Hanya fokus memandangi dia yang tertidur nyeyak di dekapannya. Bahkan saat berniat untuk beralih posisi saja, dia seakan tahu hingga menahannya untuk tetap di posisi yang sama.
Tersenyum puas saat apa yang ia inginkan benar-benar terjadi. Akan ia buat gadis ini semakin jatuh dalam dekapannya, hingga bahkan tak berpikir untuk berpaling walau hanya sedetik. Di dalam pikiran dia, hanya akan ada dirinya.
“Kak Zean, jangan pergi,” rengek Eren dengan nada serak seolah bergumam, dengan posisinya masih dalam keadaan tidur. “Aku cinta sama kamu.”
Dalam alam nyata sudah mendapatkan dia, setidaknya makin bahagia ketika dirinya juga bisa menghiasi alam mimpinya.
“Sikapmu yang seperti ini, bagaimana aku nggak sedih saat kamu malah menolakku untuk lebih serius menjalin hubungan denganmu.” Mengelus dan mencium pucuk kepala gadis itu dengan lembut. “Aku nggak mempermasalahkan bagaimana sikapmu, karena aku cinta padamu tulus ... terima kamu apa adanya.”
Butuh waktu yang lumayan lama untuknya bisa bertahan dan mengungkap semua perasaannya pada Eren. Ya, terlalu cepat mengakui, ia juga takut jika dia tak terima. Ditambah lagi dengan pemikiran gadis ini yang masih tegolong labil. Dirinya bukan mencari cinta sekadar lewat dan putus begitu saja. Tapi yang diinginkannya adalah cinta sampai mati.
Menyambar ponsel yang ada di sampingnya ketika sebuah pesan masuk ... membuat benda pipih itu bergetar. Terlihat, sebuah pesan singkay yang ternyata dari Kenzie, sobatnya.
“Lo beneran sama Eren?”
Ia tak membalas pesan itu, tapi justru menghubungi sobatnya itu langsung lewat telepon.
“Hmm, dia sama gue,” ujarnya langsung ketika panggilannya langsung dijawab. Menatap pada gadis yang masih tertidur nyeyak di dekapannya.
“Serius?”
“Haruskah gue kirim pict buat bukti? Ah, tapi janganlah. Gue takut lo ngamuk dengan posisi ini, Bro,” ujar Zean seakan sedang mempermainkan Ken.
“Heh. Maksud lo apa? Jangan bilang kalau elo lakuin sesuatu sama dia.”
Zean malah terkekeh mendengar komentar kaget Ken atas kata katanya.
“Gue masih waras. Jangan berpikir yang tidak tidak. Ya, setidaknya sampai gue bisa tahan. Kalau udah nggak tertahan, barulah gue bakalan ...”
“Zean!”
Mendengar amukan Ken perkara Eren, jujur saja membuat Zean juga sedikit takut. Ternyata sebesar dan sepenting itu posisi Eren di mata kakaknya.
“Udah, gue cuman bercanda. Lo serius amat. Gue mau tidur. Ngantuk. Malam ini dia sama gue, besok gue anterin pulang.”
Langsung menutup percakapan dengan Ken. Semoga sobatnya itu benar-benar berpikiran positive tentang dirinya. Ada ada saja, yakali dirinya sampai berbuat separah itu pada Eren, hingga memiliki dia dengan jalan buruk.
Meletakkan ponselnya di nakas, kemudian memperbaiki posisi tidurnya. Begitupun dengan posisi Eren yang layaknya menempel di badannya tanpa berniat lepas. Apakah ini yang dinamakan dikekepin?
“Besok akan lebih baik,” gumamnya segera memejamkan kedua mata.
---000---
Bangun tidur, tanpa pikir panjang lagi ia segera mandi dan mengenakan seragam sekolah. Ini masih pagi buta, bahkan suasana pun masih terlihat gelap. Tapi pikiran-pikiran yang sedang menghujani otaknya seakan membuatnya ingin segera pergi dari rumah ini dengan cepat.
Keluar dari kamar dengan perlahan. Masih suasana tenang, karena otomatis orang tua Eren juga belum keluar dari kamar. Ya, menurut penerawangannya, sih.
Melangkah perlahan menuruni anak tangga. Yang ia takutkan hanya satu, ya ... takut pada si pemilik kamar yang berada di sebelah kamar sobatnya ini. Siapa lagi kalau bukan Kenzie, si cowok yang ... ah, sekarang ia bingung harus memberikan gelar apalagi pada dia.
Pertama, dia jadi cogan limitide edition yang benar-benar membuatnya kelepek-klepek karena sikap dia yang terlihat dingin dan kalem. Kedua, gelar pertama ternyata salah besar. Karena aslinya Ken tak sekalem yang ia pikir. Dan Eren benar akan hal itu, ia saja yang baru menyadari. Ketiga. Untuk yang ini ia sudah bingung mau mencap dia sebagai apa. Tindakannya semalam, nyaris membuat dirinya mati di detik itu juga. Tapi keingat ia hanya anak tunggal yang kalau mati, pasti pupus sudah keturunan dari orang tuanya.
Berhasil turun dari lantai atas, tetap saja matanya celingak-celinguk. Takut, jika tiba-tiba makhluk mengerikan itu muncul.
“Non Kalina mau kemana pagi-pagi begini?”
Kalina langsung terlonjak kaget saat mendapatkan pertanyaan itu. Tapi kembali tenang karena bukan Ken.
“Aku mau pulang dulu, Bik.”
“Tapi ini masih pagi buta.”
Kalina tetap fokus pada sekitarnya. Kemudian fokus pada Bibik.
“Nanti tolong bilang aja sama Om dan Tante kalau aku ada tugas di sekolah, jadi akan berangkat pagi-pagi.”
“Tapi, Non ...”
“Bye, Bik.”
Langsung kabur dari hadapan Bibik dengan langkah cepat berlalu keluar dari rumah. Setidaknya saat kakinya sudah berada di teras depan, itu merupakan posisi teraman baginya.
“Hufftt ... akhirnya bisa kab ...”
Perkataannya terhenti saat sebuah tangan menyambar lengannya. Bukan hanya itu, kini ia justru benar-benar berakhir dihadapan seseorang. Tangan dia yang tadinya berada di lengan, kini dengan begitu mudah berpindah ke pinggangnya dan menariknya untuk semakin mendekat.
Menelan salivanya dengan kesat, saat apa yang ia pikirkan dan takutkan sedari tadi ... bukan, bahkan dari semalam sudah membuat kegalauan yang benar-benar membuat otaknya seakan mau gila. Dia, lagi-lagi ada dihadapan matanya.
“Ini masih pagi,” ujarnya singkat.
Bahkan perkataan itu saja, napas hangat dia terasa begitu dekat.
Menundukkan kepalanya, karena tak sanggup jika dipandang dengan begitu intens. Kemudian menyingkirkan rengkuhan di pinggangnya agar terlepas. Jangan sampai ada yang melihat adegan ini.
“Ah, itu, Kak ... aku, aku di sekolah ada tugas. Jadi, akan berangkat lebih awal,” ujarnya memberikan alasan lengkap dengan senyuman. Bahkan bibirnya saja begitu susah ia ajak tersenyum, karena masih shock dengan kelakuan kakak dari sahabatnya ini.
Berhasil lepas, ia segera berlalu dari hadapan Kenzie. Tentu saja dengan helaan napas yang begitu lega, laksana lepas dari kandang harimau.
Berniat membuka kunci mobil, tapi seketika sadar benda yang ia butuhkan itu ternyata sudah tak ada di pegangannya. Padahal barusan kan ada, tapi kemana perginya benda itu.
Memutar badannya, kembali menatap ke arah Ken dari kejauhan. Lihatlah, dia tersenyum padanya. Itu membuktikan kalau dia lah pelakunya.
Dengan langkah berat, Kalina berjalan menghampiri Ken yang masih berdiri di dekat pintu. Lengkap dengan tampang cold nya yang mampu membuat pagi ini semakin dingin saja.
“Kak, kunci mobilku.” Menengadahkan telapak tangannya pada Ken seakan berharap dia mengembalikan benda itu.
“Sengaja menghindariku?”
“Bu-bukan, Kak ... aku cuman pengin cepat datang ke sekolah aja. Sudah dengan alasan yang tepat, kan?” Tiba-tiba ia dibuat gugup .
Apakah otak pintar Ken makin ke sini malah makin b****k, ya. Ya apalagi alasan yang membuat dirinya tak mampu bertahan.
“Sarapan dulu, baru ku berikan kunci mobilmu,” ujar Ken langsung saja berlalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kalina yang tampak kesal.
Menghentak-hentakkan kedua kakinya ketika sudah sampai di depan pintu mobil, ternyata ia harus balik masuk ke dalam rumah. Benar-benar merusak moment banget ini.
”Loh, kalian udah pada bangun ternyata,” ujar Norin mendapati Kalina dan Ken ternyata sudah ada di bawah.
“Dia kabur,” ujar Ken pada mamanya, kemudian melirik pada Kalina.
Kalina menggeleng cepat. “Enggak, kok, Tante ... mana ada aku kabur. Kak Ken bohong,” balasnya tak mau kalah.
Bisa-bisanya Ken mengatakan pada Norin kalau ia kabur. Entah apa yang sedang direncanakan cowok ini, hingga rasanya akhir-akhir ini dia seolah mencari masalah untuknya. Bukan, lebih tepatnya dia seolah mencari masalah dengan hatinya.
“Sayang, kamu yakin udah mau sekolah hari ini? Kondisi kamu masih belum sepenuhnya pulih, loh,” ujar Norin saat berada di meja makan. “Atau, kamu istirahat aja dulu. nanti biar Om sama Tante yang urus ke sekolah.”
“Enggak, kok, Tante ... aku udah baik-baik aja. Lukaku juga udah membaik. Paling nunggu jahitannya kering aja lagi.”
Eren tak ada di rumah, kebayang kondisi jantungnya nanti jika ia terus berada di sini.
“Yasudah, kalau memang begitu ... sebelum berangkat harus sarapan dulu. Nanti biar Ken yang nganterin sekolah. Tante khawatir kalau kamu yang mengemudi.”
“Hah?!”
“Kenapa?” tanya Norin bingung dengan balasan kaget yang diberikan Kalina padanya.
“Enggak, Tante ... cuman Kak Ken katanya lagi sibuk dengan tugas kampus, trus dia udah janjian juga sama temannya, trus ...”
“Bohong aja terus ... sampai puas,” respon Ken menanggapi penjelasan yang diberikan Kalina pada mamanya.
Terniat sekali dia untuk menghindarinya. Salah siapa berani mendekatinya. Jangan berharap berhasil lepas dengan segampang itu jika sudah berada dalam genggamannya.
“Kamu juga, Ken ... harusnya bikin Kalina nyaman di sini. Bukannya malah bikin dia enggak betah.”
“Aku sedang berusaha membuat dia nyaman, Ma,” gumam Kenzie.
Tiba tiba Kalina tersedak ketika mendengar balasan yang diberikan Kenzie pada perkataan Norin. Meskipun dia tidak bicara dengan lantang, tapi dirinya mampu mendengar dengan jelas hingga membuatnya kaget.