, kan, Om di sana punya bisnis. Nggak ada yang handle. Jadi, ya kami nggak bisa lama-lama di sini.” “Masalah kamu sama Serena, bisakah dipercepat?” tanya Norin langsung ke titik permasalahan. Zean tersenyum. “Ku usahakan, Tante,” responnya. “Semoga sesuai dengan apa yang Om dan Tante harapkan.” Tampak senyuman mengembang di bibir Wira dan Norin ketika mendengar jawaban yang diberikan Zean. Bukan memaksa, keduanya hanya takut jika sudah pergi, nggak tahu kapan balik lagi. Mumpung ada di sini, jadi bisa lakuin hal-hal yang paling penting. Karena pekerjaan tak bisa ditinggal dengan waktu yang lama. “Apa Eren udah tahu kalau Om dan Tante akan berangkat dua hari lagi?” “Belum,” jawab Wira. “Untuk itu sebelum pergi, Om mau kamu dan Eren ...” Menghentikan kata-katanya. “Ini bukan paksaan. Hanya saja kami mau jika dia sudah benar-benar aman denganmu saat kami tinggal.” “Ya ampun, papaku kebelet punya mantu,” sambung Ken yang tiba-tiba muncul dengan lawakannya. “Nggak berminat mencarikan putramu ini istri kah?” Norin malah mencubit lengan putranya itu. Orang lagi serius bicara pada Zean, tiba-tiba malah ikut nimbrung. “Udah Mama bilang, kan ... kalau ada yang cocok, kenalin sama kami. Kalau udah pasti suka, cocok ... langsung nikah aja,” jelas Norin memberikan saran. “Udah ada itu, Tante,” sambung Zean. Seketika Ken langsung membekap mulut Zean dan menggeret sobatnya itu pergi dari sana. Bisa-bisanya dia membahas hal itu di depan orang tuanya. Horor banget rasanya. “Dahh, ma, Pa.”        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN