Ken keluar dari kamar, berbarengan dengan papanya yang juga baru keluar dari kamar Eren. Menghampiri, kemudian menyambar dan mencium punggung tangan laki-laki paruh baya itu.
“Aku keluar dulu, Pa,” pamitnya.
“Kamu mau kemana lagi? Papa mau ke rumah sakit, Mama masih ada di sana sama Kalina. Eren di rumah, loh. Lihat kondisi dia sekarang, kan ... setidaknya bujuk dia, kasih dia penjelasan. Biasanya dia akan mendengarkanmu daripada Papa.”
“Aku bingung cara ngasih penjelasan lagi sama dia. Oke, aku tahu pemikirannya masih terlalu cepat untuk masalah ini, tapi harusnya dia paham mana yang benar dan mana yang merupakan sebuah kebohongan ataupun keterpaksaan, kan, Pa," jelas Kenzie.
“Jadi, semua yang dilakukan Zean sia-sia?”
Ken mengangkat kedua bahunya. Karena ia bingung harus menanggapi seperti apalagi. Selama ini a juga mengusahakan hubungan keduanya terus aman dan berlanjut. Sekarang saat semua sudah mencapai akhir, Serena malah memberikan akhir yang justru tak sesuai dengan apa yang diharapkan.
“Aku mau ketemu sama Zean dulu, Pa. Seperti yang dia bilang di awal ... nggak akan memaksa jika Eren memang nggak mau. Dan hasilnya, gadis itu menolak. Itu berarti dia akan pergi.”
“Papa nggak tahu untuk masalah ini,” respon Wira sempat kaget. Yang ia tahu, Zean mencintai Eren dan ia memberikan restu itu karena tahu jenis laki-laki seperti apa dia. perkara dia pergi jika mendapat penolakan, ia tak tahu-menahu.
“Sekarang Papa udah tahu, kan. Dia nggak akan memaksa Eren.”
Kenzie melanjutkan langkah pergi meninggalkan Wira yang masih diam sembari berpikir keras tentang perihal hubungan putrinya dan Zean. Inilah yang membuatnya takut jika Eren jatuh ke tangan laki-laki yang tak tepat. Putrinya terkesan masih berpikiran labil, maka dari itu pula lah Ken yang ikut turun tangan menjaga. Sekarang saat ada yang ia percaya, justru putrinya yang menolak.
Melangkah perlahan menuju lantai bawah. Ya apalagi kalau bukan menuju rumah sakit.
Sedikit tersentak ketika diam-diam mendengar obrolan papanya dan Kenzie tentang Zean dari sela-sela pintu kamar yang ia buka sedikit. Apakah yang dikatakan kakaknya itu benar ... kalau Zean akan pergi?
“Aku bukannya nggak percaya sama kakak, tapi aku takut jika hubungan kita makin dekat, justru malah membuatmu repot karena aku. Aku nggak bisa apa-apa, aku masih kekanak-kanakan, tentu saja itu akan membebanimu,” isaknya tertahan kembali menutup rapat pintu kamarnya.
Diam membisu dengan semua masalah yang intinya hanya satu, tapi mampu membuat otaknya seakan sekarat untuk berpikir.
Sayang dan cinta, itu ia dapatkan dari Zean. Tapi kini dia akan pergi? Jujur saja, ini membuatnya berasa akan mati. Sedihnya tak ada tandingannya dibandingkan kesedihan putus cinta dengan Glenn.
Menghapus bekas air matanya, beranjak dari posisi duduk dan menyambar ponsel miliknya di dalam tas.
Menghubungi seseorang lewat telepon. Berdecak kesal ketika panggilannya bahkan berkali-kali tak ada respon. Bukan tak ada respon, tapi justru nomer yang ia hubungi tak aktif sama sekali.
“Duh, Kak Zean ... kamu di mana, sih? Benar-benar marah padaku, ya. Sampai-sampai kamu langsung matiin nomer ponselmu,” terus mencoba sambil berpikir keras. Lagi-lagi hasilnya masih sama.
Menyambar sweater dan mengenakan benda itu. Menyambar tas dan langsung keluar dari kamar dengan langkah cepat. Begitupun pas menuruni anak tangga saat turun.
“Non mau kemana lagi?” tanya Bibik melihat majikannya yang bergegas turun dan dengan sedikit berlari keluar dari rumah. Bahkan pertanyaannya tak mendapatkan jawaban sama sekali.
“Mesti hubungi Aden, nih,” pikirnya langsung bergegas menuju gagang telepon yang berada di dekat tangga.
Serena bergegas keluar dari pekarangan rumah. Sampai di depan, bertepatan dengan lewatnya sebuah taksi yang langsung ia setop. Kemudian meminta untuk segera mengantarkannya ke alamat yang ia tuju.
Di dalam mobil, lagi-lagi mencoba menghubungi Zean, tapi tetap tak ada respon. Semua masih sama hasilnya.
“Kak Ken ... tadi dia bilang mau ketemu sama Kak Zean,” pikirnya langsung menghubungi Kenzie. Tapi apa yang ia dapatkan, entah keduanya kompak untuk membuatnya kesal. Bahkan kakaknya itu nomer ponsel dia ikutan tak aktif.
“Kalian berdua sukses bikin gue gila,” umpatnya menyenderkan punggung dengan keluhan panjang.
Beberapa saat perjalanan, taksi yang ia tumpangi berhenti saat sampai di alamat yang dituju. Membayar ongkos dan segera turun. Dengan sedikit berlari ia memasuki area sebuah rumah yang terletak di sebuah perumahan.
Mengetuk pintu utama, bahkan bel saja sudah berapa kali ia tekan, tetap saja pemilik rumah tak ada tanda-tanda akan membuka pintu. Bukan hanya itu, di garasi ia juga tak melihat adanya mobil yang terparkir. Itu berarti dia tak ada di rumah.
Langsung menghentak-hentakkan kakinya karena tak mendapatkan apa yang ia cari,.
“Kak Zean kamu di mana, sih?”
Serius, ini rasanya sedih banget. Tadi ia menolak Zean, itu pasti membuat dia sedih. Tapi sekarang, ia bisa merasakan sedih yang dia alami akan perbuatannya tadi.
Menghubungi mamanya yang sekarang berada di rumah sakit. Ya, siapa tahu ada Kenzie di sana yang biasa ia tanyai perihal keberadaan Zean.
“Hallo, Mama ... Kakak ada di situ, nggak? Kalau ada, tolong kasih hp sama dia bentar.”
Langsung bicara panjang pada mamanya, karena berharap kakaknya ada di situ.
“Eren, kamu kenapa?”
“Aku ... aku nggak kenapa-kenapa,” jawabnya ragu-ragu. Padahal aslinya mah lagi sedih banget.
“Nggak ada Kenzie di sini, Sayang. Cuman ada Mama sama Kalina. Papa juga baru di jalan mau ke sini.”
Duduk di teras dengan tampang yang sudah menyedihkan. Bagaimana tidak, ini di otaknya sudah berseliweran hal-hal sedih karena harus ditinggal sama Zean.
“Mama, Kak Zean kemana?” tanyanya pada mamanya sambil nangis.
“Eren, kamu kenapa, sih? Apa yang udah terjadi? Zean kenapa?”
“Aku, aku nolak Kak Zean, Mama,” isaknya masih duduk di teras.
“Zean udah jujur sama kamu?”
“Hmm,” angguknya. “Aku udah jadian sama dia, tapi aku nolak dia untuk melangkah lebih lanjut.”
Norin terdiam mendengar penjelasan Serena.
“Dan sekarang aku takut kalau dia benar-benar pergi ninggalin aku.”
“Ya ampun, Serena. Kenapa kamu tolak Zean, sih, Sayang?”
Tak menjawab lagi pertanyaan mamanya. Intinya sekarang ia merasa benar-benar salah.
“Kak Zean kemana, Ma,” gumamnya sampai bingung sendiri.
“Kamu sekarang di mana, biar mama minta supir untuk jemput ke sana, ya.”
“Tapi aku belum ketemu sama dia. Aku nggak mau dia benar pergi, Ma. Tadi aku dengar Kak Ken bilang, kalau aku nolak dia ... dia bakalan pergi,” histerisnya tak tahan.
Menutup percakapan dengan mamanya begitu saja, ketika perasaan yang ia rasakan sudah bercampur aduk rasanya.
Terus menunggu, hingga sore menjelang Zean tak tampak tanda-tanda dia akan pulang. Hingga cuaca sudah tampak gelap menjelang malam, dia belum juga datang.
Ponselnya berdering, terlihat nama Ken lah yang muncul di layar. Langsung gerak cepat merespon.
“Kakak di mana? Apa Kak Zean sama Kakak?”
“Kamu di mana sekarang? Ini udah mau malam, loh, dan kamu nggak ada di rumah.”
“Aku tanya sama kamu, Kak ... Kak Zean di mana?!”
“Aku ...”
Eren tak fokus lagi pada percakapannya dengan Ken di telepon, sebuah mobil yang berhenti di depan pagar membuatnya merasa terhipnotis. Awalnya masih diam di posisinya, tapi saat melihat pemilik mobil yang turun, langsung saja beranjak dari berlari cepat mengarah pada dia.
Pandangan keduanya bertemu, Eren yang masih dengan muka sedih dan sekarang justru ingin menangis lagi. Sedangkan dia yang sedari siang ia cari, kini memberikan tatapan fokus terhadapnya.
“Kamu kok ada di sini?”
Tak menjawab pertanyaan yang diberikan padanya, tapi justru berlari cepat menghampiri dan menghambur ke pelukan dia sambil menangis terisak.
“Jangan meninggalkanku, aku minta maaf, Kak. Ku mohon maafin,” isaknya memeluk Zean erat.
Zean masih terdiam. Karena baru tadi siang Eren menolak dirinya, tapi sekarang tiba-tiba datang padanya dengan sikap seperti ini.
“Kenapa di sini?” tanya Zean belum membalas pelukan yang ia dapatkan. Meskipun kedua tangannya tak tahan ingin membalas, tapi ia takut jika sikapnya malah berakhir sedih lagi.
Eren melepaskan pelukan pada Zean. Lihatlah, kedua mata itu sudah sembab dan tampak memerah. Untuk yang satu ini, Zean tak akan tahan untuk tak memberikan sntuhan.
“Jangan menangis begini,” komentar Zean menghapus air mata di pipi Eren dengan jemarinya. “Aku nggak suka saat kamu menangis.”
“Kakak marah, ya, dengan kejadian tadi siang?”
Zean menggeleng. “Aku nggak marah, cuman sedih aja rasanya ... setelah berjuang ngedapetin apa yang ku mau, tapi dia malah menolak untuk ku ajak serius.” Menghela napasnya berat. “Dan lagi, perasanku seperti terbuang percuma selama ini.”
Bulir-bulir bening itu terus saja jatuh dari kelopak mata, membasahi kedua pipinya. “Jadi, kamu benar-benar akan pergi?”
“Jika itu yang dia inginkan,” respon Zean pasrah.
“Jangan pergi,” pinta Eren.
“Aku nggak akan memaksa, jika aku memang nggak diinginkan. Karena justru itu nggak akan baik pada sebuah hubungan,” balas Zean.
“Aku menginginkanmu tetap bersamaku di sini ... kamu akan tetap jadi milikku, nggak boleh pergi kemana-mana!” histeris Eren.
Melingkarkan kedua lengannya di tengkuk Zean, membuat cowok itu sedikit menunduk. Langsung mencium bibir Zean, demi membungkam perkataan dia yang mengatakan akan pergi.
Tersentak ketika mendapatkan sikap seperti ini dari Eren. Yang ia tahu, dia tak akan seberani ini menciumnya, tapi kenapa sekarang dia seolah benar-benar sedang menahannya.
Rasa manis yang diberikan Eren semakin terasa layaknya candu yang membuatnya tak berharap dia lepaskan. Tapi, saat menikmati rasa itu ... hal yang ia pikirkan langsung terjadi. Dia perlahan melepaskan.
Satu tangannya langsung melingkar di pinggang Eren, membuat dia makin mendekat padanya, sedang satu lagi dengan cepat menahan agar dia tak melepaskan pagutan bibir keduanya. Ia ingin terus merasakan rasa manis itu.