BAB : 34

1395 Kata
Mulai menarik tanktop yang menutupi badannya ke atas, tapi saat benda itu sudah terbuka hingga menampakkan bagian perutnya, dengan cepat Zean menahan. Langsung bangun dan menyambar sweater milik Eren, kemudian mengenakan pada gadis itu. Dengan cepat membawa dia ke pelukannya. “Kamu pikir aku cowok seperti apa, hem? Yang begitu gampangnya kamu berikan tubuhmu. Satu hal yang harus kamu tahu, Ren ... cintaku padamu, bukan karena napsu, tapi pakai hati.” “Jangan tinggalin aku,” tangis Eren dalam dekapan Zean. “Aku mau sama kamu.” Zean menangkup wajah Eren, kemudian mencium lembut bibir yang tampak memerah itu. “Nggak akan pernah,” ucapnya. Serena langsung duduk dan menatap fokus pada Zean. “Janji padaku?” Serena mengarahkan jari kelingkingnya pada Zean, berharap dapat balasan sebuah ikatan janji. Zean malah tersenyum mendapatkan sikap semacam itu. “Aku bukan temanmu, tapi kekasihmu. Tak berlaku janji seperti ini untukku.” Zean mendekatkan wajahnya pada Eren, hingga tatapan keduanya beradu dengan jarak yang benar-benar dekat. Tapi, sesaat kemudian Zean malah beralih pada lekukan leher Eren dan mencium objek itu. Mata Serena sedikit terpejam, ketika ciuman tak biasa itu dilakukan Zean. Ingin melihat apa yang dia lakukan, tapi tak bisa terlihat karena berada di lekukan lehernya bagian dalam. “Kakak ngapain?” tanyanya bingung dengan apa yang sudah diperbuat oleh Zean. “Nggak ada,” jawab Zean menyentuh lembut wajah Eren yang tampak bingung dengan sikapnya. Kembali dengan wajah sendu, menatap Zean penuh harap. Semua perasaan buruknya sudah jadi campur aduk. “Jadi, kamu nggak akan ninggalin aku, kan?” Zean mengambil ponselnya, kemudian menyodorkan sebuah gambar tangkapan layar pada Eren. “Ini ...” Awalnya bingung, tapi saat melihat apa yang ada di depan matanya, seketika senyuman langsung terukir jelas di bibir dan menghambur memeluk Zean. Bagaimana ia tak bahagia, Zean ternyata melakukan pembatalan tiket pesawat yang nyatanya memang untuk keberangkatan siang ini. Jujur, ia berpikir jika semalam dia hanyalah memberikan sebuah gertakan akan pergi. Tapi saat melihat bukti itu, ia yakini ternyata Zean memang tak pernah main-main. Menghela napasnya panjang, kemudian memeluk Eren dan mencium pucuk kepala gadis yang berada dalam dekapannya. “Nambah stok kesabaran lagi aku,” bisiknya. Perkataan Zean membuat Eren mendongankkan kepalnya. “Maksud Kakak?” “Nungguin kamu terima aku, itu butuh kesabaran, Sayang. Memangnya mau menerima lamaranku? Enggak, kan? Kamu hanya menahanku untuk tetap di sini bersamamu. Itu artinya statusku masih seorang kekasih yang ... menunggu saat lamaranku diterima.” “Bodoh kamu, Kak.” Zean sampai terkejut mendengar perkataan Eren yang mengatakan dirinya bodoh. Oke, anggaplah dia adalah manusia pertama yang membuat harga dirinya sebagai cowok dengan kadar kepintaran yang bagus, jadi anjlok. “Menurutmu, apa sikapku padamu tadi bukan menunjukkan kalau aku menerima kamu?” Menatap Zean dalam. “Kamu di sini denganku, itu artinya aku terima kamu ... termasuk terima lamaranmu.” Terukir senyuman di bibir Zean, bukan hanya itu ... raut wajahnya langsung memancarkan sebuah rasa bahagia yang tak mampu diungkap. “Kamu nggak bohong, kan?” Eren mengangguk pasti. Merentangkan kedua tangannya dengan senyuman manis terarah pada Zean. “Jadikan aku milikmu,” pintanya. Bukannya menyambut Eren, tapi Zean justru malah lebih menyukai bibir manis itu. Langsung menciumi dengan lembut, seakan tak ingin melepaskannya lagi. Ya, rasa manis yang membuatnya candu ini, tak akan pernah menghilang dari rasanya. “Kamu membuatku gila,” bisik Zean di sela sela ciumannya.” Apa ini membuatnya bahagia? Jangan ditanyakan lagi bentuk perasaannya. Zean memang bukan seorang laki laki sempurna, tapi di matanya dia justru begitu sempurna. Saking sempurna nya, seolah-olah apapun yang dia lakukan tampak baik. Hanya saja, dia menyebalkan. Apalagi kalau perkara belajar, enggak akan jauh beda dengan Kenzie. Anggap saja ia begitu bodoh, karena dengan gampangnya menyodorkan dirinya pada Zean. Oke, jujur saja itu merupakan sebuah perasaannya yang benar-benar takut kehilangan dia. Lagi-lagi ia membanggakan Zean ... yang justru tak menerima apa yang ingin ia lakukan. Satu dibanding sepuluh cowok ... pasti akan dengan senang hati mendapatkan hal macam itu, bukan. Yakinlah Zean juga termasuk di dalamnya, tapi dia masih tampak bertahan meskipun ia berikan secara langsung. “Ku mohon, jangan bersikap liar seperti tadi lagi,” komentar Zean saat ciuman itu ia akhiri. “Hmm ... kenapa?” tanya Eren. “Kamu takut kalau benar-benar tergoda kah?” Zean mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Aku cowok normal.” “Jadi, mau?” “Serena,” komentar Zean seakan makin dibuat terperanjat oleh aksi gadis ini. Sudahlah, hanya cowok normal yang tahu bagaimana rasanya dihadapkan pada situasi yang membuat kepala sedikit sakit itu. Bagaimana pun mengelak, pasti perasaan itu akan ada. Tapi ini gadis masih saja mencoba membuat dirinya benar-benar jatuh. Eren malah tertawa puas melihat sikap Zean yang menurutnya tampak lucu. “Kalau kamu mau, akan ku berikan padamu. Hem?” Zean tak membalas lagi, ia malah memilih untuk beranjak dari posisinya yang duduk berhadap-hadapan dengan Eren. Kemudian berjalan menuju meja dan meneguk segelas air mineral hingga habis. Lihatlah gadis itu malah tertawa di saat bathin nya tersiksa. “Ternyata libur dengan sengaja di jam sekolah, menyenangkan juga, ya,” ujar Eren sambil tiduran di sofa,. “Siapa bilang kamu liburan?” Menatap ke arah Zean dengan penuh telisik. “Aku antar pulang. Jam pelajaran setelah istirahat kamu harus masuk kelas. Lumayan, kan ... masih bisa mengikuti jam pelajaran untuk beberapa jam.” “Kak Zean!” “Apa? Ini bukan aturanku saja, tapi juga Ken. Harus ingat, bagiku ataupun bagi dia ... belajar adalah hal utama yang harus kamu lakukan. Mending, kan ... daripada tadi pagi kamu ku geret ke sekolah?” “Hwaaa ... aku kesal padamu!” hebohnya berasa mau menonjok ulu hati Zean. Berharap hari ini masih bebas dari pelajaran, tapi ternyata kena PHP. “Ayo, ku antar pulang. Setelah itu, lanjut sekolah. Satu jam lagi jam istirahat mau habis.” Melirik waktu di jam yang ada di pergelangan tangannya ... dengan jarum jam berada di angka pukul 9. Dengan tampang jutek penuh kekesalan, Eren beranjak dari posisi duduknya. Menyambar tas dan juga ponsel miliknya yang ada di meja. “Demi apa gue hidup di sekeliling cowok macam Ken dan Zean yang hidup mereka terus saja berputar putar di pelajaran,” umpatnya sambil melangkah malas. “Jangan mengumpat terus,” komentar Zean. “Gara-gara kamu.” “Harus terima sikapku apa adanya, kan?” Eren mencibir, mengingat apa yang ia rutuki barusan. Ya, bagaimana pun juga, ia nggak akan mau dipisahkan dari cogan ini. Bikin mabok kepayang. Mengalungkan tangannya di lengan Zean dan bersandar berjalan beriringan menuju mobil. “Asal jangan menjajah otakku saja,” responnya. “Justru aku fokus menjajah hatimu,” balas Zean tertawa. Kalau Zean sudah bicara manis, kekesalan bertumpuk pun rasanya seakan roboh begitu saja. Jam sibuk sudah lewat, itu artinya untuk sampai di kediaman keluarga Eren pun tak akan butuh waktu yang lama. Beda lagi jika jalan di jam sibuk, yang hanya memerlukan waktu lima belas menit, justru butuh setengah jam di perjalanan. Zean hendak turun lebih dulu, tapi ketika mengingat sesuatu ... ia kembali ke posisinya dan fokus pada Serena yang ada di sampingnya. “Mau ku perlihatkan sesuatu?” tanya Zean. “Hmm, apa?” Zean mengambil ponselnya, mengaktifkan mode kamera dan mengarahkan pada Serena. Tidak, lebih tepatnya mengarah pada lekukan leher gadis itu. Mata Eren seketika membola, melihat tanda berwarna merah kebiruan yang ada di sana. “Kak Zean! Ini apaan coba.” “Kan kamu minta aku janji untuk tetap di sini denganmu. Itu buktinya. Saat tanda itu masih ada, kamu masih tetap milikku. Jika tandanya hilang ...” “Masa iya kamu harus update bikin ini terus.” Merengek nggak jelas saat tingkah Zean seakan membuatnya benar-benar terjerat. Apa kabar jika kedua orang tuanya melihat tanda ini. Bukan itu saja, sepertinya Ken juga akan menggorok lehernya kalau berpikir jika ia ada Zean sudah ... ah, ingin teriak rasanya. “Jika tandanya hilang, nanti ku bikin lagi,” lanjut Zean. Dengan muka cemberut, Eren menarik kunciran rambutnya, hingga tanda itu tertutupi. Jika tidak, ayolah ... itu namanya cari mati di tangan sendiri. “Berasa pacaran sama vampire nggak, sih,” gerutunya. Zean tersenyum puas, kemudian segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk akses Serena turun. Memutar bola matanya jengah. Ketika berpikir jika ini adalah rumahnya, tapi lihatlah ... justru dengan santainya Zean malah melangkah dan masuk lebih dulu. Bukan hanya mengusai dirinya, tapi satu keluarganya sudah dikuasai oleh makhluk ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN