Mencoba membuka matanya yang terasa berat untuk dibuka. Seperti seonggok iblis sedang bertengger di kelopak matanya.
Ia ingat, tadi siang bersama dengan Zean di kamar ini melakukan ... bukan, hanya ciuman. Lalu, apalagi? Ia bahkan tak ingat. Apa matanya begitu mengantuk hingga tak mengingat kejadian tadi siang. Ah, semoga saja ia tak sampai melakukan hal aneh-aneh tadi dengan dia.
Duduk dengan mata yang masih mengantuk parah. Memeriksa kondisi pakaiannya yang ... lega, untungnya semua masih normal. Bukan berpikiran buruk pada Zean, hanya saja siapa yang dapat menebak apa yang akan terjadi, kan.
Mengarahkan pandangan pada jam di dinding. “Gila! Udah mau jam 12 malam dan gue baru melek. Astaga! Berasa habis minum obat tidur satu botol.” Tersentak kaget. Berpikir jika ini masih sore. Ternyata sudah tengah malam.
Menyingkirkan selimut yang menutupi badannya dan mulai beranjak dari tempat tidur.
“Kak Zean juga main pergi gitu aja,” gerutunya.
Dengan langkah gontai berjalan menuju pintu kamar. Saat pintu terbuka, apa yang ia lihat? Tak ada apa-apa. Lebih tepatnya ia tak bisa melihat karena gelap gulita. Semua lampu di rumah ini padam. Yang mengherankan, kenapa di kamarnya malah nyala.
“Kak Ken! Kakak di mana, sih?!” teriaknya memanggil Ken, tapi tak ada sahutan sama sekali.
Tak ada secercah cahayapun di sini, takut melangkah jauh, bisa-bisa ia bablas dan malah terjun dari lantai atas ke bawah.
“Ini kenapa, sih ... lampu pada mati gini! Bibik!” teriaknya seakan memecah keheningan malam.
Melangkah dengan perlahan sambil meraba-raba apa yang ada di sekitarnya. Ini sedikit mengerikan, takut salah raba makhluk selain manusia.
“Kakak di mana, sih?! Aku kesal padamu, loh. Nanti ku bilang sama Mama kalau kamu nggak bisa mengurusku dengan baik di sini!” umpatnya kesal terus melangkah perlahan.
Tangannya tiba-tiba menyentuh sesuatu di dinding. Tersenyum, saat meyakini kalau itu adalah kontak lampu. Langsung menekan kontak lampu itu dan menyala seketika. Tak hanya itu, sambutan sebuah ucapan langsung menerpa dirinya.
“Happy birthday!!!!”
“Aaa!!!!” teriaknya kaget.
Saking kagetnya mendengar suara ramai itu, ia malah berjongkok sambil menutupi kedua telinganya. Terdengar gelak tawa, membuatnya menatap kesal pada semua orang yang ada dihadapannya kini.
“Kalian apa-apaan, sih?!” umpatnya dengan kesal.
“Happy birthday Serena!” ucap semuanya serentak.
Ia kesal, benar-benar kesal dengan semua lelucon ini. Tapi mendapatkan kejutan seperti ini, rasa kesalnya berubah haru dan bahagia. Ada Ken, Kalina, Zean, bibik, pak satpam, dan ... senyumnya langsung merekah saat mendapati orang tuanya ada di sini.
“Mama sama Papa kok ada di sini,” hebohnya memeluk sepasang suami istri itu bergantian. Seakan akan sudah lama tak bertemu.
“Masa putri tercinta ulang tahun kita nggak temenin,” ujar Alice pada putrinya.
“Dan kalian pulang juga nggak ngabarin aku,” keluhnya.
Harusnya ngabarin, kan ... biar ia nggak kaget-kaget amat. Lah ini, berasa jantungnya seakan mau copot. Parah sekali, ia bahkan tak mengingat hari ini ulang tahunnya karena tadi siang sudah full otaknya dibuat kesal oleh Zean.
“Bukan kami nggak ngabarin, tapi kamu yang nggak jawab panggilan telepon Papa, Ren,” jelas Wira pada putrinya.
“Dih, kapan Papa nelpon aku. Bohongi saja terus putrimu ini, Pa,” balasnya tak terima, kemudian mencomot satu sendokan kue yang berada di pegangan Kalina.
Sejak kapan ia jadi begitu, sampai-sampai tak menjawab panggilan telepon. apalagi dari papanya, yang justru itu sangatlah penting.
“Tadi siang Papa telepon kamu.”
“Tadi siang aku juga di rumah, nggak kemana-mana. Dan nggak ada panggilan telepon dari Pap ...” Perkataannya terhenti saat mengingat sesuatu. Kue yang ada di dalam mulutnya, ia telan dengan paksa.
Menatap horor ke arah Zean. “Tadi siang Kakak di kamarku, kan.”
“Hmm,” angguk Zean.
“Kalian ngapain di kamar berduaan?” Pertanyaan Kalina langsung saja terlontar cepat. “Jangan-jangan lo sama Kak Zean sudah melakukan tindakan ...”
“Ish, Kalina,” berengutnya.
Kenzie sampai menahan tawanya saat mendengar tebakan Kalina. Kebiasaan menebak gadis ini lumayan membuatnya merasa lucu saja.
“Meresahkan,” gumam Kalina.
“Hayooo ... ngapain di kamar berduaan?” Giliran Norin ikut bertanya pada putri semata wayangnya itu.
“Gerak cepat,” gumam Ken dengan senyumannya, melihat reaksi ciut Zean saat menghadapi kedua orang tuanya. Biasanya sobatnya itu tak pernah takut, tapi sekarang terlihat jelas dia seperti kepergok berbuat m***m.
Zean menendang tulang kering Ken yang malah semakin memojokkan dirinya. Padahal ia memang tak melakukan apa apa, entah kenapa tiba tiba saja jadi gugup begini.
“Nah, Kata Kak Zean gitu, tuh ... gerak cepat,” tambah Eren spontan.
Menatap horor ke arah Zean. “Zean,” tuntut Wira dan Norin berbarengan.
“Beneran, Om, Tante ... aku nggak ngapa-ngapain. Serius,” ungkapnya.
“Ren ...”
Memasang wajah cemas. “Tanya Kak Zean aja, Pa, Ma ... aku nggak pintar dalam sebuah kebohongan,” balasnya dengan tampang was-was.
Mendengar jawaban Eren, tentu saja menambah rasa curiga semuanya. g****k memang mulutnya ini. Itu berarti ia menyatakan secara langsung kalau Zean sedang berbohong.
“Anu ... maksudku itu.” Tiba-tiba kebodohannya kumat lagi. “Aku tiba-tiba haus.” Langsung berlalu dihadapan semuanya dan berlari cepat menuruni anakan tangga menuju dapur. Saking hausnya berasa mau minum satu galon.
“Lo benar-benar gerak cepat, Ze?” tanya Ken dengan serius, memastikan.
“Gue masih waras.” Lama-lama ia tonjok juga mulut Ken karena terus membuatnya diambang kecurigaan Wira dan Norin.
Wira menatap Zean tajam. Ia seolah masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara putrinya dan Zean.
“Om, jangan menatapku seperti itu. Aku seolah sedang kepergok melakukan tindakan asusila.”
“Nah,” respon Norin cepat.
“Sesuai rencana ... jadi, kapan kamu mau ...”
“Jangan sekarang,” timpal Zean langsung.
Dahi Kalina berkerut mendengar perkataan Wira. “Rencana apa, Om?” tanyanya penasaran.
“Bikinin minum, gih,” pinta Ken pada Kalina.
Kalina meletakkan kue yang masih berada di pegangannya di meja. Kemudian melangkah turun ke lantai bawah untuk menyiapkan minum. Ken nyebelin ... padahal ia penasaran dengan perkataan Wira dan Zean barusan. Eh, malah diminta bikinin minum.
Di dapur, ia mendapati Eren yang seperti orang stress. Dikira lagi ngapain, ternyata malah mondar mandir kayak setrikaan.
“Lo ngapain? Olah raga?”
Eren menempeleng kepala Kalina. “ Lo nggak lihat, ini gue lagi dalam mode stress. Gue stress Kalina, stress,” geramnya seakan menjambak rambut sobatnya sendiri.
“Stress kenapa?”
“Lah, itu ... masa Papa bilang gue sama Kak Zean udah lakuin hal yang enggak-enggak.”
Memasang wajah penuh curiga ke arah Eren dan menatap fokus sobatnya itu laksana mata elang yang begitu tajam.
“Jangan-jangan lo emang udah lakuin sesuatu sama Kak Zean, ya.”
Eren menggeleng cepat.
“Kenapa lo panik?”
“Cuman lakuin itu doang,” ungkapnya sedikit berbisik.
“Hah, lakuin apa?”
“Kiss.”
Mata Kalina melotot saat mendengar pengakuan Eren. “Elo udah ciuman sama Kak Zean?”
Eren mengangguk. “Udah, berkali-kali.”
Kalina meneguk salivanya dengan begitu susah. Otaknya sedang memikirkan sesuatu yang gaswat. Flashback ke situasi di mana dirinya sedang menonton drakor the kiss again. Bikin baper sampe ke ubun-ubun. Sampe nggak sadar akan ngeces sendiri.
“Lo kenapa?” tanya Eren melihat wajah Kalina.
“Ini gue lagi mode mikir.”
“Hah?” Kalina makin membuatnya bingung.
“Ren, Btw rasanya ciuman gimana?”
Eren memutar bola matanya kesal saat pertanyaan bodoh ditanyakan Kalina padanya. Tanpa menjawab, ia memilih untuk berlalu dan meninggalkan sobatnya itu.
“Ih, malah pergi. Kan, gue penasaran,” umpatnya lanjut mengikuti langkah sobatnya itu.
“Eren, rasanya gimana?!” Masih terus bertanya.
“Lo minta aja sama Kak Ken, ntar lo rasain tuh gimana kira kira rasanya,” balas Eren terkekeh geli menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Kalina padanya.
Saat kembali, ia dapati kedua orang tuanya, Ken dan juga Zean ada di ruang keluarga.
“Hadiah ulang tahunku mana?” Ya, setidaknya pandangan bergilirnya bisa menunjukkan kalau pertanyaan itu tertuju untuk semua yang ada di sana.
Zean malah tersenyum menanggapi pertanyaan Eren.
“Dasar! Bocah. Ulang tahun sendiri nggak ingat, tapi masalah hadiah malah langsung ditagih,” umpat Ken.
“Terutama darimu, Kak,” lanjut Eren menyodorkan telapak tangannya pada Ken. ‘Aku satu satunya adikmu, jadi ... hadiah untukku harus banyak darimu.”
Ken menyambar sebuah kotak yang ada di bawah meja, kemudian memberikan pada adiknya.
Dengan wajah sumringah ia berniat membuka, tapi tak jadi. Lanjut, pandangannya tertuju pada orang tuanya dan Zean.
“Hadiah dariku menyusul, ya,” ujar Zean.
Tampak raut tak senang tercetak di wajah Eren saat mendengar perkataan Zean. “Bilang saja kamu nggak tahu kalau hari ini ulang tahunku, kan, Kak. Dan bilang saja kamu memang nggak punya hadiah buatku,” gerutunya.
“Sudah, Sayang ... ini, dari Papa sama Mama. Kenapa malah memaksa Zean memberikan hadiah padamu, sih,” respon Norin atas sikap putrinya.
“Jangan membelanya, yang ulang tahun aku, loh,” berengutnya.
Jadilah, malam itu jadi malam yang ... panjang dan sedikit ngeselin. Ya gimana nggak panjang, pada ngobrol tanpa sadar tiba-tiba udah jam 2 dini hari dong. Meskipun tadi ia sudah tidur dari sore, tetap saja matanya mengantuk. Hingga akhirnya tertidur. Sedangkan Kalina sudah melipir duluan ke kamar dari tadi.
Zean masih bicara dengan Norin dan Wira di sofa ... sepertinya serius. Melihat Eren yang sudah tepar di karpet, Ken segera memindahkan adiknya itu menuju kamar dan membaringkan di kasur ... dengan Kalina yang juga sudah tidur. Ia menarik selimut menutup badan Eren dan mencium dahi adiknya itu sekilas.
“Selamat ulang tahun,” ucapnya.
Kemudian beralih menghampiri Kalina. Hal yang sama juga ia lakukan, menarik selimut menutupi badan gadis itu. Hendak berlalu pergi, tapi entah kenapa langkahnya justru terhenti. Duduk di pinggiran tempat tidur, menatap fokus dan menyentuh wajah tidur itu dengan jemarinya.
“Haruskah ku akui jika otakku sedang bermasalah karenamu, Kal,” gumamnya pelan. Tersenyum, saat mengingat dirinya yang biasanya dingin, tapi beberapa waktu terakhir malah seolah mencair jika berhadapan dengan gadis ini. “Apa aku menyukaimu? Entahlah ... yang jelas, aku senang di dekatmu,” tambahnya mencium pipi Kalina dengan lembut.
Beranjak dari duduknya dan berlalu dari kamar itu. Kembali menghampiri kedua orang tuanya dan Zean yang ada di ruang keluarga.