BAB : 26

1333 Kata
  Pagi ini dirinya berangkat sekolah masih diantar oleh kakaknya tercinta, tersayang dan ternyebelin. Terkadang berharap banyak jika Ken segera punya gebetan agar tiap pagi dia punya tugas mengantar pacarnya kerja atau apapun itu. Hingga dirinya bisa bawa mobil sendiri. Berasa anak manja banget rasanya kalau harus diantar jemput sekolah dan kemanapun nggak dapat ijin bawa mobil. “Kakak kuliah?” tanya Eren saat mobil berhenti di dekat gerbang sekolah. Ken mengangguk menanggapi pertanyaan adiknya. “Kak Zean?” Ken memberikan tatapan tajamnya pada Eren. “Kamu pacarnya atau bukan, sih? Harusnya tahu kapan dia kuliah dan kapan jadwalnya libur. Jangan hanya dia saja yang mengetahui segalanya tentang kamu.” Eren memutar bola matanya malas saat ocehan Ken kembali menyerangnya. Padahal biasanya ia bertanya juga aman-aman aja, kenapa sekarang malah sewot. Fiks lah, dia memang lagi PMS. Menyambar dan mencium punggung tangan kakaknya itu. “Aku masuk dulu,” pamitnya. “Suruh dia menemuiku,” respon Ken dengan pandangannya yang masih lurus keluar. Eren yang tadinya sudah siap turun dari mobil, menghentikan niatnya. “Dia siapa?” tanyanya kembali fokus pada Ken. Ken menghela napasnya berat saat b**o adiknya tiba-tiba kumat. “Mantanmu, Serena,” ucapnya lantang. Eren langsung tercekat. Apa yang akan dilakukan kakaknya? Kenapa tiba-tiba malah berniat menemui Glenn. Sungguh, berharap sangat semua masalah ini akan terhenti sampai kemarin saja. Jangan dilanjutkan lagi. “Kakak mau ngapain?” “Dia sudah menyakitimu dan membuatmu menangis, tapi kamu abaikan. Sekarang lagi-lagi dia berulah, seolah-olah dengan sengaja memperlihatkan sikap buruknya dan memperpanjang masalah. Kamu terluka, bahkan sampai membuat Kalina masuk rumah sakit. Jadi, apa menurutmu kakakmu ini akan diam saja? Apa gunanya aku jadi kakak, tapi saat kamu butuh, aku malah mengabaikan.” Eren malah langsung mewek seketika saat mendengar perkataan Ken. “Cengeng.” Memeluk Ken sambil mewek. “Meskipun kamu selalu menjengkelkan, membuatku kesal tujuh tanjakan, tapi tetap saja kamu paling perhatian padaku.” Ken mendorong Eren agar melepaskan pelukannya. “Aku sudah rapi mau ke kampus, jangan mengotori bajuku dengan ingusmu, bocah,” ledek Ken. Demi Ken yang gantengnya nggak ketulungan, terserah deh dia mau bilang apapun juga. Sebagai adik satu-satunya, ia bangga, kok ... punya kakak yang cogan. “Itu dia,” gumam Ken dengan pandangannya yang lurus keluar jendela mobil. Lebih tepatnya pada seseorang yang baru turun dari taksi. Langsung keluar dari mobil, melihat sikap Ken membuat Eren mulai cemas dan ikut turun. Apalagi fokus Ken tertuju pada Glenn yang baru turun dari taksi. “Kak, Kakak mau ngapain?” tanyanya mengekori langkah Ken, tapi tak mendapatkan jawaban. “Glenn!” Dia menghentikan langkahnya saat namanya dipanggil. Kemudian berbalik badan, tapi sebuah pukulan langsung menerjang wajahnya dengan kuat hingga membuatnya langsung tersungkur di jalanan. Pandangan siswa dan siswi yang kebetulan berada di sekitar tertuju padanya. Melihat sebuah kejadian yang dialami oleh Glenn, setidaknya ini adalah berita terupdate pagi ini yang harus diabadikan. “Kak, udah,” lerai Eren menahan niat Ken yang ingin kembali memberikan hantaman pada Glenn. “Jangan diteruskan.” Ken menginjak kaki Glenn yang masih meringis menahan sakit di rahangnya. “Pertama, elo sakiti Eren dan gue diam. Kedua,  masih lakuin hal yang sama, gue masih tetap diam. Dan sekarang, tetap saja masih berlanjut! Lo menyakiti Eren dan juga Kalina! Sepertinya diam bukan sesuatu yang pantas lagi gue berikan buat laki-laki busuk kayak elo!” Semakin menginjak kaki Glenn dengan kuat hingga cowok SMA itu semakin meringis. Ayolah ... ia bukan kasihan pada Glenn, tapi justru yang ia takutkan jika Ken lah yang membuat masalah. Ia tak ingin jika sikap kakaknya justru dimanfaatkan Glenn untuk menjatuhkan. “Mau melanjutkan urusan ini, lanjut aja sama gue. Jangan bawa-bawa Eren lagi!” emosi Ken. Kembali merapikan kemejanya, kemudian berlalu pergi dengan santai ... tentunya setelah meninggalkan satu kali tendangan pada Glenn. Eren mengikuti langkah Ken yang berjalan kembali ke mobil. Sampai di dekat pintu mobil, Ken menghentikan langkahnya. Menatap fokus pada Eren. “Kalau dia menyakitimu lagi, balas saja. Jangan terus mengalah hanya karena dia laki-laki.” “Kakak lihat Kalina, kan ... dia menentang Glenn, tapi malah terluka.” “Tisu,” pinta Ken pada Eren yang langsung menyodorkan telapak tangannya. Gadis itu merogoh tas nya ... mengeluarkan tisu dari dalam sana dan memberikan pada Ken. “Setidaknya dia tak memandangmu remeh lagi,” lanjut Ken sambil mengelap tangannya dengan tisu basah. Ia tak ingin tangannya terkena virus buruk dari Glenn karena menyentuh dia saat menonjok tadi. Biasanya ia akan melawan menggunakan otak saja, tapi ternyata Glenn butuh pelajaran fisik juga. Eren malah senyum-senyum nggak jelas sambil memandang ke arah kakaknya. “Kenapa kamu?” “Kakak sedang memikirkan aku atau justru kesal karena Kalina terluka, sih?” tanyanya sambil menaik-turunkan alisnya penuh telisik. “Ck, yang benar saja aku memikirkannya. Maaf ... aku punya banyak urusan yang lebih penting daripada harus memikirkan temanmu yang menyebalkan itu.” Eren menunjuk ke arah Ken. “Nah, nah ... itu, tuh yang semakin membuatku memikirkan sesuatu.” Ken bersidekap d**a dihadapan adiknya. “Memikirkan apa, hem?” “Kakak menyukai Kalina, kan? Ayolah, Kak ... jangan sok jual mahal begitu. Pikiran mu sudah terekam jelas dalam benakku ini.” Ken meletakkan tangannya di atas kepala Eren. Kemudian menatap fokus pada adiknya itu. “Serena ... bisa tidak, jangan memikirkan hal-hal aneh seperti itu? Ada baiknya kamu hanya memikirkan pelajaran di sekolah. Sudah beberapa hari, kan, nggak mendapatkan jadwal tambahan belajar dariku dan Zean?” Eren mengerjap-ngerjapkan matanya saat Ken kembali ke mode Awal. Yap, saat pelajaran dan belajar yang dia anggap sebagai makanan tambahan oleh kakaknya itu. “Aku masuk dulu!” teriaknya langsung kabur dari hadapan Ken. Sungguh, ia tak mau menghabiskan waktu dengan belajar lagi. Ken tersenyum melihat kepergian Eren, hingga tersadar saat mendengar suara deringan ponsel di sakunya. “Ya, Ze?” “Lo di mana ... gue udah nyiapin semuanya, nih.” “Gue nganterin Eren ke sekolah. Tunggu bentar, gue otewe.” “Ok.” Serena segera menuju kelasnya. Baru juga duduk, tiba-tiba Sandra menghampirinya. Tak berpikir lagi, ia tahu apa yang akan dibicarakan mantan sahabat nya ini. “Gue tahu, kok ... lo pasti mau minta pertanggung jawaban tentang pacar lo yang dihajar sama Kak Ken,” ujar Eren langsung. “Mau lo apa, sih, Ren?! Gue tahu, kalau elo cinta sama Glenn, tapi bisa nggak, sih ... lo terima kenyataan kalau dia enggak suka sama lo? Kenapa malah terus berlanjut dan membawa Kakak lo untuk masalah ini.” Tadinya Eren bersikap biasa saja, karena justru ia tak mau lagi berurusan dengan hal menyebalkan ini. Hanya saja saat mendengar Sandra justru malah menyalahkan dirinya, tiba-tiba kekesalannya kembali memuncak. Menatap emosi pada Sandra. “Sandra! Lo dengar baik-baik, ya. Gue memang pernah cinta sama Glenn, tapi setelah dikhianati ... apa menurut lo rasa itu masih ada? Lo pikir dong pake otak. Jangan hanya karena cinta mati lo sama dia, malah nyalahin gue!” “Eren, lo ...” “Dan lo bilang kenapa terus berlanjut? Harusnya lo sadar, San. Lupa, ya ... kemarin apa yang terjadi sama Kalina. Bahkan saat dia dilukai oleh Glenn, lo malah diem kayak patung. Sekali lagi gue bilang, cinta gue sama Glenn udah gue lempar sama elo. Karena ada yang lebih baik dari dia. Paham!” “Kakak lo udah bikin dia terluka, Eren!” Sepertinya Sandra melupakan sesuatu, saat luka harus dibayar dengan luka. “Kenapa memangnya? Mau menuntut? Silahkan. Tapi jangan lupa, Kalina juga terluka karena Glenn. Kita juga punya hasil visum. Jadi, mau memilih jalan yang mana? Sama sama bersalah juga boleh. Tapi lo harus mikir, siapa yang mendahui semua ini?” tanya Eren bersidekap d**a dihadapan Sandra. Bahkan ia tak berharap lagi jika pernah menjalin persahabatan dengan Sandra. Kebenciannya pada Sandra, sudah seperti duri dalam daging yang seolah tak bisa dikeluarkan dengan gampang. Ini menyakitkan. Kesal dan tak tahu harus membalas seperti apalagi, Sandra memilih pergi dan kembali ke kursinya. Tadinya ingin menjatuhkan Eren dan Kalina karena membawa Ken untuk menyakiti Glenn, tapi ia melupakan sesuatu kalau Glenn kemarin lebih dulu melakukan kekerasan pada Kalina.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN