BAB : 31

1392 Kata
Norin mencoba menghubungi Kenzie beberapa kali, tapi nomer ponsel putranya itu justru tak aktif. Membuat naluri seorang ibu tentu saja merasa cemas. Ini sudah malam, baik Ken ataupun Eren tak merespon panggilan telepon darinya. “Gimana?” tanya Norin pada Wira, suaminya yang juga ikut cemas. “Ken nomernya nggak aktif, sedangkan Eren tak menjawab panggilanku,” jelas Wira. “Ini udah malam, Tante, Om ... aku takut Eren kenapa-kenapa,” respon Kalina yang diajak menginap di rumah keluarga sobatnya itu. Karena mereka berpikir kondisinya masih belum terlalu pulih. “Bagaimana dengan Zean?” tanya Norin. “Aku belum menghubungi Zean.” Berniat segera menelepon Zean, tapi deru suara mobil yang memasuki area pekarangan rumah, membuat niatnya itu terhenti. “Itu sepertinya Kenzie,” tutur Norin. Tak lama, terdengar derap langkah kaki yang memasuki rumah setelah mendengar suara pintu dibuka dan kembali tertutup. Ken yang baru sampai di ruang keluarga, menatap aneh pada tiga pasang mata yang tengah menatapnya dengan raut seolah menunggu kepastian. “Ada apa?” tanyanya bingung. Norin menghampiri putranya itu, kemudian menarik daun telinga Ken dengan wajah penuh kekesalan. “Astaga! Mama kenapa malah menjewer kupingku? Salahku apa,” ringisnya setelah menerima serangan tiba tiba yang menyambutnya saat sampai di rumah. Yakinlah, telinganya kini dalam keadaan yang merah. “Masih bertanya apa salah kamu? Ya ampun, ini anak benar-benar sedang membuat emosi orang tuanya naik drastis,” tambah Wira menyerang putranya. Kalina tadinya masih mode diam, karena masih mencoba untuk tak terlalu mendekat pada Ken lagi. Tapi, melihat sikap Norin pada cowok itu, membuat tawanya nyaris lepas kendali. Kalau tak ia tutupi dengan telapak tangan, mungkin mulutnya akan terbuka lebar dan ngakak. Seorang Kenzie mendapat jeweran? Sungguh, ini adegan yang lucu. “Adik kamu di mana?” tanya Norin. “Eren?” “Ken, mama tahu otak kamu cerdas. Tapi, jangan hanya kamu pakai untuk fokus pada pelajaran saja, ingat kamu punya adik hanya seorang, kan? Tentu saja Eren yang Mama tanyakan." Ken memutar bola matanya malas dengan kata-kata mamanya. Dikira ia lupa ingatan karena melupakan punya adik bernama Serena. “Eren baik-baik aja.” “Baik-baik aja gimana, sih, Ken. Kamu tahu tidak, tadi dia nelepon mama sambil nangis-nangis, loh. Eren lagi ada masalah sama Zean, dan kamu ...” “Ma, udah,” timpal Ken menghentikan kata-kata mamanya. “Eren baik-baik aja. Ya, mama benar kalau dia sedang bermasalah dengan Zean.” Mengarahkan pandangannya pada papanya. “Papa juga tahu, kan, seperti apa sikap dia tadi siang saat kita berusaha memberikan Penjelasan?” “Apa Eren benar-benar menolak Zean?” Norin memastikan. Ken mengangguk. “Aku udah pastiin dari Zean langsung ... kalau Eren, nggak mau melanjutkan hubungan keduanya.” Menarik napasnya berat. Jujur saja, ia ikut kecewa atas keputusan sang adik. “Dan kamu?” tanya Wira pada Ken. Ken tak langsung menjawab. Ia memilih untuk duduk dan menyenderkan punggungnya di sofa. “Zean itu sahabatku, Pa, Ma ... jujur saja aku sedikit kecewa ketika dia mendapatkan sikap seperti itu dari Eren. Tapi di sisi lain, yang melakukan itu pada dia justru adikku sendiri. Yang jelas aku hanya mendukung yang terbaik dan nggak akan berpihak pada siapapun.” Kini giliran Norin dan Wira yang dibuat diam seribu bahasa. Bukan tak ingin ikut campur, tapi yang dikatakan Kenzie ada benarnya. Dan lagi, keduanya tak ingin memutuskan sepihak tentang siapa yang jadi pilihan Eren. Sadar, jika selama ini fokus pada rutinitas dan melimpahkan penjagaan Eren justru pada Ken. Jadi, untuk masalah ini ... apapun yang terbaik menurut putra mereka, akan keduanya terima. “Aku bingung sendiri,” gumam Kalina yang seolah jadi pendengar yang baik. Pandangan Ken mengarah pada Kalina yang memasang wajah bingung. Merasa sadar diperhatikan, gadis itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Sekarang kamu cari Eren,” perintah Norin pada Ken. Belum juga Ken beranjak dari posisi duduknya, ponsel milik Wira berdering. Terlihat nama Zean yang tertera di layar datar itu. Berjalan agak menjauh dan menjawab panggilan telepon itu. “Ya.” “Om, jangan khawatir ... Eren ada bersamaku.” Merasa lega, itulah yang terukir jelas di wajah Wira ketika mendapatkan kabar itu. “Syukurlah jika dia sama kamu. Om, cuman ...” Menghentikan perkataannya. “Maaf, jika dia membuatmu merasa terbebani.” “Aku nggak merasa seperti itu. Om mengenalku lebih detail, setidaknya pasti tahu seperti apa perasaanku sebenarnya.” Wira mengangguk yakin. “Tolong jaga dia dulu.” “Iya, Om.” Menutup percakapan dengan Zean. Kemudian kembali pada Norin, Ken dan Kalina yang seolah penasaran dengan siapa dirinya bicara. “Siapa?” tanya Norin. “Zean.” “Zean?” Ken memasang wajah bingung. “Jangan bilang kalau kamu amnesia, Kak. Tiba-tiba nggak ingat nama sobat sendiri.” Mengarahkan pandangannya pada Kalina. Sayang ada orang tuanya di sini, kalau tidak ... sudah ia lakukan tindakan kriminal pada gadis ini. Sengaja menyudutkan dirinya di depan orang tuanya, agar ia tak mampu melawan, ya. “Udah bisa tenang sekarang, karena Eren ada sama Zean,” ungkap Norin. “Karena mama percaya sama dia.” Wira melirik waktu di jam yang ada di pergelangan tangannya. Tampak waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. “Sudah malam,” gumamnya. Kemudian mengarahkan pandangan pada Ken. “Kamu antar Kalina ke kamar, ya ... kondisinya masih belum terlalu pulih. Tapi dia kekeuh besok mau masuk sekolah. Biar malam ini istirahat lebih cepat.” Seketika muka kaget langsung ditunjukkan Kalina ketika mendengar perkataan Wira. “Eng-nggak usah, Om ... aku baik-baik aja. Aku bisa ke kamar sendiri, ingatanku masih tajam.” Menolak keras ketika Ken diminta untuk mengantarkan dirinya. Yakali itu terjadi, bisa-bisa jantungnya akan mengalami sebuah tekanan berat lagi dong. Lihatlah, betapa lirikan tajam Ken langsung menusuk pandangan matanya saat mendengar perintah itu. Seakan-akan dia begitu bahagia. Apalagi kalau bukan mau balas dendam. Yakinlah, Ken itu ternyata menyebalkan aslinya. Ken beranjak dari posisi duduknya, kemudian menyambar tangan Kalina yang masih duduk. “Ayok, ku antar ke kamar dengan selamat,” ujar Ken. Nah, kan ... kalimat yang dia gunakan saja sudah bikin ngeri-ngeri sedap. “Nggak usah, Kak ... aku bisa sendiri, kok.” “Dengar yang Papa bilang barusan kan?” Antara hidup dan mati, berjuang untuk menolak, tapi apalah daya rasa tak enak pada orang tua Eren membuatnya pake mode pasrah. Bisa-bisanya Ken membuatnya seakan mau bunuh diri begini. Menggeretnya hingga ke kamar. Tapi, ketika pintu kamat terbuka lebar, ia menghantikan langkahnya tepat di depan pintu. “Kenapa?” tanya ken bingung. Kalina tak menjawab, tapi ia hanya berusaha tersenyum manis sambil menunjuk ke arah tangan Ken yang memegangi tangannya. Ken tersenyum. “Sepertinya aku salah posisi,” ujarnya.  Tadinya hanya memegang pergelangan tangan Kalina, tapi kini justru malah menyatukan jemarinya dengan jemari gadis itu hingga bertaut satu sama lain. “Apa ini lebih nyaman?” Mata Kalina melebar ketika mendapati sikap tak biasa dari Ken. Berniat melepaskan genggaman di tangan Ken, justru dirinya langsung ditarik untuk lanjut melangkah masuk kamar. Tak hanya itu, dia langsung menutup pintu kamar dengan segera, ketika otaknya masih berusaha mencerna semua kejadian ini. “Kak, bisa tolong lepaskan tanganmu dariku? Ini tak baik,” ujarnya berusaha melepaskan tangannya dalam genggaman cowok itu. Entahlah, rasanya begitu sulit untuk lepas, apa barusan dia meletakkan sebuah lem di sana, hingga tak bisa lepas begini. Ken tak merespon perkataan Kalina, ia justru mendorong gadis itu hingga tertahan di dinding kamar. Bukan hanya satu tangan, tapi kedua tangan gadis itu berada dalam penahanannya. Membuat dia tak akan bisa berpikir untuk lepas. “Kak, jangan begini padaku,” gumamnya tertahan. Bahkan tak kuat menatap dia yang ada di depannya, hingga memilih untuk beralih ke arah lain dengan mata terpejam. “Sikapmu sudah terlalu jauh.” Ken tak membalas perkataan Kalina. Ia justru malah semakin mendekat pada gadis yang malah dengan sengaja mengalihkan pandangan darinya. “Apa sikapku membuatmu kaget, atau justru takut?” tanya Ken sedikit berbisik. “Aku enggak takut padamu.” Langsung mengarahkan pandangan pada Ken yang ternyata berada tepat di depan wajahnya. Perkataan Kalina dibuat terhenti tiba-tiba. Jantungnya kini benar-benar berada dalam kondisi tak baik, napasnya tertahan di tenggorokan. Semangat bicara, adegan yang terjadi justru malah berakhir dengan lebih tragis. Tangan Kalina yang berada dalam genggaman Ken seketika mengerat saat adegan yang selama ini ia pernah lihat hanya di drama drama korea, justru dialaminya sendiri tanpa sengaja dan rencana. Rasa kagetnya, seolah berasa badannya seperti disetrum dengan kekuatan listrik yang tinggi.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN