BAB : 24

1624 Kata
Mondar-mandir dengan rasa cemas yang menyelimuti hatinya. Bekas darah yang sudah mengering di seragamnya masih tercium bau anyir, itupun terabaikan akan perasaan cemasnya akan kondisi Kalina. Ayolah, sobatnya itu tak punya keluarga di sini, bagaimana mungkin ia bisa tenang. Pikiran buruk langsung menyeruak memenuhi isi otaknya. Berpikir jika luka yang dia terima hanya luka kecil, tapi ternyata lumayan dalam hingga harus mendapatkan beberapa jahitan. “Serena.” Panggilan itu membuat Eren yang panik dan khawatir seketika berbalik badan saat ada yang menyebut namanya. “Kak Zean.” Langsung saja ia menghampiri Zean dan memeluk cowok itu erat. “Aku takut Kalina kenapa-kenapa, Kak,” ujarnya. “Udah, kamu tenang aja. Dokter pasti akan melakukan hal yang terbaik,” terang Zean menenangkan hati Eren. Tak lama kemudian Ken juga datang. Tebaklah seperti apa tampang kakaknya itu saat ini. Berasa mengkhawatirkan kekasih pujaannya tahu, nggak. Itu terlihat jelas di wajah dia. “Di mana dia?” “Masih ditangani sama dokter,” Jawab Eren yang berada di sisi Zean. Tadi Eren yang sibuk mondar-mandir karena mengkhawatirkan Kalina, sekarang justru Ken yang melakukan itu. Entahlah, kenapa dia tiba-tiba jadi sekhawatir itu pada Kalina. Zean menepuk pundak Ken. “Lo bisa duduk diam nggak, sih. Tenang,” ujarnya saat melihat sikap sobatnya yang ... ia juga tahu, kok, seperti apa kekhawatiran Ken. Pintu ruang UGD dibuka dari arah dalam, menampakkan seorang dokter yang keluar dari sana. Ketiganya langsung menghampiri demi memastikan kadaan Kalina. “Dok, gimana keadaan Kalina?” tanya Eren. “Dia baik-baik saja, kan?” tambah Ken. Dokter mengangguk dengan iringan senyuman. “Dia baik-baik saja. Hanya saja lukanya lumayan dalam, hingga mengharuskan untuk dijahit. Efek benturan juga membuatnya mengalami gegar otak ringan.” Awalnya Eren sudah mulai tenang, tapi mendengar bahwa Kalina sampai mengalami gegar otak ringan membuat rasa cemasnya kembali muncul. “Tapi itu nggak berakibat buruk, kan, dokter?” tanya Ken. “Untuk itu, pasien dalam dua hari ini harus berada dalam pantauan dokter. Kita lihat, bagaimana efeknya nanti. Tapi mudah-mudahan tidak berkelanjutan,” terang dokter menambahkan. Setelah Kalina dipindahkan ke ruang rawat inap, barulah mereka semua bisa bertemu dengan gadis itu. Ya, meskipun dia belum sadarkan diri, tapi setidaknya bisa melihat kalau dia sudah baik-baik saja. Entah apa yang sedang merasuki hatinya kini, bahkan saat melihat dia diam terbaring tak sadarkan diri begini membuat Ken begitu sesak. Biasanya gadis itu tak pernah diam, persis seperti Eren, tapi sekarang malah tak berdaya. “Kalina kayak gini gara-gara belain aku terus,” ujar Eren merasa dirinya adalah penyebab Kalina sampai seperti ini. “Kalau bukan belain aku, pasti dia nggak akan terluka.” Ken menghampiri Eren saat menyadari kalau ia malah mengabaikan keadaan adiknya. “Tapi kamu nggak apa-apa, kan, Dek?” Eren menggeleng. “Nggak, Kak.” Ken menanggalkan kemejanya, kemudian menutupi badan Eren. Setidaknya menutupi darah yang memenuhi seragamnya. “Sekarang kamu pulang dulu, ya ... diantar sama Zean. Ganti baju, istirahat.” “Aku mau mastiin Kalina baik-baik aja, Kak. Aku takut kalau dia ...” “Ada aku, kan, di sini,” timpal Ken meyakinkan adiknya. Kemudian beralih pandang pada Zean. “Lo bawa dia pulang, ya.” Zean mengangguk sebagai jawaban. Jadilah, sekarang hanya tinggal Ken yang menemani Kalina. Hanya fokus menatap wajah tak sadarkan diri itu ... dengan selang infus di pergelangan tangan dan juga sebuah perban yang menempel menutupi luka di dahinya. Sesaat Ken malah tersenyum sendiri. Gila banget, kan, dirinya ... tiba-tiba mengkhawatirkan Kalina seolah-olah dia begitu berharga baginya. “Arghh ... kepalaku,” ringisan Kalina membuyarkan pemikiran aneh Kenzie. “Kalina, kamu udah sadar.” Kalina merasa kepalanya sedang berdenyut-denyut, tapi saat mendengar suara seseorang yang begitu ia kenal dan melihat wajah dia ... seketika rasa sakitnya berubah jadi rasa kaget. Demi apa ia baru sadar, malah Ken yang justru menyambutnya. “Kak Ken ngapain di sini,” hebohnya langsung bangun dari posisi tidurnya saat mendapati ada Kenzie. Kepalanya memang mengalami benturan kuat hingga luka, tapi ia tak mengalami amnesia, loh, ya ... yang sampai melupakan sosok cogan yang ada dihadapannya ini. “Kamu masih ingat aku, kan? Tahu namaku, kan?” “Kakak pikir aku amnesia, hingga melupakanmu dan tak mengingat namamu.” Ken menghembuskan napasnya lega saat tadinya berpikir kalau Kalina akan mengalami amnesia, tapi syukurnya tidak. “Makanya ku pastikan.” “Kalaupun amnesia, aku sepertinya juga tak bisa melupakanmu begitu saja, Kak,” ujarnya. Tapi seketika langsung menutup mulutnya setelah menyadari apa yang ia katakan barusan. Memalukan sekali. Ingin rasanya menenggelamkan wajahnya di dalam tabung oksigen. “Maksudmu apa?” “Ah, enggak,” elaknya. “ Aku nggak amnesia, kok ... hanya saja merasa otakku sedikit mengalami pergeseran.” Ken menatap fokus pada Kalina, membuat gadis itu benar-benar dibuat menciut. Berusaha menghindari tatapan Ken, tetap saja otak dan pikirannya malah tak bisa diajak sinkron dengan matanya yang malah tak beranjak. Tersenyum aneh. “Kak, bisa tidak, jangan menatapku seperti itu? Aku takut, loh, ini.” “Kamu yakin baik-baik saja, kan?” Dia menanyakan keadaannya apakah baik-bak saja? Justru yang sepertinya yang tak baik di sini adalah Ken. Dia kenapa, sih? Kenapa jadi aneh begitu. Kepalanya yang terbentur, kenapa Ken yang seolah mengalami eror. “Aku baik-baik saja. Sangat baik. Lihat, kan ... hanya luka kecil.” Menunjuk jidatnya yang tertutupi perban. “Jadi, jangan terlalu cemas seperti itu. Aku jadi khawatir dengan pikiranmu saat ini, Kak.” Tadinya memperlihatkan wajah khawatir, sekarang malah berubah dingin. “Bisa tidak, jangan membuatku cemas akan dirimu?” “K-kenapa malah mencemaskanku?” Tiba-tiba ia malah jadi deg-deg’an. Mengerikan cuyyy ... dihadapkan pada situasi seperti ini. Mau pergi nggak bisa, mau menghadapi seakan mau pengsan. Kalau Glenn, mau ngajakin baku hantam pun hayuk aja. Tapi jika dihadapkan pada Ken, dahlah ... ia balik kanan. Nyalinya tak sekuat itu menghadapi cowo ini. “Menurutmu, kenapa aku mencemaskanmu?” “Hah?” “Saat seseorang mencemaskan dia yang sedang tak baik-baik saja, menurutmu itu rasa apa?” Kalina diam tak berkutik. Ia tahu jawabannya, hanya saja takut salah jawab. Bisa-bisa itu hanya mempermalukan dirinya sendiri. Tahu, kan ... Kenzie itu jenis manusia seperti apa? Yap, suka PHP. Bukan, lebih tepatnya suka bikin melayang, setelah baper dia malah bikin kesal. “Kenapa diam? Dengar pertanyaanku, kan?” Memutar bola matanya liar. Bukan memikirkan jawaban, tapi justru mencari cara untuk melarikan diri dari kenyataan membingungkan ini. Kerennya tiba-tiba ponselnya yang ada di nakas berdering. Dengan cepat ia sambar, tapi seketika matanya membola saat melihat kalau yang menghubunginya adalah mamanya. “Telepon dari siapa?” “Bukan siapa-siapa,” jawabnya menyembunyikan benda pipih itu dibalik bantal. “Pacarmu, ya?” Pacar apaan, sih, katanya. Tak tahukah Ken kalau dirinya berharap dialah yang menyandang status itu. Abaikan kehaluannya yang terlalu berlebihan. Takut kejengkang dan itu pasti menyakitkan. “Pacar apaan, sih,” gerutunya. Ken malah mengambil ponsel milik Kalina yang ada dibalik bantal. “Kak, jangan diambil,” hebohnya. “Aku mohon, jangan jawab,” berniat mengambil alih ponselnya yang ada di pegangan Kenzie. Mata Ken fokus pada nama yang tertera di layar ponsel, kemudian beralih kembali pada Kalina. “Ini mama kamu yang nelepon kenapa nggak dijawab?” “Pasti nanyain keadaanku. Kalau jawab jujur, pasti bikin khawatir. Ntar cuman gara-gara ini mereka malah bergegas pulang.  Kalau aku bohong, dosa, kan. mending nggak dijawab sekalian.” Ken menghela napasnya saat mendengar pernyataan Kalina. Langsung saja ia geser layar ponsel ke arah kanan. “Kak!” pekik Kalina saat Ken benar-benar membuatnya dalam masalah. Yakali dia bilang pada mamanya kalau dirinya saat ini sedang berada di rumah sakit. Bisa-bisa orang tuanya langsung panik dan auto pulang. Dahlah, berakhir sudah kebebasannya. “Hallo.” “Loh, ini siapa? Kalina di mana?” Ken tak menjawab langsung pertanyaan itu. Ia beranjak dari kursinya dan menjauh dari Kalina. “Astaga! Apa yang sedang dia lakukan,” cemas Kalina dengan sikap Ken. Bersiaplah dirinya menyambut kedatangan kedua orang tuanya kembali di rumah. Tak ada lagi main-main, kebebasan, apalagi waktu berharga buat kepoin Ken. Dahlah, tutup buku kehaluan dan berganti dengan buku pelajaran. Ken di sini bersamanya, apa pacarnya tak marah? Jujur, ia sedikit tak percaya kalau Ken sudah memiliki pacar, tapi saat mendengar perkataan dia tadi pagi, rasa tak enak kembali mendera pikirannya. Ayolah, ini rasanya lebih sakit daripada luka yang terpampang jelas di jidatnya. Tak lama, Ken kembali pada Kalina dan menyodorkan benda pipih itu. “Kenapa mukamu begitu?” “Haruskah aku tertawa?” tanya Kalina balik mengambil alih ponsel yang diberikan Ken padanya. “Tentu saja.” “Kak, mending Kakak pulang, gih.” “Mengusirku?” “Anggap saja begitu.” “Marah padaku?” Kalina tersenyum manis. Lebih tepatnya ia terpaksa memberikan senyuman termanisnya. “Aku masih Kalina yang sama. Mana mungkin aku berani marah padamu,” balasnya mengalihkan pandangan ke arah lain. Masih ia yang deg-deg’an saat bertemu apalagi berbicara dengan Ken. Apalagi sikap dia yang beberapa waktu belakangan sedikit mencair padanya, tapi tetap saja ia tak mau baper. Meskipun sejujurnya ia sudah terlanjur baper ... lebih tepatnya hanya baper sendiri. “Kamu aneh,” respon Ken. Kalina tak menjawab atau merespon lagi. Sekarang ia lebih memilih kembali merebahkan badannya di kasur dengan posisi membelakangi Ken. “Dan makin aneh,” lanjut Ken melihat sikap gadis itu. Kenzie beranjak dari posisi duduknya dan berlalu pergi dari ruangan itu. Tak tahukah dia kalau dirinya begitu khawatir? Oke ... mungkin tak ia katakan secara langsung, tapi bukankah dari sikap saja harusnya dia paham. “Berurusan dengan cewek membuat otakku tak bisa berfungsi dengan normal,” umpatnya pergi dari sana dengan langkah kesal. Salah satu hal yang membuatnya berpikir ulang untuk punya hubungan dengan cewek ya gini ... pikiran mereka begitu sulit ia telaah. Memecahkan sebuah teori dalam sebuah pelajaran mungkin akan lebih gampang daripada memecahkan apa yang sedang dipikirkan cewek.              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN