BAB : 21

1682 Kata
Kalina dan Ken berada di sebuah pusat perbelanjaan. Saat hendak memasuki sebuah brand pakaian wanita, Kalina malah menghentikan langkahnya ketika di depan pintu masuk. “Kenapa?” tanya Ken. “Kak, sepertinya otak Kakak sedang bermasalah deh,” ujar Kalina. “Maksud kamu apa?” Berani-beraninya mengatakan otaknya bermasalah. Padahal tadinya tak sanggup mengeluarkan kata kata di depannya. Kalina meletakkan telapak tangannya di dahi Ken, untuk memastikan apakah dia masih baik-baik saja atau tidak. Kali aja suhu tubuhnya meningkat. Ken menyingkirkan tangan Kalina di dahinya. “Kamu pikir aku sedang sakit?” “Sepertinya begitu,” jawabnya. “Otakmu bermasalah, ya, Kak? Atau di rumah tadi mengalami benturan?” Ken menatap Kalina horor. Apa-apaan gadis ini mengatakan otaknya bermasalah, dikira dirinya sedang berada dalam mode tak normal kali, ya. “Kalina ... kamu itu sahabat dari adikku, kan?” Kalina mengangguk cepat. Ya ... berharap banyak dalam hatinya ada status tambahan untuknya dari Ken. Hmm ... sebagai sahabat Eren dan juga kekasih, mungkin. Berharap aja terus, sampe doraemon melemparkan kantong ajaib padanya. “Tahu, kan, besok hari apa?” Awalnya Kalina tak paham dengan maksud Ken, tapi akhirnya ia menyadari apa maksud cowok ini. “Besok hari ...” Kalina tak melanjutkan kata-katanya saat Ken langsung saja menyambar tangannya dan membawanya masuk ke dalam sebuah toko pakaian wanita. Berjalan berdua, bergandengan tangan ... ayolah, Ken hanya bersikap biasa. Tapi tidak dengan Kalina, bahkan jantungnya seolah diajak berdetak dengan kecepatan tinggi semenjak masuk. Pasalnya ini cowok terus menggenggam tangannya, bahkan tak dilepas  walau sebentar. Jadi, apa salah ia baper dengan perlakuan ini? “Menurutmu yang itu gimana, Kal?” tanya Ken mengarahkan telunjuknya pada sebuah gaun yang terpajang pada sebuah manekin. “Bagus,” jawabnya. “Yang warna putih atau peach?” “Yang ada love nya.” “Hah?” Ken menatap aneh ke arah Kalina saat mendengar jawaban yang dia berikan. Kenapa malah nggak nyambung? Seketika itu juga Kalina tersadar dari lamunannya yang terus memandangi tangan Ken di tangannya. “Ah, itu, Kak ... maksudku, hmm ...” Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Kamu nggak mendengarkanku, ya?” “Maaf, aku bingung  karena Eren menyukai kedua warna itu, kan.” “Kamu suka warna apa?” “Aku?” Menunjuk dirinya sendiri. Ken mengangguk. “Silver.” “Oke ... silver. Akan ku ingat,” respon Ken kembali menarik  tangan Kalina hingga gadis itu kembali mengekori langkahnya. Setelah mendapatkan apa yang dicari, keduanya berniat meninggalkan pusat perbelanjaan. Tapi saat sampai di depan pintu masuk, Kalina menghentikan langkahnya. “Ada apa?” “Kakak nggak mau mengajakku makan? Aku lapar, loh.” Ken mau tertawa rasanya saat mendengar perkataan Kalina. Ia berpikir jika gadis ini akan terus bersikap takut dan cemas jika di dekatnya, tapi makin ke sini sepertinya dia mulai mencair. Sekarang malah berasa seperti membawa Eren ke pusat perbelanjaan, karena tingkah keduanya lumayan mirip. “Cari restoran, ya ... aku tak suka di sini,” ujarnya. Kalina mengangguk. Seperti inikah aslinya sikap Ken? Justru ia tak melihat sikap dingin yang biasa didapatkannya dari dia, bahkan merasa benar-benar dekat. Yap, masih berharap kalau bisa memilikinya. Meskipun peluangnya tergolong kecil, tapi setidaknya usaha semoga membuahkan hasil yang besar. Ken ini seperti sejenis es, loh ... yang awalnya dingin, beku, hingga mengeluarkan asap. Tapi lama kelamaan di dekat dia, sikap yang dia tunjukkan malah jadi hangat karena si es seakan meleleh.   ---000---   Selesai memborong buku-buku seabrek, akhirnya semua penderitaannya selesai sudah. Jujur saja, ia kesal. Apa Zean sedang mengerjainya? Hari minggunya yang cuman ada sekali dalam satu minggu, empat kali dalam sebulan, kini pupus sudah diambil alih oleh cogan yang berstatus sebagai kekasihnya sendiri. “Kenapa?” “Jangan tanyakan kenapa, kalau kamu sudah tahu jawabannya, Kak,” responnya dengan wajah cemberut. Zean menatap fokus dan serius ke arah Eren. Sebenarnya ia ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan gadis ini, hanya saja ia ragu. Ya ... ragu akan hasilnya. Takut saja, jika dirinya terlalu dianggap terburu buru. “Ren, aku mau bicara sesuatu yang penting denganmu,” ujar Zean. Pandangan Eren mengarah pada Zean. “Apa?” Lagi, ia ragu ingin menyatakan semuanya. “Nanti saja,” jawabnya berubah pikiran lagi. “Kita makan dulu, ya.” Saat Zean hendak menyalakan mesin mobil, Eren malah mengambil alih kunci mobil dari tangan Zean. “Bicara sekarang atau aku nggak mau ngasih kunci ini.” “Ren ...” “Mau bicara sesuatu denganku, kan? Ayo bicara. Kenapa harus menunggu nanti.” “Nanti ku katakan padamu, serius.” “Kalau tidak?” “Boleh memelukku sepuasmu.” Ken dengan cepat merebut benda yang masih digenggaman Eren dengan mudah saat gadis itu lengah. “Pilihan macam apa itu,” umpatnya atas pilihan yang Zean berikan.   Keduanya segera berlalu dari sana dengan tumpukan buku yang memenuhi jok belakang. Bahkan ia tak tahu buku apa yang diborong oleh Zean. Melihat bentukan benda dengan tebal di atas 500 halaman ini saja ia sudah merasa kenyang.  Makan di sebuah restoran sambil mengobrol. Entah kenapa rasanya obrolan mengalir begitu saja di antara keduanya. Padahal, sebelumnya menurut Eren, Zean itu tipikal cowok yang nggak terlalu banyak omong. Ia sudah lama mengenal Zean, jadi tahulah seluk beluk cowok ini. Tapi ketika dia berganti status, seolah olah pintu yang tadinya terkunci rapat dan nyaris tak bisa dibuka, kini seakan terbuka dengan sendirinya. Sampai di rumah, ia tak menemukan Ken. Entah kemana kakaknya itu membawa sobatnya. Semoga saja nanti dia nggak heboh kayak semalam yang katanya nggak bisa tidur gara-gara sikap kakaknya. “Dia belum pulang,” gerutunya. “Siapa?” “Ken,” jawabnya. Menghempaskan bokongnya di sofa, kemudian menyambar segelas jus jeruk yang sudah disediakan bibik. Zean meletakkan sebuah buku di meja, membuat pandangan Eren tiba-tiba beralih pada benda berukuran tebal itu. Lihat, ketebalannya tak jauh berbeda dengan kamus bahasa inggris miliknya. “Belajar dimulai,” ujar Zean. “Hah?” Apa yang dia katakan. Zean menatap Eren fokus, kemudian mengelus lembut pipi gadis yang kini berstatus sebagai kekasihnya. “Aku diminta sama orang tua kamu untuk mengajar kamu di rumah.” Eren langsung tersedak minumannya. “Apa?!” “Kenapa juga harus kaget, sih ... biasanya aku juga yang ngajarin kamu di rumah, kan, saat Ken nggak di rumah,” respon Zean menyambar sebuah tisu dan mengelap bibir gadis itu. Tadinya ia kaget gara-gara les tambahan itu, sekarang ia malah fokus ke sikapnya Zean yang terlalu manis untuk diabaikan. Biasanya dia akan menertawakan sikapnya, tapi sekarang justru seakan berbanding terbalik. “Kenapa bengong?” tanya Zean. “Ini yang mau Kakak bilang tadi?” tanya Eren. “Bukan.” “Lalu?” “Nanti saja. Sekarang ambil alat-alat tulismu. Masih ada waktu. Karena nanti malam aku ada acara penting,” jelasnya tanpa mengijinkan Eren berkomentar terlebih dahulu. “Kak Zean mau kemana?” “Ada urusan,” jawabnya lagi. Eren beranjak dari duduknya dan berjalan gontai menuju kamarnya. Apalagi kalau bukan mengambil peralatan tulisnya. Mencurigakan. Iya, mau kemana dia malam-malam. Ada acara penting? Apakah seorang kekasih tak boleh mengetahui kemana langkah kaki dia akan pergi? Berniat kembali keluar dari kamar, tiba-tiba pintu malah didorong dari arah luar. Membuatnya ditabrak oleh pintu kamarnya sendiri. Dan rasanya ... jangan ditanya lagi. Kepalanya nyut-nyutan. “Kamu ngapain berdiri di situ?” “Kak, kalau masuk ketok dulu!” Hebohnya saat mendapati Zean lah pelakunya. “Kan nggak menyangka kalau kamu ada dibalik pintu,” balasnya. Eren memegangi jidatnya dan berjalan menuju meja rias. “Jidatku sampe merah gini,” keluhnya. “Maaf,” ucap Zean langsung mencium jidat Eren yang memang tampak memerah itu. “Kenapa malah menciumku,” kesalnya. “Dasar! m***m. Malah mengambil kesempatan dalam kesempitan.” Zean hanya geleng-geleng melihat respon Eren yang terus terusan heboh dengan sikapnya. Padahal kan ia berusaha memberikan sebuah kesan manis, kenapa dia seolah masih kagetan dengan semua yang dilakukannya. “Yasudah, kalau kamu memang nggak mood untuk belajar hari ini, kita lanjut besok aja,” ujar Zean. “Marah padaku?” “Bukan.” “Kesal?” “Bisa bersikap biasa saja saat bersamaku, kan?” “Maksud Kakak?” “Jangan canggung saat bersamaku. Aku nggak seperti apa yang kamu bayangkan. Oke ... mungkin sebelumnya sikapku begitu dingin padamu, tapi itu bukan berarti aku juga tak punya kehangatan.” Eren hanya diam. Ia bukan canggung, lebih tepatnya ia terbiasa dengan sikap dingin Zean, jadi saat dia sudah menjadi kekasihnya pun kebiasaan itu masih ia bawa. Ditambah lagi pengalaman pacaran yang membuatnya seolah enggan untuk mengumbar rasa butuhnya. “Takut ... nanti saat aku mulai mengharapkanmu terus di sisiku, kamu malah pergi,” ungkapnya. “Rasa sakitnya masih sedikit berasa, meskipun aku tak inginkan.” “Aku bukan dia, yang akan menyakitimu.” “Dia juga bilang begitu padaku, tapi apa ... tetap saja terjadi. Punya satu hati dan disakiti, saat mengembalikan ke bentuk semula, itu juga butuh waktu untuk mengembalikan rasa kepercayaan,” jelasnya jadi curhat. Entahlah, rasanya semua itu ingin ia keluarkan saja dari pada menjadi beban pikiran. Jadi sekarang apa ... mengatakan kalau ia tak mencintai Zean? Bukan, bukan itu. Lebih tepatnya dirinya tak terlalu berharap banyak jika Zean adalah sosok yang akan terus berada di sampingnya. Maka dari itu, ia berusaha agar tak terlalu menjadikan dia sebagai seseorang yang mengerti apapun keadaannya. “Bersamaku, menerima cintaku, tapi tak menjadikanku patokan dalam hatimu. Jadi, maksudmu apa?” tanya Zean bingung. “Buat aku percaya kalau kamu itu lebih baik dari pada dia. Sembuhkan lukaku.” Zean menatap Eren fokus, kemudian mencium bibir gadis itu dengan lembut. “Jangan kaget dengan caraku mendapatkanmu menggunakan langkah cepat, ya. Dan aku bukan dia,” bisiknya di sela-sela ciuman. Ingin bertanya, tapi lagi-lagi ciuman Zean menerpa bibirnya ... hingga semuanya tak jadi ia utarakan. Justru malah sikap Zean ini semakin membuatnya menikmati rasa yang dia berikan. Ponsel milik Eren yang berada di nakas berdering, saat keduanya tengah beradegan mesra. Ia hendak menghentikan aksi Zean, tapi cowok itu malah menahannya, hingga ciuman itu terus berlanjut. Panggilan selanjutnya, tetap saja tak bisa ia respon. Cowok ini benar benar membekapnya dengan kecupan hangat itu seakan tanpa jeda. Berharap semoga bukan panggilan yang penting, karena ia abaikan begitu saja.                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN