BAB : 29

1611 Kata
Saat Zean mengajaknya punya hubungan lebih dekat dengan status pacaran, ia masih mau, karena memang mengharapkan Zean lah yang menyandang status itu. Ia butuh dia. Tapi sekarang, saat dia mengajaknya menikah, jujur saja ia benar-benar kaget. Bukan menolak atau mau berkilah jika dirinya tak menginginkan Zean, bahkan sangat ingin. Hanya saja kalau untuk menikah ... rasanya kok begitu cepat. “Eren ...” “Kakak bicara apa, sih?” memasang ekspressi datar. “Menikahlah denganku, Serena. Aku mau kamu.” Eren beranjak dari posisi duduknya. “Kak Zean, maaf ... bukan menolak, hanya saja jika untuk menikah rasanya kok terlalu cepat.” Zean beranjak dari posisinya dan berdiri berhadap-hadapan dengan Eren. “Aku nggak mempermasalahkan statusmu.” “Bukan itu yang ku maksud,” bantah Eren. “Aku hanya merasa ini terlalu cepat untukku pribadi, bukan untuk dirimu ataupun kita. Aku tahu seperti apa kamu, sebaik apa dirimu ... aku yakin itu. Hanya saja aku tak yakin dengan diriku sendiri. Paham, kan, apa maksudku?” “Jawabanmu?” “Kakak tahu, bahkan hanya untuk pacaran saja orang tuaku tak setuju. Dan sekarang kamu mengajakku menikah.” Eren menghela napasnya dengan berat, saat jawaban yang akan ia berikan justru membuat Zean merasa sakit. “Sekali lagi ku katakan, Kak. Aku cinta sama kamu, aku sayang padamu ... tapi untuk menikah, aku belum siap. Aku nggak siap dengan diriku sendiri yang masih belum paham dan mengerti apa-apa. Maaf, aku nggak bisa menerima,” jawab Eren dengan berat hati. Bahkan ia sampai menangis memberikan jawaban itu. Bagaimana tidak ... ia menolak Zean hanya karena dirinya masih kekanak-kanakan. Ia tak ingin Zean justru malah terbebani karena dirinya. Dia mencari seorang istri, bukan menambah beban hidup yang nanti justru malah membuat dia repot akan dirinya. “Aku minta maaf,” ulangnya lagi. Kemudian menyambar tas miliknya dan berlalu pergi dengan cepat dari hadapan Zean yang masih diam membisu. Saat harapan tak sesuai dengan hasil yang didapat, sungguh rasanya benar-benar menusuk hati dan perasaan. Apa ini yang dinamakan dengan patah hati? Tersenyum miris, bukan hanya itu ... jujur saja ia kali ini menangis. Apakah dirinya termasuk cengeng? Entahlah. Hanya saja rasa sedihnya benar-benar terasa menyakitkan hingga membuat air matanya turun begitu saja. “Hasil yang benar-benar tak bisa ku prediksi. Tadinya ku pikir kamu bakalan menerima, tapi ternyata ...” Sebagai cowok, ia bukan tipe yang egois, memaksakan apa yang diinginkan harus tercapai. Eren menolaknya, itu artinya memang harusnya begini. Hanya sekadar kekasih, sampai di situlah hubungan keduanya. Bertahan selama ini di sini hanya ingin dekat dan mendapatkan dia secara normal, tanpa campur tangan orang tua dia ... tapi sepertinya keinginan itu tak akan ia dapatkan. Melepaskan benda berbentuk lingkaran itu hingga jatuh dari pegangannya dan berlalu pergi begitu saja dari sana.     ---000---   Eren kembali pulang dalam keadaan matanya yang sembab. Bagaimana tidak, ia sedih saat harus memberikan jawaban itu pada Zean yang nyatanya ia cintai. Sampai di dalam rumah, ternyata ada Ken yang duduk di ruang keluarga sambil membaca buku. Takut ditanya, ia langsung saja kabur menuju kamarnya. “Ren, kamu kenapa?!” Panggilan Ken tak ia hiraukan. Sampai di kamar, langsung mengunci pintu agar tak ada siapapun yang bisa masuk. Sungguh, kali ini ia butuh ketenangan. Biasanya saat sedih, ada Zean yang berada di sampingnya, tapi sekarang justru permasalahannya ada pada cowok itu. “Ren, buka pintunya!” teriak Ken di depan pintu kamar. “Aku mau istirahat, jangan mengangguku!” pekiknya membalas. “Zean yang bikin kamu nangis, ya?” Pertanyaannya tak mendapatkan jawaban. “Berarti benar. Kamu tenang aja, Kakak akan bikin dia menyesal sudah bikin kamu nangis.” Ken langsung saja melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah berjalan, Eren memanggilnya. “Bukan dia yang bikin aku nangis. Dia nggak salah apa-apa,” ujarnya langsung. Ken kembali menghampiri adiknya itu. Lihatlah, matanya sampai sembab karena menangis. Entah apa yang sudah terjadi antara dia dan Zean. Karena setahunya, hari ini sobatnya itu akan memberitahukan segalanya. “Zean sudah mengungkapkan semuanya, ya,” tebak Ken. Pandangan menelisik diberikan Eren pada kakaknya itu. “Maksud Kakak apa?” “Sebenarnya Zean menyukaimu. Lebih tepatnya sejak awal aku dan dia kenal dan bertemu denganmu.” Ayolah, bagian ini saja ia sudah sedikit kaget mendengarnya. Kata Ken, Zean menyukai dirinya dari awal, tapi kenapa dia bersikap begitu menyebalkan padanya? “Dia mengetahui apapun tentang kamu dari hal terkecil sekalipun. Saat dia bersamamu, menjemputmu sekolah, mengantarmu, menemanimu ... jujur saja, itu bukan permintaanku. Justru semua dia yang menginginkan itu.” Rasa kaget kedua kembali menyerangnya. “Jangan bercanda, Kak,” respon Eren. “Apa aku pernah bercanda?” Eren menggeleng cepat. “Aku, Papa dan Mama ... melarangmu pacaran, bukan karena apa-apa. Justru kami ingin Zean yang bersamamu. Aku mengenalnya, begitupun dengan Papa dan Mama yang ternyata merupakan sahabat dari almarhumah mamanya Zean.” “A-pa? Jadi kalian semua sengaja agar aku dan Kak Zean dekat. Begitukah?” Ken menghapus bekas air mata di pipi Eren. “Zean itu cowok baik-baik. Aku mengenalnya apapun itu. Seperti dia mengenalmu dari hal terkecil sekalipun. Dia tak punya hubungan dengan gadis manapun semenjak pertama kali ketemu sama kamu.” Eren tersenyum sinis saat mendengar semua itu. Kemudian bersidekap dadaa dihadapan Ken. “Kalian semua membuatku benar-benar terlihat bodoh, ya.” “Bodoh di bagian mana, Dek? Zean itu memang yang terbaik dan kamu juga mengakui itu, kan. Dia memang menyebalkan, tapi itu hanya untuk menutupi rasanya padamu agar tak terlihat. Dia menjaga jarak denganmu selama ini, agar rasanya ke kamu tak kamu rasakan. Sekarang dia mengungkap, apa itu salah?” Eren menangis. Kemudian menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. “Kakak yakin Zean nggak bakalan kecewain kamu. Oke, kita memang tahu semua niat Zean, tapi dia nggak pernah setuju dengan campur tangan Mama dan Papa untuk bisa memilikimu secara instan. Intinya, kamu dan dia bersama itu karena perasaan masing-masing,” terang kenzie memberikan penjelasan. Menyingkirkan tangan dan menghapus wajahnya dengan kasar. “Dan sekarang kakak tahu ... dia mengajakku menikah.” Ken menghembuskan napasnya berat. “Kamu benar, Ren. Papa, Mama dan aku memang sudah berencana menjodohkan kamu dengan Zean.” “Ken benar, Nak.” Sahutan itu datang dari Wira. Kedatangan laki-laki paruh baya itu seketika membuat Eren cemas. Ya, ia cemas kalau papanya sampai tahu bagaimana hubungannya dan Zean. “Papa, aku ...” “Serena ... Papa, Mama dan Ken memang merencanakan semua ini. Tapi untuk Zean, kamu jangan salah paham. Dia nggak salah apa-apa dalam masalah ini.” Eren mengarahkan tatapan fokus pada papanya. “Kalian semua membohongiku,” responnya beranjak dari posisinya berniat pergi. “Papa mau bicara dan kamu mau pergi,” komentar Ken menahan niat Eren agar tetap di posisinya. Langkah Eren kembali terhenti ketika sang kakak mengomentari sikap tak sopannya. “Apa yang dikatakan Ken semuanya memang benar. Kami memang berniat menjodohkan kamu dengan Zean, tapi dia menolak. Dia berpikir kalau kamu pasti tak akan setuju. Makanya, kami semua tak mengatakan secara langsung, karena Zean ingin semua mengalir secara alami, bukan paksaan. Dan sekarang ketika semua tercapai dengan normal, apa pantas kamu tetap menyalahkan Zean?” “Tetap saja semuanya membohongiku,” responnya tetap tak setuju dengan penjelasan yang diberikan papa dan kakaknya. “Di bagian mana yang bohong, Ren? Kamu dan Zean sekarang begitu dekat, bukan karena rencana perjodohan itu. Dia mencintaimu, begitupun sebaliknya karena memang begitulah kenyataannya.” “Aku memang iya, tapi aku nggak tahu dia ...” Ken merasa kesal atas sikap Eren yang ... oke, dia memang masih labil. Tapi, bisa, kan, membandingkan mana sikap yang tulus dengan sebuah keterpaksaan. “Dia sudah melakukan sampai sejauh ini dan kamu masih berpikir kalau ini masih ada kaitannya dengan perjodohan? Ku akui, di luar pelajaran pun kamu memang bodoh, Ren. Setidaknya kamu juga bodoh dalam menilai perasaan seseorang.” Setelah mengatakan hal itu, Ken memilih keluar dari sana, meninggalkan Wira dan juga Eren. Entahlah, takutnya kalau kesalnya berlebihan, malah membuat adiknya ini merasa didesak. Wira menghela napasnya, mencoba tetap tenang memberikan penjelasan pada putrinya. “Sayang ... papa tahu, kalau kamu tak memahami semua ini.” Eren mengarahkan pandangan pada papanya dengan tajam. “Aku memang masih SMA, tapi untuk masalah ini aku benar-benar paham, Pa. Semua kebohongan ini harus diakhiri, sebelum terus berlanjut ke yang lebih serius.” Air matanya kembali tumpah. “Ini bukan kebohongan lagi, Ren.” Ia menarik napasnya dalam. “Papa tahu nggak, selama ini aku hanya bergantung sama Kakak. Bahkan apapun itu, sekecil apapun permasalahanku, dia yang mengatasi. Tiba-tiba Kak Zean bersikap begitu baik padaku, bahkan seolah ingin menggantikan posisi Kak Ken. Sekarang aku benar-benar jatuh padanya, tapi ternyata semua ini adalah rencana kalian semua.” “Zean itu benar-benar cinta sama kamu, Nak.” “Aku sekarang jadi bingung, Pa ... mana yang benar dan mana sebuah kebohongan.” “Zean adalah sebuah kebenaran. Bahkan dia sekarang menginginkan kamu, kan.” “Ya ... dia bilang begitu, tapi aku menolaknya,” ungkap Eren dengan rasa nyesek.  Iya, ia benar-benar ingin menangis saat mengingat kalau sudah menolak Zean. Hanya saja sekarang berasa begitu sakit, menyadari kalau itu sudah direncanakan. Zean mengungkap semua itu padanya karena sebuah perjodohan. Terlihat raut kaget di wajah Wira saat mendengar perkataan Eren. “Aku nggak mau hidup tanpa cinta. Aku juga nggak mau dia bersamaku karena paksaan. Berakhir adalah jalan yang terbaik,” ujar Eren merebahkan badannya di kasur, memunggungi papanya. Wira memijit pelipisnya yang terasa nyeri, kemudian beranjak dari posisinya menuju pintu. Berharap tadinya kalau Eren akan bersama dengan Zean, hingga ia dan istrinya tak membuat Ken harus terus menjaga Eren lagi. Tapi ternyata, akhirnya malah jadi seperti ini. “Dan saat kamu menolaknya, itu adalah pertemuanmu yang terakhir dengannya.” Setelah mengatakan itu, Wira berlalu keluar dari kamar Eren.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN