BAB : 28

1643 Kata
Saat pelajaran terakhir usai, ponselnya berdering. Terlihat, nama Zean lah yang tertera. “Ya, Kak?” “Aku tunggu di depan gerbang, ya.” “Oke,” jawabnya. Segera membereskan peralatan tulisnya ke dalam tas. Selesai, ia pun keluar dari kelas dengan langkah cepat. Dari kejauhan terlihat sosok yang meneleponnya barusan sudah berdiri di samping mobil. Langkahnya semakin ia percepat dan senyuman hangat pun menyambutnya. “Kakak udah lama?” “Nggak,” jawabnya sambil membukakan pintu mobil untuk Eren. Zean melirik waktu di jam tangannya saat keduanya sudah berada dalam mobil. “Hari ini nggak ada pelajaran tambahan, jadi ... hari ini jadwalmu bersamaku.” Dahi Eren berkerut mendengar pernyataan Zean. “Kenapa ekspressimu begitu? Kamu nggak mau nemenin aku?” “Tumben.” “Masih berharap hadiah ulang tahun dariku?” “Beneran?” Wajahnya seketika sumringah saat mendengar itu. Ayolah ... tadinya ia memang rada kesal saat Zean tak memberikannya sebuah kado ulang tahun untuknya. Padahal kan keduanya baru jadian, masa nggak ngasih apa-apa. Cincin mainan harga seribuan kalau Zean yang ngasih pun bakalan ia terima dengan senang hati, kok. Tapi senyuman Eren kembali memudar. “Apalagi?” “Kak, Kak Ken tahu, kan kalau kita pacaran. Bagaimana dengan Mama sama Papaku? Aku takut kalau mereka ...” Sebuah ciuman di bibirnya langsung membungkamnya untuk diam. Hanya sekilas, tapi mampu membuatnya seolah melupakan ketakutan itu. Zean menyentuh bibir Eren dengan jemarinya. “Cukup memikirkan aku saja, jangan yang lain.” Eren memberengut. “Itu masalah besar dan Kakak malah memintaku untuk tak memikirkannya. Yang benar saja. Aku memang rada ngeselin, tapi kalau sampai orang tuaku marah dan kesal, aku juga takut dosa. Apalagi jika mereka sampai tahu aku dan kamu malah ... pacaran.” Zean tak membalas lagi perkataan Eren. Sepertinya menjelaskan seperti apapun saat ini tak mengubah pemikiran dia. Kecuali jika dia sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jadilah, Zean mengantarkan Eren pulang ke rumah. Saat sampai, ia menahan gadis itu yang akan bersiap turun. Keduanya turun dari mobil. “Ganti seragam mu, ya ... kita jalan.” “Jangan membawaku ke toko buku lagi,” ingatkan Eren. Pengalaman menyebalkan ... saat Zean mengajaknya kencan, tapi malah berakhir di toko buku. “Kali ini enggak,” balas Zean tersenyum. Zean menunggu di ruang tamu, sementara Eren segera menuju kamar. Berpapasan dengan Bibik yang dari arah dapur. “Bik, kok sepi?” “Nyonya lagi di rumah sakit, kalau Tuan Bibik nggak tahu, Aden ke kampus, Non,” terang wanita paruh baya itu. “Bik, bikinin minuman, ya ... ada Kak Zean,” pintanya. “Baik, Non.” Ia segera melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk berganti pakaian. Entah kemana Zean akan membawanya, yang jelas ia nurut saja. Asalkan tak ke toko buku lagi. Setelah rapi dengan mengenakan rok selutut, atasan senada dan sepatu kets ... ia pun kembali turun menghampiri Zean. “Udah, Kak,” ujarnya. Zean memandanginya dari atas hingga bawah. Seolah-olah ingin mengomentari dirinya saja. “Kenapa?” tanya Eren dengan tatapan Zean. Zean tak menjawab, tapi dia malah menarik kunciran rambutnya hingga terlepas. “Kenapa dilepas, sih, Kak?” Bukan apa-apa, hanya saja ia merasa gerah kalau digerai begini. Apalagi saat di luar ruangan. “Lebih manis seperti ini.” Tak sampai di situ, Zean malah dengan santainya mencium bibirnya. Membuat jantungnya seakan berdisco ria mendapatkan perlakuan menegangkan itu. Eren mendorong Zean agar menjauh dan ciuman itu langsung  terlepas. “Ih, Kak Zean apaan, sih.” “Kenapa?” Eren menarik tangan Zean agar segera pergi dari sana. “Bik, aku pergi sama Kak Zean!” Teriaknya agar Bibik yang pasti ada di dapur, bisa mendengarnya dan berlalu pergi dengan Zean yang ia seret keluar dari rumah. Yang benar saja cowok ini tingkahnya. Awalnya dia kalem, cool, diem ... tapi sekarang saat hubungannya dan Zean makin dekat, dia justru makin gila. Bukan, lebih tepatnya dia seperti ingin melakukan sesuatu yang terus membuat dirinya jantungan. Tiba-tiba memeluk, tiba-tiba bilang sayang, dan parahnya itu ketika dia melakukan ciuman yang tak pada tempatnya. Sampai di dalam mobil, ia tunjukkan tampang kesalnya pada Zean. “Kenapa?” Eren memukul lengan Zean. “Kalau melakukan itu jangan di tempat yang ...” “Haruskah ku lakukan itu hanya di kamar padamu?” “Kak Zean ... jangan membuatku jantungan,” rengeknya. Serius, rasanya kalau bersama Zean ia merasa seakan ingin bermanja-manja terus. Di kamar katanya? Dikira dirinya dan Zean suami istri ... yang bisa seenaknya masuk kamar berduaan. Zean menggenggam tangan Eren. “Ren, kamu percaya padaku, kan?” “Maksudmu?” “Percaya jika aku bisa menjagamu, percaya jika saat kamu butuh, aku bisa jadi tempatmu bersandar?” Tentu saja Eren mengangguk cepat. Bukan hanya sekadar jawaban yang ia berikan, karena semua itu sudah ia dapatkan dari Zean. Mungkin hanya saat Zean sudah menjalin hubungan dengannya ia sadari, tapi justru kini dirinya merasa sikap Zean sebelumnya sudah merupakan pendekatan padanya. Tentunya dengan cara dan sikap yang menyebalkan. Zean tersenyum, berniat kembali mencium Eren, tapi dia justru mengelak. “Kenapa suka sekali menciumku, sih?” “Karena rasanya manis,” jawabnya. Dahi Eren berkerut. Padahal ia juga tak dalam keadaan makan permen. Kenapa rasanya manis? Untuk memastikan, ia sampai merasakan bibirnya sendiri. Zean malah terkekeh melihat tampang polos Eren. “Manis apanya? Biasa aja.” Menatap ke arah Zean sambil berpikir. “Atau justru malah bibirmu yang manis?” Ia menarik kerah kemeja Zean, hingga cowok itu tertarik dengan cepat kearahnya. Kemudian langsung mencium bibir Zean. Kalau mencium, ia sudah beberapa kali melakukan itu pada Eren. Tapi kalau mendapatkan ciuman, justru baru kali ini ia rasakan. Bukan kaget lagi, tapi justru rasanya benar-benar berbeda, ya. Eren melepaskan ciuman itu, kemudian tersenyum manis pada Zean. “Kakak ... aku sayang padamu,” ucapnya langsung menghambur memeluk Zean erat. Biasanya hanya dirinya yang melakukan, tapi sekarang justru sebaliknya. Jujur saja, ini benar-benar membuatnya kaget. Saking bingungnya, ia tak tahu harus bersikap seperti apa. “Eren, kamu baik-baik saja, kan?” “Tentu saja.” “Sikapmu berubah.” “Ingin berubah.” “Kenapa?” “Aku nggak mau sikapku padamu, ku samakan dengan sikapku pada Kak Ken. Kamu itu pacarku, sementara Kak Ken adalah kakakku.” Iya, maaf saja jika tadinya ia merasa membutuhkan Ken itu sama hal nya dengan membutuhkan Zean. Tapi kini ia tak bisa seperti itu ... karena mereka berdua adalah sosok dengan status yang berbeda. “Aku lebih butuh kamu untuk perasaanku,” ungkapnya semakin menenggelamkan wajahnya di dekapan Zean. “Aku mau Kak Zean terus bersamaku. Aku tahu, ada Kak Ken ... tapi dia juga punya kehidupan sendiri. Aku nggak mau repotin dia terus dengan permasalahanku.” Zean ingin melepaskan Eren dari pelukannya, saat suara serak itu terdengar. “Karena mengurusku dia hanya bisa diam di rumah. Kebebasannya terhalangi karena menjagaku.” Zean mengelus lembut kepala Eren. “Kamu salah. Ken itu nggak pernah permasalahin perihal menjagamu. Itu keinginannya sebagai seorang kakak, yang ingin adiknya bahagia.” Eren mengangguk. “Tapi aku bikin dia kecewa.” “Bisa membalas dengan membuatnya bahagia, kan?” Kali ini Eren melepaskan pelukannya pada Zean. “Maksudnya?” Zean menghapus bekas air mata yang membasahi pipi Eren. “Nanti kita bahas.” Keduanya segera berlalu pergi, menuju tempat yang bahkan Eren tak tahu akan dibawa kemana. Beberapa saat perjalanan, Zean menghentikan laju mobilnya di dekat pinggiran danau. Hanya dilihat dari dalam mobil saja, sangat jelas betapa bagusnya suasana di luar sana. “Kak, ini maksudnya apa?” tanya Eren. “Nanti ku jelaskan,” balas Zean segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Eren. Zean mengamit tangan Eren dan membawanya menuju sebuah meja. Meja dengan hiasan yang lengkap dengan makanan di atasnya. Tak hanya itu, dekorasi di sekitar terlihat juga indah. Seperti memang sengaja ditata. “Ini semua apa?” Masih celingak-celinguk kebingungan. “Hanya mengajakmu untuk makan di ruangan terbuka,” ungkap Zean. “Hanya itu?” Zean tak menjawab, tapi malah mempersilahkan Eren untuk duduk. Kemudian ia duduk di kursi yang berhadapan dengan gadis itu. “Anggap saja ini makan siang romantis,” ujar Zean. Ingin tertawa rasanya. Ya, jujur saja ... kalau Zean ini memang bukan cowok romantis. Hanya saja saat bersikap manis, auto bikin dirinya klepek-klepek. “Yang jelas makannya bersamamu.” Keduanya menikmati makan siang bareng sambil mengobrol. “Kak Zean, boleh nanya sesuatu?” “Hmm,” angguk Zean kembali meletakkan ponselnya di meja. “Apa?” “Orang tuamu dimana?” “Mamaku udah meninggal saat aku masih SD, kalau papaku ada ... hanya saja sudah menikah lagi,” jawab Zean. Mendengar jawaban Zean, malah membuat Eren merasa tak enak. Harusnya ia tak bertanya hal barusan. Dasar mulutnya, nggak bisa dikontrol saat melemparkan sebuah pertanyaan. “Maaf, Kak ... aku nggak bermaksud membuatmu sedih.” “Apa aku kelihatan sedih?” Tampang Zean itu kebanyakan datarnya, jadi ia bingung saat memastikan dia dalam keadaan senang, sedih, ataupun kesal. Lebih tepatnya, dia terlalu tampan hingga hanya membuat ia fokus ke wajah itu. “Aku hanya fokus ke wajahmu, bukan ke ekspressi wajahmu,” balas Eren jujur. Yajelas, tampang cogan gitu mana bisa bikin berpaling ke yang lain. Zean malah terkekeh mendengar perkataan Eren.  “Aku mau bicara serius denganmu,” ujar Zean. Kadang ia heran, loh, ya ... saat Zean bilang ingin bicara serius. Apa dia tak menyadari kalau dia selalu serius. Jadi, mau dia tak mengatakan pun, dirinya akan menganggap dia sedang serius. Eren menatap fokus pada Zean. “Mau bicara apa?” Zean beranjak dari kursinya, kemudian menghampiri Eren. Tiba-tiba saja dia berlutut dihadapan gadis itu dengan bertumpu pada satu lututnya. “Kakak mau ngapain?” tanya Eren bingung saat Zean bersikap begitu. “Kamu mau, kan, jadi milikku, Serena?” Serena tersenyum menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Zean. “Kak Zean, aku kan sudah jadi milikmu.” “Menikahlah denganku,” ujar Zean dihadapan Eren, dengan sebuah cincin yang ia tujukan pada gadis itu.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN