BAB : 33

2152 Kata
  “Pelan-pelan makannya, Sayang,” komentar Norin. Ken menyodorkan air minum pada Kalina, tapi dia malah tak menerimanya. “Ini nggak ku kasih racun,” ujar Ken. Norin mencubit lengan Ken karena terus saja menjahili Kalina. Entahlah, ia pikir putranya akhir-akhir ini sedikit bersikap aneh pada sahabat Serena. Bukan hanya Ken, tapi Kalina juga seperti itu. Berada di sekitar Ken, tampak jelas jika dia agak was-was. “Apa Kenzie melakukan sesuatu padamu, Nak?” Mata Kalina langsung membola saat mendengar pertanyaan yang diajukan Norin padanya. Masa iya harus jawab jujur, kalau Ken udah melakukan sesuatu yang bikin dirinya mabuk. Mabuk cinta lebih tepatnya. Mengarahkan pandangan pada Ken, tapi lihatlah dia ... malah tersenyum sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Apa-apaan maksudnya itu? “Sangat baik, Tante,” respon Kalina singkat, lengkap dengan senyuman manis yang ia umbar. Hanya saja dalam hatinya ia sedang menggerutu kesal. Selesai sarapan, sesuai intruksi mamanya ... Ken mengantarkan Kalina berangkat sekolah. Awalnya dia tetap menolak, tapi ancaman demi ancaman mematikan yang ia berikan sepertinya sukses membuat gadis ini tunduk. Jangan heran dan tanya kenapa ia lakukan ini pada Kalina, karena ia juga tak tahu jawaban apa yang pasti. Dekat dengan dia seakan akan jadi mood booster tersendiri baginya. Apalagi ketika melihat dia takut dan cemas akan dirinya, semakin membuatnya tertantang untuk menjahili. Dalam perjalanan, Kalina hanya diam membisu. Mulutnya ia kunci rapat, agar tak mengeluarkan sepatah kata pun. Jujurly, gaes ... semenjak kejadian semalam otaknya mulai semakin gila rasanya. Bayangan itu terus saja menggerogoti pemikirannya. Apa ia harus mandi kembang tujuh rupa dulu, biar menyingkirkan ingatan kejadian itu. Bibirnya, nggak perawan lagi. Sudah dinodai oleh Ken. Kemarin ia bertanya pada Eren bagaimana rasanya ciuman. Ternyata saat mengalami langsung, bukan hanya bibir yang jadi korban, tapi juga jantung dibuat tak sehat. “Demi apa gue mulai gila,” gumamnya menggerutu, sambil menepuk jidatnya sendiri. “Kamu kenapa?” tanya Ken bingung samar-samar mendengar gumaman Kalina. Tersentak saat mendengar pertanyaan Ken. “Ah, eng-nggak kenapa-kenapa, Kak. Aku cuman mau bilang, lebih cepat nyampe sekolah, itu lebih baik.” Dan lihatlah apa balasannya? Dia tersenyum. Manis. Berasa lihat pancaran cahaya yang menghiasi mukanya. Sungguh, berdekatan dengan cowok ini bikin menggila. Sampai di depan gerbang sekolah, Kalina langsung menanggalkan self belt yang melilit badannya, kemudian hendak segera turun. Hanya saja niatnya terhenti ketika pintu mobil ternyata belum dia buka. “Kak, pintunya,” ujar Kalina pada Ken. “Hmm,” angguk Ken. “Sengaja,” lanjutnya. Kalina memasang muka cemberut, kesal, dan takut tentunya. Entah apalagi rencana makhluk ini sekarang. Ini masih pagi, semoga dia tak membuat awal pembuka harinya jadi bad mood. “Nggak mau membahas sesuatu denganku?” “Maksudnya?” Mulai pasang kewaspadaan yang penuh. “Maaf, kejadian semalam aku ...” “Ah, nggak apa-apa, Kak. Tenang saja ... anggap itu sebagai mimpi burukmu.” Tertawa dengan penuh paksa. Aslinya mah takut banget ini. Ia tak berharap jika Ken mengingat masalah ciuman tak sengaja itu, tapi ini malah membahas lagi. Bikin ia semakin takut saja. jangankan bicara dengan dia, bahkan dilirik sedikit saja seakan membuat badannya kesemutan. Kenzie diam, tapi matanya malah fokus menatap Kalina. “Kak, bisa buka pintunya sekarang?” Takutnya Ken kemasukan Jin atau apa gitu. Bisa-bisa ia dibikin menggila lagi. Ken tersenyum, kemudian turun dari mobil. Memutari mobil dan membukakan pintu untuk Kalina turun. Jadi salah tingkah, kikuk ... semua ia rasakan kini saat sikap Kenzie jadi semakin aneh. Lagian, mana pernah dulu dia begini. Padahal ia sudah mengenal kakak dari sahabatnya ini bahkan dari kecil. Dan tiba-tiba dia sekarang bersikap layaknya seorang cowok manis dengan semua kemanisan yang dia umbar. “Makasih, Kak. Kalau gitu aku masuk dulu,” ucap Kalina langsung pamit sesaat setelah turun dari mobil.. “Mau sesuatu dariku?” tanya Ken yang membuat langkah gadis itu terhenti dan berbalik badan kembali menatapnya. “Hmm?” Memasang wajah penuh tanda tanya. “Tumben rambutmu digerai?” tanya Ken. Kalina menghembuskan napas beratnya ketika pertanyaan Kenzie seolah olah dia lupa ingatan. “Jangan lupakan ... kalau kamu sudah membuang ikat rambutku, Kak.” “Kemarikan tanganmu,” pinta Ken. Awalnya Kalina tak menggubris, ia masih masih pake mode waspada dengan sikap cowok ini. Tapi karena rasa penasarannya jauh lebih kuat, membuat dirinya melakukan apa yang diminta oleh Ken. Menyodorkan tangannya dihadapan Ken. “Balik,” suruhnya lagi. “Kak ...” “Balik, Kalina.” Jadilah, Kalina melakukan apa yang disuruh Ken. Awalnya menengadahkan telapak tangannya, karena Ken bilang mau memberikan sesuatu untuknya. Sekarang justru disuruh membalik telapak tangannya. “Ini masih pagi dan kamu sudah bermain main, Kak,” gerutunya dengan tingkah Ken. Tapi tiba tiba Ken malah mencium punggung tangannya yang ada dihadapan dia. Kaget, membuatnya menarik tangannya dengan cepat. Berasa mau pingsan detik itu juga, ketika sikap Ken mulai kembali berulah padanya. “K-kakak ngapain?” tanyanya gugup. Asli, ini mah kelihatan banget kalau mukanya memerah. Apa-apaan dia mencium tangannya seperti itu. Tak tahukah dia, ini rasa bapernya sampe ke tulang rusuk. Oksigen di tubuhnya seakan berkurang beberapa liter ketika menerima sikap manis Kenzie. “Memberikanmu hadiah, kan,” ujar Ken. “Ada yang salah dengan pikiranmu, Kak,” balas Kalina. Baru juga berniat pergi, sebuah motor salah satu siswa yang memasuki area sekolah muncul tiba-tiba dan malah membuatnya kaget. Tak bisa menahan badannya, hingga akhirnya melangkah mundur hingga jatuh menabrak Ken yang ada di belakangnya. “Untungnya jatuh di pelukanku, kan,” bisik Ken. Kalina kaget, berniat menghindar tapi Ken manahan untuk tetap diam di posisinya. Lihatlah, mata-mata liar beberapa siswa dan siswi yang lewat melihat adegan ini ... membuatnya semakin ngeri saja. “Untukmu,” ujar Ken menyodorkan sebuah ikat rambut dihadapan Kalina. Terdiam, memandangi sebuah benda yang diberikan Ken. “Untukku?” “Jangan samakan penampilanmu ketika di sekolah, dengan saat di mana kamu jalan denganku,” ujar Ken. Menyambar dengan cepat benda yang ada di pegangan Kenzie. Kemudian menguncir rambutnya menjadi satu ikatan. “Ini mah bukan hadiah namanya, tapi justru ganti rugi karena Kakak udah buang ikat rambutku,” ujar Kalina. “Siapa bilang ini hadiah?” “Lah, barusan Kakak bilang ...” “Hmm,” angguk Ken. “Ciuman itu hadiah dariku.” Menelan salivanya dengan susah. Seketika langsung balik badan. “Aku masuk dulu, bye!” teriaknya berlalu pergi meninggalkan Ken dengan sedikit berlari. Semakin cepat menghindari dia, semakin baik. Bisa-bisa karena sikap manis Ken, membuat ia tak fokus belajar. Ken tersenyum dengan sikap Kalina. Berpikir, sepertinya otaknya mulai sedikit ada masalah yang benar-benar signifikan. Tiba-tiba dirinya malah jadi gercep gitu mendekati Kalina yang pada kenyataannya selama ini ia abaikan.   ---000---   Membuka mata, tiba-tiba dihadapkan pada seseorang yang sedang memandanginya secara intens. Sungguh, itu seperti menarik jiwanya yang masih berkeliaran di alam mimpi dengan paksa balik ke kenyataan. Langsung duduk dengan napas yang ngos-ngosan. Kemudian melempar dia dengan guling saking kesalnya. “Ren, kamu kenapa, sih?” “Kamu yang kenapa, Kak ... bikin aku kaget tahu nggak. Ngeliatinnya intens banget, berasa mau diserang aku.” Zean langsung saja mendorong Eren hingga gadis itu kembali ke posisi tidurnya. Memegangi kedua pergelangan tangan dia, agar tak dapat melakukan perlawanan. “Apa serangan semacam ini maksudmu, hem?” Serena menggeleng cepat. Ini situasi yang menakutkan ... jangan sampai ia lengah, apalagi lupa diri. Bisa-bisa dengan sekali lirik, Zean dengan mudah menyerangnya. “Lalu?” semakin mendekatkan wajahnya pada Eren. “Stop,” henti Serena akan sikap Zean. “Plis ... jangan kumat sekarang.” Zean memutar bola matanya ketika mendengar perkataan Eren. Berani sekali mengatainya seperti itu. Eren tertawa melihat reaksi Zean yang tampak begitu lucu baginya. Biasanya cowok ini akan menggunakan sikap kalem, lemah lembut, bahkan setiap gerak-gerik dan kata-katanya dia atur sedemikian rupa agar tertata rapi ... terletak pada tempatnya. Tapi sekarang, dia bisa bersikap layaknya manusia normal. Tapi tawa Eren seketika terhenti, ketika mengingat kalau Zean benar-benar akan pergi meninggalkannya. “Kenapa?” tanya Zean melihat reaksi tak biasa di wajah gadis yang ada dihadapannya ini. “Jangan pergi dariku,” pintanya. Zean diam, pegangannya di pergelangan tangan Eren ia lepaskan. Kemudian kembali ke posisi duduk. Sesaat kemudian, pelukan tiba-tiba ia rasakan dari arah belakangnya. Dua tangan sedang melingkar di badannya. “Jangan ninggalin aku. Aku minta maaf, Kak. Kamu boleh marah atau ngambek padaku selama apapun itu, tapi jangan pergi. Jangan sampai aku nggak bisa melihatmu.” Zean melepaskan tangan Eren yang melingkar di badannya, kemudian memutar posisi menjadi berhadap-hadapan dengan dia. Tersenyum pada Eren, kemudian menyelipkan helaian rambut yang tergerai menutupi wajah manis itu. “Masalahnya nggak segampang itu, Ren.” “Kenapa?” Mengamit kedua tangan Eren, seolah sedang mengumpulkan sebuah penjelasan yang akan lebih muda dia mengerti dan pahami. Berbelit-belit sepertinya bukan lagi sebuah pilhan yang tepat. “Aku masih bertahan di sini hingga detik ini adalah karena kamu. Ketika kamu nggak bisa ku miliki, itu artinya ...” Perkataan Zean terhenti saat melihat air mata Eren sudah jatuh mengalir membasahi pipi dia. “Aku belum selesai bicara, loh,” komentar Zean menghapus air mata di pipi Eren. “Makanya jangan pergi,” isaknya. “Alasanku adalah kamu. Sekarang kamu menolakku. Jadi?” “Jadikan lagi aku alasan kamu untuk tetap di sini lagi,” jawab Eren cepat. “Oke, aku tahu salahku. Seakan-akan hal sepenting itu, ku ambil keputusan yang terburu-buru. Itu bukan karena nggak mau denganmu, Kak. Hanya saja aku masih berpikir ... apakah aku mampu jadi seperti yang kamu inginkan? Aku dengan banyaknya kekurangan, bersanding denganmu yang ...” “Gunanya mencari pasangan adalah untuk saling melengkapi. Kekuranganku, bisa kamu lengkapi ... begitupun sebaliknya. Aku tahu sikapku selama ini padamu mungkin tak terlalu baik, tapi semua ku lakukan hanya agar aku bisa memahami seperti apa kamu aslinya. Tak berpura-pura dalam hal apapun juga.” Eren menundukkan kepalanya. “Tapi aku takut,” isaknya tertahan. Zean menangkup wajah gadis itu, hingga fokus dia hanya tertuju padanya. “Takut kenapa?” “Mengecewakan kamu.” “Itu berarti kamu nggak yakin dengan dirimu sendiri.” Eren mengangguk. “Atau nggak yakin padaku?” tanya Zean lagi. “Kak ...” “Mau mendengar penjelasanku?” Eren mengangguk cepat. “Aku di sini nggak punya siapa-siapa. Anggap saja aku memang udah nggak punya orang tua, karena toh punya seorang Papa pun hanya sekadar status tanpa fisik yang bisa ku lihat di depan mata,” terang Zean. “Intinya, aku sendirian. Jujur saja, ini nggak gampang, tapi karena kamu aku bertahan di sini. Menahan perasaan agar tak dianggap memaksa, ku jalani bertahun-tahun. Ternyata itu jauh lebih sulit lagi.” Tersenyum sendiri mengingat sikapnya yang tertahan selama ini. Berpura-pura dingin dan nggak perduli, tapi aslinya malah mendekati secara diam-diam. “Kamu itu menyebalkan, Kak.” Menghambur ke pelukan Zean sambil menangis sejadi-jadinya. Entahlah, rasanya mengeluarkan semua perasaan pada Zean, lebih membuat hatinya terasa tenang. “Aku nggak tahan loh kalau kamu nangis kayak gini,” komentar Zean. “Gara-gara kamu aku nangis, aku mau minta pertanggung jawaban padamu,” balas Eren semakin mengeratkan pelukannya pada Zean. Sudahlah, rasa malunya tak berlaku buat Zean. Dia tahu segalanya tentang dirinya, mau b****k sekalipun juga bakalan udah kebuka aslinya. “Aku belum lakuin apa-apa padamu, masa udah minta pertanggung jawaban aja,” balas Zean melempar candaan. Tangis Eren seketika terhenti, kemudian melepaskan Zean dari pelukannya. Menatap horor ke arah cowok yang ada dihadapannya ini. “Haruskah dengan begitu kamu bisa tetap di sini denganku?” Dahi Zean sampai berkerut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Eren. Eren tersenyum, seolah-olah sedang memikirkan sebuah rencana yang sepertinya bakalan mempan untuk membuat cowok ini akan tetap bersamanya. Akan ia ikat dia, agar tak bisa lepas darinya. “Hanya ada kita berdua, kan, di rumah ini?” “Ya,” jawab Zean jujur. Karena memang tak ada orang lain di rumah ini. “Baguslah.” Eren menanggalkan sweater yang masih ia kenakan ... kemudian meninggalkan sebuah tanktop berwarna hitam yang kini menutupi tubuhnya. Menguncir rambutnya jadi satu ikatan, membuat lekukan lehernya yang tampak putih bersih itu benar-benar terpampang nyata tanpa perantara. “Hei, kamu mau ngapain, sih?” tanya Zean bingung melihat sikap Eren.  Mendekati Zean, kemudian melingkarkan kedua lengannya di tengkuk cowok itu, membuat posisi keduanya begitu dekat. “Lakukan itu padaku sekarang,” pintanya pada Zean. “Lakuin apa?” “Agar aku bisa meminta pertanggung-jawaban darimu nantinya. Agar kamu nggak bisa pergi dariku.” “Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Serena,” respon Zean sampai dibuat mati kutu oleh gadis ini. “Jangan menganggapku sebagai bocah terus, Kak. Pikiranku juga sudah dewasa, kamu harus tahu itu.” “Aku bukan cowok seperti itu, Serena.” Ciuman tiba-tiba diberikan Serena di bibir Zean, yang langsung membuat reaksi kaget padanya. Hanya sekilas, tapi mampu membuatnya tersentak. “Aku nggak perduli. Setidaknya aku bisa menahanmu untuk tetap di sini,” balas Serena dengan sengaja mendorong Zean hingga jatuh di kasur dan langsung menindihnya. “Serena, jangan berpikir jika aku akan melakukan hal gila itu padamu,” peringatkan Zean. “Anggap saja aku yang melakukannya padamu,” komentar Serena.                                
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN