BAB : 23

2016 Kata
Haruskah waktu begitu cepat berputar. Ayolah, ia baru tidur beberapa menit yang lalu dan sekarang sudah pagi aja. Apa jam nya yang salah? Sepertinya tidak, karena sedari tadi ia sudah mendengar gedoran pintu kamar. Itu permulaan, tapi sekarang justru kehebohan mamanya langsung menyerang pendengarannya. “Mama ... aku masih ngantuk. Lima menit lagi, ya,” rengeknya kembali merebahkan badan.  Sedangkan Kalina, sobatnya itu justru sudah melipir langsung menuju kamar mandi. Sepertinya dia tak tahan dengan suara terompet mamanya saat membangunkan. “Kakakmu udah siap mau sarapan, kamu masih anteng dibalik selimut. Cepatan bangun! Kalau enggak ...” Serena langsung bangun dan beranjak dari tempat tidur dengan cepat sebelum mendengar ancaman itu. Sebelum mendengar pun, ia sudah memastikan ancaman apa yang akan diberikan mamanya. Melihat tampang ciut Eren yang langsung berlari menuju kamar mandi, membuat Norin terkekeh. Apalagi saat mendengar kehebohan dua gadis itu di kamar mandi. Bagaimana tidak, sudah tahu ada Kalina di dalam, Eren malah langsung masuk gitu aja. Otomatis Kalina kaget lah. Kalina sudah terniat menginap di rumah Eren, makanya ia sudah mempersiapkan seragam dan buku pelajaran sebelum ke sini. Kalau tidak, dahlah ... mungkin ia akan pulang dan tidur saja. Serius, ini matanya masih begitu berat untuk dibuka. Sebenarnya bukan niat juga, sih ... tapi pas pulang jalan, Ken mengantarkannya ke rumah untuk mengambil seragam sekolah dan lain lain. Makanya aman. “Jam pertama sama siapa, sih? Serius, gue masih ngantuk, Ren,” rengek Kalina saat berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan. “Sama Pak Budi, Kal. Mau cabut, takut nilai gue menghilang dari peredaran. Kan hari ini kita ulangan,” balas Eren tak kalah malasnya. “Terniat,” respon Ken yang duduk di kursi saat mendengar pembicaraan adiknya saat sedang menikmati sarapannya. Eren kaget karena kakaknya pasti mendengar niatnya untuk cabut. Tapi Kalina justru kaget karena melihat tampang Ken yang ... ini masih pagi, kenapa dia terlihat sangat menggoda iman begitu, sih. Tak ada apa-apanya dibandingkan buah semangka yang dihadapkan tepat di mulutnya di terik panas. “Apaan, sih, Kak,” berengutnya langsung duduk di kursi yang ada di samping mamanya. Kalina menelan salivanya dengan susah saat dirinya harus dihadapkan pada kenyataan menakutkan ini. Bagaimana tidak, satu-satunya kursi yang ada hanya di sebelah Ken, itu artinya ia seolah sedang dihadapkan pada sesuatu yang membuat denyut jantungnya jadi tak teratur. Padahal akhir-akhir ini ia dan Ken sudah mulai sedikit mencair, hanya saja baginya dia masih sosok yang menakutkan sekaligus mempesona. Duduk perlahan di kursi, tentu saja tak akan berani mengarahkan pandangan pada ken. Takut baper dan takut deg deg an. “Kalina, Eren nggak pacaran, kan?” Kalina yang baru saja memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya, seketika dibuat kaget hingga nyaris tersedak. Yang benar saja dirinya tersedak dihadapan Ken, itu tidak lutcuh. Dan apa-apaan mamanya Eren menanyakan hal begitu pada dirinya, kenapa bukan pada Eren langsung? Ken menyodorkan satu gelas air minum pada Kalina yang langsung dia teguk hingga habis. “Bersikap biasa saja,” bisik Ken pelan. Mendengar perkataan Ken, tentu saja Kalina tahu apa yang akan ia jawab atas pertanyaan yang diutarakan Norin padanya. “E-nggak ada kok, Tante. Eren nggak punya pacar. Kan, nggak diijinin,” ujarnya sedikit tak tenang. Yap, takut saja jika ia ketahuan berbohong, bisa-bisa ia didepak jadi sahabat Eren. “Bagus kalau gitu,” balas Norin. “Masa SMA itu memang masa yang paling labil. Terkadang, hanya karena sosok tampan, dirayu ini itu, malah bikin mabok kepayang. Lah iya, kalau setia, kalau cuman jadi selingan gimana ... kan, menyakitkan.” Sekarang bukan hanya Kalina yang dibuat shock, tapi juga Eren. Feeling seorang Ibu kali, ya ... sampai-sampai seolah bisa menebak apa yang sedang dialami putrinya. Semua yang dikatakan mamanya, seakan persis dengan apa yang ia alami kini. “Bener banget, Ma,” sahut Ken cepat atas penjelasan mamanya. “Carmuk,” berengut Eren atas sikap kakaknya. “Kalina, Mama sama Papa kamu pasti juga gitu, kan ... melarang yang namanya pacaran?” Demi Olympus, Zeus, Nuptunus, Pithecanthropus, dan lain sebagainya. Kenapa ia merasa pagi ini durasinya begitu panjang? Kenapa mamanya Eren menodongnya dengan hal-hal sensitive begini. Seakan-akan ingin ia lahap nasi goreng satu mangkok untuk menyumpal mulutnya sendiri. Ken malah tersenyum di sudut bibirnya saat melihat ekspressi Kalina mendapat pertanyaan itu dari mamanya. Coba lihat, dia akan memberikan jawaban seperti apa. “Kamu nggak dengar pertanyaan mama,” sentak Ken atas kebengongan gadis yang ada di sebelahnya itu. “I-iya, Tante ... nggak boleh pacaran.” Senyuman berat terukir di bibirnya. Apalagi dengan Ken yang sepertinya sedang meledeknya. Keterlaluan banget ini cowok. Meskipun sejujurnya aturan orang tuanya memang seperti itu, tapi untuk mematuhi semua dirinya juga tak akan mampu. Padahal aslinya mah jomblo ngenes, tapi dalam posisi menunggu cintanya Ken. Ah, enggak akan jauh-jauh lah otaknya dari cowok yang nyebelin ini. “Kak Ken boleh pacaran, kenapa aku enggak?” tanya Eren tak terima. Setidaknya bisalah untuk menghadang mamanya yang terus menyerangnya. Apalagi Ken, lihatlah kakaknya itu ... seolah sedang menumbalkan dirinya untuk bahan ocehan mamanya pagi ini. Bahkan Kalina pun ikut dia seret. “Kapan aku pacaran?” tanya Ken balik. “Nah, kapan Ken pacaran?” Norin melempar pertanyaan Ken itu kembali pada Eren. “Ya tanya Kakak lah, Ma ... masa nanya aku,” balasnya kesal. “Aku itu cowok, lagian aku juga bukan bocah SMA labil seperti yang Mama Papa bilang.” Sengaja menyindir Eren. “Toh, kalau pacaran pun aku nggak ada larangannya, kan. Sekalian, nikah aja juga bisa lah,” balasnya santai dengan tangannya yang kini sibuk dengan ponsel. Hanya perkataan begitu, mampu membuat pandangan empat pasang mata itu tertuju dan terfokus padanya. “Kenapa menatapku begitu?” heran dengan semua reaksi mereka. Kalina tersadar duluan, kemudian dengan cepat ia lanjutkan menghabiskan sarapannya. Anggap saja perkataan Ken barusan hanyalah candaan yang mampu membuatnya sedikit jatuh ke dasar jurang. “Ken, kalau bicara yang serius,” komentar Wira akan jawaban putranya. “Pa, apa aku pernah bercanda?” “Udah selesai belum, Ren ... yuk, berangkat,” ajak Kalina pada Eren. “Tapi ...” “Bareng aja, kan gue bawa mobil,” timpal Kalina langsung seakan tahu apa yang akan dikatakan sobatnya itu. Jadilah, keduanya berangkat sekolah. Bergantian pamit pada Wira dan Norin. Eren lanjut pamit pada Ken, sementara Kalina sudah menyelonong kabur duluan. Tentu saja sikap gadis itu membuat Ken heran. Padahal sebelum sebelumnya saat akan pergi, jika ada dirinya pasti dia akan melakukan hal yang sama dengan Eren. Tapi, kenapa sekarang tidak? “Beneran mau nikah kamu?” tanya Wira memastikan perkataan Ken. Ken hanya membalas pertanyaan papanya dengan senyuman, kemudian beranjak dari kursinya. “Nyari pasangan dulu lah, Pa. Masa aku mau comot anak gadis orang gitu aja tanpa aba aba,” responnya sembari melangkah pergi menuju kamarnya. “Dasar! Kirain beneran sudah punya calonnya kamu, Ken,” umpat Norin ketika mendapat balasan dari Ken. Padahal berpikir jika putranya benar benar akan memilih menikah, tapi ternyata tidak. Terkekeh saat mendengar u*****n mamanya. Pacar? Bahkan ia tak pernah berpikir untuk memiliki pacar. Tapi, bukan berarti tak ada gadis yang merasuki relung hatinya, loh, ya. Ada kalanya rasa itu diungkap dengan cepat, tapi ada kalanya saat memastikan kalau rasa itu adalah cinta, bukan hanya sekadar rasa yang singgah sebentar lalu pergi menghilang.   ---000---   Selama perjalanan Kalina hanya diam. Bukan diam karena fokus mengemudi mobil, tapi diam karena otaknya seakan sedang mengalami pemikiran yang membuat hatina nyut-nyutan. Sampai di parkiran sekolah keduanya tak langsung turun. Eren dengan kekesalannya pada Ken, sementara hal yang sama juga dirasakan Kalina. Hanya saja rasa kesal keduanya berbeda intinya. “Kakak lo kok ngeselin banget, sih, Ren. Pengin gue tabok tahu, nggak,” kesalnya mengeluarkan uneg uneg yang membelenggu hatinya. “Begitulah,” respon Eren. “Sengaja bikin gue kena omel Mama Papa dia mah.” “Tapi itu beneran nggak, sih?” “Apanya yang beneran?” tanya Eren balik. “Kakak lo udah punya pacar? Dia mau nikah?” Eren tak menjawab pertanyaan Kalina, tapi justru malah melongos turun dari mobil. “Gue malah ditinggal,” umpat Kalina segera ikut turun. Kemudian dengan cepat mengejar Eren yang sudah lebih dulu meninggalkannya. “Serena, jawab dong. Memangnya benar Kak Ken udah punya pacar?” “Bohong itu mah. Kalau dia punya pacar, ngapain dia minta elo buat jadi pacar bohongannya waktu itu. Mikir dong, Beb.” “Tapi tadi dia bilang punya pacar. Malah minta mau nikah lagi,” gerutunya masih tak bisa terima. “Eren, Kalina!” Panggilan itu membuat langkah keduanya terhenti dan berbalik badan. Apa yang mereka dapatkan, yap ... Sandra. Langsung, muka Kalina berubah kecut. Apalagi Eren. “Apalagi? Lo belum puas bikin masalah?” tanya Kalina. Yang dikhianati oleh Sandra adalah Eren, hanya saja ia ikut sakit hati karena kelakuan mantan sahabatnya itu. “Gue masih menunggu maaf dari lo, Ren.” “San, udah gue bilang berkali-kali, kan ... gue maafin. Gue udah ikhlas, kok, dengan semua ini. Hanya saja untuk menjalin hubungan kita seperti sebelumnya, itu nggak mungkin. Jangan berpikir kalau putusnya hubungan sama Glenn, bikin gue sakit hati. Enggak sama sekali. Justru elo yang bikin hati gue lebih sakit, Sandra.” Eren berlalu dari sana, saat berbalik badan justru dengan sengaja seseorang malah menabraknya hingga jatuh. “Glenn! Lo benar-benar keterlaluan, ya!” bentak Kalina saat Glenn dengan kasar mendorong Eren hingga sahabatnya itu jatuh ke lantai. “Mau lo apa, sih?!” menantang cowok yang diagung-agungkan seantero sekolah. Dahlah, setelah ini yakinlah ia bakalan pemes dalam sekejap mata karena berani memberikan sikap tak baik pada dia. “Mau gue, jangan pernah mengganggu Sandra lagi! Urusan gue dan Eren itu udah selesai. End! Nggak usah deketin Sandra lagi, apalagi sampai bikin dia nangis!” Mengganggu Sandra, membuat dia menangis? Tentu saja Kalina tak terima akan tuduhan Glenn. Sudah jelas-jelas Sandra yang terus mendekati ia dan Eren, tapi malah menyalahkan. Eren menarik lengan Kalina yang terlihat jelas kesal pada Glenn. Ayolah, ia dan Kalina cewek. Sedangkan Glenn, cowok. Yakali mau menghadapi. Kalina melepaskan tangan Eren dan kembali menghampiri Glenn. Menatap tajam pada cowok itu. “Buat cowok yang katanya terkeren di sekolah ini. Sekali-sekali gue mau nyari sensasi di sekolah,” ujarnya. Langsung, tamparan ia layangkan di pipi Glenn. “Kal,” lerai Eren atas sikap Kalina. Ditampar di depan semua orang, tentu saja membuat Glenn merasa dipermalukan. Biasanya hanya ia yang jadi pemeran utama yang paling sempurna, tapi sekarang kalina membuat reputasinya langsung anjlok. “Dengar semuanya!” pekik Kalina yang mengundang pandangan semua agar fokus. “Glenn yang kalian bangga-banggakan ini, hanyalah sejenis manusia yang tak ada apa-apanya. Kalian tahu, kan, dia menjalin hubungan dengan Eren, tapi apa? Dia juga punya hubungan dengan Sandra.” Sontak dong, pengumuman Kalina sukses bikin gempar. Karena semua juga tahu, loh, ya ... Glenn itu pacaran dengan Eren dan Eren adalah sahabat Sandra. Lebih gempar lagi saat Kalina menampar Glenn. Sandra tertunduk malu akan perkataan Kalina. Hanya saja di sini dirinya memang bersalah, bagaimanapun itu. “Lo!” Menunjuk Kalina dengan tampang emosinya. “Apa, lo? Mau nampar balik? Sekalian, biar membuktikan kalau tampang lo, nggak sebaik kelakuan lo Glenn.” Beralih pandang pada Sandra. “Dan lo juga. Nyesel gue pernah jadi sahabat lo, San. Kalau boleh memutar waktu, berharap banyak nggak pernah ketemu sama lo. Pengkhianat!” “Kalina, udah!” Kebiasaan banget sobatnya ini kalau lagi emosi. Benar-benar nggak tahu akibat yang mucul. Dia seakan berada dalam kemarahannya sendiri. Ditampar di depan semua orang, tentu saja membuat Glenn merasa dipermalukan. Harga dirinya sebagai cowok benar-benar direndahkan.  “Lo!” menunjuk Kalina dengan tampang emosinya. “Apa, lo? Mau nampar balik? Sekalian, biar membuktikan kalau tampang lo, nggak sebaik kelakuan lo Glenn.” Beralih pandang pada Sandra. “Dan lo juga. Nyesel gue pernah jadi sahabat lo, San. Kalau boleh memutar waktu, berharap banyak nggak pernah ketemu sama lo. Pengkhianat.” Glenn menampar Kalina dengan kuat. Ia benar-benar muak dengan sikap Kalina. Tak puas dengan semua itu, dia berlanjut mendorong Kalina hingga dia terdorong dan langsung kepalanya membentur tembok. “Kalina!” pekik Eren langsung menghampiri sobatnya yang terlihat kesakitan sambil memegangi kepalanya. Darah segar juga langsung mengiringi ringisan itu, begitupun hilang kesadarannya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN