Hanya tidur-tiduran di rumah sakit, rasanya itu sesuatu banget loh. Sebagai makhluk yang diciptakan dengan sikap aktif yang luar biasa, tentu saja ini terasa menyiksa. Lebih menyiksa lagi saat memikirkan Kenzie. Karena masalah kemarin, sampai hari ini dia tak menampakkan wajah lagi di depannya. Ngenes banget rasanya. Seperti sebuah amunisinya untuk bertahan hidup tiba-tiba habis. Padahal kemarin dirinya lah yang bersikap aneh duluan pada dia.
Seorang dokter masuk dan menghampirinya.
“Dokter, saya udah boleh pulang, kan. Di sini ngebosenin banget. Toh saya juga nggak kenapa-kenapa, dok,” terangnya dengan nada memberengut.
Dokter itu tersenyum padanya.
“Untuk itulah saya ke sini memeriksa kondisimu. Sekalian, kita cek darah ... untuk memastikan.”
“C-cek darah?” Memasang muka panik.
“Iya.”
“Itu artinya, darah saya diambil gitu, kan, dokter?”
“Namanya cek darah, tentu saja harus ngambil sample darahmu dong, Sayang,” tambah Norin menjelaskan.
Demi apalagi ini, dirinya harus dihadapkan dengan benda yang bernama jarum suntik? Ini benar-benar mengerikan. Cukup sudah dihadapkan dengan sebuah jarum infus di pergelangan tangannya, dan sekarang ia harus ditusuk dengan benda kecil itu.
“Dokter, bisa nggak, sih ... cek darah tanpa menggunakan darah? Serius ... ini benda luchnut benar-benar menakutkan.”
Ia yang tadinya dalam posisi rebahan, kini sudah beringsut duduk.
“Kalina, ini hanya jarum suntik, kok,” ujar Norin.
Iya, jarum suntik yang kalau menusuk kulitnya akan tetap terasa sakit. Meskipun tak sesakit saat Ken bilang kalau dia punya pacar, sih, tapi beda-beda sakit.
Dokter menyiapkan jarum suntik, kesempatan baginya untuk kabur. Langsung ia turun dari tempat tidur dan dengan cepat berlari menuju pintu. Saat pintu terbuka, bersamaan dengan seseorang yang hendak masuk. Jadilah, keduanya tabrakan.
“Kak, Ken.”
“Kalina, kamu mau kemana? Jangan kabur-kaburan gitu deh,” heboh Norin.
“Kabur?” tanya Ken menatap gadis yang ada dihadapannya kini.
Kalina tak merespon, ia langsung saja melanjutkan niatnya. Apa daya, Ken malah menahannya.
“Kamu mau kemana?”
“Aku nggak mau cek darah,” hebohnya.
“Hanya cek darah dan kamu kabur?”
“Ada jarum suntiknya, Kak.”
Ken memutar bola matanya saat mendengar rengekan Kalina yang tak jauh berbeda dengan Serena. Apa semua gadis harus bersikap seheboh ini jika dihadapkan pada jarum suntik. Benar-benar merepotkan saja.
Ken menarik Kalina untuk kembali masuk. Tak hanya itu, dengan santainya dia malah mengangkat tubuhnya naik kembali ke tempat tidur. Membuat jantungnya seakan mau copot di saat itu juga.
Dokter sudah bersiap dengan suntikan yang akan menembus lengan Kalina, tapi lagi-lagi dia tarik tangannya untuk menjauh.
“Dokter, nggak usah pake cek darah segala,” ujarnya.
Ken menghampiri dan memegangi tangan Kalina, kemudian menatap fokus pada gadis itu.
“Kalau hasilnya bagus, kita dinner nanti malam,” ujar Ken.
Seakan napasnya terhenti saat mendengar perkataan Ken. Ayolah, apa pendengarannya sedang tak sehat. Atau, justru Ken yang tak sehat? Dinner, katanya. Sudahlah, jangan lupakan kalau Ken ini adalah sejenis cowok kalem bin PHP perasaan.
Kalina mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat apa yang dikatakan Ken tak akan ia masukkan ke dalam hati. Lebih tepatnya akan ia anggap sebagai sebuah keinginan yang nggak akan terwujud sampai kapanpun. Ia juga nggak akan lupa dengan apa yang dikatakan Ken. Dia punya pacar, bukan hanya pacar ... justru menginginkan pernikahan.
Saat hatinya gundah, tiba-tiba ia langsung terpekik saat rasa ngilu terasa di lengannya.
“Dokter! Kalau mau nyuntik itu ngomong dulu dong. Sakit, nih,” umpatnya.
“Ini udah selesai, kok,” balas dokter menutup bekas suntikan dengan kapas kecil dan plester.
“Udah selesai?” Memeriksa lengannya yang sudah ditempeli plester.
“Kahebohan luar biasa hanya karena satu suntikan kecil,” gerutu Ken menjauh dari Kalina dan duduk si sofa.
Ia berfokus pada ponselnya.
“Ken, kamu nggak ke kampus?” tanya Norin pada Putranya.
“Iya.”
“Serena sudah berangkat sekolah?”
“Udah.”
“Udah sarapan, kan?”
“Hmm,” angguknya.
Kalina malah menggerutu sendiri melihat sikap Ken. Dia kehabisan stok kalimat kah di otak? Kenapa jawabannya sebegitu singkatnya. Dibandingkan dengan dirinya, itu laksana langit dan bumi. Apa memang ini yang dinamakan dengan tidak jodoh.
“Tante nggak kesal gitu?” tanya Kalina pada Norin.
“Kesal?”
“Tante nanya, masa jawabannya cuman sepenggal kata doang. Kalau aku, sih, ya ...”
Tatapan tajam Ken membuatnya terhenti bicara. Laksana sebuah tanggul, sorot mata itu memaksanya berhenti bicara.
“Hmm ... nggak jadi, Tan,” lanjutnya pada Norin.
Ken beranjak dari duduknya berniat untuk keluar dari ruangan itu.
“Kamu mau kemana?”
“Keluar.”
“Belum mau ke kampus, kan?”
Ken menggeleng.
“Kamu di sini bentar, temenin Kalina. Mama mau telepon papa kamu dulu,” ujar Norin segera berlalu keluar dari sana, meninggalkan Ken dan Kalina.
Ingin teriak. Paham, kan, bagaimana perasaannya saat ini? Ken hanya berdua dengannya di sini dan ia malah berada dalam titik rasa kesal. Apalagi masalahnya kalau bukan tentang pacar Ken.
Hanya diam membisu. Ken duduk di kursi, sedangkan Kalina duduk di atas tempat tidur. Sungguh, hati dan matanya tak bisa diajak menjauh dari sosok cowok itu. Seperti sebuah maghnet yang terus menariknya pada Ken.
“Kamu kenapa, sih? Ada masalah?” tanya Ken buka suara.
Terlihat, Kalina sedikit tersentak saat mendapatkan pertanyaan itu. Padahal tadinya ia pikir Ken tak akan bicara, tapi justru dia yang memulai pembicaraan. Apa ini sebuah kabar gembira? Entahlah.
“Hmm ... nggak ada apa-apa,” jawabnya.
Ken kembali beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat pada Kalina. Menatap fokus pada gadis itu, bahkan menelisik penuh rasa penasaran.
“Aku tahu saat sesorang kesal padaku dan kamu sedang melakukan itu, Kalina,” ujar Ken berdiri tepat dihadapan Kalina.
Nyali Kalina ciut seketika jika dihadapkan dengan Ken yang berada di depannya seperti ini. Ayolah ... berharap banyak ada seseorang yang masuk ke ruangannya hingga situasi ini segera berakhir. Berasa mau meninggoy.
“Nggak ada apa-apa, kok, Kak. Serius,” tambahnya meyakinkan Ken. Asal tahu saja, jantungnya sekarang benar-benar tak beraturan detakannya. Semoga ia tak terkena serangan jantung.
“Lihat aku,” pinta Ken.
Yakali ia seberani itu mampu dan sanggup menatap mata Ken. Berada dekat seperti ini saja ia auto gemetaran, apalagi menatap matanya yang tajam itu.
“Kalina.”
Kalina berniat turun dari tempat tidur, agar bisa menjauh dari Ken, tapi apa akhirnya? Dia justru dengan cepat menahan niatnya.
Menangkup wajah Kalina agar fokus gadis itu hanya padanya. “Aku sedang bicara padamu dan kamu malah mengabaikanku.” Ken tersenyum. “Mau cari masalah, ya, denganku?” tambahnya sedikit berbisik.
Memejakan matanya, saat tatapan Ken seakan akan mau membunuhnya detik itu juga. Jangankan berharap nyata, bahkan di mimpi pun ia belum pernah berada sedekat ini dengan Ken. Jadi, wajar saja jika ia benar-benar takut. Siapapun, tolong dirinya.
Pintu tiba-tiba dibuka dari arah luar, membuat keduanya tersentak kaget saat mendapati Norin lah yang kembali. Ken langsung saja berlalu dari hadapan Kalina dengan santai, meninggalkan senyuman manis pada gadis itu.
“Aku pamit ke kampus, Ma,” ujar Ken mencium punggung tangan mamanya dan berlalu pergi begitu saja. Dan tentu saja menutup pintu dengan akhir lirikan tajam pada Kalina.
Reaksi Ken membuat Norin sedikit bingung. Mengarahkan pandangan pada Kalina, justru semakin membuatnya bingung. Bagaimana tidak, wajah gadis itu terlihat memerah. Tak hanya itu, raut kaget juga masih tercetak jelas dari reaksinya.
“Ken lakuin sesuatu sama kamu, Sayang?” tanya Norin pada Kalina. Bukan apa-apa, hanya curiga saja ... karena biasanya Ken kan suka nyari masalah sama adiknya, maupun Kalina yang sebagai sahabat Eren.
“Ah, eng-nggak kok, Tante,” jawabnya sedikit ragu-ragu. Andai saja beliau tahu, kalau Ken itu benar-benar sedang mempermainkan perasaannya.